Cerpen Han Gagas (Koran Tempo, 05-06 September 2020)

Wassenaar Dalam Hujan Kenangan ilustrasi Koran Tempo (1)
                                                  Ilustrasi Koran Tempo

SAAT itu sesungguhnya aku telah mendengar kata “corona”. Pada awal Januari 2020 di Belanda.

“Apakah sebaiknya kalian pulang dulu?” kata Pak Willem setelah acara perjamuan pasca-tugasnya di KITLV, Leiden.

“Kabarnya ada virus baru yang menyebar di Cina,” kata Bu Ronit kepada kami. Sebagai ilmuwan Israel, Bu Ronit barangkali lebih cepat mendengar suatu berita yang belum tersiar luas. Apalagi beliau habis pulang dari Taiwan.

“Saya belum mendengarnya.”

Waktu itu musim dingin. Hujan yang nyaris turun tiap hari membuat tubuhku sering menggigil. Terkadang aku terpaksa minum wine untuk menghangatkan badan. Suhu udara menyentuh angka hingga 3 derajat Celsius. Tubuhku yang biasa hidup di Tanah Air dengan kisaran suhu 25-30 derajat Celsius ini sulit menyesuaikan diri.

Kami tengah mengikuti simposium Sastra Jawa selama tiga hari di Leiden University. Ada beberapa tempat, terutama Academy Building dan Kedai Surakarta, yang berada di tepi jalan utama dekat Leiden Centraal, yang menjadi dua titik utama pelaksanaan simposium. Academy Building sebagai tempat presentasi dan diskusi, sedangkan Kedai Surakarta sebagai tempat perjamuan makan. Dinamakan Kedai Surakarta karena pemiliknya (orang Belanda) pernah lama tinggal di Surakarta dan jatuh cinta kepada kuliner khas Surakarta (Kota Solo). Menunya beragam dan memang semua enak-enak. Ada selat solo, timlo, sate, gado-gado, nasi liwet, serta yang khas adalah sup iga sapi, tongseng, dan tengkleng. Sejak awal, tukang masaknya sengaja didatangkan dari Solo, turun-temurun ke anak dan cucunya, menjaga kelezatan kuliner restoran ini hingga sekarang.

Sepanjang jalan pulang, dari Leiden ke Wassenaar, aku tak henti-henti membaca apa pun yang berkaitan dengan corona, bahkan saat kami jalan kaki.

Wassenaar adalah sebuah distrik di Den Haag yang kami tempuh sekitar 40 menit dari Leiden Centraal (pusat stasiun kereta di Leiden) dengan naik bus angka 43 dan disambung jalan kaki sejauh 1,2 kilometer. Kami beruntung bisa tinggal di daerah permukiman mewah dengan rumah besar berhalaman luas, serta taman dan kebun luas yang terhampar di depan, sisi kanan-kiri, dan belakang rumah. Kabarnya, permukiman ini dulunya milik para pengusaha VOC yang mengeruk hasil kekayaan Tanah Air kita. Kini tentu saja telah diwariskan kepada anak keturunannya. Kami tinggal dan menginap di Wisma Tamu Kedutaan RI yang menjadi satu dengan Wisma Sekolah Internasional yang berisi anak-anak para pegawai Kedutaan Indonesia di seluruh Eropa.

Kami melangkah beriringan. Tiba-tiba hujan turun. Gerimis menyapu wajah. Dingin makin terasa menggigil. Kelam memeluk semua pemandangan. Pohon-pohon tergambarkan seperti dalam dongeng Hansel and Gretel dan novel-film Harry Potter. Pohon-pohon di hutan tempat Hansel dan Gretel dibuang mirip pohon-pohon di Wassenaar yang besar dan tinggi, dengan batang meliuk-liuk dan dedaunan yang lebat. Batang-batang pohon raksasa itu berwarna hijau, benar-benar hijau, bukan karena lumut, dengan cabang dan ranting yang menyerupai tangan dan jari-jari menjulur-julur ke atas, seperti hidup dan mencakar-cakar langit.

Hansel dan Gretel adalah dua bersaudara yang dibuang ayahnya atas bujukan ibu tiri untuk mengatasi kelaparan. Ketersediaan pangan yang sedikit membuat ibu tiri berpikir, dengan membuang mereka, dia bisa menyelamatkan dirinya dan suaminya untuk bertahan hidup. Pribadi ayahnya yang lemah tak mampu menolak kemauan sang istri. Di hutan, Hansel dan Gretel menangis, kelaparan, dan kedinginan. Untungnya, mereka menemukan rumah yang terbuat dari manisan, kue, dan permen. Mereka langsung memakannya. Tak dinyana, itu adalah jebakan si penyihir kanibal. Si penyihir membiarkan mereka terus makan dan hidup dalam kendalinya. Pikirnya, saat gemuk, mereka akan enak dimakan. Waktu pun berlalu. Sesudah Hansel dan Gretel benar-benar gemuk, si penyihir merasa waktunya telah tiba. Maka, disuruhnya Hansel masuk ke oven.

“Ovennya sepertinya rusak. Coba kau buka ovennya,” kata Hansel yang tak kalah cerdik.

Si penyihir kesal, menyadari bahwa dua bocah itu memang bodoh. Ia pun membuka oven. Saat si penyihir berdiri tepat di lubang oven, Hansel mendorong tubuhnya masuk. Gretel pun dengan sigap menutup oven itu dan membakar sang penyihir hidup-hidup. Maka, keduanya terselamatkan, bahkan menemukan harta yang berlimpah. Dan berkat hartanya itu, keduanya bisa hidup bahagia karena berkumpul kembali dengan sang ayah.

Di negeri dongeng, pohon-pohon yang tampak persis seperti di kanan-kiri kami ini bisa hidup, bergerak, dan ikut berperang membantu Harry Potter. Penyihir remaja itu melawan Lord Voldemort yang jahat, yang “Namanya Tak Boleh Disebut”, karena mengundang hawa kematian. Kami beruntung tinggal di distrik yang mengundang rasa penasaran dan kemisteriusan begini.

Pada awal kedatangan kami di Belanda, Wassenaar sangat memukau pada malam hari. Saat itu menjelang Natal. Pohon-pohon besar yang bagai raksasa itu dililit oleh rangkaian lampu hias, dan di banyak halaman rumah ada pohon Natal bercahaya serta rusa-rusa dan Sinterklas yang bertopikan lampu Natal yang gemerlap. Malam jadi semarak dan tak menakutkan begini.

Aku mengecek jam di handphone, sudah pukul 09.40. Begitu sepi di sepanjang jalan. Istriku memegang lenganku kuat-kuat. Ini artinya ia sedang takut ketika kami melewati area permukiman rumah tua yang banyak ditumbuhi semak serta pepohonan besar-besar dan lebat. Orang-orang VOC, selain penjajah, pemuja setan, khayalku sembari menggerutu karena kehujanan.

“Kabarnya virus mulai menyebar ke Taiwan, Hong Kong, dan menuju Asia Tenggara. Apa baiknya kita pulang lebih cepat?” kataku dengan napas agak ngos-ngosan. Aku mencoba mengalihkan perhatian istriku dari rasa takut.

“Kita bicarakan nanti di wisma,” dia menjawab singkat.

Lonceng gereja berdentang sebagai penanda hari telah malam. Pukul 10. Tanda anak-anak harus segera tidur. Barangkali benar bahwa Wassenaar hidup dalam negeri dongeng, dengan banyak peristiwa kasatmata yang melingkupi distrik ini. Suara lonceng menghunus kesunyian malam, seakan-akan menggema ke seantero kegelapan malam yang tak bisa diringkus oleh cahaya dari lampu oranye yang menunduk di sepanjang jalan. Entah kenapa bulu kudukku merinding. Aku merasa ada beberapa makhluk yang mengawasi kami dari rimbunnya pepohonan. Aku ingin mempercepat langkah, tapi aku khawatir istriku akan ketinggalan. Tak ada seorang pun yang melintas selain kami. Bahkan, anehnya, tak ada sebuah mobil pun yang lewat di jalan. Ini malam apa, ya? Jumat, tanggal 13. Batinku gemetar. Di sini, tanggal 13 bukan hari yang biasa.

Aku menebalkan nyali.

Gereja di pojok perempatan itu menjadi acuan arah kami agar tak tersesat. GPS memang membantu. Tapi, kalau sedang gerimis dan suasana gelap begini, aku tak bisa terus-terusan berjalan sambil melihat arah lewat aplikasi GPS di layar handphone, takut rusak kena air.

Makin mendekati wisma, ketakutanku mulai berkurang. Apalagi jalanan lebih terang dan model rumah-rumah sudah tak seperti sebelumnya yang tampak tua dan luas. Jejeran rumah yang ini lebih modern, dengan taman di depan yang terang.

Begitu tiba, kami langsung masak mi Cina. Tak ada Indomie ataupun Supermi di Wassenaar, bahkan di Leiden, saat kami mencari di beberapa toko. Adanya mi Cina dengan merek beraksara Mandarin di bungkusnya. Cukuplah mengobati kerinduan kami akan cita rasa mi instan di Tanah Air.

Hawa dingin membuatku menggigil karena suhu di angka 3 derajat. Aku harus segera makan dan minum yang hangat. Istriku sedang mengucuri gelas yang berisi serbuk jahe dengan air panas. Bubuk jahe itu sengaja kami bawa dari Tanah Air. Benar saran dari Bu Els Bogaerts, seorang panitia simposium: lebih baik kami membawa jahe yang banyak ketimbang baju ganti.

Di sini, karena amat dingin, kami jarang berkeringat. Begitu berkeringat, langsung terserap karena tingkat kelembapan yang tinggi. Bila di Tanah Air, tak mandi sehari dua kali, tubuh rasanya sudah lengket dan gerah. Di sini aku sudah tiga hari tak mandi. Kata istri, tubuhku juga tak bau. Padahal dia sering mengeluhkan bau tubuhku jika di Tanah Air. “Kecut,” kata dia sambil mengejek.

“Demi keselamatan, kita harus pulang cepat.”

“Tapi apa sudah mendesak sekali?” kata istri sambil mengunyah mi.

Akhirnya, kami menahan beberapa hari untuk pulang karena ingin menyambangi beberapa tempat dulu. Tak ada kincir air di Wassenaar. Jadi, kami hanya mengunjungi kincir air di Leiden, Molenmuseum de Valk, yang menjadi salah satu destinasi wisata di kota itu selain Museum Volkenkunde dan Young Rembrandt Studio, juga kampus Leiden University yang legendaris. Kami juga menyempatkan diri ke Utrecht, mengunjungi teman. Mereka adalah sepasang suami-istri, Andi dan Mila, yang sedang menjalani studi doktoral di Utrecht University. Dari mereka, aku memperoleh informasi mengenai sanatorium pertama di dunia untuk rehabilitasi orang-orang depresi dan gangguan jiwa. Kelak, jika aku kembali ke Belanda, aku ingin riset di sanatorium itu. Aku ingin menulis seri ketiga dari fiksiku tentang orang-orang pengidap gangguan jiwa.

Hari ini kami mendengar bahwa virus itu telah sampai di Malaysia. Seorang kolega kami dari Jepang meninggal akibat virus itu.

 

Han Gagas. Penulis kumpulan cerpen Catatan Orang Gila (Gramedia Pustaka Utama, 2014) dan novel Orang-orang Gila (Buku Mojok, 2018).