Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 02 September 2020)

                     Senja di Skezefehrer, Hungaria/dok. pribadi

Seorang genius kreatif, Thomas Alva Edison, telah mendaftarkan lebih dari seribu hak paten ke pemerintah AS. Tindakan yang akhirnya menjadi cara terbaik “memberi makan” hasrat genius kreatif itu adalah bentuk kekagumannya pada Leonardo da Vinci membuat catatan visual atas proses kreatifnya dalam berkarya. Ia mengikuti sang idola hingga akhirnya tanpa sadar ia menghasilkan lebih dari 3.500 catatan langkah kreatif visual untuk kemudian lahir menjadi temuan-temuan yang menggerakkan dunia!

***

Syahdan, seberkas cahaya meliak-liuk di antara lapisan langit sebelum menembus awan gemawan dan pecah di dalam kepala manusia. Kepingan-kepingannya menyebar di kedua belahan otak kepala manusia. Kotak-kotak terukur, pertimbangan matang akan sesuatu, batu masa depan yang mengenai sasaran dalam sekali lemparan, dan kecakapan memetakan sesuatu hinggap di sebelah kiri. Sedangkan di belahan yang kanan, ruang dengan bentuk tak seragam, spontanitas yang intuitif, remah-remah inspirasi yang menikmati petualangan di labirin, dan ketaknyamanan bekerja dengan syarat dan ketentuan, hinggap dan menetap.

Baca juga: Keluar dari Gerombolan – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 26 Agustus 2020)

Semaian kedua kelompok preferensi di balik batok kepala umat manusia itulah yang menstimulasi pikiran dan gerakan sehingga peradaban memiliki peninggalan yang begitu menarik dipelajari dan dikembangkan. Salah satunya adalah tindakan kreatif, aksi di jalan yang tidak ditempuh arus utama karena ia berbeda dan … menghasilkan. Ya, proses yang tidak umumlah yang membuatnya menyala dan terus diperbincangkan, tapi hilirnya adalah “menghasilkan”. Tanpa “hasil” untuk kemudian disebut “karya”, urusan kreatif hanya akan jadi kesenangan temporer dan rentan menjelma bahan olokan.

***

Penemu alat visual kreatif bernama Mind Map, Tony Buzan, menyatakan bahwa kreativitas adalah hasil kolaborasi otak kanan dan otak kiri dalam buku-buku wajib tentang pengembangan pikiran yang optimal atau turunan dan varian-variannya. Hal tersebut dikuatkan lagi oleh penemu Free Writing Vygotsky—dalam bukunya semacam “Thought and Language” atau “Mind in Society”—sejumlah ahli pemikiran satu gerbongnya seperti Peter Pennebaker dalam “Expressive Writing” atau Natalie Golberg dalam “Wild Mind”.

Oleh karena itu, keterampilan terkait angka-angka/matematika/ilmiah, menganalisis, obyektif, menyukai keteraturan, dan rasional yang berdiam di otak kiri harus berdampingan dengan kecenderungan otak kanan pada benda 3 dimensi, menyukai musik dan seni, subyektif, dan emosional apabila ingin melakukan kerja kreativitas yang sesuai sasaran: menghasilkan (karya).

Ya, kreativitas yang sesuai sasaran adalah terminologi yang menarik di tengah perayaan kebebasan berkreasi yang membersamai tumbuh-kembangnya generasi Milenial dan Z. Kreativitas tanpa sasaran atau yang tidak sesuai sasaran pada akhirnya hanyalah kesenangan semata, tak ubahnya dengan kita mengerjakan hobi untuk menyelingi rutinitas, membunuh kepenatan, atau keluar dari tekanan pekerjaan.

Baca juga: Masa Depan Rahasia – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 19 Agustus 2020)

Kreativitas juga bisa menjadi tipu daya ketika waktu luang bertemu aktivitas menyenangkan. Inilah yang disebut Seolah-olah Kreatif. Kita melakoni “seolah-olah kreatif” dengan begitu intens dan bersemangat. Selintas lalu, aktivitas itu kelihatan bervisi dengan etos kerja jempolan. Selintas lalu pelakunya adalah para pekerja kreatif yang fokus dan paham medan. Padahal, pertemuan banyaknya waktu luang dan kesenangan yang potensial produktif itu sangat rentan, rapuh, dan inkonsisten. Kenapa? Karena sejatinya ia belum teruji. Ya iyalah, alangkah senangnya ketika waktu luang bertemu kesenangan, apalagi kesenangan yang menopang kehidupan, atau dalam status hidup yang masih menjadi tanggungan keluarga atau orangtua. Ketika kamu menyukai film, lalu orangtuamu menopang semua kebutuhanmu sehingga kamu menghabiskan hari-harimu dengan segala urusan terkait dengan produksi film, apakah kreativitasmu teruji? Dengar, unexamined life is not worth to live in, hidup yang tak teruji tak layak dihidupi! Pun dengan kreativitas. Ya, dengan cara “baru” itu belum akan dipercayai sebagai temuan—untuk selanjutnya—menopang kehidupan dan kegembiraan kalau belum diuji.

Untuk menguji “seolah-seolah kreatif”, dihadirkanlah kesenangan lain, komitmen, kerja tim, dan mood. Kesenangan lain seolah wanita cantik apabila kreativitas itu adalah laki-laki yang sudah berkeluarga. Komitmen adalah visi masa depan. Sedangkan kerja tim adalah manajemen perusahaan.

Ya, apabila kesenangan lain—baik yang selama ini sudah ada tapi hasrat menggaulinya muncul kembali atau sesuatu yang benar-bebar baru—mengganggu etos kerja; semangat turun-naik sehingga membuat kesepakatan diabaikan karena merasa apa yang dilakukan sepertinya tidak menghasilkan apa-apa; atau keberatan diatur karena salah memaknai prinsip kolektif-kolegial dalam kerja jamaah; maka kreativitas yang dijalani adalah seolah-olah kreatif sebab semua yang diikuti adalah kecenderungan salah satu belahan otak. Yang egois, membenci keteraturan, dan tidak menyukai tekanan dan tenggat-pekerjaan (deadlines) yang terkapar oleh ledakan seolah-olah kreatif itu.

Bagaimana dengan mood?

Kreativitas baru menjadi kreativitas atau pekerjaan menyenangkan yang mengaliri (baca: menghidupi) kehidupan ketika pelakunya tidak memberhalakan mood atawa ilham atawa wangsit dan kawanannya. Pekerja kreatif memang tidak salah, bahkan dalam beberapa urusan disarankan, memercayai keberadaan mood, tapi tidak menjadikannya satu-satunya alasan bekerja atau berkarya. Sebab kreativitas tanpa ketekunan rutin (atau bahkan terjadwal) tidak akan menghasilkan karya. Kreativitas tanpa karya tak lebih dari kesenangan kanak-kanak. Karya tanpa konsistensi tidak akan bisa menghidupi. Dan urusan “menghidupi” dalam kreativitas menjadi tidak sederhana ketika melibatkan lebih dari satu orang.

Baca juga: Punya Banyak Buku, Buat Apa? – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 12 Agustus 2020)

Beberapa waktu yang lalu ketika saya mengingatkan salah seorang tim kreatif tentang tenggat sebuah materi dan ia menjawabnya dengan ogah-ogahan, saya pun memberikan penjelasan bagaimana prinsip kolektif-kolegial berjalan dalam kerja tim. Bahkan ketika ada dua orang yang setara kemampuannya dalam sebuah tim, konsensus harus dibuat untuk memperjelas arah dan standar kerja, dan yang tak boleh tertinggal adalah memilih pemimpinnya. “Bagaimana?” konfirmasi saya. “Kamu paham?” saya masih pula menegaskan. Tapi, sepertinya ia sedang banyak masalah sehingga kata-katanya menjelma tombak yang berputar balik ke dadanya. Saya melihat darah itu mengucur dan ia rubuh saat itu, meski ia merasa tetap berdiri dalam ketaktahuan dan keharusan orang-orang memahami seorang kreator yang butuh kebebasan. Saya ingin bilang begini—“Tiap orang punya semestanya sendiri-sendiri. Jadi membawa-bawa masalah pribadimu agar ketakmautahuanmu-tentang-prinsip-kerja kreatif dimaklumi adalah komedi yang mengenaskan”—tapi saya urung melakukannya karena saya tiba-tiba ingat bahwa saya tak punya cukup jam terbang menghadapi orang-orang yang bengal dalam ketaktahuan.

Saya tak terlalu berharap ia melihat cahaya dari langit yang pecah di otak kanannya itu. Saya harap ia membaca esai ini, paling tidak paragraf pertamanya agar ia tahu bagaimana seorang Thomas Alva Edison yang otak kiri bahkan meneladani kedisiplinan Leonardo da Vinci yang seniman, yang kreatif, yang otak kanan seperti dirinya.*

 

Betung, 2 September 2020

BENNY ARNAS lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Sehari-sehari menulis dan berkhidmat di Benny Institute yang ia dirikan pada 2012. Saat ini ia mengampu Kelas Menulis di kanal youtubenya