Cerpen Muhammad Nanda Fauzan (Media Indonesia, 30 Agustus 2020)

Suara-Suara di Telinga Karabaong ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

YANG merayap di sela dinding telinga Karabaong, seturut pengakuan Mantri Sarip, tak lain sepasang serangga mungil yang tiap tepi sayapnya menguarkan kilau keemasan. Ketika ujung senter mengarah ke daun telinga, cahaya yang memancar dari tabung kacanya kalah sorot, dan itu membuat kerja Pak Mantri Kesehatan ini menjadi silang-selimpat; pandangannya berkunang-kunang sebab kesilauan.

Karabaong meraung setiap beberapa detik sekali, suaranya saling jejal dengan aroma obat-obatan dan bekas guyuran karbol yang masih mengilap di permukaan lantai. Mula-mula memang ia sesumbar bahwa telinga bukan sesuatu yang penting, dan kehilangan pendengaran tak lebih ngeri ketimbang kehilangan kucing peliharaan atau kehilangan satu judul buku yang ia benci atau kehilangan kaus kaki bermotif papan catur yang ia terima dari mantan kekasihnya lima tahun lalu. Karabaong hemat dalam urusan bercakap-cakap, dan ia pikir bukan malapetaka serius seandainya telinganya dipensiunkan lebih dini.

Adapun alasan kini ia terbaring di atas permukaan ranjang di tengah ruang kerja Mantri Sarip, tak lain suara yang saling sambut di kepala. Tak ada gambaran persis yang bisa menerangkan derita semacam itu, tetapi jika kau pernah berdiri penuh konsentrasi di tengah pasar yang riuh dijejali manusia, kau akan sedikit mengerti. Karabaong terlalu naif. Atau lupa, barangkali, ia memang bisa menerima kehilangan, namun tidak dengan siksa kejinya. Ia mungkin bisa terbiasa, tetapi jelas tak segegas itu.

“Seperti sekumpulan hewan kerdil yang menari-nari, Pak.” Demikian Karabaong menjelaskan tatkala ditanya keluhan pertama kali, ia berusaha merahasiakan kehadiran suara-suara sebab bagaimanapun itu terdengar konyol.

“Apakah sebelum ini kau berupaya menanganinya sendiri. Maksudku, mengorek-ngorek dengan alat tertentu?”

“Ya. Agaknya tubuh serangga ini semakin menjorok ke dalam, dan nyaman bersarang di sana.”

Mantri Sarip tegak berdiri di tepian ranjang, mengucek kedua matanya dengan gerak konstan, lalu meminta izin ke ruang sebelah demi mencari sebotol minyak zaitun. Ia juga meminta Karabaong untuk memiringkan kepalanya dan sedikit bersabar. Si pesakitan hanya menganggukkan kepalanya sebanyak dua kali, untuk kemudian meraung dan mengumpat sebanyak yang ia mampu.

“Tidak akan lama,” tegas Mantri Sarip sembari membalikkan tubuh. “Serangga itu akan semakin menggila jika kau tak bisa diam barang sejenak.”

***

Suara itu terdengar akrab, lembut, dan kekanak-kanakan. Persis gaya turut Karabaong semasa boca sebelum pita suaranya mengenal asap rokok, sebelum laring berubah posisi karena pubertas yang menjadikannya sengau. Sesekali, suara itu terdengar lincah dan ringan seperti milik Ibunya. Tak jarang pula seperti suara orang-orang yang semakin hari semakin ia lupakan; barangkali suara kawan kecilnya, atau suara guru mengaji di langgar dulu. Yang lebih penting dari fakta itu adalah, suara tersebut mewartakan pertanyaan yang lekas jadi ancaman.

Pukul satu dini hari, ketika Karabaong merasakan sesuatu merasuk di dinding telinganya untuk pertama kali, suara itu berbisik pelan dan riang, “Tidakkah kau mengubur mayatnya dengan layak?” Karabaong tak risau. Ia tambahkan daya tiup kipas reot menuju angka tertinggi untuk mengusir rasa gerah. Dan yang terjadi beberapa menit kemudian ialah hadirnya kilatan listrik dari stop kontak, lalu ledakan kecil menyusul tak lama.

Karabaong berusaha tenang. Ia duduk dan mengguncangkan kepalanya beberapa kali dengan harapan makhluk yang baru saja merasuki telinganya terusir, tetapi usaha itu nihil sama sekali. Ia justru merasakan pening yang dahsyat, denyut telinganya seperti menjalar liar meremas-remas batok kepala. Bulir keringat bermunculan di kening dan ujung hidung, ia tak acuh dan membiarkan seluruhnya menggumpal-gumpal. Karabaong menggoyang pelan bungkus rokok untuk mendeteksi keberadaan jumlah batang di dalamnya.

“Tidakkah kau mengubur jasadnya dengan layak?” suara itu datang kembali.

Karabaong sedikit cemas, ia teringat pada perempuan itu. Sebentar kemudian ia selipkan sebatang rokok di sela bibir, lalu memantik geretan. Dengan keajaiban yang muskil dijelaskan, api menyambar dan menjilati separuh bulu alisnya. Karabaong mengumpat sekali lagi, tetapi hanya dalam hati.

Malam kian larut, angin berembus menghantam benda-benda yang mampu ia jangkau, sementara Karabaong belum juga sanggup memicingkan mata. Suara-suara itu kian asyik-khusyuk mengusik si empunya pendengaran. Semakin sunyi malam, ruang di telinganya semakin pejal—gaungnya bak deru ombak menghantam tebing terjal. Riuh tanpa jeda. Sampai-sampai ia tak lagi mampu memahami, dan bahkan mengenali, maksud dari suara-suara tersebut. Segalanya saling baur, segalanya menjadi kabur.

Karabaong melewati malam dengan mata yang meralip. Direbahkannya punggung di atas dipan berkayu jati beralas gombal, sementara lengannya terus mengapit dua sisi kepala dengan bantal busa begitu kencang. Sesekali ia mengangkat tubuhnya dari pembaringan untuk sekadar mencecap teh manis bekas tadi malam, yang isinya hampir menyentuh dasar gelas.

Saat kokok ayam pertama berkesiur merobek udara, Karabaong langsung menyambar jaket suede dan topi favoritnya, lalu melenggang menyusuri jalan Desa. Di titian jembatan, ia melongok arus deras yang dua hari lalu menghanyutkan jasad seorang perempuan di dalam karung.

***

Ia memanggil-manggil nama Mantri Sarip, tetapi yang bersangkutan masih meraba-raba almari tempat tumpukan obatnya di ruang seberang. Karabaong tak lagi kuasa dengan bunyi-bunyi yang kian tak teratur. Ia berniat meluluhlantakkan sumber suara itu secepat mungkin, dengan sedikit tenaga yang masih tersisa di tubuhnya. Ia bangkit dan menyambar gunting bedah yang tergeletak sembarang. Ia menimbang-nimbang dengan kerut muka mensyaratkan keraguan. Tetapi, suara itu seolah tak bisa diajak berkompromi, ia bahkan tak merasa gentar dengan ancaman.

Di ruang seberang, tatkala Mantri Sarip berhasil berjumpa dengan minyak zaitun yang ternyata terselip di antara setumpuk parasetamol, jeritan pasiennya begitu nyaring sehingga membuat seekor nuri yang hinggap di atap langsung terbang menjauh, dan kucing-kucing di beranda rumah meringis ketakutan.

***

Jika bukan karena reputasiku di Desa, boleh jadi tiga orang polisi yang saat ini menggelandangku akan memberi perlakuan yang kurang menyenangkan. Sebab, bagaimanapun, satu mayat lelaki dengan tiga luka tusuk tergeletak di atas ranjang kerjaku adalah temuan keji yang menggemparkan. Mungkin aku akan didakwa sebagai pembunuh.

Seorang paling muda di antara mereka, yang beberapa hari lalu terkena influenza dan mengunjungiku bersama kekasihnya, membukakan pintu mobil dan menuntunku masuk. Ia lalu bertanya apa yang sebetulnya terjadi. Kutarik napas dalam-dalam, mencari duduk senyaman mungkin, dan mulai bercerita.

“Pagi sekali, seorang pemuda kurus dengan rambut kusut masai, datang dan mengeluhkan ada sepasang serangga dengan kilau keemasan di telinganya. Aku memeriksa dengan teliti, berkali-kali. Aku terawang tak ada suatu apa pun terselip di sana. Tidak seekor semut, tidak pula bengkakan radang.”

“Tetapi, ia merajuk dan tetap teguh pada pendiriannya bahwa keberadaan serangga itu betul-betul nyata. Ia membenturkan kepalanya berkali-kali ke tepian ranjang, menggigit pergelangan tangannya hingga lebam. Ia cemas dan gelisah, matanya merah redup. Kukira, bukan telinganya yang bermasalah.”

Aku menundukkan kepala, mengambil jeda pembicaraan, sekilas memperhatikan kedua lengan yang kini tak leluasa bergerak karena dirogol borgol. Tiga orang polisi itu hanya berdiam, seolah-olah mulut mereka memang diciptakan Tuhan untuk melulu bungkam.

“Aku memutuskan untuk menyetujui dugaannya bahwa seekor serangga dengan sayap berkilauan memang menari-nari di lubang telinganya, setidaknya agar ia merasa tenang. Aku beranjak menuju ruang samping, tempat aku menyimpan pelbagai obat-obatan, berusaha mengecoh. Terdengar beberapa kali raungan. Ketika aku datang kembali, tubuhnya telah bersimbah darah, dengan luka tusuk yang mengundang mual. Sebagaimana yang kalian saksikan.”

Dua polisi di bangku depan menyimak dengan saksama. Polisi muda di sampingku tak kalah antusias. Raung sirene membelah jalan Desa, laju roda mobil bergerak cepat tanpa hambatan berarti. Di lajur kiri kulihat pohon karet berjejer rapi, dua orang bocah mengayuh sepeda dengan gerak lambat di tepian. Sepintas lalu mereka terlihat terlibat dalam percakapan serius dan sengit, seolah keduanya musuh abadi.

“Kau ingin dengar satu lelucon, Pak Mantri?” Polisi dengan tampang paling sepuh memecah keheningan. “Pemuda itu yang menggila di tempatmu adalah orang yang tengah kami sasar atas tuduhan pembunuhan seorang gadis beberapa hari lalu. Dan, ya, mendengar pengakuanmu atas sikapnya yang aneh, aku kian teguh pada dugaan.”

Aku sedikit terkesima. Teringat raut putri sulungku, Selena, yang sudah terlambat beberapa hari pulang dari Kota. Tiba-tiba terdengar suara saling membisik, sesekali saling menimpali, bunyinya meninggalkan gaung di telinga kananku. (M-2) 

 

Banten 2018-2020

Muhammad Nanda Fauzan, cerpenis kelahiran Lebak, Banten, Kini bermukim di kota Serang. Bergiat di Komunitas Soedirman 30.