Cerpen Gunoto Saparie (Republika, 30 Agustus 2020)

Sang Pengamen ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Sang Pengamen ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Dengan menenteng gitar tuanya, Huda berjalan di trotoar. Matahari tepat di atas kepala, terasa membakar ubun-ubun. Cuaca memang akhir-akhir ini tidak dapat dipercaya. Siang ini panas begitu terik, bikin gerah. Namun, biasanya sore nanti mendung datang, awan hitam bergumpal-gumpal, lalu hujan pun turun deras membasahi bumi.

Ia baru saja mengamen di rumah makan yang bau masakannya membuat ia menelan ludah. Namun, hanya dua-tiga orang yang melemparkan uang Rp 500 ke kaleng yang disediakan.

Memang rezeki tidak bisa diduga. Kadang sedikit, kadang pula banyak. Pernah ia mendapat kejutan di depan sebuah toko ketika ada uang Rp 100 ribu masuk ke kalengnya. Ia pun mengucapkan terima kasih sambil membungkuk badan dalam-dalam.

“Suaramu bagus,” kata perempuan cantik yang memberikan kejutan itu memuji.

“Terima kasih.”

“Lagu tadi ciptaan siapa? Kok aku belum pernah mendengar?”

Huda terdiam. Lagu itu ciptaannya, tetapi ia malu mengakuinya karena merasa belum layak sebagai lagu.

“Ciptaanmu ya? Karyamu?” Perempuan bertubuh tinggi semampai dan wangi itu mengejar jawaban.

Huda mengangguk.

“Wow, hebat!” Perempuan itu mengacungkan jempolnya.

Huda memang hanya seorang pengamen yang sehari-harinya menghabiskan hidup di jalanan. Dia mengamen dari rumah ke rumah, dari bus ke bus, dari rumah makan ke rumah makan. Hal itu ia lakukan untuk membantu orang tua dan sekolah adik-adiknya.

Keluarga Huda memang bukan keluarga mampu, bahkan bisa dibilang sebagai keluarga sangat miskin. Tinggal di perkampungan kumuh, ayah Huda bekerja sebagai penarik becak. Sedangkan, ibunya seorang buruh cuci pakaian yang setiap hari menawarkan jasanya dari rumah ke rumah.

Tentu saja penghasilan ayah dan ibu Huda sangat minim. Ayah Huda yang menarik becak setiap hari, bahkan sampai larut malam, penghasilannya tidak menentu. Kadang mendapat uang cukup banyak. Namun, kadang memperoleh duit sangat sedikit. Pernah pula tidak mendapat penumpang seorang pun dan ayahnya pulang dengan tangan hampa. Tidak mendapat uang sama sekali.

Sang ibu pun setali tiga uang. Penghasilannya juga tak menentu. Apalagi kini banyak berdiri jasa laundry, bak jamur di musim hujan.

Huda sebenarnya ingin melanjutkan ke sekolah lebih tinggi, setelah lulus SMP. Namun, hal itu tidak mungkin dilakukannya karena ketiadaan biaya. Apalagi, dua adiknya juga membutuhkan biaya.

Faktor ekonomi membuat Huda harus hidup di jalanan, mengamen. Bermodal gitar tuanya ia menyanyi. Kadang menyanyikan lagu Ebiet G Ade “Camelia”. Ia hampir bisa menirukan suara Ebiet. Namun, lebih sering ia menyanyikan lagu ciptaan sendiri.

Bakat dan kemahirannya mencipta lagu sendiri itu entah didapat dari mana. Ayahnya hanya seorang tukang becak yang kadang menembang macapatan pada waktu senggangnya. Ibunya bahkan tak pernah terdengar menyanyi atau bersenandung. Kecuali ketika membaca atau mengaji Alquran, suaranya memang merdu. Begitulah, meskipun ia tidak menguasai not balok, Huda menciptakan sejumlah lagunya.

Hidup di jalanan sungguh berat, bahkan boleh dikatakan keras dan kejam. Banyak sesama pengamen saling berebut lokasi atau daerah mengamen. Belum lagi, Huda harus berhadapan dengan para preman. Baik preman jalanan maupun preman berseragam.

Pernah suatu sore ketika dia sedang menghitung uang hasil mengamen didekati oleh dua orang preman jalanan. Tanpa belas kasihan dua preman merebut semua uang milik Huda. Tentu saja Huda tidak berani melawan. Apalagi, beberapa minggu lalu ia pernah dihajar mereka sampai babak belur.

Teman-teman Huda sesama pengamen melihat hal itu. Namun, mereka tidak ada yang berani untuk menghentikan aksi para preman itu. Tak ada yang berani mengambil risiko. Apalagi, badan mereka besar dan wajahnya sangar sehingga teman-teman Huda takut.

“Kalian semua harus tahu ya. Siapa saja yang mengamen di sini harus menyetorkan uang kepada kami,” kata sang preman.

Huda hanya bisa menangis sesenggukan. Teman-temannya menunjukkan rasa solidaritas. Apa boleh buat memang, hidup di jalanan rawan kejahatan. Keras.

Pernah suatu hari Huda mengalami nasib lebih buruk. Kali ini ia bukan berhadapan dengan preman jalanan, melainkan preman berseragam. Mereka adalah oknum yang mengaku sebagai pegawai dinas sosial dan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Uang Rp 3 juta hasil menabungn ya dari mengamen dua bulan di dalam tas diminta oleh oknum berseragam itu. Padahal uang tersebut rencananya akan diserahkan ibunya untuk membeli sepatu sekolah dua adiknya dan keperluan sehari-hari. Huda merasa takut karena diancam akan dipenjara oleh oknum itu.

Huda masih ingat benar, saat itu bulan Ramadhan. Peristiwanya bermula saat ia terjaring razia oleh Satpol PP di dekat sebuah pasar. Ia bersama para pengamen, anak jalanan, gelandangan, dan pengemis ditangkap, diseret, dan dibawa menuju ke panti rehabilitasi sosial. Sesampainya di sana mereka dikumpulkan di sebuah ruangan untuk didata. Tiba giliran Huda, seorang oknum menghampiri dan menawarkannya kesempatan untuk bisa bebas.

“Bagaimana? Jadinya mau kukurung di sini atau mau keluar? Sebentar lagi Lebaran lho. Apa kamu mau Lebaran di ruang tahanan, tidak Lebaran bersama keluargamu?” ujar sang oknum.

Huda menangis. Ia teringat ayah-ibunya, juga adik-adiknya. Pikirannya bimbang, kembali pulang tanpa uang atau menetap sementara di dalam panti rehabilitasi sosial itu.

“Tapi, berapa uang yang harus kuserahkan?” tanya Huda.

Petugas itu tak menjawab nominalnya.

“Seluruh uang yang ada di dalam tas yang kamu bawa, ada berapa?” jawab oknum itu dengan senyum sinis.

Setelah beberapa menit menimbang, Huda pun memilih bebas. Uang yang ia bawa di dalam tas dikeluarkan ia serahkan kepada oknum itu. Untunglah, ada sedikit sisa uang yang masih ia sembunyikan di beberapa bagian tas. Setelah menyerahkan uang, Huda pun bisa menghirup udara bebas.

Namun, tangan Allah tak bisa diduga dalam menentukan nasib manusia. Suatu hari Huda kembali melakukan rutininas sehari-hari, yaitu mengamen. Ketika itu, saat siang begitu panas menyengat, Huda mengamen di jalan, di perempatan. Dia mengamen dari mobil ke mobil yang berhenti karena lampu menyala merah. Wajahnya terbakar, keringat berleleran. Ketika tiba di dekat mobil sedan biru, ia menyanyikan salah satu lagunya Ebiet, “Berita kepada Kawan”.

Kaca gelap sedan itu dibuka dan ternyata orang di dalam mobil adalah perempuan yang beberapa hari lalu memberi uang Rp 100 ribu kepadnnya.

“Ketemulagi ya. Siapa namamu?”

“Nama saya Huda, Mbak.”

“Aku suka banget suaramu.”

Huda pun tersipu.

“Suara saya jelek, Mbak.”

Perempuan itu tersenyum. Menyerahkan uang Rp 100 ribu dan selembar kartu nama.

“Besok kamu datang di kantor saya ya. Kebetulan saya bekerja di studio rekaman. Ini kartu nama saya,” ujar perempuan itu. Senyumnya begitu manis.

Huda hanya terpaku. Tak bisa berkatakata. Lampu menyala hijau. Kaca jendela mobil itu pun ditutup. Mobil pun berjalan. Begitu pula mobil-mobil lain. Suara-suara klakson mengejutkan Huda. Ia pun berusaha menepi. Namun, sebuah jip menabraknya. Tubuh Huda terlempar di aspal jalanan yang panas membara. Innalillahi wa innailaihi rajiun…

 

Jalan Taman Karonsih 654, Semarang

Gunoto Saparie dilahirkan di Kendal, 22 Desember 1955. Ia menempuh pendidikan di Pendidikan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Selain menulis cerita pendek, ia juga menulis puisi, novel, dan esai. Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah ini telah menerbitkan buku kumpulan puisi Melancholia (1979), Solitaire (1981), Malam Pertama (1996), Penyair Kamar (2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (2019).