Cerpen Sapta Arif Nur Wahyudin (Suara Merdeka, 30 Agustus 2020)

Jam Klasik yang Ritmis ilustrasi Hangga - Suara Merdeka (1)
Jam Klasik yang Ritmis ilustrasi Hangga/Suara Merdeka

Jarum panjang jam di dapur belum menunjuk angka 12, sedangkan jarum pendek masih berjalan malas menuju angka tujuh. Tik, tok, tik, tok, tik, tok. Si merah, jarum detik, berjalan cepat berupaya membangunkan kesadaran Wage yang masih melayang-layang.

Di dapur, sambil mencuci botol bayi, lelaki itu berusaha menahan matanya. Ia mengambil panci berukuran sedang dan mengisi setengah. Wage melangkah berat ke kompor, menyalakan, dan meletakkan panci di atas kompor. Tik, tok, tik, tok, tik, tok.

“Duh, Mas, anakmu,” terdengar suara istrinya dari ruang tengah.

Wage melempar mata ke jam dinding klasik di tembok. “Ah, sepagi ini?” gumamnya.

“Mas, aku ada kelas online!” teriak sang istri lagi.

“Oke, baiklah!” Ia berjalan malas, seolah-olah ada bandul berat di kaki. Matanya tak kalah berat. Ia terhuyung-huyung seperti orang mabuk.

Hari ini genap sebulan istrinya kerja di rumah. Namun sang istri sama sekali tak membantu. Mereka berdua sepakat mengurus rumah, setelah Yu Nah, asisten rumah tangga, mohon izin berhenti. Ia harus mengurus keluarga di kampung, sepeninggal sang suami. Suami Yu Nah meninggal dalam kecelakaan kerja pembangunan bangsal rumah sakit. Yu Nah mendapat kompensasi tidak seberapa. Bahkan dia harus membayar sendiri biaya pemakaman. Dengan modal satu kali gaji dan pesangon dari Astri, istri Wage, Yu Nah pulang ke kampung.

Astri duduk di ruang tamu menghadap laptop. Di kamar Rafa menangis. Tangisan bayi tujuh bulan itu memekakkan telinga. Apalagi ia buang air besar dan belum berganti popok.

“Mas, kok wifi kita mati ya?” teriak Astri.

Tidak mendapat jawaban, Astri berdiri dan berjalan ke kamar.

“Mas!” Astri tidak menemukan suaminya di kamar. Ia baru sadar, suara tangis anaknya menjauh. Dia berjalan ke belakang rumah, melewati pintu dapur. Suaminya menggendong Rafa di kebun belakang.

“Mas, wifi kita trouble lagi?” kata Astri lumayan keras.

“Sssstttsss!” balas Wage sambil menatap tajam. Ia menimang-nimang Rafa yang hampir tidur. Suara keras istrinya membuat bayi mungil itu terbangun, lalu menangis lagi.

“Duh, Mas, aku harus ke kampus sekarang. Kalau begini terus, aku bisa telat kelas.”

Wage diam, kemudian mengempaskan napas panjang.

“Mas?” Astri kembali berkata dengan nada bertanya yang berat.

“Iya! Berangkat saja!”

Astri berbalik dan berjalan tergesa-gesa. Belum sampai di ruang tamu, perempuan itu kembali ke arah kebun belakang. “Mas! Air panasmu!”

September ini, usia pernikahan mereka genap tiga tahun. Usia muda pernikahan biasanya masih memelihara kehangatan romantika. Namun tidak bagi Wage dan Astri. Tuntutan pekerjaan membuat mereka jarang di rumah. Wage editor sastra dan budaya di salah satu koran lokal di Solo. Empasan pandemi membuat dia memohon bisa kerja di rumah. Ia hanya datang ke kantor paling banyak seminggu dua kali. Itu pun hanya untuk rapat mingguan dan evaluasi program. Seluruh pekerjaan bisa ia lakukan secara online. Berbeda dari Astri. Dosen di salah satu kampus swasta di Solo itu bulan-bulan ini harus mengejar ujian disertasi. Meski sudah ketok palu pembelajaran online, perempuan itu harus berkali-kali ke kampus. Dia mengurus administrasi ini-itu yang tiada habis, apalagi dua promotornya profesor yang dikenal ribet dan superperfeksionis. Beberapa kali mereka meminta dia menggantikan mengajar di kampus lain. Katanya untuk menguji kepantasan materi disertasi.

Seperti sebelumnya, setelah membuatkan susu Rafa, Wage harus mengajak anaknya berjemur. Setelah itu mandi. Ia beruntung jika anak itu tidak rewel. Ia bisa mencuci dan menyetrika baju. Wage baru bisa membuka pekerjaan kantor setelah memasak makan siang. Namun sering kali Rafa begitu aktif sejak pagi hingga sore. Tak heran, jangankan memegang pekerjaan kantor, sekadar masak makan siang pun Wage kesulitan.

Ketika Rafa rewel dan Astri mengeluhkan hal itu, Wage hanya bisa menjawab: Rafa peka dan ekspresif. Jadi jangan heran kalau ia minta perhatian saban waktu. Mendengar jawaban itu, Astri hanya melengos.

Sejak bulan kedua Rafa sudah tak mendapatkan ASI eksklusif. Bagi Astri, hanya ibu rumah tangga yang bisa merawat anak di rumah, mencuci popok, hingga memasak secara rutin. Ia menganggap dirinya berbeda. Ia memiliki karier panjang dan bisa jadi sesuatu yang cemerlang menanti pada masa depan.

Hari ini, Wage beruntung. Selepas mandi dan makan bubur bayi, Rafa tertidur pulas. Itu berarti ia bisa pergi belanja. Tentu ia akan membawa Rafa menggunakan stoller biru kesayangan. Sepulang belanja, lelaki itu memasak. Dapur, bagi dia, adalah tempat menyenangkan. Bukan karena ia senang memasak. Bagi dia, dapur tempat kontemplasi paling nyaman. Ditemani jam dinding kayu jati cokelat tua, ia sering menghabiskan banyak waktu di dapur.

Sejak bekerja di rumah, Wage memindah jam klasik dari ruang tengah ke dapur. Itulah jam favorit Wage. Astri sering protes. Jam di dapur tidak cocok dan tak enak dipandang, katanya. Namun Wage tidak peduli. Bagi dia, jam klasik kesayangan itu memiliki suara tik-tok yang ritmis. Suara yang membuatnya tenang dari hiruk-pikuk dunia yang tak keruan.

“Mas, aku harus lembur di perpustakaan. Maksimal pukul tujuh aku pasti sudah pulang.”

Wage membalas pesan Whatsapp dari istrinya dengan singkat, “Oke!”

“Rafa nggak rewel kan, Mas?”

“Aman!”

Wage begitu mencintai Astri. Atas dasar cinta itulah, dia selalu mengabulkan segala keinginan Astri. Termasuk ketika pandemi menyerang, ia rela memohon pada bos agar bisa kerja di rumah dan hanya ke kantor dua kali seminggu. Wage ulet dan selalu mendapat predikat A dalam evaluasi pegawai lima tahun terakhir. Itu jadi faktor kuat pengabulan permintaannya. Ia paham betul betapa repot mengajar di kampus swasta berbarengan dengan mengejar ujian disertasi.

Malam ini, Astri pulang telat. Itu berarti Wage harus menunda memasak. Ia berharap menu untuk istrinya masih hangat. Toh memasak sawi dan irisan daging tak butuh waktu lama.

Jam dinding menunjukkan pukul 19.35. Namun belum ada kabar dari Astri. Padahal, sejak pukul 18.00, perutnya sudah minta asupan. Wage memilih memanaskan air untuk membuat kopi, mengambil sebatang rokok, dan menyulut. Tik, tok, tik, tok, tik, tok. Ia duduk bersila bersandar tembok dapur. Dia mendongak. Pus! Sapuan asap rokok memenuhi dapur. Ada hal asing mengganjal di dadanya hari ini. Tak lama ia menikmati kesendirian, suara mobil Astri terdengar masuk ke pekarangan. Wage berdiri dan mematikan rokok.

“Maaf ya, aku telat. Hari ini benar-benar deadline.”

Wage membalas dengan senyum, kemudian berjalan ke arah istrinya. Berniat memeluk dan mencium hangat perempuan yang dia cintai itu.

“No! Aku bersih-bersih dulu!” ucap Astri.

Wage kembali ke dapur. Ia harus segera memasak. Namun belum sampai ia meraih potongan sawi dan daging, Astri berdiri tepat di belakangnya.

“Mas? Hari ini kamu belanja?”

“Iya, Sayang. Kan sudah waktunya,” jawab Wage tanpa menoleh.

“Mas?” ucap Astri dengan nada tanya yang berat.

Wage menghentikan kegiatan. Ia berbalik menatap istrinya yang memegang tisu toilet. Mereka diam beberapa saat. Wage berupaya menerjemahkan wajah istrinya yang tak keruan.

“Kamu beli tisu toilet?”

“Iya, Sayang.”

“Kan kita masih punya stok di lemari. Lagipula kenapa beda merek dari yang biasa kubeli?”

“Aduh, Sayang, cuma tisu lo.”

“Bukan begitu, Mas. Kita harus berhemat. Kita tidak akan pernah tahu kapan pandemi ini berakhir. Lagipula kenapa juga beli merek berbeda. Kita kan sudah cocok dengan yang itu.”

Wage mengernyitkan dahi. Astri berbalik, berjalan ke meja makan. Ia duduk melipat tangan di atas meja, membiarkan tisu toilet dari kamar mandi teronggok di atas meja. Dia menempelkan dahi di atas tangan. Wajahnya tertutup sempurna. Melihat itu, Wage hanya menghela napas panjang. Lelaki itu melanjutkan memasak. Ia memasukkan bawang merah, bawang putih, bawang bombai, dan cabai yang terpotong kecil-kecil ke minyak panas. Sreeeeng! Asap mengepul.

“Mas!” Astri mengangkat kepala dan berteriak.

Wage menoleh sambil mengernyitkan dahi.

“Kamu mencampurkan cabai dan bawang?”

“Iya, Sayang.” Wage melanjutkan memasak, memasukkan daging dan menyiramkan air.

“Mas!”

Wage menoleh, mengempaskan napas. “Ada apa, Sayang?”

“Kamu tahu kan aku tidak suka bau cabai goreng. Apalagi dipotong-potong, dicampur bawang! Sejak kapan aku suka daging tumis begitu?”

Wage berdiri, mematung menatap istrinya. Lelaki itu diam, bibirnya melongo sambil mengernyitkan dahi.

“Ini….”

“Ini hanya daging? Ini hanya cabai? Ini hanya apalagi?” potong Astri, kemudian bicara panjang seperti kereta api.

“Sayang…,” Wage memanggil halus melihat istrinya kembali menundukkan kepala ke meja. Sepertinya menangis. Wage kembali mendengus lumayan kencang. Tiba-tiba ia mendengar Rafa terbangun dan menangis. Wage sejenak memandang istrinya yang masih menunduk. Dengan perasaan gemas, Wage membuang seluruh isi wajan ke tempat sampah.

“Kenapa kau buang, Mas?” tanya Astri sambil mengangkat kepala. Matanya terlihat sembap.

Wage diam sejenak. Tik, tok, tik, tok, tik, tok. Samar-samar suara tangisan Rafa terdengar dari ruang tengah. Ia masih menatap Astri yang kembali menundukkan kepala, napasnya tersengal.

Wage mengambil ponsel dari saku. Membuka kalender. Setelah itu, ia mengeluarkan rokok, menyulut perlahan, mengambil cangkir kopi. Tik, tok, tik, tok, tik, tok; suara jam klasik kesayangan yang ritmis terasa menenangkan. Ia bersila sambil menyandarkan badan ke tembok, menatap ke atas. Pus! Asap rokok memenuhi ruangan. (28)

 

Ponorogo, 3 Agustus 2020

Sapta Arif Nur Wahyudin, aktivis pramuka yang suka menulis puisi dan cerita serta berdiskusi, pemenang Sayembara Sastra Bunga Tunjung Biru 2018. Penulis buku Di Hari Kelahiran Puisi ini aktif di Sekolah Literasi Gratis STKIP PGRI Ponorogo. Bersama sang mertua, Dr H Sutejo M.Hum, dia mengembangkan keluargaliterasi.com. Bisa disapa melalui akun IG @saptaarif.