Cerpen Benny Arnas (Koran Tempo, 29-30 Agustus 2020)

Paling Tidak, Kita Sempat Bermain Teater di Dalam Mobil ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo (1)
Paling Tidak, Kita Sempat Bermain Teater di Dalam Mobil ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo 

Aku tidak mengerti mengapa kamu memintaku datang ke restoran itu tanpa make up. “Nggak perlu cantik! Jangan dandan kalau perlu!” Jelas sekali itu kalimat perintah. Tapi, aku langsung mengaitkannya dengan tuntutan minggu lalu: nikahi aku atau perselingkuhan kita akan terbongkar!

AKU memang tidak kenal keluargamu, tapi kau pasti memikirkan ancamanku. Aku tahu rumahmu, aku hafal wajah istrimu meski ia tentu tidak mengenaliku, aku tahu kau punya dua putra dan aku tidak yakin kau ayah yang baik. Tapi, terbongkarnya hubungan kita bukan hanya kabar buruk bagi keutuhan keluargamu, tapi juga citra partai pendatang baru dengan satu kursi di DPRD itu.

Setelah kucari tahu, ternyata kamu dan teman-temanmu menghadiri pesta perpisahan seorang pengusaha yang akan pindah ke Amerika. Oh, kau pasti khawatir mereka curiga kalau aku menghampiri kalian dengan penampilan ala sosialitaku. Tapi, masa aku akan mendatangimu tanpa make up, rambut tidak disisir, dan mengenakan daster seperti penampilanku saat ini? Aku seperti baru sadar kalau kamu adalah anggota dewan yang terhormat. Tak ada yang abadi bagi politisi. Ah, memangnya ada selingkuhan abadi? Tapi … kamu tak mungkin melakukannya!

 

AKU ternyata telat tiga puluh menit. Sedari dalam perjalanan, ponselmu tidak aktif. Perasaanku sungguh berkecamuk. Kamu malah menyambutku di pintu restoran dengan napas megap-megap seperti ikan yang dikeluarkan dari akuarium di pangkuan istrimu yang berteriak panik minta tolong. Terkutuknya, pandangan perempuan itu menabrakku. “Tolong saya. Jantungnya kumat!” Oh.

Istrimu memintaku duduk tepat di belakang bangku sopir. Kau dibaringkan dengan posisi yang membuatku tiba-tiba singkuh, padahal di apartemenku kau biasa menjadikan pahaku bantal ketika ingin curhat urusan politik sambil bermanja-manja. Tapi, posisi miring—bahkan nyaris menelungkup—dengan wajah mencium perutku saat ini justru lebih bahaya! Pasti istrimu tak sadar karena sedang buru-buru. Benar saja. Lima menit setelah mobil melaju, ia menginjak pedal rem. “Oh,” lenguhnya seraya melihatku dari spion, “aku tak bermaksud membuatmu tidak nyaman …”

“Tidak, Kak,” kataku ketika istrimu hendak membuka pintu. Ia pasti teringat posisi bahayamu. “Ayahku meninggal oleh serangan jantung,” tentu saja aku berbohong. “Aku bisa merasakan kepanikan Kakak …”

“Bagaimana dengan prakarya putraku ini?” tangan kirinya hendak memindahkan tripleks berukuran 50×50 cm di belakang persneling. Keberadaan benda itu memang tidak menggangguku, tapi ia menutupi tubuhmu dari pantuannya di bangku kemudi.

Aku menggeleng. “Kakak nyetir saja.”

“Makasih banyak, Dik …”

Kalimat istrimu menggantung. Kehadiran perempuan berdaster berambut kusut yang memangku teman hidupnya tentu ketaklaziman yang tak kuasa ia tolak. “Suami Kakak masih pingsan. Kita harus bergegas.”

Mobil pun kembali melaju. Kulihat ia menyetel Google Map. Buat apa? Sebagai orang sini, dia pasti dia hafal letak rumah sakit terdekat? Ah, orang panik kadang tidak sadar apa yang ia lakukan.

“Aku mendapat telepon kalau suamiku janjian dengan seorang pemain teater yang sering bergaya ala wanita karier di acara barusan. Aku tidak percaya, tapi aku bermaksud melabrak mereka kalau itu benar.”

Perasaanku mulai tak enak. Tubuhmu yang tadi dingin perlahan-lahan kembali normal. Google Map memberi tahu perjalanan kami akan memakan waktu dua puluh menit. Istrimu memukul kemudi. Ia pasti cemas sekali.

“Ketika rekan-rekannya sudah pulang, suamiku ternyata masih di restoran. Tentu aku makin curiga. Tapi, pemain teater itu tidak ada. Ketika melihatku ia langsung ambruk. Dia memang punya riwayat sakit jantung, tapi sudah lama tidak kumat.”

Tentu saja kau terkejut karena yang datang adalah istrimu, bukan aku.

“Oh, aku merasa sangat bersalah. Ternyata penelepon yang belum kulihat batang hidungnya itu berbohong.”

Kini, kurasakan sesuatu bergerak di pangkuanku. Oh, kamu mencium-cium perutku!

“Bagaimanapun ia adalah suami dan ayah ideal.”

O Tuhan, aku mau muntah.

“Ia memang kerap minta waktu keluar beberapa hari. Tentu saja aku tak mau rewel. Ia pasti suntuk dan butuh me-time. Ah, ia pasti menyesal jadi politisi.”

Tentu me-time itu artinya kau menonton pementasanku sebelum menghabiskan malam di apartemenku. “Kapan ya kita bisa pentas teater bareng?” selorohmu suatu waktu. Kini, tanganmu perlahan-lahan bergerak menyingkap dasterku. Dasar! Aku ingin memberitahu istrimu kalau kau sudah siuman (atau kau sedari tadi memang tidak pingsan?), tapi lidahku kelu.

“Tubuhnya masih dingin?”

Aku terperanjat. Tangan itu berusaha melepas celana dalamku.

“Biasanya,” kata istrimu lagi, “kalau siuman ia pulih sendiri tanpa harus ke UGD.”

Kamu bukan hanya sudah siuman, tapi sukses menyingkap dasterku hingga kepalamu leluasa bermain di sebaliknya. Taik! Berani-beraninya kau!

“Tapi, dia harus minum obat yang hanya bisa didapatkan di rumah sakit atau apotek atas resep dokter. Aku rasa persediaan obatnya sudah lama habis  … “

“Bagaimana kalau dia tidak minum obat itu, Kak?” celana dalamku sudah turun hingga dengkul.

“Beberapa kali ia hampir mati karena obat habis pas dia kumat. Makanya kita harus ke UGD!”

“Oh,” aku tak tahu itu ungkapan empati atau erangan kenikmatan, “sayangnya jalan macet parah.” Ya, memang banyak tenda nikahan yang memakan hampir separuh jalan raya. “Pemda kita sering kurang tegas kalau sama orang kaya!” baru kali ini aku bermain teater di dalam mobil.

“Kamu benar, Dik,” jawabnya  cepat. “Coba kalau suamiku tahu, sebagai wakil rakyat pasti dia sudah mencak-mencak.”

Hmm.

“Semoga sakitnya tidak serius sehingga rencana kami besok tidak harus berantakan.”

“Lho, kalian mau ke mana, Kak?” oh, aku pasti kedengaran ikut campur sekali.

“Kami harus terbang ke Singapura. Sudah packing.”

Aku sangat marah dan geram. Refleks kusingkirkan kepalamu dari selangkanganku dan menutup kembali dasterku.

“Kami akan pindah. Sudah lama aku menginginkan itu. Alasanku sih pendidikan anak-anak dan memang keluargaku banyak di sana. Ya, aku keturunan Tionghoa kaya di sana. Hmm, maaf, tidak bermaksud pamer.”

“Suami Kakak setuju?” aku melihat ke bawah, kau menggeleng-gelengkan kepala, memintaku tidak memercayai kata-katanya.

“Ya, sepekan terakhir suamiku seperti dapat ilham dan memintaku segera mengurus ulang semuanya agar kami bisa segera tinggal di sana.”

Aku membelalak ke arahmu yang menyatukan kedua telapak tangan, memohon agar aku tidak emosi. Buru-buru kukenakan kembali celana dalam.

“Dia memang sempat bilang ada gadis ganjen yang mengejar-ngejarnya. Asumsiku, itu pasti pemain teater itu! Dia pasti cuma mengejar uang suamiku. Namanya juga aktris, jagonya sandiwara! Dasar lonte panggung!”

“Dia bilang begitu?” kulihat kau memejamkan mata. Bangsat! Aku cubit lenganmu kuat-kuat. Tapi, kau tidak berteriak. Wah, hebat juga kau ya!

“Suamiku pernah mengancam, kalau kami tak lekas pindah, aku dilarang menangis kalau dia pindah ke lain hati!” istrimu lebih tertarik bercerita daripada menanggapi kata-kataku.

“Tentu saja dia main-main. Alasan utamanya ‘kan karena bulan depan posisinya di DPRD di-PAW-kan sekretaris partai. Mungkin karena partai baru, harus bagi-bagi kue. Jadi, dia memang tidak harus punya tanggung jawab politik. Tapi … aku malah mengaitkan kabar bodong dari teman separtainya dengan candaan itu. Persaingan antar-rekan politik bisa sehoror ini rupanya!” istrimu memutar kemudi sehingga mobil berbelok ke kanan.

Google Map memberi tahu: tiga ratus meter lagi kami akan tiba di rumah sakit. Aku mencubitmu sekencang-kencangnya. Tapi, tanganmu terasa dingin sekali. Kini, kepalamu seperti terlonjak dan dada naik-turun. “Sakit jantung suami Kakak kambuh lagi!”

“Di belakang kursimu ada tabung oksigen, Dik,” suaranya terdengar panik. “Ambil dan tarik selangnya. Sematkan ujungnya ke hidung suamiku.”

Aku menoleh ke belakang dan mencangking benda itu. Cinta gila istrimu ini. Kamu yang sakit jantung, alat bantu bernapas itu malah stand by di mobilnya.

“Bagaimana, Dik?” nada suaranya cemas.

“Sudah kupakaikan ke hidungnya. Kakak fokus saja nyetir.” Hidungmu gelagapan menyerap asupan oksigen. Tapi, kau masih terpejam. Tubuhmu pun masih dingin. Ternyata kau memang mengidap sakit jantung.

Rupanya, audio ponsel istrimu otomatis tersambung ke pelantang suara tape mobil sehingga aku  mendengar percakapannya dengan kedua putramu yang sudah menunggu di UGD. Mereka menangis dan istrimu gagal meminta mereka tenang.

Google Map menjanjikan kami akan akan tiba lima menit lagi, tapi jalanan masih macet.

Aku menatapmu yang mulai belajar bernapas. Aku lepaskan selang itu dari hidungmu. Matamu sempat terbuka sedikit sebelum kemudian tertutup dan napasmu mulai megap-megap lagi. Kalau bisa bersuara, kau pasti berteriak memohon agar aku memasangkan kembali alat bantu pernapasan itu. Sayang sekali, tanganku memilih mematuhi perintah otakku: biarkan!

Mobil itu berhenti di depan pintu UGD. Tubuhmu dingin dan perlahan membiru. Kulekatkan alat itu ke hidungmu ketika petugas rumah sakit membuka pintu. Tapi, kamu sudah pulang rupanya. Cukup sudah aktingnya. Layar sudah diturunkan sebelum babak terakhir dimainkan. Tangisan keluargamu pecah. Aku juga menangis, memikirkan Tuhan seorang yang menonton pementasan kita barusan.***

 

Lubuklinggau, 5-21 Agustus 2020

BENNY ARNAS lahir dan berdikari d(ar)i Ulaksurung. Novel-novel mutakhirnya: Bulan Madu Matahari sedang tayang secara bersambung dalam format suara di Youtube dan Ethile! Ethile! sedang tayang di Kwikku. Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas.