Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 26 Agustus 2020)

1

Sebagai makhluk sosial, gerombolan dan keterbukaan dunia kerap membuat kita mempertanyakan jalan, cara, formula, atau proses yang saya jalani dalam melakukan atau menghasilkan sesuatu. Tidak bisa tidak, kehidupan bersama kerap membelah kita ke dalam dua kubu: mayoritas dan minoritas atau dominan dan terpinggirkan atau superior dan inferior atau yang kuasa dan yang ditindas atau yang percaya diri dan minderan atau bahkan yang diklaim/mengklaim dirinya benar dan yang salah.

Saya ingin mengantar Catatan Rabuan ini dengan cerita hidup saya yang saya susun kronologis.

1.

Ketika SD, saya heran sekali mengapa banyak teman-teman saya suka jajan, sementara saya lebih suka bermain di waktu istirahat. Buat apa mereka jajan, bukankah sudah sarapan di rumah? Tidakkah mereka kenyang sebagaimana saya yang mengisi perut dengan nasi putih atau nasi goreng + ikan asin buatan Mak di waktu pagi.

Namanya juga anak kecil, saya tidak pernah kepikiran kalau keheranan itu salah satunya disebabkan uang jajan saya yang cuma 50 rupiah (bisa membeli sepiring lontong saat itu) karena Papa masih honorer di kantor pemerintahan dan Mak hanyalah ibu rumah tangga. Mungkin juga karena masih kecil, saya melihat “perbedaan” itu sebagai sesuatu yang lumrah saja.

Teman-teman terus jajan, saya terus menabung uang saku.

2.

Ketika kuliah, saya takjub sekali dengan sebagian (besar?) teman kuliah yang begitu antusias masuk kelas Statistik atau Matematika atau Biokimia yang penuh dengan rumus dan hitung-hitungan. Saya sudah berulang kali mencoba seperti mereka—berusaha menyukainya, tapi selalu gagal. Saya kerap menyalahkan diri dengan kalimat, “Udah tahu lemah hitungan, nekat masuk Fakultas Pertanian?!”

Saya belajar keras agar IPK tidak di bawah 3. Tapi, ada yang lebih penting ingin saya katakan: saya berorganisasi dan aktif bernasyid. Bahkan intensitas keduanya mengalahkan urusan kuliah. Saban merancang acara-cara di BEM kampus dan latihan atau tampil nasyid, saya lupa urusan kuliah dan tentu saja saya lebih gembira dan merasa benar-benar “hidup”.

3.

Tamat kuliah, sebagaimana fresh-graduate pada umumnya, saya melamar kerja ke sana-kemari. Diterima, tapi tak satu pun yang membuat saya nyaman. Saya yang kala itu sedang getol-getolnya membaca—sebelum akhirnya menulis—merasa pekerjaan itu menyita banyak sekali waktu bergembira saya, termasuk membaca banyak buku.

Cukup dua tahun saya diombang-ambing oleh prestise semu kerja berseragam dan berdasi kala itu. Saya meninggalkan semuanya dan mulai sering menulis. Orangtua kecewa, saya tahu. Tahun itu juga, cerpen saya dimuat Kompas. Orangtua mau ikutan gembira ketika melihat kegirangan saya dengan capaian itu, tapi mereka bingung harus bagaimana mengekspresikannya begitu tahu honornya “cuma” satu juta!

4.

Ketika sudah menulis dan menerbitkan buku cukup banyak, saya mulai sering diundang ke sana-kemari untuk memberi seminar, pelatihan, lokakarya, atau sekadar narasumber diskusi santai tentang sastra dan kepenulisan. Saya mulai bingung, bagaimana harusnya saya bicara tentang cara menulis yang baik, cara menghasilkan cerpen yang nyastra, atau trik menembus media. Sejujurnya, saya menulis nggak pakai rumus. Apa yang saya pikirkan—dan saya pikir penting dan perlu—saya menumpahkannya ke layar komputer atau laptop begitu saja. Saya tidak memiliki alur kerja kreatif yang spesifik, apalagi tips atau trik khusus untuk melakukannya.

Saya bingung. Saya pun membaca banyak buku How To terkait kepenulisan. Saya salin dan modifikasi beberapa untuk saya terangkan kepada audiens, tapi kok saya rasanya menipu mereka sebab saya sendiri tidak menerapkan rumus-rumus mengarang itu.

Oh, belakangan saya tahu dan kesal pada diri sendiri: mengapa saya lebih memercayai formula orang lain sekaligus menganggap proses kreatif sendiri—yang jelas-jelas sudah terbukti melahirkan banyak karya—sebagai sesuatu yang tak layak saya siarkan?

5.

Tapi proses kreatif ‘kan genuine? Tidak sama satu sama lain. Kalau dipaparkan di hadapan para calon penulis baru akan rentan disalin bulat-bulat sehingga alih-alih membuat mereka terbantu, malah membuat makin bingung—“diikuti kok nggak cocok-cocok, diabaikan kok rasanya nggak mungkin mentor bercerita asal-asalan.”

Saya merintis Linggau Writing Class (yang pada 2017 menjadi Bennyinstitute Writing Class) sejak 2013 untuk mencari dan menguji formula proses kreatif saya dengan preferensi sebagian besar peserta dengan tujuan akhir: kelas saya bisa menggerakkan banyak calon penulis untuk menemukan cara(-cara) terbaik versi masing-masing dalam melahirkan tulisan.

Tidak mudah memang.

Saya hanya sekali menerima tawaran mengisi kelas menulis daring selama satu (atau dua bulan, saya kurang ingat) dan saya merasa “gagal” mengelola kelas karena materi-materi saya masih berurusan dengan bagaimana menulis, bukan bagaimana menemukan cara terbaik menulis menurut mereka masing-masing. Sejak itu, semua tawaran memberi kelas menulis berorientasi karya secara daring (biasanya dalam beberapa kali pertemuan) saya tolak!

6.

Hingga akhirnya saya tiba di titik ini, di tahun ke-12 kerja kepenulisan saya. Beberapa hal penting yang saya garis bawahi:

⁃ Kelas menulis sebaiknya tidak selesai dalam satu-dua pertemuan. Berapa lama? Tergantung. Untuk komprehensivitas, saya menyebut di atas 10 kali. Bisa 15 atau 20 atau 30 kali. Menulis itu memang urusan kita sejak SD, tapi menulis yang baik setara dengan kemampuan seorang matematikawan menemukan rumus atau latihan menerbangkan pesawat tanpa rasa takut sebagaimana yang dilakukan para (calon) pilot atau keahlian pemanjat kelapa memetik puluhan kelapa kurang dari 7 menit!

⁃ Artinya, kelas-kelas menulis selama ini sungguh rentan “menipu” calon peserta karena mereka hanya dapat permukaannya saja (meski panitia atau penulis ekshibisionis akan mengganti “permukaan” dengan “daging-dagingnya” atau “cara praktis menulis novel” atau “sehari bisa menulis buku!”—alamakjang!

⁃ Sementara itu, formula membantu-menemukan-cara-menulis-terbaik-masing-masing yang sedang saya susun sendiri lambat laun menemukan bentuknya. Dengan dukungan tim kreatif, saya rasa tidak baik juga saya menundanya entah sampai kapan.

⁃ Model kelas menulis di Youtube menurut saya adalah salah satu media pengajaran (cum pembelajaran) yang memberikan keluasan bagi pemateri untuk bicara sampai tuntas dan mencegah para yang gemar mengutarakan pertanyaan langsung dan interupsi dalam kelas kopi darat, sangat potensial membuat kelas terdistraksi. Saya berani katakan, salah satu proses belajar terbaik adalah menimimalisir bertanya: cocok, ikuti; susah dipahami, tinggalkan.

***

Uraian di atas ingin mengatakan bahwa kita pernah percaya diri dengan apa yang kita yakini dan lakukan dengan nyaman dan gembira ketika kecil. Lambat-laun kita dipengaruhi lingkungan dan meragukan proses kreatif kita yang tidak sama dengan kebanyakan orang. Tapi … berproses tanpa henti membuat kita makin santai menjalani dan memandang karakter berproduksi: bahwa cara terbaik untuk tumbuh dan berkembang adalah dengan menemukan cara terbaik/ternyaman/menyenangkan untuk menuntaskan atau mencapai sesuatu, persis seperti kita kecil dulu ….

Sebagaimana Bumi, proses kreatif itu ternyata berputar-putar untuk kemudian kembali ke tahap yang pertama: menjadi anak kecil yang tak cemas dengan pilihannya dan bergembira dengan sesuatu yang dipilihnya. Kita bisa membaca semua buku, mengikuti puluhan kelas, dan konsultasi ribuan jam, tapi ketika berkarya secara organik; melupakan semuanya, mengandalkan keinginan dan referensi yang sekiranya nyangkut di kepala (jangan berusaha keras mengingat, sia-sia!), hingga akhirnya menemukan cara terbaik. Apa itu? Hanya kita yang tahu dan merasakannya. Seperti apa itu? Tidak perlu dimaklumatkan sebab tiap orang berbeda. Hanya yang berani dan percaya pada temuan cara terbaik sekaligus genuine-nyalah yang akan berkarya dengan gembira.

2

Dan dalam urusan menulis, kalau Anda belum menemukan cara atau membutuhkan rangsangan untuk sampai di sana, mengikuti #kelasmenulis saya di Youtube sungguh patut dicoba. Pertemuan perdananya baru digelar Jumat ini. Video pengantar singkat berikut ini mungkin akan memberikan Anda gambaran bagaimana kelas ini akan mengajak Anda keluar dari gerombolan, menemukan tulang belakang proses menulis Anda sendiri.

Ah, maafkanlah kalau ada yang gemes dengan ending catatan ini ya! 🙂 *

 

Lubuklinggau, 25-26 Agustus 2020

Benny Arnas lahir, besar, (dan) berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Novel-novel mutakhirnya, Ethile! Ethile! dan Bulan Madu Matahari sedang tayang di platform digital. Agustus 2020 ia merilis #kelasmenulis di kanal Yotube-nya.