Cerpen Kiki Sulistyo (Kompas, 23 Agustus 2020)

Hulk Gang Melayu ilustrasi Rudy Farid - Kompas (1)
Hulk Gang Melayu ilustrasi Rudy Farid/Kompas

Anak-anak di Gang Melayu malafal nama “Hulk” dengan menambah huruf ‘e’ setelah huruf ‘l’, sehingga terdengar seperti “Hulek”. Nama itu jadi berkesan lucu karena dekat dengan kata ‘ulek’, yang mengingatkan pada anak cobek yang bergoyang-goyang ketika ada orang membuat sambal.

Sambal itu pedas dan panas, seperti juga Ismail ketika sedang marah. Sambil menggeram kuat-kuat hingga nyaris seperti menangis, Ismail akan merenggut bajunya sampai kancing-kancingnya berlepasan memperlihatkan dadanya yang berlemak. Wajahnya memerah ketika dia berusaha menunjukkan otot-ototnya.

Bisa dipastikan saat itu perkelahian bakal segera terjadi. Seolah memperoleh kekuatan besar, Ismail mengamuk, memukul lawannya sembarangan. Meskipun pada akhirnya Ismail tak pernah menang dalam perkelahian, dan selalu pulang sambil menangis, tindakannya merobek baju sendiri itu berhasil membuatnya dijuluki “Hulk”, tentu dengan tambahan huruf ‘e’, sehingga terdengar seperti “Hulek”.

Selain tidak pernah menang dalam perkelahian, Ismail juga tidak pernah menang dalam permainan. Layang-layangnya selalu putus karena kalah bertarung dengan layang-layang anak lain. Ketika dia ikut mengejar layang-layang yang sudah putus itu, untuk merebutnya kembali, dia selalu bisa disingkirkan oleh anak-anak lain.

Dalam permainan yoyo, ketika anak-anak lain memperagakan kemampuan memutar yoyo dalam waktu lama, yang membuat percikan api ketika batu api yang dipasang di sisi yoyo bergesekan dengan lantai, Ismail hanya bisa memainkan yoyo dengan cara paling dasar, yakni melempar yoyo ke bawah dan langsung tertarik ke atas. Begitu juga dalam permainan paksodor atau benteng. Tubuhnya yang gemuk membuat Ismail tak lincah bergerak hingga gampang dikejar.

Sebenarnya, permainan yang paling disukai Ismail adalah gambar umbul, sebab tidak dibutuhkan kelincahan dan kecakapan fisik atau keterampilan apapun ketika memainkan gambar umbul. Cukup melempar beberapa lembar gambar umbul ke udara, kemudian melihat milik siapa yang jatuh dengan sisi depan menghadap atas, dialah yang jadi pemenang dan berhak atas lembar-lembar gambar umbul yang dipertaruhkan.

Namun, dalam permainan yang untung-untungan ini pun Ismail sering kalah. Ada saja anak lain yang berlaku curang; menekuk ujung gambar umbulnya, atau memakai gambar umbul yang sudah direndam dalam minyak tanah agar mengeras. Kedua cara itu dipercaya bisa membuat gambar umbul yang dilempar akan selalu jatuh dengan sisi depan menghadap atas.

Ada dua macam gambar umbul. Pertama, yang gambar-gambar tiap panelnya seperti cerita bersambung. Kedua, yang gambar-gambar di tiap panelnya berdiri sendiri, misalnya menampilkan sosok-sosok pendekar, hantu, tokoh pewayangan, atau superhero. Sedang di sisi belakang terpampang gambar rambu-rambu lalu lintas. Satu lembar besar gambar umbul berisi 36 panel yang ukurannya lebih kecil dari kartu remi.

Sebelum dimainkan lembaran itu harus digunting untuk memisahkan panel-panelnya. Seorang anak akan memilih satu panel sebagai ‘kartu andalan’, yang akan diadu dengan kepunyaan anak lain, dengan cara dilempar ke udara.

Mungkin dari gambar umbul yang berisi sosok superhero itulah Ismail mengenal Hulk. Ketimbang memilih Superman, Batman, Kapten Amerika, atau Flash Gordon, Ismail lebih suka pada Hulk. Barangkali karena dia melihat sosok dirinya pada Hulk; gemuk dan pemarah.

Sering ketika tidak ada anak yang main curang atau tidak ada hal-hal yang mesti dipertengkarkan, justru Ismail yang cari gara-gara, misalnya mengganggu anak perempuan yang lebih kecil. Tentu saja anak perempuan itu (sebenarnya bukan karena ia perempuan, tetapi karena ia memang lebih kecil dari Ismail) akan menangis dan melapor pada abangnya. Maka tersinggunglah si abang hingga memicu perkelahian dengan Ismail. Di akhir perkelahian, Ismail selalu berjalan pulang sambil menangis.

Anak-anak di Gang Melayu tahu bahwa Ismail hanya ingin menunjukkan aksinya ‘berubah’ menjadi Hulk, karena itu Ismail butuh alasan. Tapi kalau sudah melihat Ismail berjalan pulang sambil menangis, anak-anak lain justru mulai takut, terutama anak yang berkelahi secara langsung dengan Ismail, sebab Ismail pasti akan melapor ke bapaknya.

Semua anak-anak di Gang Melayu takut pada Om Nahar. Orangnya tinggi besar, berewokan, dan punya beberapa tato. Meski tidak pernah membela anaknya—dengan cara mendatangi lalu memarahi anak yang berkelahi dengan Ismail dan membuat Ismail menangis—melihat sosoknya saja, anak-anak membayangkan betapa mengerikannya jika dia sampai marah. Pendeknya, kalau anaknya saja demikian pemberang, apalagi bapaknya.

Ketika di Gang Melayu beredar selebaran fotokopian berisi anjuran untuk memfotokopi dan menyebarkan selebaran itu pada puluhan orang, yang kalau tidak dilaksanakan bakal mendatangkan nasib sial, Ismail termasuk yang melaksanakan. Dia takut dimakan buaya, sebagaimana yang dikisahkan dalam selebaran sebagai peringatan bagi siapa saja yang tidak mau memfotokopi dan menyebarkan kembali selebaran itu.

“Masak ‘Hulek’ takut sama buaya, hahaha,” ejek seorang anak ketika menerima fotokopi selebaran itu dari Ismail. Tentu saja Ismail langsung murka. Seperti biasa, setelah pertengkaran singkat, Ismail merenggut bajunya ke arah berlawanan, supaya kancingnya lepas, dan dia ‘berubah’ menjadi Hulk. Tetapi rupanya dia lupa bahwa saat itu dia memakai baju kaus yang tidak ada kancingnya. Adegan itu membuat anak-anak lain terbahak-bahak.

Tak mau menanggung malu, Ismail membuka kausnya sambil menggeram dan langsung menerjang anak yang pertama mengoloknya.

Mereka bergumul dan saling pukul, berguling-guling di tanah bagaikan dua butir tomat yang menolak diulek. Beberapa remaja dan orang dewasa yang lewat melihat perkelahian itu dengan acuh tak acuh. Mereka memang berusaha melerai, tetapi hanya dengan satu atau dua potong kata, itu pun sembari jalan berlalu.

Perkelahian tetap berlangsung, dan akibatnya memang agak parah. Pelipis Ismail berdarah terbentur tembok. Kontan sebagian anak yang menonton segera angkat kaki, seperti tak mau terlibat.

Sementara beberapa anak lain ambil posisi, seolah-olah membela Ismail dengan cara menyalah-nyalahkan lawannya. Ismail sendiri langsung meraung-raung dan berlari pulang. Kali ini Om Nahar tampaknya segera turun tangan, bertanya ke setiap anak yang dia temui, juga pada orang dewasa, siapa yang telah membuat pelipis anaknya mengucurkan darah.

Sebenarnya lelaki berewokan itu sudah tahu, karena Ismail sudah memberitahunya. Tindakannya mungkin sekadar untuk menghibur Ismail, atau mungkin juga pada saat itu dia sedang senewen oleh persoalan lain, dan butuh sedikit keributan untuk menyalurkan kesenewanannya.

Orang-orang dewasa di Gang Melayu sebenarnya tahu kenapa Om Nahar senewen. Selain selebaran tadi, saat itu di Gang Melayu juga beredar kabar tentang orang-orang yang membawa karung dan gemar menculik anak-anak untuk dijadikan tumbal pembuatan jembatan, juga kabar munculnya Hantu Petrus. Anak-anak lebih takut pada orang yang membawa karung, ketimbang pada Hantu Petrus. Nampaknya hantu yang terakhir ini hanya berurusan dengan orang dewasa, sedang orang-orang yang membawa karung, mengincar anak-anak.

Sejak peristiwa berdarahnya kepala Ismail, tempat yang biasa dipakai bermain oleh anak-anak Gang Melayu terlihat sepi. Anak-anak itu takut kalau-kalau Om Nahar masih mencari mereka. Dan mereka sama sekali tak mau terlibat urusan dengan lelaki itu. Sewaktu anak-anak mulai pudar rasa takutnya, justru Om Nahar yang jarang terlihat. Bahkan kemudian lelaki itu tidak pernah lagi terlihat.

Di rumahnya, Ismail hanya tinggal bersama ibu dan kakak perempuannya. Ketika hal itu ditanyakan pada Ismail, dia tidak menjawab. Dia hanya menunduk dan tampak murung. Sejak itu Ismail juga tidak pernah lagi ‘berubah’ menjadi Hulk. Kalau ada anak yang mencuranginya, dia diam saja. Ketika tidak ada hal-hal yang mesti dipertengkarkan, dia juga tidak lagi berusaha cari perkara. Pendek kata, Hulk sudah tidak lagi senang berkelahi. Dengan begitu juga, Hulk tidak pernah lagi berjalan pulang sambil menangis.

Anak-anak Gang Melayu tidak ada yang sepakat pada satu kesimpulan atas pertanyaan ke mana perginya Om Nahar dan kenapa Ismail jadi berubah seperti itu. Orang-orang dewasa bahkan tidak ada yang membicarakan perihal menghilangnya Om Nahar, seolah-olah lelaki berewok itu tidak pernah ada.

Gang Melayu tetap sebagaimana biasa; suatu gang kecil di pusat kota pelabuhan, terletak beberapa meter ke arah utara dari tugu kecil peninggalan Belanda, di belakang bioskop tua yang setiap film diputar suaranya bisa terdengar sampai rumah-rumah warga. Entah kenapa gang itu diberi nama Gang Melayu, padahal penghuninya yang sedikit itu bermacam-macam; ada orang Bugis, Ambon, Kalimantan, Tionghoa, atau Arab.

Meski Gang Melayu tampak seperti biasanya, tapi anak-anak di sana telah kehilangan Hulk, pahlawan super mereka, yang sama sekali tak punya kekuatan apa-apa untuk mencari atau membawa pulang kembali bapaknya, pelindung utamanya. ***

 

Mataram, 13 Mei 2020

Kiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan cerpennya yang terbaru, Muazin Pertama di Luar Angkasa, bakal segera terbit.

Rudy Farid, lahir di Bandung, 1967. Menamatkan pendidikan sarjana desain grafis Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1991 dan Magister Desain ITB pada 2013. Dosen tetap di FDKV Widyatama serta dosen luar biasa di ITB.