Cerpen Nurillah Achmad (Jawa Pos, 23 Agustus 2020)

Dua Pembunuh dalam Satu Waktu ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)
Dua Pembunuh dalam Satu Waktu ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

SEPASANG kerbau bajak berendam di anak sungai. Munaji yang berada tak jauh dari binatang peliharaannya itu membersihkan kaki dan tangan yang penuh lumpur. Dari kejauhan ia mendengar bising traktor. Dadanya bergemuruh. Cepat-cepat ia menjejakkan kaki pada tumpak belukar, lalu meniti pematang. Meninggalkan sepasang kerbau dan deru traktor yang bergerak mendekap pohon-pohon.

Belakangan ini, Munaji kerap dihantui ketakutan. Dua puluh tahun menggarap sawah, baru sekarang ia benar-benar gundah. Ia tahu perkembangan zaman tak bisa dilawan. Namun, perkembangan zaman pula yang menyebabkan berkelindan segala macam utang. Ocehan kebutuhan dapur dan iuran tembok kukuh sekolah tumpah ruah ke segala sudut tubuh bagai anak panah lepas dari busur.

Utang-utang yang kian menikam badan itu menyebabkan Munaji ingin gantung diri sebagaimana yang diperbuat Mat Ra’i setahun lalu. Di sini, di Bumi Pandalungan ini, para lelaki menghafal rumus tembakau serupa mengingat kelahiran bayi yang keluar dari farji perempuan. Menanam tembakau tak ubahnya berjudi. Kalau untung, bakal naik haji berkali-kali. Kalau buntung, nyawa melekat harus disyukuri. Agaknya, Mat Ra’i hendak bermain api. Padahal, isu tembakau yang digenjot kenaikan cukai telah diembuskan penguasa jauh-jauh hari.

Sebetulnya, ketika Munaji menengok Mat Ra’i yang gantung diri pada batang mahoni—musabab berton-ton tembakaunya ditolak gudang—saat itulah benih risau mulai tumbuh. Sebagai petani yang hanya memiliki sepetak sawah sempit, tak bakal mumpuni menghidupi keluarga melalui panen empat bulan sekali. Apa boleh dikata, mulut-mulut petani merekah. Hampir seluruh petani beralih ke traktor baja, padahal kerbau bajak adalah sumber keuangannya.

Munaji yang tiba di belakang dapur memasang tampang bersungut. Istrinya yang sedari tadi menunggu di ambang pintu cepat-cepat mengambil bakul dan memindahkan isi tak seberapa itu ke atas piring. Seakan tak memedulikan keadaan, Munaji bersila di atas lincak dan melahap nasi bersama ikan asin. Perut Misni berbunyi nyaring, tapi ia pura-pura batuk. Pura-pura menyerakkan suara.

“Dur Rahem datang bersama istrinya. Dua pekan lagi mereka berangkat ke Taiwan,” kata Misni. Munaji tak menyahut.

“Aku sudah menyerahkan fotokopi KK dan KTP. Bisa jadi aku berangkat bersama.”

Munaji menaruh piring. Ditatapnya lekat-lekat istrinya itu. Belum sempat mengucap sepatah kata, Misni menjegalnya terlebih dulu.

“Gaji di sana sembilan juta. Tidak sampai setahun, utang kita lunas. Bahkan kita bisa berbenah rumah. Bisa beli sawah. Beli sepeda keluaran anyar. Bisa beli…”

“Tapi kau baru pulang tujuh tahun lagi.”

Percakapan berakhir. Misni memungut piring yang belum bersih itu.

***

Tidak ada yang keliru dengan kepergian Misni. Tidak ada yang keliru dengan pergantian rumah reot menjadi rumah megah di antara rumah reot yang lain. Namun, gemeretak ngilu bukan berarti tidak terdengar ke Taiwan. Berkali-kali Misni menerima kabar berduri bahwa lelakinya hidup bak raja dalam istana bersama permaisuri muda yang tak lain adalah kerabatnya.

Biar kontrak kerja berkata baru bisa pulang usai tujuh tahun lamanya, Misni bersikukuh pulang kampung. Hendak membuktikan seluk-beluk penderitaan yang ia simpan bertahun-tahun. Tanpa sepengetahuan Munaji, ia tiba di rumah megahnya pada malam hari ketika langit tiba-tiba gerimis. Seolah-olah ikut menangis manakala Misni mengendap-ngendap lewat pintu belakang, dan ia mendapati adegan paling memuakkan. Perempuan itu tak mampu menenangkan gelombang yang telanjur menerjang ubun-ubun. Nyala dendam mengantarnya pada sebilah kapak di sudut dapur.

Akhirnya, lubang menganga dalam dadanya tuntas saat darah merah muncrat sebagai sejarah. Misni berhasil menebas kepala Munaji, sedangkan selingkuhannya berhasil melarikan diri tanpa sempat memakai celana dalam dan kutang.

***

Bunyi gerigi besi bego yang mengeruk bebatuan kian menggigilkan tulang. Murtadi tersenyum payau mendapati mandor meminta sopir bego pindah haluan ketika batu-batu ditengarai rentan runtuh. Tangannya mengepal. Dadanya sesak. Bukan apa-apa. Dua bulan lalu, justru dirinya yang berada di gumuk itu. Mereka mengais rezeki dengan cara menggali batu fondasi yang kini diminati banyak orang. Menggunakan linggis dan palu, mereka membuat jalan setapak sebagai akses keluar masuk truk pengangkut hasil galian. Namun, tebing setinggi 5 meter tiba-tiba longsor dan menimpa Jasen. Polisi bertindak cepat dengan menghentikan penambangan.

Murtadi tak paham mengapa aparat keamanan menyebutnya sebagai penambang ilegal, padahal gumuk yang ia gali atas izin pemiliknya. Malah dua Minggu lalu, gumuk itu kembali dikeruk menggunakan bego, dan mereka muncul di situ tanpa melarang.

Mana yang lebih kejam, hilangnya mata pencaharian atau utang-utang yang kian muram, rasa-rasanya Murtadi tak bisa memilih. Napasnya kian tersengal mendengar deru alat berat itu. Ingin rasanya ia berdiri di atas tebing lalu berteriak lantang, mengapa tambang mereka diperkenankan, tetapi tambang yang dikerjakan orang kecil ditentang? Napas Murtadi kian tersengal. Ia tinggalkan ladang Wak Umar, padahal ketela belum terserabut semua.

Rupanya, penjuru mata angin telah menguasai lelaki itu. Sesampainya di rumah, ia bongkar isi lemari dan memungut KTP. Jamilah yang mendapati suaminya menyentuh kunci sepeda butut keluaran tahun tujuh puluhan menarik lengan.

“Lebih baik kerja di sini meski hasilnya sedikit daripada di tanah orang yang rentan lupa kampung halaman.”

“Aku ini lelaki. Pantang berpangku tangan mendapati utang kian berjejal.”

“Lantas, dengan apa kita bayar ongkos ke Malaysia? Pinjam ke Wak Umar yang bunganya mencekik kita pelan-pelan?”

“Kau tak usah khawatir. Akan kukirim uang bulanan sebagai pelunas utang. Lagi pula aku masih punya harga diri. Tidak membiarkan istrinya pergi ke Taiwan yang gajinya lebih besar.”

Jamilah tak mampu menahan Murtadi. Keputusan suaminya menyeberang ke negeri jiran betul-betul terjadi.

***

Hari-hari terus bergerak. Bulan-bulan terus berarak. Tahun ke tahun yang bukan lagi sekadar bilangan angka seakan menjawab ketakutan Jamilah bahwa jarak terkadang melahirkan perih berkepanjangan. Murtadi benar-benar hilang. Entah hilang betulan atau sengaja tak berkabar, tak pernah ia kirim uang. Berkali-kali Jamilah mengutuk waktu, mengapa ia memiliki takdir buruk sebab ia tak hanya ditinggal lelaki, tetapi juga ditinggali utang ongkos keberangkatan Murtadi.

Baru pekan lalu, ia memberanikan diri menemui Husen, lelaki yang baru datang dari Malaysia. Mula-mula lelaki itu enggan membuka bibir. Lama-lama lelaki itu bersuara sebab bagaimanapun ia berangkat bersama Murtadi. Betapa gemuruhnya hati Jamilah ketika Husen menyebut Murtadi tak lagi di Malaysia, melainkan ke Taiwan mengejar gaji yang lebih besar. Sialnya, Murtadi menghamburkan gajinya bersama perempuan lain.

Maka, ketika tiba kesempatan menumpahkan segala kemarahan, Jamilah tak menyia-nyiakan waktu. Hari di mana ibu Murtadi wafat, dan meninggalkan sepetak sawah di tepi jalan yang ditaksir cukong dengan harga melangit, adik Murtadi meminta kakaknya pulang barang sebentar untuk mengurusi warisan. Jamilah menyambutnya dengan sebilah belati yang disimpan dalam kutang.

Sebagaimana perpisahan dua insan yang lama tak saling membuahi, Jamilah bertindak layaknya perempuan binal yang haus pelukan. Ia seret Murtadi ke dalam kamar. Ia biarkan suaminya melepas pakaiannya sendiri. Ketika lelaki itu hendak membuka pakaian bawah Jamilah, perempuan tersebut mendorong tubuh lelaki itu hingga telentang di atas ranjang, lalu ia tikam berulang-ulang.

***

Deru angin kemarau yang cukup kencang menyambut dua tahanan perempuan yang baru saja melepas seragam. Sebagai warga negara yang tercatat sebagai pembunuh, keduanya tak berada di kamar yang sama selama mendekam di Lapas Kelas II-A Jember. Tak ayal, mereka saling melempar senyum ketika melewati gerbang abu-abu yang bertulis Pintu Taubat.

Pembunuh Pertama membantu penjual kopi keliling yang kelimpungan menutupi dagangan. Angin yang makin kencang tak hanya mengayunkan dedaunan dan pohon ketapang, melainkan mengantar debu pada racikan.

“Nunggu angkot atau dijemput?” kata Pembunuh Pertama.

“Pulang ke rumah atau menghilang, pembunuh akan selalu dicap pembunuh. Kau sendiri?”

“Hendak mencari orang yang sanggup menerima pembunuh.”

Layaknya kawan lama tak berjumpa, keduanya saling bertukar cerita musabab terdampar di penjara. Pembunuh Pertama tergelak tawa ketika ia menangkap jalan cerita yang mirip.

“Ah, andai kau kerja di luar negeri,” ujar Pembunuh Pertama sembari mencecap kopi. “Kau bisa melampiaskan perselingkuhan suami. Seperti aku ini. Tahu suami selingkuh, tahu anak diserahkan ke Simbah, tahu gaji yang kukirim buat foya-foya dengan istri anyar. Ya, aku juga selingkuh di tanah orang.”

“Lantas, sekarang kau hendak mencari selingkuhanmu itu?”

Pembunuh Pertama mengangguk. “Kami sama-sama pulang dari Taiwan. Pisah di terminal. Sekarang mau ke rumahnya di Karangharjo.”

Pembunuh Kedua tercekat. Matanya tiba-tiba terbelalak. “Aku orang sana. Siapa selingkuhanmu?”

Segelas kopi diteguk habis. Pembunuh Pertama menyodorkan beberapa ribu. Angkot yang akan membawanya ke arah timur menepi.

“Murtadi,” bisiknya. “Dia ahlinya meremas payudara sembari menikam kemaluan.” (*)

 

NURILLAH ACHMAD. Menyantri di TMI Putri Al-Amien Prenduan, Sumenep, sekaligus alumnus Fakultas Hukum Universitas Jember, emerging writer Ubud Writers & Readers Festival 2019, saat ini tinggal di Jember, Jawa Timur