Cerpen Jemmy Piran (Koran Tempo, 22-23 Agustus 2020)

Misteri Bukit Iblis ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo (1)
Misteri Bukit Iblis ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Ketika iblis meninggalkan kerak neraka, datang ke bukit yang dipenuhi kelelawar itu, seorang nabi atau Isa sekalipun tidak bisa menghardik dan mengusir mereka.

***

PASTOR Arnoldus tidak percaya dengan cerita warga yang tinggal di dekat bukit yang dihuni kelelawar itu. Walaupun berkali-kali warga telah meyakinkannya bahwa sewaktu-waktu hutan di bukit itu menguarkan cahaya serupa bara api atau pohon-pohon bagai mendesiskan suara yang bagai datang dari kerak neraka, tangis dan kertak gigi atau cericit kelelawar yang bagai mengirim aroma kematian, ia tetap tidak percaya dan bahkan ingin melenyapkan bukit kecil itu dengan bom yang sudah dirakitnya.

“Sebelum aku melihat dan mendengar sendiri keajaiban yang kalian percakapkan, sekali-kali aku tidak percaya.”

Warga hanya menggeleng-geleng dengan lelaki yang diurapi itu. Mereka berdoa agar Pastor Arnoldus tidak jatuh dan mati ketika ada tanda-tanda kedatangan iblis. Awalnya, mereka mengira ia bagian dari iblis, sebab hanya iblis yang tidak takut kepada kelompoknya. Namun, ketika ia menumpangkan tangannya di atas kepala seorang yang sakit ayan, menjamah seorang yang buta, memberkati seorang bisu, dan meraba telinga seorang tuli, membuat mereka semua sembuh, warga menyangka ia adalah Isa yang datang untuk kedua kalinya.

“Kalian pernah mendengar kisah tentang manusia pertama yang jatuh dalam dosa?”

Mereka mengangguk.

“Tentang Isa yang mengusir setan dari seorang yang dirasuki ke dalam babi, yang kemudian terjun bebas ke dalam jurang?”

Sekali lagi mereka mengangguk.

Ia memandang warga dengan ketulusan yang penuh. Ia ingin membuktikan kepada mereka bahwa iblis-iblis tidak menghuni bukit itu, melainkan di dalam hati apabila mengikuti keinginan daging. Iblis tidak mungkin tinggal berdiam hanya pada satu tempat. Selagi manusia masih berada di bumi, iblis selalu berusaha menghasut agar manusia jauh dari Tuhan. Karena iblis ingin manusia harus kritis seperti mereka: mempertanyakan eksistensi Tuhan.

Iblis menaruh dendam lantaran mendengar manusia ciptaan Tuhan selalu memuji kebesaran Sang Pencipta. Tuhan itu sebetulnya tidak seperti yang manusia bayangkan. Bagi iblis, Tuhan itu terlalu ringkih. Hanya sebuah pertanyaan mudah saja, Tuhan tidak bisa menjawab.

“Iblis tidak membenci manusia. Itu sebabnya iblis tidak menetap di suatu tempat.” Pastor Arnoldus memandang mereka.

Mereka menggeleng. Bagaimana iblis tidak membenci manusia?

“Iblis hanya ingin menyadarkan manusia agar kritis dengan Tuhan. Karena, bagi para iblis, Tuhan bukan alasan terakhir ketika manusia tidak lagi memiliki jawaban.”

Warga terlihat mangut-mangut.

Sejak pertama kali datang di tempat ini, Pastor Arnoldus sudah berulang berseru, tidak ada setan atau iblis di tempat itu.

Akan tetapi warga, bagaimanapun upaya yang telah dilakukan Pastor Arnoldus, tetap mengarahkan pandangan ke arah bukit, membungkukkan badan, sesekali mendesiskan doa agar tidak mendapat kutukan. Membawa sesaji di bawah kaki bukit.

Namun pada lain kesempatan mereka bercerita, di bukit itu terdapat sebuah gua, tempat celeng-celeng dengan taring panjang dan tajam sering keluar dan menyerang penduduk. Gua itu, menurut mereka, terhubung ke gerbang neraka. Dan celeng-celeng itu adalah iblis. Bau, rakus, dan sangat berisik. Tetapi, berkaitan dengan celeng, Pastor Arnoldus menjelaskan bahwa semua binatang itu sama di hadapan Tuhan. Ia lalu mengatakan bahwa barang siapa merendahkan salah satu binatang di muka bumi ini, ia telah menghina kemurahan dan ciptaan Tuhan.

Ada juga cerita lain: pernah beberapa orang pergi ke bukit itu tapi tidak pernah sampai. Para pemuda berandal yang tidak takut maut menantang warga bahwa mereka akan kembali membawa cerita sesungguhnya tentang bukit tersebut, tapi lenyap tanpa jejak.

Pastor Arnoldus ingin membuktikan bahwa doa-doa yang ia panjatkan ke langit mujarab dan Tuhan memberkati mereka. Pada suatu pagi, saat ia menarik tali, lonceng berdentang nyaring. Orang-orang terkesiap bangun bukan karena bunyi lonceng, tapi karena mendengar suara debum bagai berasal dari dalam tanah. Sesaat setelah itu, mereka melihat cahaya kuning menguar dari dalam tanah di bukit kecil itu, kemudian menembusi langit yang gelap oleh awan.

Peristiwa itu membuat Pastor Arnoldus makin yakin bahwa doa dan dentang lonceng dapat menakuti iblis. Namun, setelah peristiwa itu, mereka kerap mendengar suara-suara aneh, seperti lengking sekarat dan kertak gigi.

Pada malam-malam selanjutnya, orang-orang mendengar ada kepak sayap yang beradu bagai mengambang di atas perkampungan. Mereka bermimpi melihat leluhur keluar dari dalam kubur, merangkak dan berjingkat seperti mendapat hukuman.

“Pertanda apalagi leluhur datang begini?” celetuk seseorang. Yang lain hanya mengangkat bahu.

Karena warga terus-menerus berbicara tentang bukit itu, akhirnya Pastor Arnoldus membawa bom ke bukit itu.

“Aku akan meledakkan bukit itu.” Matanya tampak berkilat-kilat. Mereka bersorak-sorak.

“Jika kalian melihat rohku membubung ke langit, saat itu aku akan memberikan berkat perutusan bagi kalian.”

Setelah mengatakan hal itu, Pastor Arnoldus segera pergi. Ia berjalan ke arah bukit disaksikan semua warga kampung. Mereka memanjatkan doa-doa untuk mengiring kepergian sang pastor, berharap Tuhan menjaga orang yang diurapi itu. Mereka melihat seperti ada kesucian menyusup ke dalam diri sang pastor. Kabut-kabut tipis menyibak, lalu menelan tubuhnya.

Ia kemudian menanam bom-bom yang dibawanya. Karena iblis tidak menyukai angka 77, ia menanam bom sejumlah angka itu.

Pastor Arnoldus merasa telah menjadi panglima perang. Ia membayangkan bukit ini akan hancur.

Sebelum meledakkan bom, ia berdoa sejenak. Ia percaya Tuhan menjaganya dari marabahaya. Terlebih, iblis-iblis turut mati oleh bom yang telah diolesi dengan air berkat itu.

“Kenapa kau ingin membunuh iblis, Anakku?” tanya seorang lelaki muda.

Betapa terkejutnya Pastor Arnoldus. Bagaimana tidak, wajah lelaki muda itu begitu familiar. Sosok yang sering ia bicarakan dari atas mimbar. Yang mati dua ribu tahun lalu, di atas kayu salib dengan lambung terbuka. Juga beberapa orang yang ia kenal dari gambar-gambar. Nabi Musa, Nabi Elia, Raja Daud, dan putranya, Salomo.

“Kenapa kau ingin membunuh iblis?”

Pastor Arnoldus terkejut. Sebelum ia menjawab, salah satu dari mereka berkata, “Sebelum kau membunuh iblis di bukit ini, ratakan dulu bukit dosa yang ada dalam dadamu, tempat iblis-iblis yang paling keji bersarang.”

Lalu mereka menyumpal mulut Pastor Arnoldus dengan beberapa buah bom. Mereka melorotkan jubahnya dengan paksa, lalu membuang undi atas jubahnya.

“Kau seharusnya tidak hanya membersihkan noda di kerah jubahmu, tapi noda yang melekat pada tubuhmu. Dalam hidupmu, seharusnya kau tidak membersihkan apa yang tampak oleh matamu, melainkan sesuatu yang tak tampak.”

Perkataan itu membuat pastor Arnoldus berang. Ia mencabut pisau yang telah diberkatinya, menerjang Isa, mengamuk dengan buas dan liar, lantas menikam dengan kalap.

Dalam kabut tipis, ia melihat tubuh Isa terkapar, sekarat.

Pada saat itu, tiba-tiba, tubuh Pastor Arnoldus meledak, memburai. Dari tubuh-tubuh itu, satu per satu terangkat dari tanah, melayang, membentuk ribuan bahkan mungkin lebih kelelawar, bercericit memenuhi bukit itu.

 

Waimana 1, Mei 2020

Jemmy Piran, lahir di Sabah-Malaysia, 18 Februari. Alumnus PBSI pada Universitas Nusa Cendana, Kupang. Cerpen-cerpennya tersiar di sejumlah media massa. Buku kumpulan cerpen eksperimentalnya yang sudah terbit berjudul Obituari Sebutir Telur, Seekor Ayam, dan Babi (Basabasi, 2018), dan novelnya yang sudah terbit berjudul Wanita Bermata Gurita (Laksana, 2020). Novelnya yang akan terbit berjudul Dalam Pelukan Rahim Tanah. Ia terpilih sebagai salah satu peserta MIWF 2021. Kini ia menetap di Waimana 1, Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.