Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 19 Agustus 2020)

Masa Depan Rahasia

Membaca halaman-halaman awal 21 Lessons Yuval Noah Harari mengendapkan perasaan tak nyaman yang ganjil, yang saya pikir: satu-satunya cara untuk mengusirnya adalah dengan membuangnya ke layar Note ponsel untuk saya gubah menjadi esai Rabuan ini.

Tak diragukan, Harari adalah penulis yang baik dan terampil menyampaikan pokok pikirannya ke dalam retorika bernas yang berkelindan dengan data dan penjelasan ilmiah yang naratif, tapi paparannya tentang bagaimana dunia bergerak dengan cepat ke arah otomatisasi tidak bisa dianggap sebagai barang rongsokan yang rutin dibersihkan sehingga tampak antik dan dicari banyak orang. Ia mengingatkan saya pada kecemasan yang sama ketika membaca serakan prediksi bombastis Era Revolusi 4.0.

Dengan semua pro-kontranya, otomatisasi adalah usaha mempermudah urusan-urusan yang selama ini ditangani manusia. Birokrasi, pertimbangan, waktu menyesuaikan diri, analisis risiko, hingga pematangan urusan membuat waktu begitu banyak terbuang untuk sesuatu yang terang di ujungnya, sesuatu yang oleh otomatisasi bisa dicapai dalam sekali klik, sekali tekan, sekali pencet, sekali sensor, sekali kedip.

Baca juga: Punya Banyak Buku, Buat Apa? – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 12 Agustus 2020)

Dalam hal itu, membincangkan efisiensi bukan lagi urusan waktu dan kepraktisan, tapi juga pemangkasan peniadaan proses yang bertele-tele atas nama birokrasi, administrasi, atau analisis. Sebenarnya sejak Revolusi 4.0 didengungkan di awal Abad 21, cerita mekanisasi tingkat tinggi di Silicon Valley sudah membuat takjub negara-negara berkembang; pengiriman barang-barang kebutuhan rumah tangga menggunakan drone dan identifikasi keberadaan alamat lewat radar—kala itu Google Map yang dirilis tahun 2005 sedang dipersiapkan. Salah satu puncak kehebohan robotisasi itu adalah diangkatnya Sophia—sebuah robot humanoid yang dikembangkan oleh perusahaan berbasis di Hong Kong, Hanson Robotics—sebagai warga negara Saudi Arabia pada 2017.

Waktu itu, algoritma sudah populer di kalangan praktisi teknologi informasi (infotek) dan bioteknologi (biotek) sebagai metode komputasi. Sebagai deretan instruksi yang jelas dalam memecahkan masalah (yaitu untuk memperoleh keluaran yang diinginkan dari suatu asupan data dalam jumlah waktu yang terbatas), algoritma oleh Dunia Ketiga dianggap sebagai program atau pemrograman untuk memetakan kecenderungan (preferensi) pengguna mesin (baca: komputer dan internet) terhadap hal-hal yang dibutuhkan oleh yang berkepentingan dengan pemetaan dan pendataan terkait apa-apa yang dibutuhkan konsumen atau klien.

Tanpa disadari atau otomatis kita memasukkan data-data diri kita, termasuk sejumlah kecenderungan lintas-urusan di dalamnya, yang kemudian mengendap serta difilter oleh sistem spesifik yang bersifat otomatis untuk menghasilkan peta data kecenderungan yang bernama Algoritma.

Baca juga: Memercayai Pandangan Pertama – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 05 Agustus 2020)

Artinya, data-data kita baru akan terbaca apabila kita menginputnya ketika menggunakan surel, media sosial, blog, mengisi kuisioner; membuka Youtube; menggunakan mesin pencarian Google; atau segala urusan yang melibatkan internet dan ponsel. Bagaimana dengan mereka yang tidak menggunakan internet seumur hidupnya? Di Jepang, banyak ilmuwan dan seniman yang tidak menggunakan media sosial dengan alasan menginginkan kehidupan yang lebih tenang. Tapi, rata-rata mereka masih memiliki akun surel untuk berkomunikasi. Artinya, mereka masih beririsan dengan internet. Kalaupun data yang ia beri-gunakan terlampau sedikit dalam urusan surel, algoritma untuknya masih bisa diberlakukan menggunakan teknik sampling berdasarkan tempat ia tinggal, profesinya, atau aktivitas sehari-hari orang-orang seusianya.

Tapi … ternyata dunia otomatisasi hari ini dipersiapkan lebih mengerikan dari itu. Ya, lewat seri ketiga Trilogi Sapiens itu, Harari membuka kecerobohan kita menganggap algoritma baru bisa dihasilkan apabila kita membuka diri kepada infotek. Ya, algoritma sejatinya tidak dipersiapkan sebagai cara efektif-efisien menangkap data dengan perantara internet, ponsel, atau komputer saja. Lebih dahsyat dari itu, otomatisasi diharapkan bisa membaca kecenderungan manusia secara langsung dengan membaca gerak mata, kerut wajah, permainan jemari, usapan rambut, cara berjalan, hingga cara bicara dan bunyi batuk. Wuduw!

Jadi, komputasi yang dipakai bukan lagi algoritma robotik, tapi algoritma biometrik!

Keadaan di atas, pada akhirnya memungkinkan sekali melahirkan siklus kehidupan yang diisi para robot (produsen, distributor, konsumen, hingga pengurainya alias tempat pelemparan sisa-sisa pekerjaan) tanpa harus ada manusia di dalamnya. Manusia akan membuat siklus sendiri yang tidak bisa tidak, harus memasukkan robot di dalamnya. Dan … alih-alih mencemaskan keadaan itu, Harari malah mengatakan bahwa menafikan kemajuan teknologi yang serbamemudahkan kehidupan itu adalah jauh lebih mengerikan daripada menerima mereka di tengah-tengah kehidupan. Ia mengambil contoh: kecelakaan lalu lintas yang merenggut 1,5 juta nyawa per tahun tentu akan sangat mudah ditekan apabila manusia berkendara dengan mobil yang bisa menjalankan dirinya sendiri (swakemudi) sebab lebih 70% kecelakaan di jalan raya disebabkan sopir yang berada di bawah pengaruh miras, narkoba, ngantuk, atau teralihkan perhatiannya oleh hal-hal yang ia lihat di jalan. Mobil swakemudi tidak akan pernah mengalami kebodohan-kebodohan itu!

Baca juga: Permintaan Maaf Tanpa Perasaan – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 29 Juli 2020)

Selain mengandalkan otomatisasi dalam urusan kecepatan, teraksesnya informasi diri oleh siklus robot membuat data paling personal pun menjadi milik semesta. Algoritma biometrik akan melahirkan kondisi mengenaskan berikut: bahwa manusia bahkan tidak bisa memiliki rahasi lagi! Sebab, perasaan bencinya pada pembimbing skripsinya gagal diuar oleh senyum yang enam hari ia latih di depan kaca sebab alat pemindai preferensi yang terpasang di tiap sudut kampus telah menyampaikan hipokritisme-kecil itu kepada pihak kampus. Kita tidak bisa lagi pura-pura menyukai Blackpink agar diterima genk pemandu sorak di sekolah sebab algoritma biometrik kita mengatakan bahwa sebenarnya kita lebih menyukai jaipong daripada tari modern.

Dalam urusan pekerjaan, Harari mengolok-olok pembacanya—bahwa pekerjaan-pekerjaan baru akan lahir dengan sendirinya—dengan menyebut pengasuh bayi sebagai salah satu contoh pekerjaan alihan dari seorang pilot yang tidak lagi dipekerjakan karena pesawat bisa terbang otomatis! Aduh!

Dalam 21 Lessons, Harari bukan sedang memaparkan kondisi rentan yang akan dihadapi manusia di waktu dekat, tapi sedang menebar ranjau kecemasan yang tidak ia sediakan alat peredam ledakannya.

Bagaimana mungkin ia meminta sapiens menerima kehadiran Kecerdasan Buatan atawa Artificial Intelegence (AI) tanpa melihat populasinya yang dari waktu ke waktu menggemuk dan perang demi perang yang masih juga lahir padahal manusia masih bisa menyimpan rahasia!

The World until Yesterday

Makanya, ketika membaca The World until Yesterday-nya Jared Diamond yang mengajak kita menilik dan mengambil hikmah dari kehidupan masyarakat tradisional pasca berakhirnya Era Berburu-Pengumpul, dua narasi besar meledak dalam kepala saya. Kekacauan dunia—lewat kehadiran AI dengan kecakapannya membaca algoritma biometrik—dan kearifan yang akan membuat (ke)manusia(annya) Tarik-menarik dalam narasi besar hari ini.

Tapi, yang menarik adalah pernyataan Harari yang menganggap kehadiran robot sebagai pisau bermata dua. Katanya, dunia yang mengerikan adalah bukan robot-robot yang memberontak, tapi robot-robot yang terlalu patuh pada tuannya. Ya, ia sebenarnya ingin mengatakan: sengeri-ngerinya kecerdasan buatan, jauh lebih kejam mereka yang menemukan-merakit-dan merilisnya.

Ingin sekali saya menjadikan pernyataannya sebagai bumerang lewat penyuntingan berikut:

… lebih kejam mereka yang menemukan-merakit-merilis-dan mengampayekannya! *

 

Lubuklinggau, 19 Agustus 2020

BENNY ARNAS lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Novel audionya “Bulan Madu Matahari” sedang tayang di Instagram @bulanmadumatahari dan Youtube Benny Institute. Novelnya “Ethile! Ethile!” sedang tayang di platform @Kwikku.