Cerpen Benny Arnas (Republika, 16 Agustus 2020)

Yang Bergetah sampai Bila-bila ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Yang Bergetah sampai Bila-bila ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Di siang yang basah, mereka berjalan ke simpang tiga. Ayah ke barat. Ibu ke tenggara. Ingatan baru merangkak. Kenangan belum berjalan. Tapi, aku masih tiga tahun. Belum mengerti kasih sayang. Belum tahu apa itu kenangan. Belum tahu ngerinya perceraian.

Kata Kakek, belum saatnya aku berkenalan dengan kesedihan, dipeluk perpisahan, apalagi dibunuh kebencian. Itu juga yang ia katakan ketika aku menangis di hari kematian Nenek. Di Rupit, laki-laki 80 tahun itu merawatku seperti menyirami Bumi dengan dendam pada Negara yang dibawa mati. Ketika meranjak remaja, aku mulai mengerti. Baginya, label veteran, janji tunjangan pejuang, hadiah umrah, dan bingkisan sarung murahan adalah satir rutin 17 Agustusan. Dia malah bersyukur tidak diakui sebagai pejuang kalau keberadaannya hanya untuk seremonialitas itu. “Urus dirimu sendiri, kejar mimpimu. Persetan dengan orang lain!”

“Bagaimana dengan Ayah dan Ibu?” Aku tahu, hubungan Kakek dengan mereka tidak baik-baik saja.

“Keluarga adalah matahari, Kas.” Sejujurnya, aku terkejut dengan jawaban itu. “Sinarnya menjadikanmu ada sehingga membelakanginya akan membuatmu kelihatan bodoh.” Aku merasakan penyesalan dalam kata-katanya.

Pesan itulah yang kupegang ketika, enam bulan setelah kepindahanku ke Jakarta, Ibu menelepon dari Rupit. “Bagaimanapun, Rifan dan Adit adik-adikmu,” ujarnya di tengah percakapan, “Jadi, tampunglah sementara mereka belum dapat kerja. Suruh kerja apa saja di rumah makanmu. Mereka bukan anak muda yang pemalas.” Meski diutarakan dengan tenang, kata-kata itu mengobrak-abrik ketenanganku.

“Ruko—termasuk rumah makan—ini bukan milik Abang seorang,” kataku pada Rifan dan Adit setelah menunjukkan kamar mereka di lantai dua. Aku kemudian menceritakan sekilas tentang Bita, koki muda sekaligus rekan binisku, yang tinggal satu kilometer dari rumah makan. “Jadi, kalau kalian luang, turunlah,” lanjutku hati-hati. Aku tak ingin terdengar memerintah. “Bantu-bantulah rumah makan.”

Alhamdulillah, mereka bisa menempatkan diri dengan baik. Mereka tak segan mencuci piring kalau rumah makan sedang ramai atau mengepel lantai kalau di luar hujan. Bita sangat menyukai mereka dan itu sungguh membuatku tenang sekaligus gembira. Mulanya, aku khawatir gadis 25 tahun itu menentang keputusanku menampung mereka.

Dua bulan kemudian, giliran Ayah yang menelepon dari kampung. “Almarhum kakekmu memberikan semua uang penjualan kebun karetnya kepadamu, bukan hanya untuk menampung adik-adik tiri dari ibumu,” protesnya. “Rinda dan Nai juga adik-adikmu.” Aku mau bicara ketika ia kembali mencerocos. “Kalau ibumu tak menikah duluan, belum tentu Ayah kawin, belum tentu …”

“Kirimlah mereka,” potongku to the point.

“Dengar, Syih!” Ayah mulai berteriak. “Ayah dan Ibu memang sudah berpisah, tapi kami bisa bersatu demi adik-adikmu!” Ia belum berubah, masih suka mengancam. Oh, keluarga adalah matahari …

***

Rinda dan Nai cekatan di dapur. Mereka ternyata bisa menjadi asisten yang baik bagi Bita. Aku lega, meski selalu mencemaskan kalau-kalau mereka melakukan kesalahan. Namun, hal yang paling menggembirakan adalah: seakan berbagi tugas, Rifan mengawal Rinda, sebagaimana Adit yang menjelma bodyguard Nai, ketika menyebarkan lamaran ke mana-mana. Ah, aku bangga sekali dengan sikap tanggung jawab yang ditunjukkan kedua adik laki-lakiku itu.

“Ta, aku minta maaf,” kataku suatu malam.

Bita tersenyum. Lalu menggeleng. “I am okay, Syih,” katanya tenang. “Bagaimana lamaran adik-adik?” tanyanya kemudian. Aku tak menangkap basa-basi di wajahnya. “Ada yang dapat panggilan?”

Aku paham arah pertanyaan itu.

Sejak itu, aku mengalokasikan waktu, tenaga, dan materi—apa saja!—agar keempat adikku mendapatkan pekerjaan. Benar saja, tak sampai setahun, mereka lulus wawancara terakhir. Selama itu pula, semua bagianku dari rumah makan kualihkan untuk kebutuhan mereka—transportasi di Jakarta yang tidak murah, membeli pakaian kerja yang layak, hingga … menyuap bagian personalia yang selalu pura-pura keberatan.

“Karena tempat kerja kalian sama-sama di Jaksel,” kataku di hari kepindahan mereka dari rumah makan. “Abang sudah mencarikan kos yang cukup besar di Jatinegara.”

Mereka diam. Menunggu.

“Itu bisa menghemat pengeluaran. Dapur kalian cuma satu. Masalah apa pun bisa kalian pecahkan sama-sama. Tentu saja kalian boleh menghubungi Abang kapan saja kalau ada masalah.” Ah, perasaan lega dan kehilangan bersigesek dalam dada.

***

“Kamu memang hebat, Syih,” puji Bita keesokan harinya. “Kalau jadi kamu, sudah lama aku ambruk.”

Aku cuma tersenyum.

“Besok, rumah makan ini tepat dua tahun,” Gadis berambut sebahu itu menatapku, dalam.

Aku merasa bersalah. Aku tahu maksudnya.

“Masih ingat janjimu?”

“Minggu depan, Ta.”

“Membawa ayah-ibumu?” suaranya lebih terdengar menagih daripada bertanya.

Aku diam.

“Ah, sudahlah,” Bita menganulir pertanyaannya sendiri. “Aku sudah menerangkan segalanya pada Papa dan Mama.”

Aku memandang Bita, takjub.

“Mereka sangat bangga padamu. Mereka sangat ingin bertemu.”

Aku ingin tersenyum ketika ponsel Bita berdering. “Mama,” bisiknya padaku seraya menutup speaker dengan telapak tangannya.

Aku gegas mencangking ponselnya. “Minggu depan Zarkasyih akan ke Surabaya, Bu. Mau sungkem. Sekalian minta izin ngambil anak Ibu.” Meski belum pernah bertemu ibunya Bita, tak sedikit pun aku singkuh berbicara dengannya.

***

Begitu memasuki kompleks perumahan elite, bendera merah berukuran raksasa tampak berkibar-kibar di kejauhan. Aku tersenyum. Aku tiba-tiba teringat Kakek yang sangat sukarnois. Ingatanku berlari kencang ke suatu malam di tahun 1999.

“Kamu tahu, Kas, tahun 1980-an itu.” Kakek kebingungan menghadapi api yang mulai menjalari jiwanya. “Siapa yang duduk di kursi empuk DPR di bawah bendera beringin ….”  Aku  tak  pernah  melihat Kakek seterbakar malam itu. “… yang ikut-ikutan menuduh kalau banyak pemberontak bersarang di Partai Banteng?!” Tentu saja aku tak tahu. Aku lahir tahun 1980 dan anak SD mana peduli politik. “Salah satunya adalah Yang Terhormat Ahmad Basri Jailani.” Oh, itu adalah nama ayah dari ibuku. Kakekku juga. Kakek yang kata Ibu pernah menggendongku beberapa bulan sebelum perceraian itu. “Saking lihainya si Basri menjilat telapak kaki Suharto, kata-katanya—yang disiarkan berulang kali di RRI dan beredar bebas di koran-koran—diimani pemerintah!” Aku ingin sekali menghentikan Kakek, tapi aku juga ingin sekali mendengarkan semuanya. Oh. “Maka, konsekuensi bualannya adalah hanya veteran pendukung Orde Baru yang dianggap pejuang, yang memakai batik kuning dengan cantolan bros beringin kuning di dekat kantong bajunya, yang memakai kopiah kuning, atau yang berdiri di atas tongkat yang kepalanya diberi aksen kuningan!” Bibir Kakek bergetar. Kursi yang didudukinya ikutan bergetar. “Katakan pada Kakek, Kas: sejak kapan peperangan bisa menyortir jiwa rezim yang belum lahir? Sejak kapan kanopi beringin berwarna taik?” Kakek ternyata sangat rapuh. “Sialnya…” Kakek kini mengacak-acak rambut putihnya yang kelimis. “… Kakek baru menyadari semuanya setelah ijab kabul itu diteriaki sah oleh para saksi!” Ingin sekali aku memeluk Kakek.

“Syih!” Bita memecah lamunanku. “Kita sudah sampai nih!”

Aku menoleh ke luar tanpa menurunkan kaca mobil. Sebuah rumah dengan dinding yang dilapisi batu alam berdiri megah. Sebuah tiang bendera yang terbuat dari beton menjulang tinggi di sudut pekarangannya. Aku mendongak ke pucuknya seraya menurunkan kaca mobil. Oh, bagaimana aku bisa salah lihat? Aku mengucek-ngucek mata. Kibaran bendera kuning itu membuat kepalaku menyut.

“Syih?” Bita memanggil. Di muka pagar, ia diapit pasangan suami-istri paro baya yang tersenyum lebar.

***

“Ada masalah apa, Syih?” tanya Bita ketika aku berjalan keluar. “Di hari penting ini kamu tiba-tiba berubah?”

Aku diam, tak tahu harus mulai dari mana.

“Untung Papa ada rapat mendadak sehingga acara kita dipercepat …”

Aku ingin menyela, tapi urung.

“ … Sehingga keanehan sikapmu tidak terendus.”

Di pesawat tadi, aku memang membaca berita perihal kunjungan ketua DPR Pusat—yang berasal dari partai ayahnya Bita—ke Surabaya hari ini.

Ponselku berdering.

Nai meraung di seberang. Suaranya tak jelas. Beberapa detik kemudian, Rinda yang bicara. “Abang di mana?” tanyanya panik. Sebagaimana Nai, gadis itu tampaknya barusan menangis hebat.

“Aku harus ke Jakarta, Ta!” kataku usai menutup percakapan.

“Tapi besok …?”

“Nai diperkosa, Ta.”

Bita melongo.

Aku lekas mengadang taksi yang tiba-tiba melintas.

“Tapi …”

Aku menatapnya, mendesaknya menuntaskan kalimat.

“Bukankah Rifan bisa mengurusinya dulu, Syih, atau …”

“Hei, Ta!” teriakku hingga orang-orang di beranda melihat ke arah kami. “Justru Rifan yang memerkosa Nai!” Aku membuka pintu taksi. “Bandara, Pak,” kataku begitu di dalam.

***

Aku mengambil penerbangan terakhir. Entah, bagaimana aku harus menghadapi kehancuran ini. Maafkan aku, Ta. Aku tak bisa melakukan hal menggembirakan dalam situasi seperti ini, apalagi menikah dengan putri pejabat dari parpol yang telah melecehkan Kakek, laki-laki yang membesarkanku dengan ketulusan melebihi apa pun.

Semendarat di Jakarta, puluhan panggilan tak terjawab dari Bita terpampang di layar. Beberapa menit kemudian, Ayah menelepon. Lalu Ibu. Lalu Ayah. Lalu Ibu lagi. Aku membayangkan macam-macam makian yang akan tumpah pada seseorang yang gagal menjaga anak-anak mereka. Ingin sekali aku mendengarkan jawaban lain dari pertanyaan “Mengapa kalian bisa bersatu demi adik-adik tiriku, tapi tidak untukku?!”

“Karena melihatmu membuat kami seperti melihat kakekmu,” jawab Ayah ketika hal yang sama kutanyakan sebulan setelah kepergian Kakek alias beberapa hari sebelum hari wisudaku. “Laki-laki itu telah membuang putranya ini dari trah keluarga, Syih!” lanjut Ayah dengan kegeraman yang mati-matian diredam. “Persis dengan yang Ibu alami,” Perempuan 47 tahun itu menangis. “Adakah kekayaan keluarga besar Abdul Basir Jailani membekas padaku sedikit pun?”

Linangan air mata Ibu membuat jendela taksi yang kutumpangi berkabut. Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Di luar hujan. Ingatanku melayang pada simpang tiga Rupit. “Keluarga memang matahari, Kek,” batinku basah, “Tapi … ia tak menyala di malam hari.”(*)

 

Puncak Kemuning, 6 April-15 Mei 2020

BENNY ARNAS lahir dan berdikari d(ar)i Ulaksurung. Novel mutakhirnya Bulan Madu Matahari sedang tayang secara bersambung dalam format suara. Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas