Cerpen Putri Lestari (Media Indonesia, 16 Agustus 2020)

Dua Telinga Malya ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia (1)
Dua Telinga Malya ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

DUA telinga Malya harus siaga untuk tiada karena pemiliknya tak menginginkannya. Bagi Malya, dua lubang telinga itu petaka, membuatnya percaya bahwa perkataan lebih melukai daripada sebilah pedang. Di usia yang kelima, telinganya luput dari kata ‘anakku cantik’ yang biasanya diucapkan seorang ibu dengan dada membusung.

Telinga Malya dijejali dengan kalimat-kalimat ini:

“Hidungmu pesek. Hidung yang bagus itu mancung, seperti kakakmu.”

“Tubuhmu gemuk, tak punya bakat langsing. Mana bisa tampil di pentas sekolah.”

“Kulitmu hitam seperti tinta, tak enak dipandang. Pakai baju warna apa pun tak cocok dengan warna kulitmu.”

Dan entah bagaimana mulanya, pada suatu hari satu per satu kalimat ibunya itu benar-benar berubah menjadi pedang. Di dalam cermin, Malya melihat dirinya dengan segumpal gelembung bening di atas kepala yang berisi adegan ia sedang menjadi pemeran Timun Emas atau Bawang Putih atau Klenthing Kuning. Kemudian gelembung itu pecah oleh pedang-pedang dari perkataan ibu. Gelembung itu menjadi kepingan kecil yang berhamburan tanpa arah di udara. Tak bisa diselamatkan lagi. Semuanya hancur.

***

Bertambah tahun dan tahun, semakin banyak saja pedang yang menyerang gelembung di atas kepalanya. Setiap sore sepulang sekolah, Malya merutuki dua telinganya di depan cermin. Dan setiap pagi sebelum keluar kamar, ia berdoa agar telinganya lenyap.

Akhir-akhir ini, keinginan Malya melenyapkan telinga semakin runcing dan tajam. Seperti ujung pisau yang ia taruh di dekat cermin. Sengaja, agar kapan pun keinginan Malya datang, si pisau sudah siap.

Sepanjang waktu, sebilah pisau yang terletak di dekat cermin menyaksikan permintaan Malya dalam diam, tetapi penuh harap agar doa si gadis tak terkabul. Di matanya—indra penglihatan milik si pisau yang wujudnya tak terlihat oleh manusia Malya tampak cantik dengan dua telinga itu. Ia sangat cantik saat keluar kamar dengan menyumpalkan earphone di kedua lubang telinga. Menyelipkan beberapa helai rambut yang luput dari kuncirnya ke belakang telinga. Ia cantik.

Setiap hari, pisau itu berdoa agar suaranya bisa didengar Malya. Tak perlu sepasang bibir mungil nan indah seperti milik pujaannya. Ia hanya ingin dua telinga Malya mendengar ini: kamu cantik, kamu sangat cantik.

***

Malya pulang pukul empat sore. Cahaya wajahnya yang redup saat keluar rumah selalu tampak lebih redup saat pulang. Bak lampu yang setiap pagi redup dan hampir mati saat sore.

Ia duduk di depan cermin, masih memakai atasan putih dan rok abu-abu. Becermin menjadi ritual rutinnya ketika pulang. Ia memandangi cermin tanpa hasrat untuk mengagumi bibirnya yang mungil, matanya yang bulat, atau bulu matanya yang lentik. Ia juga tak akan bertanya kepada cermin, siapa perempuan paling cantik di dunia. Hati kecilnya sudah tahu, bukan ia jawabannya. Di depan cermin, ia hanya memperkirakan bagaimana wujudnya tanpa dua telinga.

Apakah ia akan pantas tanpa mengenakan dua telinga? Apakah semua orang akan menerima dirinya yang baru? Atau semua orang akan membicarakannya?

Ia bertanya kepada cermin di depannya.

Bahwa cermin di hadapan bukan cermin ajaib, ia lalu mencari jawaban sendiri. Kedua tangannya ditangkupkan pada dua sisi telinga. Diamatinya lebih lama, tapi hasilnya selalu gelengan kepala. Lalu, ketidakberdayaan tampak lewat amarah di wajahnya.

“Ba-bi! Lina itu seperti baa-bi! Iya, baa-bi yang suka di lumpur. Mulutnya koo-tor! Kata-katanya baa-u! Dia bilang kulitku hitam karena setiap hari mandi lumpur. Padahal aku setiap hari mandi dengan air bersih. Aku gosok dengan bengkoang lima kali juga. Dia mungkin tiap hari kumur pakai air lumpur. Mulutnya jadi koo-tor!” ujar Malya berapi-api ketika bibir mungilnya terbuka. Sekalipun terbata, ia sekuat tenaga mengeluarkan kata babi, kotor, dan bau—kata-kata jarang keluar dari mulutnya untuk menjuluki seseorang.

“Se-ri-ga-la! Lina juga se-ri-ga-la! Mulutnya lon-jong, seperti ta-bung! Tubuhku ini pipih. Bukan bo-la seperti kata Lina!” tambah Malya, dengan bibir yang agak gemetar saat mengucapkan serigala, lonjong, dan tabung.

Beberapa detik kemudian, kobar api di wajahnya tuntas seperti tersiram air sekaligus. Digantikan dengan satu-dua tetes air di ujung mata yang meluncur pelan lewat pipi.

“Kulitku memang hitam, seperti arang. Tubuhku memang bulat,” ujarnya pelan setelah berdiam diri beberapa menit hanya untuk mengamati dirinya di cermin.

Lalu, tangisnya datang terpingkal-pingkal. Tak ada yang bisa menolong. Amarahnya bagai uap yang keluar dari secangkir teh hijau—yang diminum Malya setiap sehari, kecuali sedang sakit perut. Tertiup angin, maka meliuk lalu reda. Kulit hitam bagai arang, tubuh bulat bagai bola, tetap ia dengar di mana-mana.

Pernah, ia tak menyerah. Tangannya menggapai-gapai, mencoba meraih sesuatu yang bisa mengangkatnya dari kubangan cela. Tangannya meraih diri Bu Guru. Satu, dua, tiga guru didapat. Para guru mengadakan Kelas Etika untuk Lina dan teman-temannya selama dua minggu. Bergantian Guru Etika dan Tata Krama sekolah menjadi pembimbing. Di kelas tambahan itu, Lina duduk khidmat. Ia mengangguk, mengiyakan dan menuruti semua perkataan guru.

Tetapi, semua materi di kelas etika juga bak asap yang kemudian hari reda dan pergi. Mulut Lina dan teman-temannya kembali menghunjam pedang pada Malya.

Seorang mahasiswa pernah datang ke sekolah Malya. Barangkali ia akan menjadi obor atau setidaknya lilin atau setidaknya setitik cahaya bintang yang dipandang dari bumi. Malya mulai menaruh harap. Di hadapan mahasiswa itu, Malya diminta mengeluarkan tangis. Borok, nanah, luka yang belum kering dan yang baru tersayat diminta tumpah oleh mahasiswa itu. Semuanya dicatat dengan rapi. Lalu, tak ada kabar lagi.

Malya belum menyerah. Sekali lagi tangan Malya menggapai-gapai. Mencoba meraih sesuatu yang lebih tinggi. Ia pergi ke kantor polisi. Di sana, semua orang tahu bagaimana membuat mobil pelanggar lalu lintas berhenti. Tetapi, mereka tidak tahu bagaimana membuat mulut seorang siswa berhenti mengeluarkan pedang kata-kata.

“Bagaimana kalau jeruji besi?” tanya Malya dengan harapan membubung tinggi.

“Jeruji besi? Ah, Dik, kau kan tidak terluka. Tubuhmu utuh dan sehat.” Begitu pungkas orang-orang di sana.

Mana yang tak bisa disebut sebuah luka? Bagaimana agar benar-benar terlihat terluka?

Ia bertanya kepada batinnya sendiri sepanjang jalan. Langkahnya terhenti di sebuah toko yang menjual perkakas dapur. Ia menatap satu barang dari depan kaca besar si toko. Gadis seusianya biasanya menatap kagum gaun-gaun indah yang dipakai maneken dalam toko, pada keadaan seperti ini. Tetapi, Malya memandang demikian pada sebuah pisau. Ia merasa masalahnya akan selesai.

Jika Malya memotong telinga, lukanya terlihat. Maka, Lina dan teman-temannya akan masuk kantor polisi dengan mudah. Tetapi hari itu, di depan cermin dengan ancang-ancang tangan memegang pisau diarahkan ke telinga, Malya disadarkan sesuatu yang memilukan. Cermin itu memberi tahu kepada mata Malya bahwa tangannya sendirilah yang memotong telinga. Bukan tangan Lina, atau teman-temannya. Hatinya pilu bukan main.

Si pisau bersorak. Hari ini, ia resmi jatuh cinta kepada Malya. Gadis cantik yang batal memotong telinga.

***

Tangan Malya tidak menggapai lagi. Sekumpulan kata dari ibu yang disesap oleh lubang telinganya di masa kecil, ia pikir bukanlah apa-apa andai saja ia tak punya dua telinga. Ia juga tak akan mendengar ejekan Lina dan teman-temannya. Sekarang ia kembali berharap dua telinganya lenyap. Ia menyadari tentang sebaiknya tak punya telinga.

Hari ini mungkin harinya. Matahari terlambat bangun, sementara Malya sudah duduk di depan cermin. Tiada amarah di wajahnya. Tiada lagi bara, tiada luka, serta tiada ingin punya dua telinga.

Si pisau memejamkan mata ketika Malya menggenggamnya. Mulutnya tak henti merapal doa. Jantungnya berdegup kencang.

Malya memegang gagang pisau. Diarahkannya ke telinga kanan. Tertempel pada kulit yang memisah daun telinga dengan kepala. Sedikit menggores, ia tak meringis maupun mengaduh. Niatnya bulat, sebulat lingkaran.

Ibu masuk tanpa permisi ke kamar Malya untuk menawarkan sepotong roti panggang. Malya menawarkan adegan yang sebentar lagi membuat dada ngilu. Ibu berteriak dan menangis melihat anak gadisnya. Malya terkejut, dan inilah kesempatan si pisau. Secepat kedipan mata, si pisau membebaskan diri dari genggaman Malya dan membanting diri ke lantai.

Kamar Malya mendadak penuh tangis. Berkali-kali dalam tangisnya, di pelukan ibu, ia bertanya, “Mengapa aku seperti ini?”

Tangisan Ibu bagai hujan di sepanjang musim penghujan yang dikumpulkan dan dijatuhkan sekaligus.

Dan, si pisau mulai menggulingkan diri. Ia berguling-guling menuju rumah Lina. Ia tak kuasa memotong telinga gadisnya, tetapi ia kuasa memotong lidah Lina. (M-2)