Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 12 Agustus 2020)

Saya dan anak-anak Story Sharing Class di Perpustakaan Benny Institute
Saya dan anak-anak Story Sharing Class di Perpustakaan Benny Institute 

Pada 2017 saya memutuskan ‘menutup’ perpustakaan pribadi saya. Saya memindahkan 90% koleksinya ke perpustakaan lembaga yang saya kelola, Benny Institute.

Dengan manajemen perpustakaan lembaga yang waktu itu jauh dari ketertataan, saya mengambil keputusan tersebut. Saya tahu, di perpustakaan itu, keamanan dan keselamatan koleksi saya terancam tiap saat. Selain daftar hadir, perpustakaan lembaga itu tak memiliki perangkat formal sebagaimana perpustakaan umumnya; buku yang terkodifikasi, kartu anggota, dan lain-lain. Saya sengaja melakukannya untuk fleksibilitas, sesuai visi perpustakaan yang saya buka sejak 2012 ini—“books for life”.

***

Saya termasuk orang yang gemar berfoto/memfoto buku yang sedang saya baca atau aktivitas saya yang lain dengan menampilkan buku sebagai pemanis. Entah, rasanya keren aja gitu. Meski tidak ada aturan tertulis yang saya tempel di dekat rak buku bahwa sesiapa dilarang meminjam buku, tapi saya biasanya menunjukkan keberatan kepada mereka yang bermaksud membawa-baca buku-buku tersebut ke rumah mereka. Saya, entah, mudah sekali berprasangka bahwa buku saya takkan dibacanya atau kalaupun dibaca pastilah memakan waktu yang tidak sebentar sebab mereka tidak menjadikan membaca sebagai agenda prioritas dalam hidup. Saya sangat ‘malas’ dan kesal dengan semua itu. Ya, perasaan itu muncul, seakan-akan prasangka (buruk) saya itu adalah benar adanya. Padahal baru asumsi. Belum terbukti!

Pada titik itu, buku, telah membuat saya menjadi pribadi yang pelit, mudah melempar prasangka tak baik, dan memperlakukannya nyaris sama dengan tabiat istri saya menjaga koleksi tupperware-nya. Padahal apalah, cuma wadah plastik gitu. Padahal apalah, buku, ‘kan, cuma kumpulan huruf yang tercetak di atas kertas. Ya, cuma kertas, tas, tas!

Baca juga: Memercayai Pandangan Pertama – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 05 Agustus 2020)

Dua tahun lalu, saya menyadari kalau ternyata sebagian besar buku koleksi saya belum saya baca. Meski telah memiliki agenda membaca (satu buku per pekan harus saya khatamkan), ternyata buku-buku itu terlalu banyak, seperti beranak-pinak, sementara waktu seperti timbangan di pasar yang gemar mengurangi keberadaannya tanpa saya sadari. “Buat apa tumpukan buku masih berplastik dan berdebu itu?” celetuk istri saya suatu hari. Saya diam. Saya agak kesal juga dengan kata-katanya. Lha kayak nggak tahu kalau lakinya penulis aja. “Kan pas si fulan, fulani, dan fulano mau minjam itu kemarin kenapa gak dikasih aja, Yah? Pasti sudah selesai mereka bacanya,” lanjutnya. “Lha kalau ilang?” saya menyerang balik. “Ya ilang! Memang ilang tuh buku, hidup kita bakal miskin mendadak! Mending dibaca siapa pun, bermanfaat bagi siapa pun, daripada jadi barang antik. Lagian vas bunga kaca mending pecah daripada jadi aksesori ruang tamu yang saban detik dicemaskan keselamatannya!” Kali ini suara yang lain mencecar-cecar kepala saya. Iya, itu bukan suara istri saya. Oh, bagaimana mungkin buku-buku itu bernilai sama dengan hiasan di ruang tamu!

Perdebatan itu yang imajiner atau dengan istri di atas tiba-tiba melempar saya pada kondisi minat baca bangsa ini. Hasil studi yang dipublikasikan dengan nama “The World’s Most Literate Nations” pada 2016 yang menunjukan Indonesia berada di peringkat ke-60, hanya satu tingkat di atas Botswana lalu-lalang di kepala.

Tak banyak yang tahu kalau hasil mengenaskan itu adalah akumulasi dari nilai empat dimensi yang meliputi kecakapan (dengan nilai 75,92%), alternatif (40,49%), budaya (28,50%), dan akses (23,09%). Ya, yang paling bermasalah terkait kondisi literasi bangsa ini adalah akses, tak terkecuali akses akan buku-buku bermutu.

Baca juga: Permintaan Maaf Tanpa Perasaan – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 29 Juli 2020)

Apa yang bisa diharapkan dari sekolah dan kampus dengan perpustakaan yang hanya berisikan buku-buku bertuliskan “Milik Negara, Tidak Diperjual-belikan” atau salinan skripsi dan jurnal-jurnal dengan halaman yang lengket satu sama lain atau debu yang sudah mengerak karena tak pernah dijamah? Kalau ada yang mengatakan perpustakaan hari ini telah berubah lebih baik, mungkin iya. Tapi tidak merata. Koleksi buku-buku yang melejitkan imajinasi dan menggembirakan pembaca dengan topik-topik bebas, kaya, dan menyenangkan, masih kalah banyak dibandingkan buku-buku “wajib” itu.

Harapan itu ada pada taman bacaan masyarakat (TBM) yang jumlah yang aktifnya sungguh jauh dari data yang beredar—baik di Kemdikbud maupun di Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) yang menaunginya. Harapan itu sebenarnya ada pada satu lagi; perpustakaan pribadi.

Meski tidak banyak, perpustakaan-perpustakaan pribadi biasanya berisikan koleksi buku yang tidak “text-book”, tapi fokus pada minat dan kesenangan si empunya. Tak pelak, buku-buku yang menyenangkan itu sangat potensial bisa dipenuhi oleh perpustakaan-perpustakaan pribadi di negeri ini.

Masalahnya, sebagian besar pemilik perpustakaan jenis ini adalah mereka yang “beriman” pada anekdot Gusdur: meminjam buku adalah orang bodoh, tapi yang meminjamkannya jauh lebih bodoh!

Baca juga: Jika Orang Malas Ingin Berkarya – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 22 Juli 2020)

Bayangkan, kalau para pemilik perpustakaan pribadi itu mengubah status perpustakaannya menjadi “terbuka” alias menyilakan buku-buku koleksinya untuk dinikmati (baca: dipinjam) mereka yang membutuhkan, tentu permasalahan “akses (literasi)” ini sedikit-banyak akan teratasi.

Ya, mereka tidak harus membuat TBM, cukup menyilakan perpustakaan pribadi miliknya bisa diakses tetangga atau orang-orang yang mengenalnya. Kalau pemilik perpustakaan pribadi di tiap kelurahan atau kecamatan melakukan ini, tentu buku-buku koleksi itu menjadi sangat bermanfaat—daripada dinikmati sendiri, apalagi sekadar bagian dari perobatan rumah tangga yang artistik dengan cita rasa—yang katanya—intelek. Ya, buku-buku akan menguar manfaat kalau dibaca, apalagi oleh banyak orang. Ia tak ubahnya seperti barang antik penghias ruangan kalau memiliki sifat tak boleh disentuh (baca: pinjam-baca) oleh orang lain.

Saya menulis ini karena saya melakukannya (mengubah status perpustakaan pribadi ke terbuka) dan merasakan bagaimana, jangankan mengoleksi ribuan buku, membaca pun kadang tidak mengubah saya menjadi apa-apa—menjadi lebih baik—kalau nilai-nilai berharga di dalamnya—termasuk berbagi kebaikan kepada banyak orang—tidak diamalkan!

Baca juga: Bepergian ke Rumah Sendiri – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 15 Juli 2020)

Buku bukan tuperware, bukan pula barang antik!

Buku, hari ini, saya maknai sebagai jenis benda yang menjembatani kita menjadi baik, bukan hanya urusan berilmu, tapi juga bermanfaat. Ya, menjadi bermanfaat. Itulah cita-cita purna bagi tiap manusia. Baik karena kehadirannya memberi sumbangsih bagi kemaslahatan banyak orang—dalam bermuamalah, berkreativias, dan …. Ah, menjadi bermanfaat itu pun ternyata bisa saja dibuat banyak varian, banyak genre. Namun, menjadi “Bermanfaat-Nirgenre” itu, menurut saya, adalah keadaan ideal manusia sebagai makhluk sosial, sementara menjadi “Bermanfaat-Lintasgenre” adalah keadaan utopis yang selalu hidup dalam diri kita, termasuk tumbuh subur dalam diri kolektor buku.

Hari ini, literasi (buku) telah melahirkan eksklusivisme yang berbahaya, yang kerap tak disadari keberadaannya. Mereka yang menggemari buku (termasuk kolektor buku), seakan-akan dicitrakan lebih baik statusnya di antara mereka yang tidak atau belum tentu membaca buku. Banyak cara, wahana, dan benda yang akan mengantarkan kita menjadi orang baik, buku hanya salah satunya. Bahkan, bila buku, termasuk mengoleksinya, dapat menyuburkan (potensi) kefasikan dan menyingkirkan kehanifan, buku pun bisa ditinggalkan (baca: dihibahkan kepada yang bisa membuatnya lebih bermanfaat).

Saya mengidolakan Pak Suliman, petani kopi yang tinggal tak jauh dari kompleks kami. Sikap tenggang rasanya tinggi, ramah, sehingga anak-anak tetangga senang dan betah bermain di rumahnya. Ia juga sering membagi apa pun yang dimasak di rumahnya dalam porsi yang agak lebih, kepada tetangganya. “Bapak suka membaca?” tanya saya suatu hari. Dia menggeleng. Saya rasa saya tak perlu memeriksa apakah ia memiliki rak buku di rumahnya. *

 

Lubuklinggau, Agustus 2018-2020

BENNY ARNAS lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Novel audionya “Bulan Madu Matahari” sedang tayang di Instagram @bulanmadumatahari dan Youtube Benny Institute. Novelnya “Ethile! Ethile!” sedang tayang di platform @Kwikku.