Cerpen Edhie Prayitno Ige (Suara Merdeka, 09 Agustus 2020)

Kematian Klepon ilustrasi Suara Merdeka (1)
Kematian Klepon ilustrasi Suara Merdeka 

Klepon, guru yang bertugas di sebuah desa jauh dari kota. Pagi itu, 1 Juli, Klepon sudah menghadap bendahara sekolah. Di depannya bertumpuk berkas yang harus ia tandatangani.

Usai tanda tangan, Klepon menerima amplop cokelat bertali. Itu tak biasa. Sebelumnya ia selalu menerima amplop cokelat berlem. Apa artinya?

Klepon nanar. Ia menggenggam erat amplop itu. Lebih tebal dari biasa. Ia merasa beruntung masih bisa merasakan sensasi tebal-tipis amplop. Berbeda dari guru-guru lain yang patuh membuka rekening bank. Mereka hanya melihat gaji sebagai deretan angka. Klepon tidak. Ia bisa melihat nyata hasil jerih payahnya sebulan.

“Jerih payah? Kenapa sebanyak ini? Ini jelas lebih dari Rp 50 juta,” gumam Klepon.

Ia meninggalkan bendahara, melangkah gontai menuju ke mejanya. Ia lempar amplop cokelat itu ke meja.

“Jadi hanya inikah aku? Harus bangun pagi, menempuh perjalanan yang sama setiap pagi dan siang, hanya untuk tumpukan kertas ini aku bekerja, berpura-pura mengajar muridku secara ikhlas?” gumam Klepon lagi.

Wajahnya menegang. Matanya melotot dan telunjuk tangan kiri menuding ke tumpukan uang itu.

“Sialan kamu. Ternyata aku  harus memujamu. Bajingan!” teriak Klepon.

Ia naik ke atas kursi, kaki kiri menginjak meja.

***

Suasana di sekolah itu biasanya begitu adem. Namun sejak ada pembelajaran jarak jauh melalui internet, suasana berubah. Teman-teman guru hanya sesekali ke sekolah. Sendagurau terasa garing karena ketika bertemu semua teman sibuk dengan gawai.

Lokasi sekolah dan desa-desa di sekitarnya itu sulit mendapatkan sinyal gawai. Jangankan berinternet, menelepon pun hanya bisa di tempat tertentu. Misalnya, di bawah pohon ketapang kembar. Ketika tubuh bergeser semeter saja, sinyal pun menghilang.

Namun kebijakan tak kenal toleransi. Semua sekolah wajib menjalankan pembelajaran secara online. Tak peduli ada sinyal, wifi, atau blankspot sekalipun.

Seminggu pertama pembelajaran berlangsung berdarah-darah. Setiap hari ia kedatangan wali murid yang meminjam gawai. Ada juga yang menawarkan kambing sebagai penukar gawai.

“Saya jual berapa saja. Pilih saja. Jika kurang, boleh ambil dua ekor kambing saya, tukar dengan gawai Pak Klepon, asal anak saya bisa sekolah,” kata seorang wali murid.

Tatapan mata Klepon ke uang yang berserakan makin menunjukkan kebencian. Kelebatan ekspresi orang tua murid yang memaksa meminjam gawai begitu melukai.

Ia ingat dua laki-laki bermobil mengilap yang datang ke sekolah. Saat itu sekolah sepi. Hanya ada Klepon dan Kepala Sekolah.

“Kami dari Dinas Pendidikan. Selain silaturahmi, kami ingin sosialisasi bahwa pemerintah memperhatikan kesulitan anak-anak. Wujud perhatian itu dengan membelikan gawai ke sekolah untuk dipinjamkan selama setahun pada siswa. Baik bukan?” kata laki-laki berpakaian safari.

“Ini program pemerintah?” Kepala Sekolah seakan tak percaya.

“Iya, Pak. Pemerintah sangat berkepentingan dengan masa depan anak-anak. Nah, karena ini bantuan, spesifikasi gawai sudah ditetapkan Menteri. Dipilih yang terbaik agar belajar-mengajar lancar. Soal spesifikasi, biar mas yang menemani saya ini yang menjelaskan,” kata laki-laki berbaju safari.

“Wah, sayang di sini nggakada sinyal, Pak, jadi saya nggak bisa mendemonstrasikan kehebatan kotak kecil ini,” kata laki-laki berbaju putih.

“Nah, setelah semua kami jelaskan, langsung ke pokok masalah. Untuk mendapat bantuan gratis ini, Bapak hanya perlu menunjuk salah seorang guru sebagai penanggung jawab. Nanti di bawah ada dua kolom tanda tangan. Kolom pertama tanda tangan penanggung jawab, kolom kedua tanda tangan Kepala Sekolah sebagai pengesahan,” kata laki-laki berbaju safari.

“Jadi kami terima berupa barang ya, Mas?” Klepon tak kuat menahan diri, akhirnya buka suara.

“Benar sekali, Pak. Jika hari ini dokumen ditandatangani, mungkin tiga-lima hari barang sudah sampai di sekolah ini,” kata laki-laki berbaju safari.

“Pak Klepon saja jadi penanggung jawab. Bukankah hari ini hanya ada kita? Jadi bisa segera kita tandatangani. Kita harus menyukseskan program pemerintah di bidang pendidikan untuk menjaga ritme pembelajaran pada masa pandemi ini,” kata Kepala Sekolah.

Klepon antusias. Ia mendekat dan bergabung. Cekatan tamu berbaju safari mengeluarkan setumpuk kertas yang harus Klepon dan Kepala Sekolah tandatangani.

Klepon tanda tangan, disusul Kepala Sekolah. Agar dokumen sah, Kepala Sekolah meminta Klepon mengambil dan membubuhkan setempel sekolah.

Klepon membayangkan bakal hidup lebih tenang. Tak lagi ada rengekan wali murid atau orang tua murid yang mengeluh ketiadaan gawai.

“Semua dokumen sudah beres. Silakan tunggu tiga-lima hari lagi, barang kami kirim. Matur nuwun,” pria berbaju safari berpamitan.

Tiga hari kemudian, sebuah mobil boks besar datang ke sekolah. Klepon sedang sibuk melayani konsultasi dan pembelajaran murid yang tak punya gawai. Klepon sangat bersemangat ada satu-dua murid datang dan bisa memperlakukan mereka secara privat. Ia merasa menjadi guru yang utuh.

Isi mobil boks dibongkar. Mata Klepon dan Kepala Sekolah berbinar-binar. Total ada 760 unit gawai siap dibagikan ke seluruh murid. Ada lagi dua dos besar, berisi 17 unit gawai terbaru sebagai bonus bagi para guru. Semua bahagia.

Bulan berikutnya, Kepala Sekolah mengundang Klepon menghadap. Itu berkaitan dengan komisi. Karena Klepon tak punya rekening bank, Kepala Sekolah memberikan langsung bagiannya secara tunai dalam amplop cokelat bertali.

Ketika menerima uang komisi itu, Klepon merasa apa yang selama ini dia lakukan sia-sia. Sebagai guru golongan IVB dan hidup di desa, Klepon merasa berkecukupan.

“Bajingan! Kaudikte aku dan seluruh temanku untuk memujamu,” teriak Klepon. Ujung jarinya masih menuding uang yang berserakan di meja.

Ia meraup uang itu, lalu menaikkan kedua kaki ke atas meja. Matanya makin menyinarkan kebencian.

“Kalian mau uang? Dengar, mulai hari ini negara tak perlu menggajiku. Aku akan tetap bekerja. Ambillah uang ini!” teriak Klepon sambil melemparkan segenggam uang 50 ribuan.

Spontan guru-guru berebut. Mereka tak malu dan berubah jadi binatang buas. Saling dorong, sikut, cakar, dan jambak.

Klepon tertawa. Ia menyaut tas plastik, memasukkan uang ke dalamnya. Lalu turun dari meja, melangkah pelan tetapi mantap menuju ke pintu keluar sambil menyebar uang.

Pertunjukan kembali terulang. Teman-temannya menjelma jadi binatang buas yang kelaparan dan saling memangsa. Kepala Sekolah pun bertarung, memperebutkan uang Klepon.

Klepon tertawa-tawa sambil berlari menuju ke pohon ketapang kembar. Ia seperti menikmati perubahan manusia menjadi binatang, sementara ia sudah tak mau berurusan dengan uang.

Tiba-tiba kakinya terantuk. Klepon jatuh menggelundung. Kepalanya terantuk batu dan pecah. Uang di dalam tas dan genggaman berhamburan tertiup angin.

Teman-temannya menyerbu. Saling tarik, dorong, gigit, jambak. Semua berebut uang Klepon yang tak lagi bertuan. Sementara, mayat Klepon seperti bangkai seekor anjing yang tertabrak truk; tak ada yang peduli. (28)

 

Tanjungsari, Juli 2020

Edhie Prayitno Ige, kelahiran Muntilan, di Semarang, lebih suka disebut bapak satu anak dan penyuka anggrek gratisan