Cerpen Rosyid H. Dimas (Koran Tempo, 08-09 Agustus 2020)

Haedes ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo (1)
Haedes ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Siapa yang menaruh keinginan kokoh ini dalam diriku

Agar aku tidak melihat langit?

Apakah iblis yang menjelma dalam dirinya

Agar memalingkan mataku dari Tuhan yang kekal?

-Belle, Notre-Dame de Paris-

 

ANHELINA mengunci pintu setelah memastikan tidak ada seorang pun berada di sekitar kamarnya. Dia menyalakan sebatang lilin dan menaruhnya di sudut kamar terjauh, sengaja agar cahayanya tidak terlalu menjangkau ranjang di mana seorang lelaki kini berada di tubirnya. Dia duduk. Lalu, dengan suara rendah, dia mulai berbicara.

“Sekarang ceritakan kepadaku, Haedes, bagaimana kau membunuhnya?”

Haedes, lelaki yang baru saja menerobos kegelapan dan memasuki kamar Anhelina melalui jendela, duduk dengan tangan kanan menggenggam pistol yang masih menyisakan bau mesiu. Tak ada ketakutan yang ditemukan api lilin di permukaan wajahnya karena telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi tatapan Anhelina, kekasihnya, yang samar-samar kini menikam matanya, membuat Haedes seperti sedang berada di antara tiang guillotine.

“Dari mana aku harus memulainya?” Haedes menekan kening. “Ya, tadi sore Valiant mengajakku berduel dengan pistol dan aku menerimanya.”

“Tapi kenapa dia menantangmu?” Anhelina memotong.

“Kenapa? Tentu saja karena dia juga mencintaimu, sementara kau memilih seorang pemeras anggur. Sesuai dengan kesepakatan, jam 11 kami bertemu di Sungai Sequoias—yang selalu sepi—yang telah dia pilih sebagai gelanggangnya. Di sana kami melakukan undian. Kau tahu, dia memiliki keberuntungan seorang iblis sebab mendapat giliran pertama untuk melepaskan peluru. Tapi, sayang sekali, rupanya dia sangat buruk dalam membidik dari jarak 30 langkah. Tembakannya meleset dan hanya mengenai topiku. Kau bisa melihatnya?” Haedes menunjuk sebuah lubang di permukaan topi di kepalanya.

“Lalu giliranku,” kata Haedes. “Kau tahu, Anhelina, meski bukan seorang prajurit, barangkali akulah penembak terulung di seluruh daratan Tourtouille ini. Aku memiliki rutinitas melatih bidikan dengan meloloskan tiga peluru sebelum makan malam. Bahkan aku bisa meratakan seekor lalat di tembok dengan peluruku. Hasil akhirnya seperti yang sudah kukatakan, Valiant mati. Tembakanku tepat mengenai dahinya. Aku meninggalkan mayatnya begitu saja di tepi Sungai Sequoias. Setelah itu, aku berada di sini. Peluruku adalah maut, Anhelina. Kau harus mengingatnya.”

“Apa ada surat wasiat? Maksudku, sebelum melakukan undian, kalian menulis pernyataan terlebih dulu bahwa kalian berduel dengan kesadaran dan kesepakatan?”

“Tentu saja tidak. Apa pentingnya surat wasiat? Lagi pula, kami bertarung sebagai lelaki, sebagai kesatria.”

“Kau bodoh, Haedes. Kau bodoh. Tanpa surat wasiat, itu bukanlah duel, tapi pembunuhan. Apakah ada yang melihat kalian berdua selain Tuhan dan iblis?”

“Seseorang yang baru saja pulang dari memancing melintas sebelum kami melakukan undian.”

“Malam ini, atau besok pagi, seseorang akan menemukan mayat Valiant. Pemancing itu akan bersaksi di hadapan jaksa bahwa kaulah orang terakhir yang bersamanya. Kau akan diburu, Haedes. Kau akan ditangkap. Dan apakah kau tahu hukuman bagi seseorang yang telah membunuh putra seorang baron?” Anhelina menekan suaranya pada kalimat ini. “Ada dua kemungkinan bagaimana kau akan berakhir. Di tiang gantungan, atau di bawah pisau guillotine.”

Haedes menatap bayang-bayangnya sendiri di permukaan dinding. Dia membayangkan tubuh dan kepalanya tergantung di alun-alun setelah dihukum pancung di hadapan semua penduduk Tourtouille.

“Lalu apa yang harus kulakukan, Anhelina?”

“Segeralah tinggalkan Tourtouille jika kau tidak ingin mati, Haedes. Pergilah sejauh kakimu mampu berjalan.”

“Kau akan ikut denganku?”

“Tidak. Aku tetap di sini.”

“Mengapa, Anhelina? Apakah kau tidak ingin hidup bersamaku? Apakah kau tidak mencintaiku lagi karena sekarang aku seorang pembunuh?”

Anhelina menarik wajah Haedes dengan kedua tangannya, lalu menciumnya.

“Aku tidak akan menyerahkan bibirku seandainya aku tidak mencintaimu. Berpikirlah, Haedes. Membawaku bersamamu sama saja kau sedang membawa malaikat maut. Aku hanya akan memperlambat perjalananmu. Dan yang lebih buruk dari itu, kau akan tertangkap. Sebab, setidaknya selama tiga bulan penuh, kau akan menjadi buron. Mungkin ini akan berbeda seandainya yang kau bunuh bukanlah putra seorang baron.”

Haedes diam sejenak, menikmati sisa-sisa ciuman yang masih menggetarkan bibirnya.

“Aku akan melakukan apa yang kau katakan. Tapi berjanjilah, Anhelina,” Haedes menjatuhkan pistol, lalu meraih kedua tangan kekasihnya. “Berjanjilah kau akan menungguku.”

“Aku berjanji, Haedes. Saat kau kembali, ketuklah pintu rumahku. Aku akan membukanya, dan setelah itu, kita pergi ke gereja untuk menikah.”

Mereka berciuman sekali lagi. Api lilin berayun-ayun seperti gejolak jiwa Haedes yang kedua jari-jarinya kini sedang berusaha melepaskan ikatan tali baju Anhelina. Selama beberapa saat, Anhelina membiarkan Haedes melakukan sesuatu di tubuhnya. Tapi, saat Haedes benar-benar ingin menarik baju yang dikenakannya, Anhelina menahan.

“Tidak ada waktu untuk bercinta, Haedes.”

Anhelina lantas bangkit. Sembari membenarkan pakaian di tubuhnya, dia mengeluarkan sebuah kantong kain dari dalam laci meja rias miliknya.

“Ini beberapa franch milikku,” ucap Anhelina sembari memberikan kantong kain kepada Haedes.”Belilah seekor kuda, tidak perlu yang bagus, untuk membawamu pergi dari Tourtouille. Sisanya, gunakanlah sebijak mungkin untuk bertahan hidup.”

Haedes memasukkan kantong pemberian Anhelina ke saku bagian dalam bajunya, menyimpannya bersama pistol yang telah dia gunakan untuk membunuh Valiant. Dia bangkit, mencium Anhelina untuk yang ketiga kalinya. Lalu, tanpa mengucapkan selamat tinggal, Haedes melompat dari jendela dan lenyap di jalanan Tourtouille yang gelap dan hanya dilalui para pemabuk. Malam itu juga Haedes mengetuk pintu rumah penyewaan kuda. Dia membeli seekor kuda peranakan Inggris yang paling murah, kemudian membawanya pergi menembus malam Tourtouille yang sedang menyambut musim dingin. Keesokan harinya, para prajurit mencari Haedes di seluruh penjuru Tourtouille setelah seorang petani anggur menemukan mayat Valiant dan si pemancing bersaksi di hadapan jaksa. Tapi tak ada jejak, kecuali si tua pemilik penyewaan kuda yang menyerahkan beberapa franch sebagai bukti bahwa Haedes terakhir kali terlihat di rumahnya.

***

Seperti yang Anhelina katakan, selama tiga bulan penuh Haedes menjadi buron kerajaan. Pencariannya telah diperlebar hingga ke luar kekuasaan Kerajaan Tourtouille, tapi Haedes lenyap seperti marmotini di musim dingin. Jejak terakhir yang dapat ditemukan kerajaan adalah dia menjual kuda kepada seorang pemilik kedai minum untuk membayar ongkos sebuah kapal penumpang di Pantai Bleumer. Selebihnya hanyalah omong kosong yang ingin ditukarkan dengan kantong berisi seratus franch.

Haedes tiba di sebuah pulau kecil bernama Aleba, di mana tak seorang pun mengenali dirinya. Hal pertama yang dia lakukan adalah mencari gereja dan membuat pengakuan dosa. Bulan pertama, dia menyewa sebuah pondokan kecil tidak jauh dari pantai dan bekerja sebagai kuli panggul ikan. Pada bulan kedua, sebab melihat perangai Haedes yang baik, seorang padri menawarinya untuk membantu melayani Tuhan di gereja. Haedes menerima tawaran itu dengan tangan terbuka sebagai upaya penebusan dosa-dosanya. Akhirnya, dia menjadi seorang padri dan penduduk Aleba memanggilnya dengan nama baru, Padri Segessa.

Meski telah menjadi seorang padri, Haedes, yang kini bernama Segessa, seminggu sekali selalu bertandang ke pantai dan duduk berbaur dengan para nelayan di sebuah kedai minum. Di sana dia tidak memesan anggur, tapi mendengar keluh-kesah orang-orang dalam persoalan hidup dan memberikan khotbah singkat dari firman Tuhan. Pembawaannya yang sederhana, dengan kata-kata yang lembut penuh kasih, membuat Haedes dicintai semua penduduk pulau. Orang-orang dewasa selalu menyebut namanya dalam salam yang riang setiap bertemu dengannya. Sementara itu, anak-anak kecil mengekor pada jubahnya, yang kemudian Haedes berdoa dan membuat tanda salib di kepala mereka. Bahkan saat dia pamit meninggalkan pulau untuk pulang ke negerinya, orang-orang mengantarnya dengan air mata yang membasahi bibir Pantai Aleba.

***

Tourtouille dalam pelukan musim semi yang hangat. Bunga-bunga muscaris yang serupa kumpulan guci berwarna ungu tua bermekaran setelah sebelumnya dihamilkan musim dingin. Dalam jubah panjangnya, Haedes mengetuk pintu sebuah rumah, yang kemudian dibukakan oleh seorang perempuan tua yang tidak dia kenal sama sekali.

“Saya Padri Segessa,” Haedes mengenalkan diri. “Saya mencari Nona Anhelina.”

“Anhelina,” perempuan itu mencoba mengingat nama di kepalanya. “Oh, dia sudah pindah. Mungkin lima tahun lalu.”

“Di manakah dia tinggal sekarang? Ada utang budi yang harus saya bayar kepadanya.”

“Sayang sekali, Padri, tidak ada yang tahu di mana dia sekarang. Tapi cobalah Anda bertanya kepada si penjual roti di ujung jalan,” perempuan tua menunjuk arah. “Barangkali dia tahu. Dulu mereka berteman.”

Haedes pamit dan segera menemui penjual roti yang dimaksudkan si perempuan tua. Sejenak dia gamang ketika mengetahui bahwa si penjual roti ternyata adalah Garou, temannya memeras anggur dulu. Meski wajahnya kini ditumbuhi cambang yang bahkan semua penduduk Tourtoulli tidak mengetahui bahwa dirinya adalah Haedes, dia takut Garou tetap mengenalinya. Seorang teman biasanya memiliki ingatan yang baik. Namun, melihat gelagat Garou yang memperhatikannya sebagai orang asing, dia akhirnya memutuskan mengeluarkan beberapa franch untuk tiga potong roti dan menanyakan ihwal Anhelina kepadanya.

Dari Garou, Haedes akhinya tahu, selama sepuluh tahun kepergiannya, Anhelina mengalami kemalangan beruntun. Tahun kedua setelah dia meninggalkan Tourtouille, kedua orang tua Anhelina meninggal akibat kolera yang dibawa oleh pasukan Inggris dari India. Tiga tahun berikutnya, satu-satunya saudara Anhelina gugur dalam sebuah pertempuran saat melakukan ekspansi ke Asia Timur. Saat mendengar berita kemalangan itu, Haedes melakukan perkabungan dengan membuat tanda salib.

“Lalu Nona Anhelina?”

“Terakhir kali saya menerima suratnya, dia sedang berada di Herva. Itu setahun lalu. Di mana dan bagaimana dia sekarang, saya tidak tahu, Padri.”

Hari itu juga Haedes membawa kudanya ke Herva, sebuah kota kecil di bawah kekuasaan Tourtouille. Di sana, selama sebulan penuh, dia mencari keberadaan Anhelina dengan bertanya kepada para penjual roti, para petani anggur, dan para nelayan, tapi tak seorang pun tahu nama itu. Dia juga mencari pada upacara-upacara misa, tapi Anhelina tak pernah berhasil dia temukan. Haedes akhirnya merasakan keputusasaan yang dalam dan membuatnya memutuskan untuk kembali ke Aleba.

Tapi sebuah keajaiban terjadi. Pagi hari saat Haedes akan meninggalkan Herva, sebuah kereta kuda melintas di depannya. Dari badan kereta yang terbuka, dia melihat seorang perempuan mengenakan gaun linen berwarna merah crimson duduk dengan tangan membuai seorang bayi. Haedes memanggilnya. Perempuan itu lalu menoleh dan memerintahkan kusir menarik tali kekang kuda.

“Apakah Anda seorang padri?” perempuan itu mengernyitkan dahi dan memperhatikan jubah yang dikenakan Haedes. “Apakah saya mengenal Anda?”

“Tidakkah kau mengenali kekasihmu sendiri, Anhelina?” Aku Haedes.

***

Anhelina telah menceritakan segala hal yang terjadi dalam hidupnya kepada Haedes saat pertemuan pertama mereka di Herva. Dia menceritakan kemalangan yang menimpa orang tua dan saudaranya—seperti yang dikatakan Garou kepada Haedes. Juga bagaimana dia pindah ke Herva sebab saudaranya mewariskan sebuah rumah dan sebidang kebun anggur, serta bagaimana pertemuannya dengan seorang putra baron, yang akhirnya menjadikannya baroness—istri baron. Saat itu, Haedes hancur seketika. Meski memahami betul bahwa hidup adalah kesedihan dan penderitaan, perihal perempuan, dia mengakui kekalahannya.

Sebab hari itu dia bungkam dan tidak menceritakan apa pun kepada Anhelina, Haedes akhirnya menulis perjalanannya ke dalam sebuah surat. Pada akhir surat itu, dia membuat sebuah pertemuan dengan meminta Anhelina menemuinya di sebuah gereja tua di salah satu sudut Herva tanpa membawa siapa pun, kecuali iblis dan Tuhan.

“Aku datang untuk membayar kesalahanku, Haedes.”

“Ya, kau bersalah, Anhelina,” Haedes menyalakan sebatang lilin. “Kau ingat, malam saat aku membunuh Valiant, kau membuat janji yang tentu saja Tuhan menyaksikan-Nya. Aku mengetuk pintu rumahmu, tapi perempuan tua yang membukanya. Kau akan membawaku ke gereja untuk menikah, tapi kau justru menjadi istri seorang baron. Apa kau ingin aku membuat lubang di kepala suamimu seperti Valiant?”

Haedes mengeluarkan sepucuk pistol dari dalam jubahnya. Itu pistol yang sama saat dia berduel dengan Valiant di tepi Sungai Sequoias. Anhelina, yang melihatnya dari temaram cahaya lilin, mundur beberapa langkah.

“Kau sudah gila, Haedes!”

Pada akhirnya Anhelina tidak mampu membendung air matanya. Dia berlutut dan memohon ampunan dan belas kasih kepada Haedes.

“Jangan bunuh suamiku, Haedes. Aku memohon kepadamu.”

“Baiklah, aku tidak membunuh suamimu. Itu berarti aku harus membunuh putramu, atau, suara Haedes bergetar, membunuhmu.”

“Tidak, tidak ada pembunuhan, Haedes. Tidak ada. Jangan kotori kepadrianmu.”

Anhelina bangkit, melingkarkan tangan di leher Haedes, lalu menciumnya berkali-kali. Tetapi yang ditemukan bibir Anhelina hanyalah dingin yang purba, seperti yang dia temukan di mayat saudaranya. Haedes bergeming memandangi air mata yang mengalir dari mata Anhelina yang biru. Selama beberapa saat mereka tenggelam dalam kebisuan dan keheningan yang khidmat seperti doa yang tak bersuara.

“Tapi harus ada yang mati malam ini,” Haedes memandang langit-langit gereja. “Aku sudah berjanji kepada Tuhan.”

“Kalau begitu, tidak ada seorang pun yang harus bertanggung jawab selain diriku,” Anhelina menyelami mata Hades. “Bunuhlah aku, Haedes. Akulah yang mengkhianatimu.”

“Ya, kau memang bijak, Anhelina,” Haedes menyeringai dan mulai meracau. “Kau memang bersalah. Kau memang pembual. Kau memang pengkhianat. Kau memang baroness. Kau memang cantik, Anhelina.”

Haedes lantas menyuruh Anhelina berbalik dan berjalan beberapa langkah. Sementara itu, dia berjalan mundur hingga berada sepuluh langkah dari salib kayu yang masih kokoh di dinding gereja.

“Aku tidak pernah kehilangan kemampuan membidikku, Anhelina. Dan kau ingat, peluruku adalah maut,” Haedes membuat bidikan. “Oh, fleur de lys, apakah aku orang yang beriman? Dan dia di depanku membawa dosa asalnya. Apakah keinginan-keinginan membuatku penjadi seorang penjahat? [1]

Telinga Anhelina menangkap bunyi gemeretak—hammer yang ditarik. Dia merasakan maut pelan-pelan meriap di tubuhnya. Air matanya tidak berhenti mengalir, berkejaran dengan degup jantung dan bayangan putranya yang merah dan tampan.

***

Sore itu, di sebuah permakaman tidak jauh dari gereja utama Herva, sebuah peti mati diturunkan setelah upacara misa requiem dilakukan. Para keluarga baron dalam balutan linen dan satin berwarna hitam mengiringinya dengan doa duka. Dalam buaian pengasuhnya yang tua, seorang bayi yang belum memahami makna sebuah kematian menangis dengan rengekan yang membelah udara. Ya, tidak ada yang lebih baik untuk mengantar kematian selain doa dan air mata.

Sementara itu, di tengah-tengah tanah yang mulai ditimbunkan ke liang makam, sembari membayangkan kembali saat Haedes berbaring dengan kepala berdarah di bawah naungan salib yang suci, diam-diam Anhelina membuat doa yang tidak ingin didengar oleh air matanya sendiri.

“Aku mencintaimu, Haedes. Semoga Tuhan memberimu istirahat yang kekal. Amin.” (*)

 

Keterangan:

[1] Dialog terakhir Haedes, disadur dari lirik Belle, Notre-Dame de Paris.

 

Rosyid H. Dimas, lahir di Rembang pada Juli 1996. Pada 2018, ia terpilih sebagai salah satu penulis emerging dalam Ubud Writers and Readers Festival 2018. Ia tergabung dalam komunitas pencinta buku Klub Buku Yogyakarta (KBY). Menanam Warisan (CommaBooks KPG, 2019) adalah buku perdananya.