Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 05 Agustus 2020)

Memercayai Pandangan Pertama ilustrasi Istimewa
Memercayai Pandangan Pertama ilustrasi Istimewa 

Kemarin sore, seorang bapak-bapak rekan satu kloter umrah enam tahun lalu bertandang ke rumah. Ia bercerita banyak tentang istrinya—yang juga satu kloter umrah dengan kami—yang baru berpulang sekitar sebulan yang lalu. Di pengujung obrolan, sembari menyeruput teh manis yang dihidangkan agak telat oleh istri saya, ia bercerita tentang anak perempuannya yang ikut suami berdikari di Kalimantan. Kebetulan, anak perempuannya itu adalah teman satu sekolah saya dan istri ketika SMA dulu.

“Ia sekarang berjualan pempek di sana. Alhamdulillah lancar. Beberapa waktu lalu ketika ia juga berjualan tekwan, pempeknya malah kurang laku. Ternyata orang-orang Tarakan lebih suka makan adonan-ikan berkuah panas.” Saya ingat sekali, hujan turun rintik-rintik ketika ia mengatakan itu. Petang itu mulai dingin dan tiba-tiba saya membayangkan tekwan panas terhidang di hadapan. Ya, saya mendadak lapar dan ngidam makan tekwan.

Ketika tamu itu pamit sekitar pukul setengah enam, saya teringat stok bakso di kulkas. “Bun, buatin baksolah,” kata saya pada istri. Saya pikir, tekwan dengan bakso agak-agak miriplah. Sama-sama terbuat dari adonan tepung dan protein plus sama-sama berkuah. Saya tak sabar melahapnya panas-panas di petang yang dingin ini.

Tapi … saya melupakan satu hal. Siang tadi saya makan cukup banyak sebab istri menghidangkan pindang baung dengan sambal bunga pepaya. Cacam oi! Ketika bakso terhidang—lengkap dengan emping goreng dalam toples—lalu saya melahapnya sembari membayangkan tekwan panas, saya tak bisa menghabiskannya. Perut saya menolak memasukkan pentol bakso ketiga. Apakah karena bakso bikinan istri kurang enak? Tentu saja tidak. Saya salah satu penggemar bakso buatannya. Apakah karena ini bakso, bukan tekwan? Ah, saya sebenarnya lebih suka makan bakso daripada tekwan. Lalu apa?

Baca juga: Permintaan Maaf Tanpa Perasaan – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 29 Juli 2020)

Karena saya terlalu percaya pada sesuatu yang bernama Perasaan Tiba-tiba. Hingga lupa, ini bukan urusan perasaan dan ketersediaan makanan berkuah, tapi juga perut yang kenyang sebagai kenyataannya.

***

Tahun 2019, ketika melakukan perjalanan ke Ljubljana dari Hallstatt, saya berjumpa seorang perempuan Indonesia di atas kereta. Mungkin karena sama-sama berasal dari Indonesia, kami pun berbincang hangat. Topik percakapan kami ngalor-ngidul, tapi kelihatan sekali kami menikmatinya. Ketika sedang asyik membincangkan buku favorit, kereta tiba di tujuan. Kami turun, tapi harus berpisah karena hotel kami berada di arah yang berlawanan. “Sampai jumpa di Bled,” katanya seraya melambaikan tangan.

Keesokan harinya, saya sengaja berangkat ke Danau Bled agak pagi karena ingin menyelesaikan beberapa tulisan di sebuah kafe yang menghadap bentangan danau itu untuk kemudian melanjutkan perbincangan dengan perempuan yang suka buku itu. Begitulah rencana dalam kepala.

Tapi, alangkah terkejutnya saya ketika kami berpapasan di tepi danau, perempuan itu—yang berjalan dalam rombongan Indonesianya—hanya melambaikan tangan ke arah saya lalu berlalu dengan rombongannya. Apa maksudnya dengan “sampai jumpa di Bled” kemarin? Oh, dia yang keliru memilih diksi atau saya yang kelewat memercayai perasaan senang bertemu teman berbincang tentang buku sehingga menghitung antusiasme saya sama dengannya? Ah.

Baca juga: Jika Orang Malas Ingin Berkarya – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 22 Juli 2020)

Perasaan senang tiba-tiba itu melempar saya dalam keadaan yang mencampurkan ketakmengertian dan ketololan.

***

Saya mau mundur lagi pada tahun 2002. Ketika Said Agil Husin al Munawar, menteri agama di Kabinet Gotong Royong Megawati itu memercayai bahwa dirinya adalah seorang yang salih di tengah dunia yang kotor ini sehingga mimpinya sama sahih dan validnya dengan mimpi para nabi dan para sahabat dan orang-orang salih ketika penggalian Prasasti Batutulis. Ia meyakini, konon berdasarkan petunjuk dalam mimpi, bahwa di bawah prasasti tersebut tersimpan emas harta karun peninggalan zaman Prabu Siliwangi yang dapat digunakan untuk membayar seluruh hutang negara sebesar hampir Rp 1.500 triliun atau setara dengan 10.000 truk emas batangan. Protes dari kalangan arkeologi tidak ditanggapi. Setelah dilakukan penggalian selama dua minggu di bawah pengawasan Agil, penggalian dihentikan dan hanya menghasilkan jejak galian tanah 5×1 meter dan kedalaman 2 meter tanpa secuil logam pun apalagi emas.

Mungkin Said membayangkan dirinya adalah Abdul Muthalib yang menerima banyak isyarat dalam beberapa kali mimpinya sebelum kemudian ia melakukan penggalian sendiri di sekitar Kabah untuk menemukan kembali Sumur Zam-zam yang “hilang” dari Mekkah lima ratus tahun lamanya.

***

Tiga cerita di atas, sedikit banyak sebangun dengan apa yang Trump alami usai mengumumkan China akan membeli hasil pertanian Amerika dalam jumlah yang sangat besar usai pertemuannya dengan presiden Negeri Tirai Bambu itu dalam rangka meredakan ketegangan kedua negara Agustus tahun lalu. Respons China—yang Trump anggap hangat—waktu itu ia asumsikan sebagai membaiknya hubungan bilateral, tentu dalam kacamata Amerika. Tapi, China justru tidak membeli hasil pertanian AS dalam jumlah yang besar itu—yang dalam asumsi Trump adalah puluhan ribu ton itu. China memang membeli, tapi hanya sedikit. Formalitas yang membuat sakit!

Ketika perasaan tiba-tibanya justru menghadiahi kekecewaan, Trump menulis twit dengan satu kata bertanda seru: China!—sekaligus menandakan bubarnya Kesepakatan Osaka. Pernyataan juru bicara Kemenlu China—“perang dagang ini tidak akan ada pemenangnya!”—membuat Trump naik pitam.

Baca juga: Bepergian ke Rumah Sendiri – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 15 Juli 2020)

Trump terlalu memercayai optimisme yang tiba-tiba merangkulnya usai pertemuan itu. Ia lupa, perasaan tiba-tiba itu ternyata membutuhkan konfirmasi dan verifikasi pada objek yang menyebabkan perasaan itu tumbuh dan membesar tiba-tiba.

***

Saya teringat pesan WhatsApp Andri Azis, alumni Al Azhaar Kairo yang sedang menempuh studi doktoral di UGM yang kesal kepada orang-orang yang menganggap perasaan benci itu bisa tumbuh sebagaimana perasaan cinta pada pandangan pertama. Katanya lagi, perasaan tiba-tiba itu tidak ada yang spesial sebab semua orang akan mengalaminya. Menjadi “sesuatu” atau tidak, sangat tergantung dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Apakah mereka dengan serius menganggapnya atau mengabaikannya. Andri seakan-akan hendak bilang bahwa Perasaan Tiba-tiba itu akan bekerja apabila mendapat respons sebangun dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Saya tiba-tiba teringat kasus pernikahan para selebritis yang seumur jagung, pemerintah yang merilis kalung antikorona, atau bahkan Gibran yang tiba-tiba memercayai perasaannya mewarisi genealogi-raja sang ayah dengan meletakkan dirinya sebagai rantai pertama yang melanjutkan dinasti itu.

Saya pikir, pihak-pihak dalam keluhan Andri itu bukan hanya kedua belah pihak yang merasakan, tapi juga kenyataan tempat mereka berpijak.

Kalau sepasang selebritis itu adalah pribadi yang menganggap drama sebagai kesemuan yang layak diumbar-dipuja, kenyataan tempat itu berpihak dengan mudah memilih waktu untuk membereskannya.

Baca juga: Memungut Kesementaraan – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 08 Juli 2020)

Ketika kalung antikorona itu menjelma dinding sandaran ketika pemerintah hampir putus asa menangani pandemi, kenyataan bahwa sandaran itu adalah kaca tipis mudah pecah akan membuat beling dan ceceran darah di lantai.

Pun ketika perasaan seorang anak raja meriap serta-merta karena bisikan dari orang-orang yang mengatakannya mewarisi segala hal tentang kemuliaan, yang lainnya akan kehilangan cahaya dan kedap suara sehingga tak lagi dapat ditangkap indera.

Saya bisa saja tiba-tiba mengagumi seorang dosen—karena ceramahnya di sebuah forum sangat menginspirasi—yang ternyata menyukai saya karena pernah tiba-tiba menemukan cerpen saya di media massa yang menurutnya sangat cocok dengan salah satu kisah hidupnya yang sangat emosional, tapi … kenyataan bahwa kami tinggal di negara yang berbeda membuat pergaulan dan kedekatan cukup tuntas dengan media sosial atau berkirim pesan lewat ponsel. Perasaan bahwa percakapan kami akan menghasilkan proyek keberkaryaan yang lebih monumental bila kami kerap ngopi (baca: bertemu) di kafe sungguh adalah semu belaka.

Mungkin begitu. *

 

Lubuklinggau, 5 Agustus 2020

BENNY ARNAS lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Novel audionya “Bulan Madu Matahari” sedang tayang di Instagram @bulanmadumatahari dan Youtube Benny Institute. Novelnya “Ethile! Ethile!” sedang tayang di platform @Kwikku.