Cerpen Sulistiyo Suparno (Suara Merdeka, 02 Agustus 2020)

Novel Sampah ilustrasi Suara Merdeka (1)
Novel Sampah ilustrasi Suara Merdeka 

Syamaran telah menerbitkan tiga novel percintaan. Tak satu pun dicetak ulang. Namun ia pantang menyerah dan telah siap dengan novel keempat. Syamaran berusaha meyakinkan editor, kali ini novelnya akan laris manis.

“Simpan ocehanmu itu,” kata sang editor. “Kau tahu, novel pertamamu terbit atas biaya perusahaan. Anggaplah kami sedang bereksperimen. Novel kedua dan ketigamu terbit atas biaya dariku. Kalau aku bukan pamanmu, mustahil novelmu terbit.”

“Saya tahu, Paman,” sahut Syamaran. “Saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati Paman. Saya berharap, kebaikan hati Paman masih ada untuk menerbitkan novel keempat saya.”

“Aku masih berbaik hati dengan tidak membuang naskah novel keempatmu ke tong sampah. Meski sebenarnya novelmu lebih pantas menghuni tong sampah, tapi aku tak melakukannya. Aku masih berbaik hati padamu. Aku pamanmu dan aku menyarankan sebaiknya kaubuang novel-novel picisan yang selalu kaubaca dari kamarmu. Satu lagi dan kurasa ini saran realis, kaupakai ijazahmu, cari pekerjaan lain.”

“Tapi saya ingin jadi pengarang, Paman. Menjadi novelis adalah impian saya,” sergah Syamaran.

“Tidak semua mimpi harus menjelma nyata, Syam,” kata editor. “Sekarang bukan lagi zaman Fredy S, Maria Fransiska, Mila Karmila. Kalau kau memaksa menulis novel macam itu, kau bisa bikin bangkrut penerbit. Sekarang zaman Seno Gumira Ajidarma, Ayu Utami, Eka Kurniawan. Kautirulah gaya mereka. Tak apa jadi epigon, asal bisa menyelamatkan penerbit dari kebangkrutan.”

“Mustahil, Paman,” sahut Syamaran. “Saya menulis novel untuk pelipur lara, mereka menulis untuk seni. Kami dua kutub berbeda, Paman.”

“Kalau begitu,” editor menyodorkan naskah novel bersampul biru muda pada Syamaran. “Bawa novelmu ini, kaucarilah penerbit pelipur lara.”

Syamaran keluar dari kantor penerbit, berjalan menyusuri trotoar dan berhenti di taman kota. Ia duduk di bangku beton di bawah pohon peneduh, di sudut taman itu.

Syamaran memandang kejauhan, memikirkan ucapan pamannya. Sebenarnya Syamaran telah mencoba meniru gaya bercerita berbagai pengarang, tetapi hatinya selalu berontak. Ia tersenyum puas dan bangga ketika menulis cerita dengan gaya sendiri.

Carilah pekerjaan lain. Masih terngiang ucapan pamannya itu. Sebenarnya Syamaran ingin marah; memaki atau setidaknya menggebrak meja ketika mendengar saran itu. Namun editor itu pamannya, sehingga Syamaran memilih merantai diri dengan kesabaran.

“Selalu ada jalan keluar,” guman Syamaran kukuh pada impiannya. Ia memencet sejumlah nomor di ponsel lipatnya. Menghubungi seseorang dan beberapa detik kemudian ia telah memulai pembicaraan.

Syamaran menghubungi seorang teman yang punya penerbitan indie. Beberapa teman sesama pengarang telah menerbitkan buku di penerbit itu, dan konon laris manis. Ah, mengapa Syamaran tidak melakukannya sejak dulu?

“Tapi ada syarat penting. Kau harus ikut menjual bukumu,” kata temannya di telepon.

“Aku pengarang, bukan salesman,” sahut Syamaran.

“Kalau kau tak mau, maaf, aku tak bisa terbitkan novelmu.”

Syamaran kembali memandang kejauhan. Ia menghela napas dan menoleh ke kanan. Di sana, di bangku lain duduk seorang gadis sedang membaca buku. Ah, mungkin gadis itu sedang membaca novel Syamaran. Diam-diam Syamaran tersenyum dan menyakinkan diri, seburuk apa pun novel pasti ada yang menyukai, ada yang sudi membaca. Berpikir begitu, Syamaran meninggalkan taman dengan langkah ringan, seringan impiannya menjadi pengarang novel pelipur lara.

***

Syamaran berada di gerbong kereta api kelas superekonomi. Minggu lalu pemerintah meluncurkan kereta itu sebagai uji coba. Kalau efektif mengatasi kemacetan jalan raya, konon, kereta itu akan berlanjut sebagai moda transportasi murah meriah.

Karena kereta itu kelas superekonomi dan gratis selama sebulan masa uji coba, penumpang penuh tapi tak ada yang berdiri. Semua penumpang mendapatkan kursi, meski tak harus sesuai dengan nomor kursi. Sebagai pengganti AC, jendela-jendela di kereta itu bisa dibuka-tutup dengan menggeser ke bawah dan ke atas.

Syamaran berada di kereta itu dalam perjalanan ke sebuah perguruan tinggi swasta yang baru berdiri di kota sebelah. Ia telah mengirimkan lamaran sebagai tenaga administrasi, melalui surel, dan kini dalam perjalanan untuk wawancara. Ayah telah meminta, tepatnya mendesak, Syamaran untuk kerja kantoran. Sayang kalau ijazah administrasi bisnis Syamaran tidak dimanfaatkan, begitu dalih ayahnya.

Ayahnya mengerti Syamaran ingin jadi pengarang. Kalau Syamaran kerja kantoran di kampus, itu bagus, karena bisa membaca buku di perpustakaan, mengarang setelah jam kantor, dan memakai internet sepuasnya.

Sebenarnya impian menjadi pengarang telah meredup dan menjauh dari pikiran Syamaran. Ia telah menyelesaikan novel kelima yang kini bernasib sama dengan novel keempat; tak ada yang mau menerbitkan. Zaman telah berubah, masa keemasan novel pelipur lara telah berlalu. Kerja kantoran, mungkin itulah takdir yang harus Syamaran jalani, dan kini ia sedang menjemput takdir itu.

Di sebelah Syamaran duduk seorang bapak yang sejak datang langsung menyandarkan kepala dan memejamkan mata. Di depannya duduk dua gadis; satu berhijab dan satu lagi berambut lurus sebahu.

Gadis berhijab sedang membaca buku Lelaki Tua dan Laut-nya Ernest Hemingway. Ia mengangkat novel itu tepat di depan mata, sehingga Syamaran dapat melihat dengan jelas sampul dan judulnya.

Temannya, si gadis berambut lurus sebahu dan duduk di dekat jendela, juga sedang membaca buku. Namun Syamaran tak tahu buku apa itu, karena gadis itu menaruh di pangkuan. Namun, detik berikutnya, gadis itu melakukan hal yang sama dengan si hijab; mengangkat buku tepat di depan mata, sehingga Syamaran dapat membaca judulnya.

Dada Syamaran berdebar ketika mengetahui si rambut lurus ternyata membaca Mencari Kekasih, novel pertama Syamaran yang laku 212 eksemplar dari seribu eksemplar yang dicetak. Syamaran tersenyum dan tiba-tiba merasa dia memanglah pengarang. Ada orang yang membaca novelnya!

Sebenarnya gadis berambut lurus sebahu itu berwajah biasa-biasa saja. Namun karena ia sedang membaca novel Mencari Kekasih, gadis itu tampak cantik di mata Syamaran.

Syamaran masih mengulum senyum, ketika ia mendengar si rambut lurus berkata kesal, “Menyebalkan!”

Si rambut lurus menutup buku, tetapi masih memegangnya. Si hijab menutup buku pula dan menoleh. “Memang menyebalkan,” sahut si hijab. “Aku hanya beberapa lembar membacanya.”

“Gue heran,” kata si rambut lurus. “Masih saja ada yang mau menerbitkan novel sampah.”

“Buang saja ke tong sampah, seperti sering kita lakukan,” sahut si hijab.

“Tapi gak ada tong sampah di sini.”

“Kalau gitu…,” si hijab menyahut, menatap temannya.

Serempak, dua gadis itu berseru, “Buang saja!” Lalu tertawa.

Si rambut lurus sigap menggeser jendela ke bawah hingga terbuka sedikit, dan itu cukup baginya untuk membuang bukunya.

“Novel sampah, buang saja!” dua gadis itu berseru lagi, dan tertawa lagi.

Di depan mereka, Syamaran duduk tertunduk dengan hati remuk redam, menyisakan duka mendalam. Syamaran memejamkan mata, menangis dalam hati.

Sejumlah pembuktian telah cukup—pamannya dan kini dua gadis itu—bahwa Syamaran hanya mampu menulis novel sampah. Impian menjadi pengarang seketika padam, terkubur dalam-dalam.

Hari itu, di gerbong kereta api kelas superekonomi, seorang pengarang novel telah mati! (28)

 

Batang, 27 Mei 2020

Sulistiyo Suparno, penulis cerpen, kelahiran Batang, 9 Mei 1974. Cerpennya tersiar di beberapa media cetak dan daring serta beberapa antologi bersama. Ia bermukim di Limpung, Batang.