Cerpen Maya Sandita (Republika, 02 Agustus 2020)

Amak Berpulang ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Amak Berpulang ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

“Amak tak peduli padamu, Bujang. Amak tak akan lagi peduli.” Kata-kata itu jadi gumam yang dalam, jadi igau setiap malam.

Enam dari sepuluh anak Amak sekarang mengelilingi tubuh wanita tua yang terbaring lemah sebulan ini. Beberapa di antaranya ada yang tak bisa pulang sebab merantau terlalu jauh dari Kota Padang. Sakit yang diderita wanita 84 tahun ini sudah lama. Dua atau tiga tahun sudah terasa, tapi tak begitu menyiksa. Jadi, ketika ngilu persendiannya, sesak napasnya, atau sakit kepalanya terasa, Amak hanya minum obat generik lalu tidur di kasur.

Kesehatan Amak makin menurun setiap hari, tapi ia menolak ke rumah sakit.

“Amak tak mau disuntik setiap hari oleh dokter,” katanya.

“Ditahan ya, Mak, sakitnya. Kalau tidak diobati, kapan Amak sembuhnya?” bujuk anak bungsunya.

Amak memberengut.

Fatimah meninggalkan Amak di kamar setelah kehabisan akal membujuk sang ibu. Ia temui kakak-kakaknya yang menunggu di ruang tamu.

“Bagaimana?” tanya kakaknya yang nomor dua, Fitri namanya.

“Amak tidak mau.”

Fatimah, Fitri, dan empat anak Amak yang lain menatap ke arah yang entah. Mata mereka basah. Hati mereka gelisah.

“Amak tidak peduli padamu, Bujang.” Terdengar suara dari kamar. Semua mata saling berpandangan.

Bujang anak kesayangan. Amak memanggilnya ‘Bujang Sayang’ sejak ia dilahirkan, meski Ayah sudah memberinya nama Rizal. Hari itu Bujang tidak bersama saudaranya yang lain. Ia di Pekanbaru sejak tiga bulan kemarin. Persis sebelum Amak terbaring lemah dan berita itu sampai ke rumah.

“Mak, ini Murni. Uda Bujang sudah seminggu tidak pulang. Terakhir ia kirim pesan. Katanya Murni ia ceraikan. Talak tiga.” Suara itu penuh isak dan tangis yang membeludak.

Murni, istri kedua Bujang setelah pernikahan pertamanya dengan Arin. Perceraiannya dengan Arin bersebab pertengkaran atas banyak hal hingga perceraian tak lagi dapat dielakkan. Pertengkaran setiap kali dibubuhi ucap cerai yang tidak hanya sekali. Kini Arin dan lima anak perempuan Bujang sudah punya kepala keluarga yang lain. Tak jadi pelajaran bagi Bujang, lagi-lagi kandas itu pernikahan. Kali ini Murni betul-betul jadi korban.

“Uda Bujang pergi bawa semua uang, Mak. Murni ditinggalkan sendirian. Kemarin sore yang punya kontrakan sudah menagih uang sewa. Murni tidak makan sudah dua hari lamanya. Tolonglah Murni, Mak. Di sini Murni tak punya saudara.”

Masih bisa Amak minta Fatimah untuk menghubungi Bujang. Amak masih punya tenaga untuk menasihati anak yang tentunya ia sayang. Namun, sesuatu meledak dari seberang telepon. Bujang berkata ucapan Murni fitnah saja. Sepeser pun uang Murni tak dibawanya. “Bujang punya uang sendiri!” katanya.

Bujang mengatakan bahwa talak tiga sudah ia jatuhkan. Pada Murni ia takkan pernah kembali. “Kalau sudah diusir oleh pemilik kontrakan, tinggal pulang saja ke kampungnya, selesai kan?” sambungnya lagi.

“Kau tak bisa membuangnya begitu saja. Dulu kau menjemput Murni ke rumah orang tuanya. Sekarang jika tak ada lagi rasa suka, antarkan ia kembali ke rumahnya.”

“Bujang tidak menjemput Murni. Ia yang datang sendiri dan mendesak minta dinikahi! Bukankah Bujang tidak ke kota lain setelah bercerai dengan Arin?”

“Kau punya banyak anak perempuan, Bujang. Coba kau bayangkan jika mereka diperlakukan begini oleh orang. Dicampakkan saja seperti binatang saat pasangannya tak lagi sayang.”

Bujang tak mau mendengarkan kata Amak. Menurut dia, dialah yang benar dan ucapan Murni hanya fitnah yang sudah dirancangnya dalam otak. Amak bicara tak henti-henti hingga marah menjadi-jadi.

“Sekarang terserah kau, Bujang. Amak tak peduli lagi!” Amak memutus panggilan.

Ia duduk di kursi panjang di teras depan. Air matanya mendadak bercucuran. Fatimah memintanya masuk ke rumah. “Tidak enak dilihat tetangga kalau Amak berurai air mata,” katanya.

Mak menurut, tapi baru satu dua langkah kakinya menuju pintu, ia rebah.

Keras pekik Fatimah.

***

Ida, anak pertama Amak berusaha menghubungi Bujang. Ia hendak mengatakan bahwa Amak sudah dibawa ke rumah sakit berulang-ulang. Memang tidak menginap karena Amak selalu minta pulang. Ia ingin dirawat di rumah saja. Begitu permintaannya, tapi kondisi Amak semakin memburuk dari hari ke hari. Yanti dan Rauf sudah datang dari Kalimantan tadi pagi. Tinggal Bujang seorang anak Amak yang kotanya dekat, tapi belum datang. Padahal jarak Pekanbaru ke Padang tak menghabiskan lebih dari satu siang.

Ida kehabisan cara. Telepon tak diangkat oleh adiknya. Saudara lain sudah pernah mencoba, tapi tak ada yang sekuat Ida yang tahan telinganya mendengar Bujang yang marah-marah dari seberang telepon sana.

“Kita bilang yang baik, malah kita dihardik. Daripada tambah sedih ini hati, lebih baik tak usah ditelepon lagi. Kita beri tahu malah dibilang menunjuk jari,” keluh Yanti.

“Pada kakaknya yang ini juga begitu, Yanti.” Erna sang kakak yang lahir tiga tahun lebih dulu dari Bujang menimpali.

Saudara lainnya mengatakan hal yang hampir sama. Jadi, Ida berjuang sendiri. Meski sampai malam pukul sembilan, tak juga ada jawaban. Ia memutuskan kembali ke kamar, membantu Yanti dan Erna mengemasi baju mereka ke dalam tas besar.

Sepuluh hari lamanya sejak Yanti dan Rauf tiba dari Kalimantan. Mereka harus kembali bekerja, sebab singkatnya cuti yang mereka bisa dapatkan. Kondisi Amak juga sudah cukup membaik dari sebelumnya. Barangkali ada rindu yang ternyata juga perlu diobati di dada. Rauf dan Yanti pulang ke Kalimantan pagi ini. Erna juga tidak bisa libur mengajar lebih lama lagi. Amak mengantar ke pagar. Fatimah yang mendorongkan kursi roda Amak dari dalam rumah.

“Amak cepat sehat. Semoga nanti Lebaran, Erna, Yanti, dan Bang Rauf bisa datang lagi.”

Rauf mencium pipi ibunya di kanan dan kiri.

Mendadak Amak merasa rumah jadi sepi. Tidak seramai beberapa hari belakangan ini. Rasa sepi yang sebetulnya juga dirasakan Bujang di Pekanbaru dari kemarin sampai detik ini. Pada Amak ia rindu sekali, tapi saudaranya telah telanjur menghakimi bahwa Amak jatuh sakit karena tingkah kesalahannya atas Murni. “Dari seluruh masalah yang kau buat, ini masalah yang bagi Amak paling berat!  Ini karena kau egois, Bujang!” Demikian Fitri bicara—sebelum telepon pada Bujang tak pernah lagi ia ulang.

Pada setiap malam ia rentang doa-doa yang panjang. Kesehatan Amak selalu di benak sepanjang pagi hingga malam menjelang lagi. Namun, untuk bicara pada saudaranya tak tergerak hatinya. Ia biarkan saja kakak dan adiknya dengan asumsi yang mereka punya. Selain untuk bicara tanpa emosi ia tak mampu. Itu alasan diam jadi pilihan.

Berbulan-bulan setelahnya tak ada yang mengkhawatirkan dari kondisi Amak. Murni sudah pulang ke kotanya dan diminta tak mengabari, demi kesehatan sang ibu yang mereka sayangi. Semua anak Amak berharap agar makin baik ke depannya. Mereka meminta Fatimah untuk tetap di rumah saja, begitu pun dengan Amak yang makin renta.

“Ini sudah jadi pandemi, Fat. Penyebarannya semakin cepat.” Yanti berkata sambil waswas hatinya.

“Iya, Kak. Fatimah juga takut ke luar rumah. Anak-anak juga sudah sebulan ini tidak sekolah. Virus korona ini bikin kita harus ekstrawaspada,” jawab adiknya.

“Fat…, Fat…!” Suara Amak terdengar.

Fatimah menutup telepon cepat-cepat. Ia masuk ke kamar. Amak sedang berusaha bernapas sedang dadanya sesak. Segera dipanggilnya Fitri dan Ida. Tak banyak orang yang ia izinkan masuk ketika mendengar ia berteriak-teriak mengatakan bahwa Amak sesak napasnya.

Perasaan Ida sebagai anak tertua sangat peka atas ibunya. Sudah sering firasat tentang Amak benar ia tebak. Kali ini ia merasa Amak sebentar lagi akan pergi. Ia segera memberikan nomor telepon Bujang pada tetangga. Minta tolong untuk menghubungi adiknya.

“Katakan kondisi Amak jelas-jelas padanya! Kami akan urus Amak,” katanya pada seorang tetangga yang usianya muda.

“Katakan pada mereka semua, Bujang ikhlas melepas. Meski sedih mengapa bukan mereka yang menelepon saya? Mengapa malah suruh tetangga? Apa mereka tidak menganggap saya ini saudara kandung mereka? Saya dapat kabar juga, Kak Erna sudah berangkat ke situ. Padahal kami sama-sama di Pekanbaru. Apa salahnya menumpangi adiknya ini di mobil mewahnya itu? Kau bilang saja ‘Bujang sudah ikhlas, katanya’, begitu!”

Telepon ditutup. Anak muda yang menelepon tadi mulutnya terkatup. Ia terkejut. Tak disangka respons seperti itu yang mesti ia sambut. Ia lantas kembali ke dalam rumah, menyampaikan amanah, tapi hanya berani berbisik pada Kak Ida. Seiring pesan itu sampai ke telinga, terdengar Fatimah meraung sejadi-jadinya, memanggil-manggil ibunya.

Waktu setelah Ashar berlalu di hati-hati yang gusar. Beberapa di antaranya mampu menghadapi dengan tegar dan sabar. Amak sudah berpulang. Beberapa hari sebelum pergi, ia masih mengigau bahwa pada Bujang ia tetap tak peduli. Tapi sesiapa yang pandai membaca hati pasti paham kalimat ini. Bahwa makin sering Amak berkata tak peduli, nasib Bujang selalu dalam benaknya setiap hari.

Detik itu, barangkali ada doa yang sampai ke hati, sebelum malaikat membawa nyawa Amak pergi, semua orang melihat Amak tersenyum bahagia sekali. ■

 

Batam, 27 Mei 2020

 

Selamat jalan, Nenek.

 

Maya Sandita, sutradara, aktor, dan penulis. Alumnus Prodi Seni Teater ISI Padangpanjang (2019). Berdomisili di Batam. Tergabung dalam FPL, KOPI TANDA, PCRBM, Bagindo Rajo, dan Teater Ode Batam. Beberapa cerpennya pernah diterbitkan dalam antologi dan juga di media cetak lokal dan nasional. Cerpen terbarunya “Penabur Bunga” – Republika (2019), “Lelaki di Bawah Lampu Jalan” – Kompas (2020), dan “Cokelat Pasir Pantai Bibir Ibu” – Media Indonesia (2020). Peraih Juara I Lomba Menulis Cerita Rakyat Berbahasa Minangkabau yang diadakan oleh Disbud Sumatera Barat, dengan judul cerita “Batu Godang Putaran Toluak”. Maya bisa dihubungi via Instagram @sanditaisme, Facebook Maya Sandita, E-mail sanditacorp@gmail.com.