Cerpen Silmi Afkarina Hanum (Republika, 26 Juli 2020)

Bingkisan yang Tertukar ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Bingkisan yang Tertukar ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Malam itu, selepas melaksanakan shalat Maghrib, Rifai memenuhi pangilan kepala sekolah yang memintanya datang di rumah. Bunda memasak mi ayam. Sapaan akrab warga sekolah kepada kepala sekolah adalah Bunda. Iya. Untuk ukuran kepala sekolah, Bunda adalah sosok yang sangat keibuan untuk bawahannya.

Biasanya Bunda tidak menyebut guru-guru sebagai bawahan, lebih sering menganggap sebagai anak. Sekolah ini memang baru berdiri, kurang lebih lima tahun lamanya. Bunda bekerja sejak sekolah itu berdiri, sedangkan Rifai baru dua tahun terakhir bekerja di sekolah swasta ini.

Awalnya Rifai hanya bekerja sebagai kuli angkut di pasar. Gaji yang didapat tidak seberapa, hanya sekitar Rp 50 ribu-Rp 80 ribu per harinya. Itu pun ia gunakan untuk makan sehari-hari dan sisanya ia tabung. Rifai hidup mandiri sejak lulus SMA. Sebagai anak pertama, Rifai memilih merantau dan mencari pekerjaan. Keluarganya dari golongan menengah ke bawah, mempunyai tiga adik yang masih kecil dan semuanya duduk di bangku sekolah. Duduk di bangku sekolah artinya butuh biaya untuk sekolah. Karena itu, Rifai memutuskan untuk pergi merantau dan mencari pekerjaan. Rifai meyakini, selagi bisa usaha insya Allah rezeki akan mengikuti.

Sejak hari itu, setiap hari Rifai giat bekerja. Tidak ada rasa malu sedikit pun untuk menjadi kuli angkut. Karena kejujuran dan kegigihannya dalam bekerja, Rifai dikenal baik oleh orang-orang di pasar. Ia pandai bergaul dan sangat santun terhadap yang tua. Terlebih, ia dikenal sebagai ahli ibadah. Saat azan berkumandang, Rifai selalu bergegas ke mushala untuk shalat. Bagi Rifai, shalat awal waktu adalah kunci lancarnya rezeki.

Dari hari ke hari yang dilewati, saat Bunda sedang berbelanja, tiba-tiba Bunda terpeleset dan jatuh di depan kios sayuran. Memang jalanan hari itu di pasar sedang licin. Rifai yang melihat Bunda terjatuh langsung menolongnya dan membereskan keranjang belanjaan Bunda yang berserakan.

“Terima kasih, Nak, bisakah kamu bantu Bunda untuk naik bentor?” ujar Bunda sambil menahan sakit karena terjatuh tadi.

Dari raut muka Bunda, Rifai bisa melihat usianya tidak jauh dengan usia ibu kandungnya. Ia langsung teringat dengan sosok sang ibu yang ia rindukan. Walau baru beberapa bulan merantau, Rifai sudah sangat rindu dengan ibunya.

“Baik, Bu, mari saya bantu carikan bentor,” kata Rifai sambil memegangi Bunda yang menopang di tangannya.

Sampai di bentor, Bunda menyodorkan lembaran uang kepada Rifai, tapi Rifai menolaknya.

“Kalau kau tidak mau menerima uang ini, datanglah besok ke rumah Bunda. Rumah Bunda di samping Masjid Nurul Haq, cat warna hijau, Bunda tunggu ya, Nak,” ujar Bunda kepada Rifai.

“Baik, Bu, insya Allah saya datang,” jawab Rifai.

Sejak itulah Bunda dan Rifai saling mengenal.

Siang itu setelah kejadian Bunda terjatuh di depan kios sayuran karena jalannya licin dan ada sedikit genangan air, Rifai membuat peringatan menggunakan papan kecil. Tujuannya agar orang-orang yang melewatinya lebih berhati-hati.

Rifai merasa sosok ibu yang ia tolong tadi adalah ibu kandungnya. Saat itu juga, Rifai bergegas mengirim pesan singkat kepada ibunya lewat telepon seluler sederhana miliknya. Bertanya kabar dan meminta doa restu, kemudian ia bekerja kembali. Bos kuli selalu senang dengan pekerjaan Rifai. Semangatnya gigih, tidak pernah mengeluh, serta rajin beribadah.

Esok hari, selepas bekerja di pasar, Rifai pergi ke rumah Bunda. Benar saja, di rumah Bunda sudah disediakan mi ayam spesial untuk Rifai. Bunda merasa berutang budi karena Rifai sudah menolong Bunda saat terjatuh di pasar kemarin.

Di rumah, Bunda hanya tinggal bertiga dengan suami dan anak bungsunya. Anak Bunda ada tiga, tapi keduanya merantau, sekolah di provinsi tetangga. Anaknya seusia Rifai, tapi perempuan. Ketika melihat Rifai, Bunda seperti melihat anak sulungnya.

“Mari, Nak, dimakan. Makanan favorit anak-anak saya adalah mi ayam. Karena mereka sedang tidak di sini, jadi saya panggil kamu untuk datang. Makan yang banyak ya Nak, dihabiskan,” ujar Bunda kepada Rifai.

Sepertinya Bunda sedang membayangkan bahwa anaknya di perantauan sedang makan mi ayam juga dan berharap semoga anaknya sama seperti Rifai, senang menolong orang. Sejak hari itu Rifai sering berkunjung ke rumah Bunda, walau hanya untuk mengobrol atau sekedar ngopi dengan suami Bunda.

Enam bulan dilewati Rifai sebagai kuli angkut di pasar. Saat tahun ajaran baru, Bunda membutuhkan tenaga pendidik untuk di sekolah. Bunda terpikir untuk menghubungi Rifai untuk bergabung di sekolah. Selama Bunda mengenal Rifai, Bunda tahu bakat yang dimiliki oleh Rifai. Lebih dari sebagai kuli angkut, Rifai bisa belajar menjadi guru di sekolah. Hari itu, Bunda langsung menghubungi Rifai untuk datang di rumah.

Seperti biasa, sepulang bekerja di pasar, Rifai pergi ke rumah Bunda. Bunda menyampaikan maksud untuk menjadikan Rifai guru honorer di sekolah. Bunda yakin Rifai bisa menyesuaikan diri dengan sekolah walaupun latar belakangnya pernah menjadi kuli angkut. Rifai sebenarnya pandai mendesain, teliti terhadap administrasi, dan senang bekerja dengan tim. Jadi, untuk menjadi guru honorer, Rifai tidak menolak. Bukan karena gajinya yang lebih besar daripada kuli angkut, melainkan untuk mengasah kemampuan dan keterampilan yang dia miliki. Sejak tahun ajaran baru itu, Rifai mulai bekerja di sekolah dan berhenti sebagai kuli angkut.

Tahun pertama dilalui Rifai dengan senang hati. Ia mau belajar dari apa yang belum ia pelajari. Rifai sosok yang sungguh-sungguh. Pekerjaannya selalu tuntas. Warga sekolah menyukainya. Ia diakui berbakat dan cepat beradaptasi. Menjadi seorang guru honorer adalah suatu hal baru untuk Rifai. Latar belakang keluarganya tidak ada yang menjadi guru. Awalnya memang sedikit sulit untuk mengajar, tapi lama-kelamaan Rifai terbiasa. Didukung dengan dasar sekolah Islam, kegiatannya pun banyak diisi dengan kegiatan agama dan sosial. Rifai banyak belajar agama sejak kecil, menjadi seorang guru adalah momen pengaplikasian ilmu agama yang dimilikinya.

Tibalah tahun kedua Rifai bekerja di sekolah swasta ini. Pekerjaan makin hari makin banyak. Rifai dipercaya memegang administrasi sekolah sekaligus guru kelas. Setiap hari Rifai pulang telat, lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia tidak banyak mengeluh, hanya terkadang bergumam kelelahan. Rifai bersyukur dengan pengalaman hidup yang dilewatinya.

Rifai berencana untuk membuka jasa desain dan fotokopi dari hasil pekerjaannya sebagai guru. Sebagian uang yang ia tabung akan ia gunakan untuk membeli peralatan dan perlengkapan membuka jasa tersebut. Rifai memang sangat berbakat soal mendesain. Karena itu, ia ingin menggunakan bakatnya untuk bekerja.

Sudah sering Bunda memanggil Rifai untuk datang di rumahnya. Malam itu Rifai makan dengan Bunda, ayah, dan anak bungsunya. Obrolan-obrolan ringan antarmereka berempat selalu renyah diselingi canda tawa. Lagi-lagi, Bunda merindukan anak-anaknya di perantauan. Mereka pulang hanya setahun sekali. Sedangkan, Rifai sejak awal merantau belum pulang lagi ke kampung halaman. Rifai hanya mengirim surat atau pesan singkat, dan beberapa lembar uang dari hasil pekerjaannya.

“Kamu tidak niat pulang tahun ini, Nak?” tanya bunda kepada Rifai.

“Tahun ini saya berencana pulang kampung Bunda, insya Allah,” jawab Rifai. “Saya sudah beli tiket pulang Bunda, kira-kira tanggal 30 Mei saya akan pulang,” lanjut Rifai.

“Kalau begitu sampaikan salam Bunda sekeluarga untuk keluargamu ya, Nak,” jawab Bunda.

“Iya, Mas Fai, bawakan oleh-oleh yang banyak untuk saya ya!” ujar anak bungsu Bunda dengan semangat.

“Insya Allah Mas bawakan satu dus sebesar kulkas. Mau?” jawab Rifai sambil tertawa. Sebelum pulang Bunda membekali Rifai mi ayam untuk dimakan di kontrakan.

Selepas Rifai pulang, Bunda membereskan meja makan dan memasukkan sisa makanan ke dalam kulkas. Bunda terkejut, kantong keresek hitam yang seharusnya berisi cabai berubah isinya menjadi mi ayam. Bunda baru ingat bahwa di dapur tadi ada dua keresek hitam, satu berisi mi ayam untuk Rifai dan satunya lagi berisi cabai hasil belanja dari pasar kemarin. Ah, ternyata bungkusan mi ayam yang dibawa Rifai adalah cabai punya Bunda. Bunda langsung menelepon Rifai agar kembali ke rumahnya untuk menukar bungkusan tertukar itu.

Di kontrakan, sebelum menerima telepon dari Bunda, Rifai terkejut saat membuka keresek. Isinya cabai, bukan mi ayam. Di telepon, keduanya langsung tertawa menyadari bingkisan yang tertukar itu. Bisa-bisanya Bunda lupa, salah ambil keresek untuk Rifai.

Malam itu juga Rifai langsung kembali ke rumah Bunda mengantar keresek berisi cabai. Bunda meminta maaf.

Rifai menikmati ronde kedua makan mi ayam di kontrakan sendirian berteman angin malam. Sambil tersenyum ia mengingat. Dulu waktu Rifai kelas 3 SD, sepulang sekolah Rifai mengantar makan siang Bapaknya di sawah. Kadang sendiri kadang berdua dengan ibunya.

Suatu hari, Rifai mengantar makan siang Bapaknya di sawah bersama Ibu. Ibu sudah semangat sekali menyiapkan menu makanan kesukaan Bapak, apalagi kalau bukan sayur nangka. Ibu menyiapkannya di rantang lalu dibungkus dengan kain batik.

“Fai, ayo makanan bapak sudah siap. Tolong ambil rantangnya di atas meja makan, Ibu sedang mencari arit, mau dibawa ke sawah,” teriak Ibu dari belakang dapur rumah.

“Baik Bu, Fai tunggu di depan rumah,” jawab Rifai dari kamarnya sambil mengganti seragam sekolah.

Angin sepoi-sepoi, suara air mengalir, padi-padi yang tumbuh, suasana desa yang asri, jalan tapak yang dilalui terasa sangat singkat dan akhirnya sampai di gubuk milik Bapak.

“Bapak, ayo makan siang dulu!” kata Rifai sambil setengah berteriak. Bapaknya masih menggiling padi hasil panen hari ini. Bapak Rifai menepi dan bersiap makan bersama anak dan istrinya.

Hahh, kok makanannya berubah.” Ekspresi kaget dari wajah ibunya tak bisa ditutupi, setengah teriak ibunya langsung melirik ke arah Rifai. Rifai sontak melihat ke arah ibunya.

“Fai tidak tahu Bu, Fai hanya mengambil bingkisan yang ada di meja, sebenarnya Fai bingung, mengapa makanannya ringan sekali,” kata Rifai.

Loh makanannya mana? Kok malah bawa toples kosong semua,” ujar Bapak. Ibu hanya tertawa sendiri, sedangkan Rifai dan Bapaknya kebingungan.

“Ibu lupa kasih tahu, kalau rantangnya masih di dapur belum ibu bawa ke meja makan. Ini toples yang baru diantar Mbak Eni tadi pagi. Ibu lupa, betul-betul lupa,” ujar Ibu sambil setengah menertawakan dirinya. Rifai lekas pulang ke rumah untuk mengambil rantang makan siang dan bergegas kembali ke sawah.

Rifai mengingat kenangan itu, seperti yang terjadi hari ini. “Ibu, Fai merindukan Ibu, hari ini kejadian bingkisan tertukar terjadi lagi,” gumamnya dalam hati sambil menikmati mi ayam dan tersenyum geli. ■