Cerpen Anton Kurnia (Koran Tempo, 25-26 Juli 2020)

Tiga Kisah Ganjil yang Sungguh Terjadi ilustrasi Koran Tempo (1)
Tiga Kisah Ganjil yang Sungguh Terjadi ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Buku Antik

Pada mulanya saya tak menghiraukan surel-surel misterius itu. Namun, setelah menerima surel ketiga dengan isi yang kurang-lebih sama, saya mulai menganggap serius isinya. Dia bilang, dia membaca satu cerpen saya dan ingin bertemu dengan saya untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan cerpen itu. Dia bilang dia tinggal di Istanbul, tapi bersedia menemui saya di mana pun saya berada atau di tempat mana pun yang saya mau.

Yang dia maksudkan adalah satu cerpen berlatar Caraquy, kota kecil di tepi laut di Filipina yang jarang disebut orang dan mungkin jarang muncul di peta. Dalam cerpen saya itu dikisahkan tentang terbunuhnya seorang lelaki kulit putih kolektor benda antik yang diam-diam menyimpan sebuah buku kuno dalam aksara dan bahasa tak dikenal.

Buku itu ternyata merupakan satu dari tujuh jilid buku yang tersebar dan tersembunyi di berbagai penjuru dunia dan sudah ratusan tahun dicari oleh satu sekte pengabdi setan. Buku di Caraquy itu adalah buku kelima. Jika ketujuh buku berhasil ditemukan dan dikumpulkan lalu dilakukan ritual tertentu serta pembacaan mantra berdasarkan apa yang tertera dalam ketujuh buku itu, para pengabdi setan tersebut akan bisa membangkitkan sosok iblis betina junjungan mereka yang menurunkan buku-buku tersebut dan telah terkubur entah di mana lebih dari seribu tahun.

Lelaki pengirim surel itu membaca cerpen saya dalam terjemahan bahasa Inggris di satu jurnal sastra yang terbit di Auckland, Selandia Baru. Dia mengaku bernama Anton Polster dan mendapatkan jurnal itu langsung dari editornya, seorang blasteran Maori-Swiss bernama Anton Blank, dalam satu pertemuan di sebuah kafe di Kaiserstrasse, Frankfurt, tiga minggu sebelumnya.

Yang membikin lelaki itu penasaran adalah kisah dalam cerpen saya itu persis dengan apa yang terjadi kepada pamannya, seorang kolektor barang antik yang telah bertahun-tahun menetap di Caraquy, Filipina, dan menikah dengan perempuan setempat. Dia tewas dibunuh orang tak dikenal tujuh bulan sebelum dia membaca cerpen saya. Satu-satunya barang yang hilang dari rumahnya saat itu adalah sebuah buku tua yang sepintas tampak tak berharga dan disimpan di dalam lemari kayu antik di kamar tidurnya.

Sebuah kebetulan yang aneh, bukan?

Masalahnya, cerita yang saya tulis tiga tahun lalu itu murni hasil khayalan saya. Bukan cerita yang sungguh-sungguh terjadi atau dibuat berdasarkan kisah nyata atau dibuat-buat agar tampak seperti kisah nyata.

Mawar Putih untuk Emily

Emily Wade adalah seorang bocah perempuan berumur 9 tahun yang tinggal di satu kota kecil di Wales saat diajak neneknya berlibur ke Toledo, Spanyol. Malang baginya, di sana dia diculik oleh sepasang suami-istri pedofil. Bertahun-tahun dia dikurung di ruang bawah tanah, hanya diberi makan sekadarnya. Itu pun dengan syarat menjijikkan. Untuk mendapat makanan, dia harus bersedia melayani nafsu bejat Juan, sebut saja begitu, lelaki yang menculiknya.

Empat tahun kemudian, pada satu pagi, dia terbangun di ranjang yang asing di satu kamar luas yang dindingnya dipenuhi lukisan. Di hadapannya berdiri seorang lelaki berumur pertengahan tiga puluhan yang baru sekali itu dilihatnya. Lelaki itu berkulit sawo matang, tak pucat seperti kulitnya atau kulit Juan. Dia menatap Emily dengan heran lalu bertanya dalam kata-kata dan bahasa yang tak dia paham.

Emily bertanya terbata-bata dalam bahasa Inggris, satu-satunya bahasa yang dia pahami, di mana dia berada dan kenapa dia ada di situ. Setelah berbaku tanya beberapa kalimat, tampaknya lelaki itu paham apa yang telah terjadi. Tapi Emily tetap tidak mengerti.

Lelaki itu bertanya dengan tatapan iba apakah dia lapar. Perut Emily melilit. Sudah lebih dari sehari dia tidak makan karena muak harus melayani nafsu bejat Juan dan selangkangannya terasa sakit. Ya, dia lapar dan ingin makan. Tapi apakah dia juga harus melayani nafsu lelaki itu untuk mendapatkan sedikit makanan?

Lelaki itu menatapnya lembut dan meraih tangannya, lalu mengajaknya melangkah ke ruangan lain. Di atas sebuah meja terdapat sepiring roti dan dua gelas minuman. Lelaki itu menyuruhnya makan. Emily ragu, lalu bertanya. Lelaki itu menatapnya dengan sedih. “Tidak, kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Makanlah.”

Emily makan dengan lahap. Bahkan rakus. Lalu meminum air dalam gelas. Teh hangat yang manis. Sudah lama sekali Emily tidak minum teh. Lelaki itu hanya menatapnya, tapi tidak ikut makan.

Emily menatap sekeliling ruangan. Di atas meja terdapat vas bunga. Di dalamnya terdapat setangkai bunga mawar putih yang kelopaknya mekar. Di satu sudut ruangan ada pesawat televisi yang tidak menyala. Ada banyak lukisan di dinding. Lalu ada beberapa benda aneh dipajang, yang entah bagaimana tampak unik dan indah.

Sambil mengunyah, Emily menatap mawar putih di dalam vas lama sekali. Lelaki itu mengambil tangkai bunga itu dari dalam vas, lalu menyodorkannya kepada Emily. Emily ragu-ragu menerimanya, berhati-hati agar jemarinya tak terkena duri. Lalu perlahan dia mengecup kelopak bunga itu, menghidu aromanya yang lembut.

Emily memejamkan mata. Belum pernah ada orang yang memberinya bunga sebelumnya. Emily membuka mata. Lelaki itu tersenyum di hadapannya. Emily meletakkan setangkai mawar putih itu di atas meja, lalu melanjutkan makan.

Setelah selesai makan, Emily menceritakan kisahnya dengan terbata-bata. Lalu, dia bertanya. “Di manakah Juan?”

Lelaki itu bilang dia tak tahu Juan ada di mana. Katanya tempat itu terletak jauh sekali dari Toledo. “Ini di Jakarta, Indonesia.”

Emily tidak tahu di manakah Indonesia itu berada. Jauhkah dari Wales?

Lelaki itu lalu menuntunnya ke ujung ruangan, memperlihatkan pemandangan di luar yang amat menakjubkan dari balik sebuah jendela kaca. Sudah bertahun-tahun dia tak melihat langit dan dunia terbuka. Bangunan tempat dia berada tampak tua tapi kokoh. Mereka berada di lantai atas. Di jalanan di bawah tampak orang berlalu lalang di trotoar. Ada mobil dan sepeda motor hilir-mudik di jalanan. Di seberang jalan ada sebuah sungai.

Emily merasa lelaki itu orang baik dan tidak berbahaya. Mungkin ini kesempatan untuk melarikan diri. Dia menatap ragu dan bertanya. “Aku boleh pergi?”

Lelaki itu menghela napas dan tampak sedih. Dia bilang Emily tak bisa pergi karena tubuhnya adalah tubuh istrinya dan saat itu dia hanya mengenakan pakaian dalam. Emily baru tersadar, dia tak hanya berada di tempat yang asing, tapi juga di dalam tubuh yang asing. Tubuh ini tubuh wanita dewasa, berkulit kecokelatan, tak pucat seperti kulitnya.

Emily tak mengerti. “Apa yang sesungguhnya terjadi? Apakah ini mimpi?”

Lelaki itu bilang dia juga tak tahu apa yang terjadi. Tapi dia meminta Emily duduk kembali. Tak berapa lama Emily merasa pusing. Lalu dia tak sadarkan diri.

Saat Emily terbangun, dia berada di sebuah ruang bawah tanah yang gelap, sempit, lembap, dan bau, yang telah bertahun-tahun dia huni. Di depannya tergeletak tubuh Juan yang bersimbah darah. Emily tidak tahu apa yang telah terjadi. Tapi dia sadar inilah saat yang tepat untuk melarikan diri.

Harimau Terbang

Namaku Amar. Aku adalah lelaki penunggang harimau. Seperti ayahku, seperti kakekku, seperti kakek buyutku, seperti ayah kakek buyutku. Harimauku gagah, belang putih-hitam. Namanya Hindu.

Aku dan Hindu berteman sejak lama. Sejak aku dan dia masih kecil, hingga kini kami sama-sama remaja. Kami teman setia. Ke mana-mana nyaris selalu berdua. Hindu harimau yang gagah perkasa, tapi ia tunduk kepadaku. Kutunggangi punggungnya. Dia melompat, dia berlari, dia terbang melintasi langit. Aku menunggangi punggungnya, mencengkeram rambutnya. Dia menggeram senang, aku tertawa riang.

Ayahku tak punya harimau, tapi ia pandai bernyanyi. Suaranya indah sekali. Kalau Ata menyanyi—aku memanggil ayahku Ata dan ibuku Ana, dari bahasa Azeri, bahasa nenek moyang ibuku yang berasal dari Azerbaijan—orang yang halus perasaannya pasti menangis terharu dan lekas-lekas teringat kepada Tuhan yang penuh kasih. Ibuku cantik dan anggun. Dia tak pernah melarangku berteman dengan Hindu. Dia sayang sekali kepadaku.

Namaku Amar. Amartya. Nama itu pemberian kakekku. Aku memanggilnya Yazic, disingkat Yaz. Kata Yaz, namaku itu diambil dari nama seorang lelaki pandai yang berhati mulia. Orang pintar yang membaktikan ilmunya untuk kesejahteraan orang banyak, orang-orang miskin yang terpinggirkan.

Aku mencintai Yaz yang mencintaiku. Yaz pandai mengarang cerita. Dia seorang penulis terkenal. Dia berjanji akan menuliskan sebuah cerita indah untukku. Aku juga mencintai Yazici, istri Yaz, nenekku yang kupanggil Yazi dan amat mencintaiku. Yazi perempuan cantik dan penuh cinta. Cinta Yazi membuat semua orang bahagia.

Ada sebuah cerita rakyat di Lankaran, kampung halaman Ana-ku di Azerbaijan, tentang sebutan Yazic dan Yazici. Kisah ini tentang seorang pangeran kecil yang dilahirkan kembali setelah dibunuh.

Ia sudah hampir terlahir ke dunia dengan selamat sebagai seorang putra raja. Tapi kemudian, orang-orang jahat membunuh kedua orang tuanya dan bayi yang hampir lahir itu karena mereka menginginkan takhta kekuasaan. Ajaibnya, si bayi tidak tewas. Mereka mengira telah membunuhnya, tapi setelah mereka meninggalkan ketiga jasad itu, si bayi ternyata masih hidup.

Atas kuasa Tuhan, secara ajaib si bayi mampu merayap sendirian ke rumah kakek dan neneknya. Baba dan Nene si bayi—sebutan umum untuk kakek dan nenek dalam bahasa Azeri—merawatnya dengan penuh kasih sayang. Setiap hari si Baba menulis sebuah lagu dan si Nene menyanyikannya agar sang pangeran kecil tidak menangis.

Setiap hari terciptalah sebuah lagu. Ditulis oleh si Baba dengan penuh cinta dan dinyanyikan oleh si Nene dengan penuh kasih sayang. Mendengar lagu itu, si bayi menjadi tenang dan tak menangis. Mereka tak boleh membiarkan sang bayi menangis. Sebab, jika bayi itu sampai menangis, orang-orang akan mengetahui keberadaan bayi itu, sehingga orang-orang jahat pasti akan menangkapnya dan membunuhnya.

Mereka terus melakukan hal itu sampai sang pangeran berumur 19 tahun dan telah siap merebut kembali takhta kerajaan yang menjadi haknya. Akhirnya, sang pangeran berhasil merebut takhta yang memang haknya dari orang-orang jahat dan kemudian menjadi raja yang adil dan bijaksana sehingga dicintai oleh rakyatnya.

Orang-orang menyebut sang Baba dan sang Nene sebagai Yazic dan Yazici. Artinya, pasangan yang menulis lagu dan menyanyikannya untuk membesarkan seorang pangeran.

Yazi dan Yaz menyukai cerita itu dan memintaku memanggil mereka dengan sebutan itu karena mereka amat mencintaiku seperti kakek dan nenek dalam cerita itu yang amat mencintai cucu mereka.

Aku juga punya Eyang. Eyang adalah kakek Yaz, jadi bisa dibilang kakek buyutku. Eyang amat bijaksana dan banyak ilmunya. Wajahnya teduh. Rambutnya telah putih semua, juga jenggot lebatnya menyambung dengan cambangnya. Eyanglah yang mengajariku menunggang harimau. Eyang juga mengajariku berbagai ilmu kepandaian yang luar biasa.

Kata Eyang, ilmu harus diamalkan untuk menolong orang dan memerangi kejahatan, bukan untuk disombong-sombongkan dan mencari keuntungan.

 

Nursultan-Almaty-Kualalumpur-Jakarta, September 2019—Ponggok, Juni 2020

Anton Kurnia menulis cerpen dan esai. Kumpulan cerpen pertamanya, Insomnia (2004), diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai A Cat on the Moon and Other Stories (2015) dan ke bahasa Arab sebagai Quth fil qamar (2020)—diterjemahkan oleh Fatimah Abbas dan diterbitkan Nun Publisher di Kairo, Mesir. Kumpulan cerpennya yang kedua adalah Seperti Semut Hitam yang Berjalan di Atas Batu Hitam di Dalam Gelap Malam (2019).