Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 22 Juli 2020)

Jika Orang Malas Ingin Berkarya ilustrasi Istimewa
Jika Orang Malas Ingin Berkarya ilustrasi Istimewa

Daun-daun jatuh karena angin dan hujan bulan Juli. Seseorang memungutnya. Mengeringkannya. Menempelkannya di atas kanvas yang sudah dipola, diberi judul dengan narasi tentang hal-hal tertentu. Dibingkai. Dipajang di dinding. Bisa di ruang pameran.

Jauh sebelum angin dan hujan bulan Juli menggugurkan daun-daun, ia sudah memikirkan pameran itu berbulan-bulan, bertahun-tahun, hingga ilham itu datang, ide itu hinggap dan bulat di kepala. Ia tersenyum lebar. Ia tahu, karena hujan dan kemarau tidak lagi mengenal musim, ia hanya tinggal menunggu daun-daun yang menguning atau cokelat itu mencium permukaan tanah.

Apakah ia memungut daun-daun? Iya.

Apakah ia memungut semuanya? Tentu tidak.

Apakah ketika membuat pola, ia memikirkan daun-daun? Iya.

Apakah ketika daun-daun itu mengisi polanya, ia langsung puas? Tidak. Oleh karena itu ia membuang, mengganti, dan menggunting daun sesuai kebutuhannya.

Apa kebutuhannya? Menciptakan mimesis?

Ya, mimesis: tiruan kehidupan.

***

Seseorang datang kepada saya dengan setumpuk cerpen di tangannya. Karena kami berteman dan sejak lama ia meminta saya membaca drafnya dan saya mengiyakan waktu itu, saya pun minta waktu sepekan.

Kami pun bertemu lagi dan hal paling mengganggu pikiran saya pun tumpah juga akhirnya.

Baca juga: Bepergian ke Rumah Sendiri – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 15 Juli 2020)

Mengapa kamu menulis ini itu dan ini itu dan ini itu? Tidakkah itu hal-hal yang tidak berhubungan dengan premis tulisanmu? Begitulah saya mencecarnya. Tentu saja seraya menunjukkan coretan di hampir tujuh puluh persen halaman drafnya.

“Hal-hal yang dilihat ‘tidak perlu’ olehmu adalah realitas itu sendiri,” katanya.

Saya tahu itu jawaban biasa, meski terdengar mempersulit diri sendiri ketika diutarakan kepada saya.

“Bagaimana mungkin, realitas hanya berisi daging-dagingnya saja?”

Dia mulai berani, rupanya.

“Sebagai pengarang, saya tentu bebas menampilkan apa pun yang melintas dalam kepala!”

Wah, ngegas nih!

“Saya memungut semuanya untuk saya hadirkan kepada pembaca agar mereka tahu, diperlukan banyak usaha untuk tiba di puncak gunung dan melihat keindahan di bawahnya.”

“Kalau ada jalan lebih cepat, kamu mau menempuhnya?” tembak saya.

Dia terdiam. “Tergantung. Kalau saya ingin melakukannya. Kalau saya mau asyik berlama-lama atau bahkan tersesat di lereng, saya tentu akan menolak pilihan itu.”

“Bukankah tujuanmu adalah tiba di puncak dan menikmati keindahan pemandangan di bawahnya dari sana?”

Baca juga: Memungut Kesementaraan – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 08 Juli 2020)

“Hmm. Tidak juga. Saya tidak tahu. Kalaupun itu tujuan saya, bebas dong kalau saya mau berubah pikiran di tengah jalan.”

Saya tahu. Kami seharusnya tidak bicara.

***

Saya pikir, yang membedakan karya dengan aktivitas adalah tujuan dan visinya.

Seseorang bisa memungut sebanyak daun yang bisa ia pungut dan memasukkannya ke dalam ember sampah karena menganggapnya adalah sampah. Itulah tindakan.

Seseorang yang memungut daun-daun dan menaruhnya di atas kain secara serampangan dan mengelemnya tanpa ada tujuan lalu membingkainya di dinding kamar mandi adalah orang gila!

Seseorang yang menulis mengalir tanpa kerangka cerita atau premis atau kalaupun ada ia akan mengabaikannya begitu saja di tengah jalan atas alasan kebebasan berekspresi tak ubahnya orang yang sedang onani. Bagaimanapun caranya merancap, yang penting dia puas!

Kreativitas memang bermula dari prinsip mimesis alias tiruan kehidupan, cerabutan realitas. Namun, ia baru akan bernama karya ketika diberi tujuan, visi, atau makna. Dan urusan-urusan itu sungguh bukanlah sekadar mengumpul-tempelkan daun. Bukan juga tentang menulis saja sampai mengalir.

Baca juga: Tidak Adil (kepada) Menulis – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 01 Juli 2020)

Karya adalah potongan tiruan kehidupan yang sudah dibuang bagian-bagian tidak perlunya. Entah itu daun-daun yang terlalu banyak atau dialog ngalur-ngidul yang membuat tulisan senantiasa membuat orang ngantuk.

Tapi, bagaimana kalau daun-daun itu tak mau dibuangnya atas dasar satu dan lain hal?

Tidak apa. Pajang di kamar sendiri.

Tapi, bagaimana kalau bagian-bagian tidak perlu dalam tulisan itu keukeuh ingin dia tampilkan mengingat realitas itu memang tak terhingga?

Tidak apa. Cetak dan bacalah sendiri.

O ya, realitas memang tak hingga. Oleh karena itu, berhenti mengatakan kalau karya akan menampilkan realitas—tanpa klasifikasi atau penjelasan memadai setelahnya. Tapi, karya punya ruang dan waktu. Sebab, cerita adalah argumentasi dramatik, bukan kucing lewat dan ayam batuk pun kudu ditulis 17 halaman!

Kalau masih memaksa, kamu boleh membuat pameran dan mencetak buku dengan membagikan makan siang dan amplop kepada siapa pun yang datang.

Satu lagi. Kamu boleh melabeli orang-orang waras sebagai orang gila. Begitu.*

 

Lubuklinggau, 21 Juli 2020

BENNY ARNAS lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Novel audionya “Bulan Madu Matahari” sedang tayang di Instagram @bulanmadumatahari dan Youtube Benny Institute. Dalam waktu dekat novelnya “Ethile! Ethile!” akan tayang di platform @Kwikku.