Cerpen Radja Sinaga (Media Indonesia, 19 Juli 2020)

Nama di Atas Ranjang ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia (1)
Nama di Atas Ranjang ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

SATU botol bir dapat meredam kecemasan, dua botol bir mampu meredakan kenangan, tiga botol bir mengaburkan kehidupan. Tetapi, berapa pun banyaknya botol bir tandas, kenyataan tak pernah berubah.

Lelaki yang duduk di meja pojok kanan dekat pintu masuk kafe itu paham perihal tersebut. Bahkan semua yang minum di kafe itu tahu jargon tersebut. Meskipun begitu, orang-orang akan tetap menenggak bir sebanyak mungkin. Kebohongan sebuah kegilaan yang terus ditelan.

Lelaki itu mengangkat tangannya. Tak lama, seorang pelayan bar datang membawa sebotol bir. Itu bir kedua, namun kecemasan belum mereda. “Wajah Anda sudah memerah,” kata pelayan itu.

Lelaki itu memandang si pelayan. Tatapannya seperti ingin menelan. “Apakah sudah Minggu?” Penjaga itu semakin canggung, tapi tak juga ia letakkan bir itu.

“Tak baik orang tua seperti Anda mabuk,” lanjutnya dengan nada iba.

“Tenanglah, kau tak akan mengelap muntahku di sini. Lagi pula, bir tak kenal usia.”

“Aku sudah selesai di sini.” Lelaki itu bangkit, kakinya rapuh, berjalan ke arah bartender. “Birku mana?”

“Bukankah sudah diantar?”

“Pelayan itu tak mengizinkanku minum! Selain bir, ternyata kalian menyewa pengkhotbah!”

***

Tak ada yang aneh jika lelaki tua menenggak bir. Bukankah bir diciptakan untuk semua kalangan? Bahkan beberapa perempuan yang mengandung pun menenggak bir! Di kampungnya pun tak sedikit orang tua menenggak bir.

“Mana ada orang kampung minum bir! Kalau tuak, iya!” kata temannya sesama pelayan bar.

“Itu sama saja. Alkohol! Jika diingat-ingat, orang tua itu pelanggan baru di sini.”

“Tampaknya seperti itu,” balas temannya. Percakapan itu terhenti ketika seorang pelayan lain melintas di depan mereka sambil membawa bir. “Untuk siapa?” tanyanya yang dijawab pelayan tadi dengan memanjangkan bibir ke arah pintu masuk.

“Sini, aku saja!”

Dadanya berdegup ugal-ugalan dan seperti hendak meledak saat berada di depan meja lelaki itu. “Bolehkah aku menuangkan birmu?”

Lelaki itu mengiyakan, “Kupikir kau akan melarangku lagi.”

Gelas sudah penuh buih. Lelaki itu menggelengkan kepala. “Untukmu saja.”

“Aku tidak minum.”

“Tak apa, aku yang membayar.”

Raut wajahnya menjelaskan kecanggungan. “Mereka akan memarahiku nanti.”

“Kulihat beberapa pelayan di sini boleh menemani tamu lain minum?”

“Mereka itu berbeda denganku. Mereka juga melayani peminum bir, itulah kenapa ada lantai dua dan tiga.”

“Yang terpenting pelayan?” Sebenarnya ia ingin berbincang dengan lelaki itu. Entah mengapa, ia tertarik dengannya. Rambutnya sudah berubah warna, tapi raut wajahnya tak menunjukkan usia yang sebenarnya. Terlebih gaya berbicaranya yang menunjukkan bahwa agaknya lelaki itu seorang terpelajar.

“Kau takut gajimu dipotong? Aku tahu itu. Seperti sebuah sumpah, biasanya kau akan dapatkan uang karena menemani seseorang minum ataupun lebih dari sekadar minum. Tenanglah, aku akan membayar tarifmu!”

***

Hubungan lelaki separuh baya dengan pelayan tersebut semakin akrab di hari-hari berikutnya. Setiap lelaki itu minum, pelayan itu akan menemani. Mereka akan membahas apa saja, kecuali tentang politik dan mereka berjanji tak bercerita tentang masa lalu. Namun, bir yang ditenggak kadang menghanyutkan apa saja yang lebih dulu diikrarkan.

“Apakah kau tak dicari istrimu?”

“Aku belum menikah,” kata lelaki itu ragu-ragu. Namun, pelayan tersebut menduga jawaban itu bualan semata.

“Lelaki mana yang mampu hidup sendiri? Lelaki itu lemah!”

“Tidak ada perempuan yang mau dengan lelaki yang pernah masuk penjara!” Kemudian ia memicingkan bola matanya dan tiba-tiba berkelakar begitu kencang. Kulitnya menegang. Lalu ia tuangkan lagi minuman ke gelas pelayan itu meski masih setengah terisi.

“Kau pasti tak tinggal di dekat sini,” kata pelayan itu yang disahuti dengan anggukan.

Lelaki tersebut memang tidak tinggal di sekitar kafe itu, tapi juga tidak terlalu jauh. Sebenarnya, ia enggan minum di kafe itu sebab aparat keamanan terkadang menyambangi tempat tersebut lantaran adanya ‘lantai dua’ dan ‘lantai tiga’.

“Aku tidak terlalu suka bir,” katanya tiba-tiba sambil menuangkan bir penghabisan ke dalam gelasnya.

“Memang orang tua tidak pandai bercanda.”

Ia menghentikan gerakan tangan untuk minum saat pelayan itu berkata demikian. “Maksudmu?” balasnya dengan dagu berkerut.

“Kau sudah menenggak empat botol, tapi kau masih sanggup mengatakan tidak suka dengan bir!”

“Jika saja tempat minum di dekat tempat tinggalku tak ditutup, tak mungkin aku di sini. Tak mungkin seorang perempuan sepertimu menemani lelaki tua sepertiku.”

“Apa bedanya tempat minum dekat tempat tinggalmu dengan kafe ini?”

Ia mengulum senyum. Menenggak bir sedikit. Kejadian itu terjadi empat bulan lalu, seminggu setelah pelayan bar itu mulai aktif bekerja di kafe ini.

Waktu itu, di tempat minum dekat tempat tinggalnya, sebuah organisasi yang kerap sweeping mendatangi tempat minum dekat rumahnya. Mereka begitu banyak. Dan para peminum juga tak kalah banyak.

“Sudah kami peringatkan tak boleh kedai ini buka jika masih jual alkohol!” bentak salah satu orang dari organisasi kepada pemilik kedai. Para peminum menggenggam erat gagang gelas. Hendak mengayunkan ke kepala orang organisasi itu.

Pemilik kedai tak terima sambil menatap para peminum di kedainya. Sontak para peminum berdiri. Beberapa memegang botol dan gelas, sedang lainnya mengepalkan tangan. Dan ia juga ada di sana, menenggak tuak yang masih banyak.

Perkelahian tak terhindar ketika salah satu peminum melayangkan botol ke orang organisasi yang berbicara itu. Semua terjadi begitu cepat dan kedai itu akhirnya ditutup lantaran membuat kegaduhan.

Sedang organisasi itu melenggang bebas. Tak berapa lama, organisasi itu melakukan hal serupa di tempat lain. Kedai minum yang hanya menyediakan tuak dan kamput.

“Apakah karena itu kau dipenjara?”

Ia menggeleng.

***

“Dari logat bicaramu, tampaknya kau orang pendatang?” Pelayan itu tak bisa menyanggah.

Beberapa kali saat berbincang, ia mengeluarkan aksen yang kedesa-desaan.

“Aku diajak seseorang ke kota setelah aku minggat dari rumah.”

Lelaki itu menuangkan bir ke gelas. Itu botol ketujuh.

“Aku bertengkar dengan mamakku saat berulang kali kutanyakan kenapa bapak tak kunjung pulang. Ketika aku kecil, ia bilang bapakku mengadu nasib di negeri orang. Bangladesh katanya. Bapakku seorang pelaut. Namun, setelah puluhan tahun berlalu, aku tak pernah tahu wajah bapakku.” Ia berhenti sejenak untuk menenggak bir dan melanjutkannya kembali.

“Aku tak salah mengatakan itu. Anak mana yang tak penasaran dengan orangtuanya? Tetangga-tetangga bilang, saat aku lahir, mereka bertengkar. Mamakku hanya ingin tinggal di tempat mamaknya saat aku lahir dan bapakku menuruti hal itu. Tapi, sebulan kemudian bapakku ditangkap polisi. Kata mereka, bapakku mencoba menculikku.”

Ia kesal dan menenggak semua sisa bir yang ada di gelasnya dalam satu tegukan. Beberapa pelanggan mulai naik ke lantai dua. Lelaki itu menuangkan kembali bir ke dalam gelasnya, itu botol kesembilan. Tapi, saat menuangkan bir itu, lelaki itu tampak sudah mabuk.

Sang pelayan melirik ke arah meja bartender. Di sana ada jam menggantung. Sudah pukul setengah dua belas malam. Jam kerjanya sudah habis. Sebelum bangkit, ia tenggak bir kesembilan.

“Tunggu di sini, aku melapor dulu dan setelah itu aku akan mengantarmu pulang.”

***

Lelaki itu sudah berbaring di tempat tidur. Namun, punggungnya sedikit risih bersebab ranjang itu bukan ranjang miliknya. Ia tak di rumah, ia dibawa ke rusun murah milik pelayan bar itu.

Sesekali ia bersendawa. Pelayan bar itu menghidupkan kipas angin dan menarik selimut sebab takut ia akan muntah.

“Tunggu sebentar, aku akan mengambil ember.”

Saat kembali membawakan ember, pelayan bar itu melihat lelaki tersebut tersungkur ke lantai. Tergopoh-gopoh ia memindahkannya ke ranjang. “Jangan muntah sembarangan. Jika ingin muntah, buang ke dalam ember ini,” kata pelayan itu seraya meletakkan ember di samping ranjang.

Keringatnya mengucur deras. Ia bergumam saat pelayan bar itu melangkah menjauhi ranjang.

“Kisahmu sama dengan yang kualami. Aku kehilangan anakku saat ia baru lahir. Magda, perempuan bajingan itu. Dia memohon untuk tinggal di tempat ibunya di kampung. Katanya biar ada yang mengurus selagi dia menyusui. Aku mengiyakan. Saat aku ke sana, sudah ada dua polisi di depan rumah.”

Nama yang disebutkan lelaki tersebut membuat pelayan bar itu tertegun. Ia mendekat ke arahnya, menggeser ember, dan memperhatikan dengan detail wajah dia. Pelayan bar itu menyentuh wajahnya sendiri dan dia.

Aku memiliki bentuk wajah yang sama dengannya, gumam pelayan bar itu. Kemudian pelayan bar itu mengelap keringat di dahinya. “Dia mungkin punya nama perempuan dan derita yang sama. Tapi, bukankah banyak yang memiliki kejadian yang serupa, terlebih juga pada sebuah nama,” ujarnya pelan, nyaris bak bisikan. (M-2)

 

Catatan:

Kamput: minuman murah yang beralkohol

 

Radja Sinaga, Alumni Kelas Menulis Prosa Sumatera Utara 2019. Berhimpun di Komunitas Lantai Dua (Koldu) Medan. Tulisannya nangkring di beberapa media lokal dan nasional.