Cerpen Renyta (Suara Merdeka, 19 Juli 2020)

Balen ilustrasi Suara Merdeka (1)
Balen ilustrasi Suara Merdeka 

Panas terik hari ini membuat ia sejenak berhenti dan duduk di bangku taman kota. Dia mengambil botol minum kemasan hadiah toko langganan berisi air isi ulang dan menenggak isinya setengah. “Hari ini panas sekali, tidak seperti biasa. Apa akan hujan ya?” gumamnya.

Dengan caping menutupi wajah dari sengatan mentari, dia mengarungi hari-hari untuk mempertahankan kendil di dapur supaya tak terguling. Dia menghela napas panjang. Huft, selama masa pandemi ini harga bahan baku jamu melambung tinggi seperti cita-citanya pada masa kecil yang menguap ke langit.

Parni merapikan botol-botol besar berisi ramuan rempah dan jamu resep warisan turun-temurun dari keluarga besarnya. Sekali putaran lagi ke perumahan sebelah, botol-botol itu bakal kosong.

Parni memilih tetap memakai botol beling ketimbang botol plastik kemasan bekas air mineral. Memang lebih berat, tetapi dia bertekad tidak akan mengganti dengan botol plastik. Parni pernah membaca di sobekan koran pembungkus tempe, dilarang memakai kembali botol plastik bekas kemasan air mineral. Botol plastik itu cuma sekali pakai dan proses pembuatannya memakai bahan kimia. Apalagi bila botol plastik itu terpapar suhu panas secara langsung akan menyebabkan perpindahan zat kimia yang ditandai oleh perubahan rasa, bau, dan warna air.

Parni tersenyum. Jika dulu kedua orang tuanya mampu, mungkin dia sekarang sudah menjadi guru dan akan menjelaskan macam-macam pengetahuan kepada para murid. Parni menyukai anak kecil. Dunia anak kecil tanpa dosa. Mereka hanya mengenal bahagia, tertawa. Dia selalu tertular energi positif dan semangat mereka.

“Tak apalah, toh setiap hari aku punya tiga murid setia. Anto, Bagas, dan si kecil Watik,” hibur Parni dalam hati.

Parni mengajar mereka semampu dia. Terkadang Parni pun membaca buku pelajaran ketiga anaknya itu. Hitung-hitung belajar gratis. Toh belajar tak kenal usia.

Parni berusia 29 tahun, berkulit sawo matang, bermata cokelat bulat, berhidung mancung, dengan tinggi tubuh sekitar 160 sentimeter. Dulu, dia pernah berjualan jamu dengan sepeda motor. Sang paman yang membelikan sepeda motor itu agar Parni tak perlu kesusahan setiap hari mengayuh sepeda keliling kompleks perumahan dan perkampungan. Namun Parni mengembalikan sepeda motor itu dan tetap setia mengayuh sepeda. Bersepeda setiap hari membuat tubuh Parni singset dan sehat. Tak seperti kebanyakan wanita seusia.

Memang agak berat membawa botol-botol beling berisi jamu. Namun justru itulah ciri khasnya. Dentingan botol yang beradu jadi pertanda kehadiran Parni.

“Lik, gebyur satu. Minum sini.” Suara itu membuat Parni berhenti menata peralatan dan mengganjal sela-sela botol. Parni menengok ke sumber suara. Oh, Narti, guru sekolah taman kanak-kanak anaknya dulu.

“Lo, Mbak Parni? Tak kira sapa mau,” celoteh Narti.

Parni belum sempat merespons. Dia hanya diam sambil tersenyum. Senyum yang tertutup masker. Semenjak pandemi korona dia memutuskan tetap keluar rumah untuk berjualan. Tentu tetap bermasker. Ya, siapa yang akan memberi makan ketiga anaknya jika bukan dia. Mengandalkan siapa lagi pada zaman serbasulit ini? Pendapatan menurun, apa-apa mahal, bahan pokok jualan naik drastis. Ketika muncul kabar empon-empon bisa menaikkan kekebalan tubuh, orang pun berbondong-bondong memborong. Alhasil, bahan utama pembuatan jamu menjadi sangat langka. Jika ada pun, mahal, jauh di atas harga normal.

“Andai pekerjaan ini bisa kulakukan dari rumah, entah WFH, WHF, WTF, duh gak bisa bedain,” batin dia sembari meracik pesanan Narti. Dia menuang kunir asam atau gebyur dari botol beling ke dalam gelas dan mengulurkan pada Narti.

Narti menerima dan menenggak habis. Parni memberikan gelas berisi wedang asam.

Segere, Mbak. Lama gak minum. Sekarang gak muter ndhek kampung lagi ta?” tanya Narti berbasa-basi, mencairkan suasana karena sejak tadi Parni cuma diam.

“Iya, sekarang muter sini aja. Lumayan, dapat langganan baru di kompleks sebelah,” jawab Parni sambil menata dan melap botol-botol jamu.

“Kemarin aku sama Mas Bambang ngurusi bantuan sembako buat orang-orang kampung, Mbak. Sembako, masker, sosialisasi cuci tangan, sampai pemberian disinfektan.”

“Oh,” sahut Parni.

“Mbak, Ni, aku udah lama kenal Mas Bambang. Kemarin tak guyoni, tak minta balen sama sampeyan,” ujar Narti.

Itulah ucapan yang paling Parni benci. Parni menoleh dan memandang lekat dengan agak sinis. “Maksudmu?”

“Iya, Mbak, Mas Bambang sebetulnya ingin kembali. Bukankah masih sama-sama sendiri?” cecar Narti.

“Aku paham arah pembicaraan ini. Mereka hanya tahu bagian luar dan cuma bisa usul itu-itu saja. Tak ada lagi kata ‘balen’ dalam kamus hidupku. Dulu aku memang terlalu mencinta dia, mencintai sepenuh hati. Namun aku tak bisa dan tak ingin mengulang hidup bersama dia,” batin Parni. “Sekarang sudah beda. Dia bahagia dengan pilihan hidupnya, begitu juga aku,” katanya. Dia berharap jawaban itu meredakan omongan Narti yang mencerocos tanpa jeda.

“Tapi, Mbak, Mas Bambang sepertinya masih ngarep. Kasihan anak-anak. Mereka juga butuh figur bapak, Mbak,” ujar Narti sambil memandang penuh selidik.

Sik, sik, maksudmu figur ayah yang bagaimana? Saya tak pernah melarang anak-anak menemui bapak mereka. Anak-anakku ya anak-anak Mas Bambang. Mereka paham. Anak-anak masih mendapatkan kasih sayang dari ibu dan bapak mereka. Yang berbeda, kami tidak tinggal bersama lagi, tidak serumah,” sergah Parni, lalu menghela napas panjang. Tiba-tiba dia tersadar, nada bicaranya agak keras dan berkesan mendikte.

“Ah, andai kau tahu, Narti, bagaimana Mas Bambang membagi hati dengan tetangga sebelah rumahku sampai memiliki anak dan baru belakangan aku tahu, kau pasti berdiri di sampingku. Kau pasti mendukung keputusanku ini. Aku berusaha bertahan dan berjuang semampuku untuk anak-anakku setelah berpisah dari dia. Kalau kau tahu, kau pasti akan memelukku erat. Andai kau tahu, Narti, bagaimana aku menolak keras ajakan Pak Agus juragan sembako yang selalu siap memberikan bantuan beras, minyak goreng, gula jawa, sampai bumbu dapur yang kubutuhkan. Bagaimana aku di setiap sepertiga malam selalu bangun dan bersimpuh di atas sajadah merah, memohon yang terbaik bagi anak-anakku, aku, Mas Bambang, dan semua. Mengapa mereka selalu menilai berdasar ukuran standar kebahagiaan mereka? Punya keluarga utuh di satu rumah, ada ayah, ibu, dan anak-anak. Satu atap. Mengapa tak ada yang bertanya tentang kebahagiaanku?” batin Parni.

Parni belingsatan karena obrolan itu membuka kotak kenangan dan muncullah gambaran tentang kejadian yang dia tak ingin ingat-ingat lagi. Tak seorang pun tahu, bahkan juga ketiga anaknya.

***

Malam itu hujan deras membasahi bumi setelah tiga bulan tak ada hujan. Aroma tanah terkena air hujan menyeruak memenuhi udara. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Parni bergegas ke ruang tamu. Dia melirik jam dinding. Pukul 21.30.

“Siapa malam-malam kemari? Hujan lagi!” Parni mengintip dari celah gorden. Dia terkejut. “Mau apa dia?”

Namun, tak urung, Parni memutar kunci dan membuka pintu.

“Ni…,” ucap lelaki itu, lirih dan bergetar. Dia memaksa masuk, lalu berbalik menutup pintu. Sembari membuka jas hujan plastik, dia mendekat, lalu menarik dan mendekap Parni.

Parni terpaku. Namun, sejenak kemudian, sambil meronta Parni berujar, “Mas, pu… pulanglah!” (28)

 

Pilangwetan, 11 Juli 2020, 09.59 pm

Renyta, guru bahasa Inggris SMP Nusantara 1 Gubug, Grobogan, tinggal di Kebunagung, Demak