Cerpen Muhammad Khambali (Koran Tempo, 18-19 Juli 2020)

Kamar Sewa ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo (1)
Kamar Sewa ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

AKU baru saja menutup telepon dari bapak dan kukatakan belum bisa berhenti dari pekerjaanku sewaktu mendengar lengking suara induk semangku yang menemukan tubuh tetangga kamarku terbujur kaku sudah tak bernyawa.

Kamar itu tidak terkunci. Kondisi tubuh tetanggaku itu telah menguarkan bau tidak sedap. Naluri membuatku lekas menahan pundak induk semangku dan melarangnya mendekat. Ia sempat tidak mengerti, sampai kukatakan dengan bibir bergetar dan nyaris tak terdengar bahwa itu berisiko. Setelah itu, aku menelepon nomor layanan darurat. Tidak lama kemudian, sekitar satu jam, dua polisi dan tiga petugas kesehatan datang, lengkap dengan pakaian hazmat.

Dari percakapan antara polisi dan induk semangku, sesuai dengan protokol saat ini, tetangga kamar sewaku itu akan dibawa ke rumah sakit, diautopsi, dan dites sebelum nantinya dipulangkan ke kampung halamannya. Kemudian, satu polisi yang berperawakan seram seperti pawang tuyul, dengan kumis menjulur-julur tapi berperut buncit, menghampiriku dan mengatakan mungkin akan membutuhkanku untuk meminta keterangan. Aku hanya mengiyakan. Ia pun lantas memberikan selembar kartu namanya sebelum pergi bersama polisi lainnya.

Insiden mengerikan itu merusak selera makanku, juga untuk sekadar beranjak dari kamar. Kebetulan letak kamar tetanggaku ini tepat bersisian dengan kamarku, sehingga itu membuat sungguh tidak nyaman dan bulu-bulu halus di sekitar leherku meremang. Aku sempat berencana menghubungi seorang teman dekat di kantor, tapi lantas urung kulakukan lantaran kurasa itu tidak akan banyak membantu, selain hanya akan membuatnya khawatir.

Kota masih dalam masa karantina dan aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku pun tidak memiliki minat untuk menyentuh naskah terjemahanku. Akhirnya, untuk membuatku merasa lebih baik, aku mencoba mengalihkan pikiranku dari insiden itu dengan memainkan kembali game PS1 Harvest Moon: Back to Nature yang belum lama kupasang memakai emulator di Android. Aku memainkannya sampai mataku benar-benar terasa berat.

Aku terjaga lantaran seperti ada yang mengetuk-ngetuk pintu. Ternyata tetangga kamar sewa itu mendatangiku. Memakai baju yang sama seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. Sebuah blus ungu lengan panjang dengan setelan rok kulot hitam. Wajahnya tampak pucat dengan bibir yang membiru. Ia bertanya apakah aku bersedia mengantarnya pulang. Ia bilang, ayahnya mungkin tak sudi menerima jasadnya. Menurut pengakuannya pula, selama ini dirinya indekos dan tidak berani pulang lantaran telah jatuh hati kepada lelaki yang dibenci ayahnya. Ia lantas memusuhi ayahnya, pergi ke kota ini untuk menemui lelaki itu, sebelum lelaki itu menghilang dan menelantarkannya.

Setelah itu, aku benar-benar terbangun dan mimpi itu terasa begitu nyata. Aku tak sanggup berhenti memikirkannya. Aku percaya itu benar-benar dirinya. Tapi aku tidak mengerti mengapa ia mendatangiku. Padahal aku tidak begitu kenal dengannya. Semenjak aku pindah ke sini, aku memang jarang berhubungan dengan orang lain. Ketika pulang dari pekerjaanku, aku lebih sering berdiam diri di kamar. Bisa dibilang, aku hanya keluar untuk mencari makanan atau membeli rokok.

Kamar sewaku sebenarnya semacam paviliun kecil, yang bangunannya terpisah dari rumah utama milik induk semangku. Hanya ada dua kamar yang saling bersisian. Semenjak kurang-lebih dua tahun tinggal, sudah beberapa kali kamar di samping itu berganti penghuni.

Tetanggaku itu, sepengetahuanku, baru sekitar sebulan menyewa kamar tersebut. Aku tidak mengerti mengapa induk semangku membiarkan seorang lelaki dan perempuan tinggal seatap. Mungkin hanya uang sewa bulanan yang ada di kepala induk semangku. Mungkin ia terlalu percaya aku tak akan berbuat tindakan bodoh.

Meski memang beberapa kali berpapasan dengan tetangga baruku itu, aku bahkan belum sempat secara memadai berkenalan dengannya, untuk paling tidak menanyakan namanya dan di mana ia bekerja. Sejak dulu, aku memang kesulitan melakukan tata krama semacam itu.

Tetanggaku yang kutaksir itu usianya lebih muda dariku. Ia memang lebih tinggi, tapi badan tipis membuatnya terlihat cungkring dan seperti kurang bertenaga. Matanya yang selalu tampak sayu semakin menambah kesan itu bagiku.

Sudah beberapa hari sebelum insiden itu aku memang tidak melihatnya. Saat itu, tiba-tiba ia mengetuk pintu kamar. Ia bilang baru saja membeli sekantong plastik buah mangga. Ia menanyakan apakah aku memiliki pisau untuk mengupasnya. Kuambilkan sebilah pisau yang kumiliki dan kuberikan kepadanya. Ia pun berterima kasih secara sopan sambil menundukkan kepala.

Aku tengah membaca Catcher in the Rye sewaktu tetanggaku itu kembali mengetuk pintu. Ia datang dengan kondisi rambut dan pakaian yang sedikit berantakan. Dan ketika kutanyakan, wajahnya tampak begitu lelah dan pucat. Ia hanya mengucapkan terima kasih, buru-buru pamit, dan kembali ke kamar sewanya. Saat itu, aku pun tidak begitu memikirkan ketika melihat seperti ada seberkas noda darah di lengan bajunya.

Itulah kali terakhir aku bertemu dengannya. Aku bahkan mengira ia sedang tidak berada di kamarnya lantaran aku dapat melihat dari luar, setelah hari itu, tidak ada cahaya yang terpancar dari lampu kamarnya.

Pada malam kedua setelah insiden itu, aku bermimpi tentangnya lagi. Dan entah mengapa, pada mimpiku yang kedua pun, ia kembali memakai baju yang sama. Ia tak banyak bicara dan hanya terus menundukkan kepalanya. Ketika kutanya mengapa ia kembali mendatangiku, ia justru menangis. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, selain mencoba menghiburnya dengan mengatakan tidak apa-apa jika merasa tidak baik. Sisanya, aku hanya menunggunya sampai ia berhenti menangis.

Aku merasakan jari-jariku menegang, ketika akhirnya, seperti dalam satu tarikan napas, kata-kata meluncur dari bibirnya yang kering dan membiru.

“Aku berbohong kepadamu,” ucap dia pelan kepadaku. “Ia tidak menelantarkanku. Lelaki itu mati dua minggu yang lalu.”

“Hari itu, aku meminjam pisau untuk membuat beberapa sayatan di tubuhku. Kau tahu, rasanya putus asa sekali.”

Aku hanya terdiam dan tak tahu harus berkata apa.

“Ini seperti karma, bukan?” tanyanya kepadaku. Aku berusaha menemukan jawaban yang tepat sebelum ia kembali berkata kepadaku, “Ia seharusnya tak menyembunyikan sakitnya dariku.”

Setelah itu, ia tidak berkata apa-apa lagi.

Isi kepalaku terasa keruh, bertanya-tanya mengapa nasib buruk sering kali sulit dijelaskan. Lalu membencinya, dengan memberikan hukuman kepada hidup orang lain.

“Apakah keluargamu sudah datang untuk membawamu pulang?” tanyaku ragu-ragu, memecah keheningan.

Ia tak menjawab apa-apa.

Setelahnya, aku terbangun dengan mata sembap dan basah. Aku tak sanggup tidur lagi dan terus terjaga sambil menghabiskan beberapa puntung rokok. Lantunan playlist di Spotify menemaniku sampai menjelang fajar, sampai mataku sudah bengkak dan tertidur.

Siangnya, aku bangun dan merasa badanku demam dan tenggorokanku sakit. Setelah keluar membeli sarapan, aku segera minum parasetamol dan amoxcillin. Selanjutnya, aku menghabiskan sepanjang hari dengan kembali memainkan Harvest Moon. Malamnya, entah mengapa, aku berharap ia akan mendatangiku. Tapi malam itu, dan malam-malam berikutnya, ia tak pernah sekalipun datang ke mimpiku lagi.

Sampai sekarang demamku tidak juga turun dan aku mulai sering batuk-batuk. Aku telah menghubungi layanan kesehatan dan hanya diberikan resep obat yang mesti kupesan di apotek dan diminta melakukan isolasi diri. Begitu menutup telepon, seketika itu pula aku justru teringat kepada bapak.

Sudah lama hubunganku dengan bapak memburuk, jika tidak mau dikatakan hancur. Beberapa tahun lalu, kami berseteru dan ia tidak pernah setuju pada jurusan sastra Jepang yang kupilih. Ia hanya peduli kepada dirinya sendiri dan menginginkanku memenuhi kegagalannya menjadi atlet taekwondo nasional. Semenjak kecil, olehnya aku diikutkan sanggar taekwondo dan bermacam kejuaraan, tapi aku tak pernah benar-benar menyukainya, selain kulakukan hanya untuk menyenangkan hati bapak.

Semenjak hari ketika aku membangkang keinginannya dan ia mengusirku dari rumah, aku tak pernah pulang. Setelah menyelesaikan kuliah, aku bekerja dan memilih tinggal sendiri di kota ini. Aku tetap membatu ketika akhir tahun lalu mendapat kabar bahwa bapak ditabrak sepeda motor di depan rumah. Tulang pahanya remuk, kepalanya bocor. Aku hanya mengiriminya uang untuk biaya operasi.

“Pulanglah,” ujarnya terdengar memelas ketika terakhir kali meneleponku—hari ketika insiden di kamar sewa itu terjadi.

Itu bukan yang pertama. Hampir setengah tahun ini bapak memintaku pulang dan berhenti dari pekerjaanku. Kini, setiap hari ia hanya terbaring di kamar, kesehatannya semakin buruk, dan hanya menyusahkan hidup kami. Aku pernah berpikir, mungkin akan lebih baik jika ia mati hari itu.

Aku berpaling ke layar Android, membuka aplikasi emulator ePSXe, tapi menutupnya lagi. Kubuka aplikasi peramban bawaan dan menyentuh ikon sebuah laman di beranda—tanda bahwa itu sering dikunjungi, hanya untuk mengetahui berapa tambahan jumlah kematian hari ini.

“Aku tak tahan,” kataku kepada diriku sendiri.

Tiba-tiba terlintas polisi berperawakan pawang tuyul itu dan mengingat-ingat di mana aku meletakkan kartu namanya. Di luar, terdengar suara kucing sedang bertengkar.

 

Muhammad Khambali, menulis cerita, esai, dan ulasan. Ia tinggal di Jakarta.