Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 15 Juli 2020)

Bepergian ke Rumah Sendiri ilustrasi Istimewa
Bepergian ke Rumah Sendiri ilustrasi Istimewa 

Suatu malam saya minta izin ke istri untuk keluar. Dari barang-barang yang sudah saya siapkan, dia sudah mengerti maksud saya. Sebuah draf novel yang penuh corat-coret dan tumbler yang sudah saya isi dengan air hangat kuku saya masukkan ke dalam boks motor. Saya pun melaju ke kafe langganan saya di Kawasan Masjid Agung Assalam Lubuklinggau.

Sebagaimana biasa, saya memesan latte. Menyeruputnya di malam yang cerah seakan-akan kuasa melenturkan ketegangan mengoreksi bakal novel yang sudah ngendon satu tahun dalam proses kreatif saya. Tanpa terasa hampir seratus halaman yang saya koreksi ketika pihak kafe mengatakan hari sudah menunjukkan pukul setengah dua belas.

Ketika pulang, perasaan nelangsa itu menyerang saya serta-merta. Terutama ketika melihat anak-anak yang terlelap. Ya, pergi keluar artinya membiarkan mereka tidur tanpa diantar cerita-cerita saya. Perasaan bersalah itu mencubit-cubit.

Makanya, aktivitas menerima tamu dan keluar malam biasanya saya lakukan di atas pukul sembilan ketika anak-anak sudah tidur.

Baca juga: Memungut Kesementaraan – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 08 Juli 2020)

Lalu, beberapa malam yang lalu seorang teman menelepon dan mengatakan kalau ia akan mengunjungi saya. Saya hanya bilang kalau saya bisa menerima tamu pukul setengah sepuluh malam. Kalau dia keberatan, dia mungkin bisa datang besok saja. Tapi dia malah menyanggupinya. “Tidak masalah,” katanya. “Aku sedang sumpek banget di rumah. Bawaannya mau ribut aja!”

Saya memang pernah mendengar bahwa salah dua cara menghadapi istri yang sedang marah adalah dengan menjadi seorang pendiam (saya tidak menyebutnya penyimak) ketika dia menumpahkan segala kekesalannya. Kalau belum juga reda, cara kedua adalah si suami meninggalkannya untuk kembali beberapa waktu kemudian. Biasanya mood istri sudah berubah dan perlahan-lahan semuanya akan kembali normal.

Percaya? Saya percaya saja. Beberapa kali saya mempraktikkannya. Tapi cara yang kedua biasanya jarang saya lakukan. Kalaupun meninggalkannya, pasti karena kebetulan saya memiliki agenda di luar. Entah, saya merasa, meninggalkan seseorang yang sedang marah bukan solusi. Saya tak pernah tenang mengerjakan apa pun ketika ada yang belum tertuntaskan.

Rekan saya pun datang. Ia membawa martabak cokelat yang masih panas dan saya membuatkan kopi. Ia bercerita tentang masalah rumah tangganya. Tapi ketika ceritanya menyasar ke urusan yang sangat personal, saya mengalihkan topik. Ia tampaknya mengerti.

Dua malam kemudian ia datang lagi. Masih dengan agenda yang sama. Saya mengalihkan topik lagi ketika ia masih menceritakan hal yang sama. Pada rencana kunjungan ketiganya, saya mengarang alasan dan terus mengarang alasan di malam-malam berikutnya. Saya pikir ia akan tahu kalau saya tidak ingin menerimanya, menjadi kotak sampah permasalahan pribadinya. Tidak apa. Lebih baik ia tahu.

Baca juga: Tidak Adil (kepada) Menulis – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 01 Juli 2020)

Suatu hari saya bersilaturahim ke rumahnya. Saya bertemu dengan keluarganya. Ketika kami berbincang berdua di berandanya, ia mengatakan akan lebih baik saya datang malam hari sebab urusan-urusan pribadi akan lebih nyaman diutarakan. Saya tertawa. Saya hanya ingin membalas silaturahim-silaturahimnya yang lalu, bukan karena saya sedang punya masalah di rumah.

Dia diam dan tiba-tiba bercerita. “Saya merasa lebih nyaman berada di luar daripada di rumah,” katanya tiba-tiba.

Waduh! Dia bahkan menceritakan ini ketika kami sedang ngobrol di kediamannya!

“Eh, jadi gimana draf novelmu?” katanya setelah saya tak menanggapi curhatannya.

“Aku menulisnya di rumah. Sepenuhnya di rumah. Ketika jenuh, saya ke luar. Biasanya cuma satu kali dalam sebulan. Itu pun untuk draf final,” jawab saya apa adanya. “Wong saya memilih menulis sebagai pekerjaan karena saya tak ingin bekerja jauh dari keluarga kok,” kata saya ketika ia tampaknya ingin menyela.

“Pernah keluar ketika punya masalah keluarga?” tanyanya to the point.

“Dulu,” kata saya. “Pernah.”

“Lalu?”

“Saya mengunjungi teman dan pergi ke tempat-tempat yang bisa melupakan segalanya sejenak. Sekembali ke rumah, suasana panas lagi. Keluar lagi, sejuk lagi. Pulang, panas lagi. Keluar lagi, gembira lagi. Pulang lagi, kusut lagi.”

Baca juga: Belasungkawa Media Sosial – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 24 Juni 2020)

“Wah, persis!” celetuknya seperti menemukan rekan senasib. “Bahkan draf tulisan saya nggak kunjung selesai!” Ya, saya tahu sejak 75890 tahun yang lalu ia bilang sedang menyiapkan novel pertamanya.

“Iya,” kata saya agak kesal. “Lalu buat apa begitu terus? Masak yang baik-baiknya buat orang lain, sampah-sampahnya buat keluarga di rumah? Saya nyaris terpeleset ke sana, untung masih waras!”

“Lalu apa solusinya?” tanyanya dengan air muka mengiba.

“Nggak ada.”

“Lho?”

“Kalau masih bertanya pada saya, pada orang lain, artinya kamu sedang keluar meninggalkan dirimu untuk mencari kegembiraan yang semu,” waduh, saya pasti terdengar seperti motivator.

Saya pikir, keluar meninggalkan rumah untuk mencipta jeda di tengah rutinitas dan kepenatan, sah-sah saja. Tapi, kalau melakukannya untuk mendapatkan energi baru untuk dibawa pulang, saya tidak percaya. Keluar untuk melupakan kepenatan dengan cara melakukan hal-hal menggembirakan, adalah bentuk kezaliman atas keluarga, seakan-akan kita sendiri yang butuh hiburan.

Keluar meninggalkan rumah, baik yang bernama keluarga maupun ruang berantakan dalam diri sendiri adalah tindakan pengecut yang terperangkap dalam kesemuan dan fatamorgana. Akan lebih bahaya kalau kepengecutan itu dilakukan lebih dari sekali. Diam-diam ia akan mengeluarkan opium untuk membuat sesiapa tak pernah merasa cukup.

Baca juga: Di Ruang Tunggu – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 17 Juni 2020)

“Jadi harus ke mana dong?” desaknya. Wajahnya mulai merah. “Kelas nulismu kapan buka lagi?

“Ya, pulang ke rumahmu sendiri. Kelas nulis saya akan buka lagi. Tapi tidak menerima murid yang senang ikut kelas, tapi malas memulai menulis seperti kamu!”

“Sebentar,” katanya seperti mengingat sesuatu. “Balik ke rumah? Eh, saya membaca terus!”

“Ya, balik ke rumahmu; entah itu keluargamu atau hati kecilmu ….” saya sebenarnya mau menunjuk langit sebagai rumah segala rumah. Tapi … cukuplah satu Mario Teguh. Saya tak ingin masuk lubang oleh kata-kata sendiri.

“Oh ya,” kata saya lagi, “Kebiasaanmu yang gemar ke perpustakaan dan melahap banyak buku itu bisa menjelma kesenangan yang semu kalau kamu tidak kunjung membangun perpustakaan dalam dirimu: menulis bukumu sendiri!”

Uh, akhirnya saya bisa menjelma pegiat literasi di hadapannya. ***

 

Lubuklinggau, 15 Juli 2020

BENNY ARNAS lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Novel audionya “Bulan Madu Matahari” sedang tayang di Instagram @bulanmadumatahari dan Youtube Benny Institute. Dalam waktu dekat novelnya “Ethile! Ethile!” akan tayang di platform @Kwikku.