Cerpen Much Taufiqillah Al Mufti (Suara Merdeka, 12 Juli 2020)

Sang Pengintai ilustrasi Suara Merdeka (2)
Sang Pengintai ilustrasi Suara Merdeka

Beberapa hari ini aku merasa ada seseorang yang selalu mengintai. Aku tidak tahu siapa dia. Kadang aku merasa ia melihatku dari balik pintu atau jendela kamar, lalu tiba-tiba menghilang saat kutengok. Wujudnya tidak jelas. Apakah ia laki-laki atau perempuan?

Kejadian itu sering kualami ketika sendirian di dalam kamar, terutama saat sedang ada masalah. Muncul seseorang yang diam-diam mengintai aku. Aku merasa dia memandangi seraya tersenyum dan menatap hangat. Sepertinya ia hendak menyapa, tetapi tak sampai.

Sekali, dua kali, tiga kali, aku abaikan. Namun pada kali keempat, aku merasa terganggu.

Kata Hadi, temanku di sekolah, itu hantu. Aku tidak percaya itu benar-benar hantu dengan perwujudan menakutkan, sebagaimana dalam film-film horor. Dedi, temanku yang lain, memberikan gambaran kurang-lebih masuk akal bahwa pengintai itu hanyalah imajinasiku.

“Kata Hadi ada benarnya,” kata Dedi waktu istirahat di kelas.

“Kenapa?” tanyaku.

“Hantu pun bagian dari imajinasi seseorang bukan?”

“Lo? Kalau ada orang mengaku melihat penampakan hantu, itu juga imajinasi?”

“Iya,” kata Dedi. “Memang kamu pernah tahu kuntilanak muncul di Amerika? Atau kamu pernah lihat vampir di kuburan dekat rumahmu?” katanya.

Penjelasan itu lumayan membuat pikiranku berputar-putar karena pemahamanku mengenai hantu sungguhan dan imajinasi bercampur-baur. Dedi memahami gerak-gerik bola mataku yang menunjukkan kebingungan. Ia menenangkan aku supaya tidak terlalu memusingkan perkara itu. Katanya, masih ada sesuatu yang layak dipusingkan. Itulah ujian nasional, yang konon standar nilainya dinaikkan lagi.

Kami pun tertawa.

Sepulang sekolah, aku kembali meyakinkan diri: pengintai itu hanyalah imajinasi. Tidak nyata. Tidak perlu membuatku risau. Aku menarik napas panjang dan mengelus-elus dada sambil berjalan ke arah rumah.

Hari memang masih siang, tetapi rasanya sudah seperti malam.

***

Bulan berpijar sempurna, mendapat pantulan cahaya dari sang surya. Terdengar lolong ganjil anjing, seperti memanggil sang kekasih yang dia rindukan. Sejenak aku menengok ke jendela. Tampak awan tipis berarak disapu angin dari timur.

Di dalam kamar, aku membuka buku catatan matematika dan berhenti di sebuah halaman berisi soal-soal yang harus kuselesaikan. Soal kali ini lumayan mudah. Bu Apri memahami akulah yang terbodoh di antara para murid. Lambat dalam menghitung.

Namun kali ini aku merasa soal-soal itu mudah karena tidak ada angka di semua soal. Tema soal itu adalah silogisme yang tidak menuntut kehadiran angka. Entah mengapa konsentrasiku mendadak ambyar setiap kali menghadapi perkara hitung-hitungan.

Sampai soal nomor tiga, aku berhenti. Sekali lagi aku merasa ada seseorang sedang mengintai. Kali ini, aku merasa harus membuktikan perkataan Dedi dan Hadi; apakah pengintai itu hantu atau hanya imajinasiku.

Aku pun berpura-pura tidak tahu sedang diintai. Pelan-pelan aku beranjak ke lemari dan membukanya, seolah mencari sesuatu, padahal tidak sama sekali. Kemudian tanganku menggapai gagang pintu yang dekat dengan lemari. Ketika gagang tergapai, cepat aku membuka pintu itu. Klaaak! Dan. Kosong!

Sejurus mataku menyapu ke seluruh ruangan. Sunyi. Nenek dan Adik sudah tidur. Aku menengok jam yang tergantung di atas meja belajar. Pukul 00:00. Ketika kembali menatap keluar, aku melihat bayang-bayang bergerak cepat menuruni tangga. Aku segera aku mengikuti dengan langkah cepat.

Saat sudah turun dan mencapai lantai dasar, aku melihat pintu rumah agak terbuka. Tanpa menyapu pandangan ke seluruh ruangan, aku yakin bayang-bayang itu keluar melalui celah pintu. Seketika aku berlari ke luar rumah, menerobos kepekatan malam dan menabrak terpaan angin malam yang menderu. Aku lupa mengenakan jaket, sehingga menggigil.

Tadi dari depan pintu rumah aku melihat bayang-bayang itu keluar melewati pagar. Aku pun mengejar dengan hati-hati, layaknya kucing menderap tanpa menimbulkan suara apa pun.

Bayang-bayang itu terus berlari. Aku tak menyerah. Aku terus mengejar, meski peluh telah mengucur. Bayang-bayang itu berbelok ke kiri, ke arah taman bermain anak-anak. Ketika aku sampai di sana, tidak ada tanda-tanda kehadiran bayang-bayang itu lagi. Aku hanya melihat ayunan bergerak, padahal angin tak menerpa. Sementara jungkat-jungkit diam membeku, kedinginan.

***

Kejadian itu menimpaku tiga malam berturut-turut. Suatu malam aku bahkan mencegat di taman, sehingga ia tak perlu repot-repot mengintaiku. Aku sangat penasaran bagaimana perawakannya.

Apakah aku tidak takut? Tdak. Aku jengah dan marah. Kemarahan mampu melelehkan rasa takutku yang membeku.

Saat waktu istirahat di sekolah, seperti biasa aku mengajak ngopi Dedi di pojok kantin dan membicarakan peristiwa itu. Walau jawaban Dedi tidak seluruhnya benar, setidaknya pikiranku terangsang untuk menemukan jawaban tersendiri.

“Ded, sudah tiga malam pengintai itu datang. Ketika aku hendak memastikan, ia berlari kabur. Tidak jelas wujudnya seperti apa, laki-laki-laki atau perempuan. Hanya bayang-bayang. Setiap kali aku mengejar, bayang-bayang itu selalu mengarah ke taman,” kataku.

“Lalu? Ketika sampai di taman, kamu melihatnya?” tanya Dedi lalu meneguk kopi yang masih mengepul.

“Tidak ada apa pun yang kulihat, kecuali selurutan, ayunan, dan jungkat-jungkit.”

Sejenak Dedi terdiam. Mungkin ada sesuatu yang dia pikirkan. Kemudian ia menatap aku dengan senyum yang ganjil sekali. Sebelum hendak mengatakan sesuatu, Dedi meneguk kembali kopi dan meletakkan gelas di atas piring kecil. Hati-hati ia mulai berkata. “Sudah tiga kali ya?” tanya Dedi memastikan.

“Iya, benar.”

“Kamu punya kenangan di taman itu?”

“Dulu, saat kecil, aku sering bermain di sana bersama Ibu.”

“Sekarang ibumu di mana?”

“Ibu meninggal tahun 2012.”

“Kawan, kau sedang ada masalah apa?”

“Aku tidak punya masalah apa-apa, Ded.”

“Tidak,” kata Dedi. “Kamu mengelak.”

Bel pulang berbunyi. Sejurus kemudian aku sudah mengayuh sepeda menuju ke pemakaman di dekat rumah. Tiba di sana aku berhenti di sebuah makam dengan plaket nama yang hampir tidak terbaca karena catnya mengelupas. Aku menatap batu nisan di atas tanah tempat terbaring jasad seseorang yang kusayangi di dalamnya.

Sebentar kemudian aku memejamkan mata, lalu membaca doa dan memohonkan ampun untuknya. Aku kembali menatap makam itu lekat-lekat, hingga tak kusadari pipiku basah. Dengan dada sesak, tak henti-henti aku mengucap, “Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Ibu, rupanya engkau yang selalu menemaniku.” (28)

 

Semarang, 27 April 2020

Much Taufiqillah Al Mufti, alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, gemar menulis esai dan cerita.