Cerpen Yetti A. KA (Jawa Pos, 12 Juli 2020)

Kenapa Telepon Berdering di Hari Minggu ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)
Kenapa Telepon Berdering di Hari Minggu? ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

KELUARGA itu hanya hidup bahagia di hari Minggu—seperti juga, barangkali, keluarga lain di dunia ini. Pada hari Minggu mereka boleh bangun pukul sembilan atau sepuluh. Malas-malasan di atas kasur hingga siang, tidak perlu buru-buru mandi, dan tak harus mengangkat telepon yang berdering berkali-kali.

Senya, yang sedang asyik membuka-buka majalah di tempat tidur, berpikir bagaimana bisa seseorang masih mengingat nomor telepon rumah mereka? Telepon yang sekarang lebih mirip barang antik di sebuah meja kecil di sudut ruang keluarga. Jimi asyik membuka situs berita olahraga di layar ponselnya, mengeluhkan nasib tim sepak bola kesayangannya yang harus kalah lagi dalam permainan kandang yang semalam dia tinggal tidur pada menit ke-70, dan mencoba tidak terganggu dengan bunyi telepon itu. Tanis, anak satu-satunya keluarga itu, masih tidur memeluk guling dan bermimpi sedang memanjat sebatang pohon raksasa yang membawanya pergi ke atas awan yang mirip es krim dalam sebuah iklan di televisi. Dan, dia menjejakkan kakinya di sana, di atas es krim itu. Dan, dia tak bisa menahan tawanya, antara takjub dan merasa konyol.

Telepon tidak juga berhenti berdering. Bahkan, rasanya tambah nyaring. Senya mengembuskan napasnya. Pada hari Minggu mereka tidak harus mengerjakan apa pun yang tak membahagiakan. Pada hari itu mereka boleh mengabaikan semua kejadian di luar, termasuk suara serak tukang roti keliling langganan Tanis yang bertubuh terlalu kurus—dan Senya bilang kepada Tanis, apa tukang roti itu selalu kelaparan dan tidak pernah makan roti jualannya sendiri? Hari itu mereka tidak perlu bersih-bersih atau membuka jendela dan tirai atau menyapu halaman yang dipenuhi daun jambu. Sebab, semua itu nantinya akan dibereskan pada hari mereka kehilangan rasa bahagia sejak pagi-pagi sekali. Pada hari seluruh hidup mereka dihabiskan untuk bertempur dengan jadwal-jadwal yang ketat dan keharusan ini-itu.

Mereka memang tak membuat peraturan melarang mengangkat telepon pada hari Minggu. Tapi, bunyi telepon yang terdengar sengit dan memaksa seperti itu kemungkinan besar mengantarkan kabar tidak menyenangkan yang dapat mengacaukan hari Minggu mereka. Sudah sekian kabar buruk yang mereka terima lewat telepon rumah itu pada tahun-tahun dulu. Karena itu, sekarang mereka merasa beruntung karena dunia telekomunikasi menemukan telepon pintar. Sehingga mereka bisa menyiasati segala sesuatunya; bunyi panggilan yang dikecilkan atau dimatikan, bunyi pesan yang cukup diberi nada “beep” atau diganti dengan getar saja dan mereka bisa menunda sebuah kabar buruk sampai kepada mereka hingga waktu yang mereka inginkan.

Mungkin ada sesuatu yang benar-benar penting, Jimi akhirnya menyerah dan berkata kepada Senya yang masih menekuri majalahnya.

Senya agak kesal dan mendongak, “Tidak ada yang lebih penting selain yang ingin kita lakukan pada hari Minggu,” katanya, seakan mengingatkan Jimi tentang peraturan dalam keluarga mereka. Setelah berkata begitu, Senya buru-buru keluar dari kamar dan mencabut kabel telepon. Seharusnya sudah lama dia melakukannya. Rekan kerja dan teman-temannya nyaris tak ada lagi yang menghubungi lewat telepon rumah itu. Semua sudah lama berubah. Dia tidak tahu kenapa telepon itu masih ada di rumah mereka. Tahun ini hanya beberapa kali ada yang menelepon ke sana dan dua di antaranya panggilan salah sambung.

“Bagaimana jika itu penting?” kata Jimi bersikeras ketika Senya kembali ke kamar dan memberi tahu apa yang baru dia lakukan. “Bagaimana jika itu telepon darurat?”

“Tidak ada yang lebih penting selain yang ingin kita lakukan!” kata Senya, mengulang dengan tegas peraturan hari Minggu di rumah mereka. “Jangan merusak semuanya, Jim, tolonglah,” sambungnya mendesah.

Senya tidak mau berdebat panjang. Mereka sudah terlalu banyak berdebat pada hari-hari lain; tentang siapa yang membuat sarapan, siapa yang mengantar Tanis ke sekolah, pukul berapa sebaiknya menghubungi Go-Clean dan siapa yang harus menunggu di rumah selama petugasnya bersih-bersih. Asuransi kesehatan sebaiknya dibayar tanggal tiga atau lima. Kenapa harus ke dokter gigi secara rutin. Kenapa hari Sabtu tetap mesti ke kantor, kenapa dan kenapa lainnya.

Tanis tertawa-tawa dalam mimpinya saat kedua orang tuanya nyaris bertengkar. Jika ditanya apa yang paling dia senangi dalam hidup ini, maka jawabannya: tidur dan bermimpi. Kebetulan sekali Tanis memang kerap bermimpi indah. Kalaupun ada yang buruk, paling tidak seberapa, dan itu bisa dihadapinya dengan biasa saja.

“Sebaiknya kau memasang kabelnya lagi,” kata Jimi gelisah. Kepalanya mendadak dipenuhi pikiran horor. Bagaimana kalau itu telepon dari salah seorang saudara mereka yang mau mengabarkan berita kematian dan sebaiknya mereka mendengarnya saat ini juga? Bagaimana kalau itu seorang petugas yang ingin memberi tahu soal badai yang akan menyerang kota ini pada sore atau malam nanti? Bagaimana kalau seseorang ingin memberi tahu soal kejahatan yang mungkin terjadi di sekitar rumah mereka—perampokan, misalnya—dan mereka diminta waspada?

Jimi tak tahan memikirkan penjahat itu menempelkan ujung senjata di kepala Tanis dan meminta dia dan Senya untuk tidak mendekat. Tanis memang masih tidur saat ini, tapi bisa saja tiba-tiba dia terbangun dan membukakan jendela kamar tanpa sadar apa yang dia lakukan dan membiarkan rombongan penjahat masuk. Tanis bisa melakukan hal seperti itu. Sama seperti dia bisa berada di atap rumah tetangga dan bilang sedang mengejar seekor kucing. Tanis tidak mengerti soal bahaya. Bagi Tanis, dunia ini selalu baik padanya dan yang dia pikirkan hanya bersenang-senang.

“Tenangkan dirimu, Jim,” kata Senya memelas. Dia sungguh khawatir semua akan berantakan dan hari Minggu mereka yang indah berubah menjadi neraka. Jika itu terjadi, tak ada lagi yang tersisa dari kehidupan mereka yang membosankan, yang nyaris membuat tidak bisa bernapas dengan lega. Apa itu yang kamu inginkan, Jim, pikir Senya sembari memutar badannya. Kini dia membelakangi Jimi dan membalik-balik halaman majalahnya untuk menenangkan diri. Umur dua belas tahun, Senya pernah melihat orang tuanya bertengkar pada hari mereka sedang liburan dan dia membuka komik dengan cara yang sama seperti yang dilakukannya sekarang. Sebab, dia mencemaskan sesuatu melayang atau dibanting, benda-benda yang mudah pecah, rusak, dan menimbulkan suara gaduh. Suara yang menghantuinya dan selalu datang dalam mimpi-mimpi buruknya.

Jimi bangkit dari tempat tidur dan menghidupkan televisi. Program masak-memasak. Jimi mengganti saluran. Program musik yang diwarnai drama para pembawa acaranya. Senya berkata, “Apa lagi yang kau lakukan, Jim?” Suara Senya persis seorang ibu yang mengontrol sikap anaknya dalam sebuah pertemuan keluarga besar. “Volumenya terlalu kencang, Jim,” kata Senya lagi. Jimi langsung mematikan televisi dan kini menjentik-jentikkan jemarinya yang gemuk ke tepi tempat tidur dan berpikir segalanya sudah berakhir, hari Minggu yang indah sudah berakhir, dan dia keluar dari kamar, lalu menyambungkan kabel telepon dan menunggunya kembali berdering.

“Apa-apaan, Jim!” Senya terus mencecar. Dia sudah melepaskan majalahnya. Kini dia bahkan telah berdiri di depan Jimi dan berkata, “Seharusnya tidak seperti ini.” Senya hampir menangis. Dan dia berkata lagi, “Seharusnya tidak seperti ini.”

Hari Minggu sebagai hari yang membahagiakan selesai sudah. Kini Senya ikut-ikutan duduk di sisi Jimi dan menunggu telepon itu berdering. Senya juga membiarkan kepalanya berpikir macam-macam. Hal-hal yang umumnya buruk.

“Seseorang mungkin jatuh ke dalam sumur,” kata Senya. Seseorang itu bisa bapak atau ibu atau kakak Jimi yang punya keterbelakangan mental dan tinggal di sebuah rumah dengan sumur yang, kata Tanis, kemungkinan besar berhantu.

“Hentikan, Senya,” tegur Jimi. “Tidak ada yang jatuh ke dalam sumur.”

“Bagaimana kalau Digu bermain di sana dan tidak sengaja terjatuh?” Senya berkata.

Jimi berdiri dan menuding Senya sedang melakukan teror kepadanya. Senya berkata, “Digu yang malang.”

Dan telepon itu tak pernah berbunyi lagi. Bahkan setelah berjam-jam Jimi menunggunya dan Senya terus menudingnya membuat kacau semuanya dan Tanis akhirnya terbangun dari tidur dengan wajah puas, siap menanti kedatangan tukang roti keliling yang sengaja lewat berkali-kali di depan rumah. Lalu nanti—setelah mendapatkan roti yang diinginkan itu—segera kembali ke kamar lagi, makan roti, tidur, dan bermimpi.

“Sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Senya, lebih ditujukan kepada diri sendiri. Lalu, dia melihat ke gorden yang belum dibuka dan buru-buru bangkit, lalu menggeser semua gorden itu ke pinggir dan sinar matahari memantul ke arahnya dan dia melihat tukang roti keliling yang makin tampak kurus itu melintas dan memanggil-manggil pembeli.

Senya tahu, hanya Tanis yang akan membeli roti itu. Orang-orang di kompleks rumah mereka sudah lama tak berminat pada roti pedagang keliling yang tidak higienis, tidak seempuk roti yang dijual di outlet atau sebuah toko. Tapi, kata Tanis, kalau tukang roti keliling itu mati di jalan karena tidak punya uang, memangnya kita mau bilang apa pada Tuhan? Senya berpikir, tukang roti itu tidak akan mati karena tak punya uang asal dia mau memakan roti jualannya. Namun, dia tidak ingin bertengkar dengan Tanis. Sekali lagi, hidup mereka sudah terlalu berat dan banyak masalah.

Maka, dia meminta Tanis agar segera menyelamatkan tukang rotinya.

Jimi masih duduk di dekat telepon dan mungkin masih akan di sana sampai telepon itu kembali berdering.

***

Satu pagi, tiga hari setelah hari Minggu yang berantakan itu, Senya kembali membuka gorden dan memandang keluar. Dia baru menyadari, ada sebuah pintu yang terus tertutup rapat selama beberapa hari ini. Senya tidak terlalu dekat dengan para tetangga. Namun, dia kenal baik dengan Luma, perempuan eksentrik berusia 80 tahun yang sudah lama hidup sendirian dan tinggal persis di depan rumahnya. Luma yang setiap pagi—bahkan pada hari Minggu—membuka pintu rumahnya lebar-lebar dan menawari siapa pun untuk minum teh bersamanya.

Senya teringat panggilan telepon pada hari Minggu itu. (*)

 

Rumah Kinoli, 19/20

YETTI A. KA. Lahir di Bengkulu. Kumcer terbarunya, Ketua Klub Gosip dan Anggota Kongsi Kematian (2020). Selain menulis, dia bekerja dan menjadi relawan di lembaga nirlaba Yayasan Jortah Indonesia yang fokus menggalang dana publik untuk membantu biaya pendidikan anak-anak dari keluarga tidak mampu. Saat ini dia menetap di Kota Padang, Sumatera Barat.