Cerpen Sori Siregar (Koran Tempo, 11-12 Juli 2020)

Selarik Sajak di Warkat Pos ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo (1)
Selarik Sajak di Warkat Pos ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

DERETAN kata-kata yang tetap mengendap dalam dirinya adalah yang tercantum dalam surat Goentoro. “Anda tidak hanya punya kelapangan dalam ruang, tetapi juga dalam hati.” Kata-kata itu ditulis di warkat pos puluhan tahun lalu.

Warkat pos itu ditemukan Pardosi ketika ia merapikan dokumentasi buku dan surat-surat yang mulai berantakan susunannya. Buku-buku dan surat yang tersusun di rak buku itu adalah kekayaan Pardosi yang sangat disayanginya. Karena itu, ia enggan meninggalkan rumah kontrakan yang baru satu tahun dihuninya itu. Bahkan, ia telah bertekad tidak akan pindah dari rumah itu sepanjang sisa hidupnya.

Kalau pindah, ia pasti akan repot memasukkan buku-buku dan surat-surat dokumentasinya itu ke boks dan kardus, kemudian menyusun kembali kekayaan kesayangannya itu di rumah kontrakan yang baru. Kemudian di mana pula ia akan menempatkan lemari dan rak-rak buku di rumah baru yang akan dikontraknya itu, karena rumah yang akan dikontraknya nanti pastilah lebih kecil daripada rumah yang dihuninya sekarang, kalau ingin kontraknya lebih murah.

Rumah kontrakan yang telah dihuninya satu tahun tersebut memang lumayan besar untuk menampung buku-bukunya yang sebenarnya tidak terlalu banyak itu. Dibandingkan dengan teman-temannya penggemar buku dan pembaca yang tekun, kekayaan Pardosi tidak ada artinya.

Puluhan tahun lalu, Pardosi bekerja sebagai teknisi sebuah lembaga penyiaran di Tanah Seberang selama hampir sebelas tahun. Ketika di Tanah Seberang itulah teman-temannya yang sedang bepergian selalu singgah untuk bermalam di rumahnya. Teman-temannya yang datang dari Tanah Air lebih memilih singgah di rumah Pardosi daripada menginap di hotel yang tarifnya sangat mahal. Selain itu, mereka dapat berbeka-beka dengan Pardosi hingga larut malam. Goentoro adalah salah seorang yang menginap di rumahnya itu.

Rumah kediaman Pardosi di Tanah Seberang itu cukup besar dengan tiga kamar tidur, sebuah ruang makan, sebuah ruang tamu, dan kamar mandi di setiap kamar. Goentoro senang sekali tinggal di rumah itu. Ia sengaja meninggalkan hotelnya dan pindah ke rumah Pardosi. Selama tinggal di rumah besar itulah Goentoro merasakan kelapangan hati Pardosi dan istrinya. Apalagi begitu ia tahu Pardosi siap menerima siapa saja untuk menginap di rumahnya tanpa membayar sepeser pun untuk semua yang diberikannya.

Tapi semua itu adalah masa lampau yang indah bagi Pardosi dan teman-temannya. Masa lampau itu telah jauh tertinggal di belakang. Kini Pardosi harus berani berhadapan dengan kenyataan yang keras dan membuatnya harus bersedia tinggal di rumah kontrakan kecil. Untung saja ketiga anaknya telah memiliki rumah sendiri dan hidup memadai.

***

Setelah membaca kembali warkat pos yang dikirimkan Goentoro, kata-kata “kelapangan dalam ruang dan hati” senantiasa melekat dalam benak Pardosi. Tanpa ada yang bertanya ia mengangguk dan membenarkan.

“Kelapangan dalam ruang dan hati” barangkali hanya milik masa lalu. Bukan sekarang atau masa depan nanti. Apakah Goentoro, yang suka menulis puisi itu, juga menyadari hal ini. Di mana dia sekarang?

***

Sebuah noktah bergerak ke arahnya. Dengan tidak sepenuh hati ia mengamati noktah yang terus bergerak itu. Makin lama noktah itu makin memperlihatkan wujudnya. Seorang manusia yang bergerak mendekatinya. Buka dasar, pikir Pardosi sepagi ini sudah ada orang yang akan membeli suvenir yang dijualnya. Tiba-tiba ia mendengar namanya dipanggil. Pardosi membuka telinganya lebar-lebar. Apakah ia tidak salah dengar? Ia juga memusatkan pandangannya.

“Pardosi, ini aku, Goentoro.”

Pardosi tidak yakin akan pendengarannya. Ia melepas kacamatanya dan menggosok kedua matanya untuk meyakinkan dirinya bahwa sebenarnya orang itu yang memanggilnya. Tapi Goentoro, mengapa harus Goentoro?

“Pardosi, ini aku. Goentoro,” ujar laki-laki itu. Usianya sebaya dengan Pardosi.

Aneh, ketika Goentoro mendekat, Pardosi menyambutnya dengan dingin. “Mimpi apa Goen kau ke sini?”

Tanpa terkejut sedikit pun, Goentoro yang mengenal orang berhati lapang itu sejak muda menjawab dengan enteng.

“Aku dengar dari Damiri, kau sudah lama kembali ke kota kelahiranmu ini. Karena itu, aku datang. Dan tidak sulit mencarimu. Resepsionis hotel tahu bahwa toko suvenirmu tidak jauh dan selalu ramai. Damiri juga mengatakan begitu. Ternyata namamu sangat dikenal di kota kecil ini.”

Setelah itu, Goentoro dan Pardosi berangkulan lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pardosi yang semula tampak dingin sebenarnya ingin menyembunyikan kegembiraannya karena kedatangan sahabatnya itu. Di luar dugaan. Benar-benar di luar dugaan Pardosi, ia akan bertemu lagi dengan Goentoro.

Lama tak bertemu, keduanya saling bertanya kabar masing-masing. Goentoro telah menyerahkan perusahaan penerbitan miliknya di Jakarta untuk dikelola anaknya. Dengan uang tabungannya dan hasil kebun kopinya, ia sering berkunjung ke berbagai tempat yang belum pernah dikunjunginya. Terakhir ia memang ingin bertemu dengan Pardosi setelah Damiri datang menemuinya di Jakarta. Apalagi di kota kecil itu sedang berlangsung festival promosi wisata, khususnya untuk orang asing.

Sejak pulang dari Tanah Seberang, Pardosi berdiam dulu di sebuah kota besar, bekerja sebagai guru sekolah, mengajar bahasa Inggris. Kemudian ia memutuskan kembali ke kampung halaman di tepi danau ini. Semula, di kota kecil ini, ia bekerja sebagai pemandu wisata. Kemudian ia beralih profesi menjadi penjual suvenir.

“Di mana kau menginap, Goen?”

“Di hotel itu,” ujarnya sambil menunjuk ke arah hotel yang dimaksudkannya.

“Ah, mengapa repot-repot, menginap saja di rumahku. Tidak jauh, kok, dari sini. Ayo, angkat kopermu.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Pardosi mengatakan sesuatu kepada penjual suvenir yang membantunya.

“Dulu, di awal revolusi kemerdekaan, Bung Karno ditahan Belanda di gedung peninggalan penjajah itu,” ujar Pardosi sambil menunjuk rumah pengasingan yang tidak jauh dari tempat mereka berbicara. Bangunan itu masih terpelihara dengan baik. Tapi tidak lama beliau di pengasingan itu. Di mataku, gedung itu bersejarah. Tapi sejak Bung Karno tidak lagi ditahan di sana, cuma seorang presiden republik yang pernah berkunjung ke sini. Berkali-kali festival danau diadakan di kota kecil ini, tetapi hanya pejabat lokal yang datang. Danau yang terjadi karena ledakan gunung berapi puluhan ribu tahun lalu dan mengguncang dunia itu tidak ada artinya bagi mereka.”

“Dulu Goen, ketika kau menginap di rumahku di Tanah Seberang, kau beberapa kali mendengar aku menyanyikan lagu Tao Na Tio dengan iringan gitar. Kau mendengarnya dengan sungguh-sungguh, walaupun tidak memahami maknanya. Itu sebuah lagu kerinduan kepada sebuah danau yang airnya jernih. Itulah danau yang membentang di depan kita ini. Danau Toba, tanah kelahiranku.”

Goentoro tahu Pardosi sedang gundah. Ia merasa kampung halamannya tidak dipandang sebelah mata pun oleh para petinggi negeri ini. Melihat Goentoro masih belum menjawab, Pardosi bertanya lagi.

“Bagaimana, mau kau menginap di rumahku? Yus pasti senang sekali menyambutmu. Istriku senang pada sejumlah sajak yang kau tulis.”

Tanpa menunggu lama, Goentoro segera menjawab.

“Oke, aku siap.”

Mereka segera meninggalkan pasar penjualan suvenir, menuju hotel tempat Goentoro menginap. Setelah mengambil kopernya dan membayar biaya hotel, mereka berdua berjalan kaki menuju rumah Pardosi yang jaraknya sekitar tiga ratus meter dari sana.

“Wah, rumahmu ini sama luasnya dengan rumahmu di Edgware dulu. Bedanya cuma satu, tidak ada pohon apel di belakang rumah. Aku ingat betul alamat rumah itu, 34 Manor Park Gardens.”

Pardosi tersenyum ketika istrinya muncul dan memeluk Goentoro. Seorang sahabat telah datang menemui sahabat lama.

“Aku teringat kembali pada kata-kata yang kutulis di warkat pos yang kukirimkan kepadamu dulu.”

“Kata-kata yang mana?” Pardosi pura-pura bertanya.

“Soal kelapangan yang kalian miliki. Aku tidak mungkin akan lupa karena kata-kata itu adalah sebuah larik dalam sajakku, setelah aku menuliskannya di warkat pos yang kukirimkan kepadamu.”

Pardosi dan istrinya tersenyum. Secara lengkap, sajak itu pernah mereka baca di sebuah majalah sastra yang terbit bulanan. Sajak sederhana yang mudah dipahami dan sangat bersahabat.

“Kau masih menulis puisi, Goen?”

“Masih.”

“Wah, hebat. Masih suka pada sajak-sajak Allen Ginsberg dan Jack Kerouac?”

“Masih. Aku senang pada sajak-sajak Ginsberg, terutama tentang Perang Vietnam. Tapi aku tidak suka pada sajaknya yang kontroversial, Howl. Aku rasa sajak itu jorok. Sajak-sajak Kerouac juga tidak semua aku sukai. Namun, ada yang sangat membekas dalam diriku. Dua larik puisi Kerouac berjudul 42nd Chorus dalam ‘San Francisco Blues’ sangat aku senangi. Dia mengungkapkan sikapnya dengan mengatakan ‘I better be a poet/ or lay downdead’.”

“Jangan-jangan karena kedua larik sajak itu kau memilih tetap menjadi penyair,” kata Pardosi sambil tertawa.

Goentoro hanya tersenyum.

“Aku rasa tidak. Tanpa kedua larik Kerouac itu pun, aku memang senang menulis puisi sejak dulu. Tersiksa rasanya kalau berhenti menulis puisi. Buktinya, ketika menulis surat untukmu di warkat pos itu, aku menulis sebaris sajak. Sajak sebaris itu terasa sangat mengganggu dan membebani kalau tidak kutulis dan kukirimkan padamu.”

Setelah tiga hari menginap di rumah Pardosi, Goentoro melanjutkan perjalanannya ke berbagai kota lain. Hubungan terputus karena keduanya tidak saling berkabar, walaupun mereka menyimpan alamat masing-masing, termasuk surel yang membuat hubungan semakin cepat.

***

Malam itu Goentoro menerima surel dari Yus, istri Pardosi. Ia menyampaikan kabar duka. Pardosi tidak dapat diselamatkan dalam kecelakaan yang banyak menelan korban itu. “Ia berkubur di sana, di dasar danau yang dibanggakannya.” Itulah kalimat terakhir Yus kepada Goentoro. Penyair itu terkejut. Lama ia termenung. Ia memang mendengar kabar tentang kecelakaan di Danau Toba tersebut. Sebenarnya, saat itu juga ia ingin menghubungi Pardosi. Tetapi ia menundanya, kebiasaan yang tak pernah bisa dilawannya. Larik-larik puisi yang telah lama mengendap di kepalanya lebih kuat mendesaknya dan memaksanya untuk menulis puisi itu lebih dulu. ***

 

Jakarta, 27 Februari 2019-16 April dan 30 Mei 2020.

Sori Siregarmenerima hadiah dari Badan Bahasa pada 28 Oktober 2019 dan Piagam Penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.