Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 08 Juli 2020)

 

1.

Kami memiliki tujuh ekor kucing kampung. Sebagian adalah hasil temuan putri-putri kami di jalan. Mereka gampang terenyuh kalau melihat kucing tak terurus di jalan. Meskipun begitu, kami tak memelihara mereka dengan memberikan mereka rumah, rutin memandikan mereka, atau bahkan memberi mereka makanan kucing kemasan. Mereka akan makan di jam-jam makan kami juga. Sebagaimana perangai kucing yang menyebalkan, mereka masih kerap buang kotoran sembarangan (baca: di dalam rumah).

Suatu hari, kucing-kucing itu tidak datang dan tentu saja tidak lagi buang kotoran sembarangan. Alih-alih merasa tenteram dan damai, kami tahu ada yang tidak beres. Dimulakan putri-putri kami yang sibuk mencari mereka ke sana kemari, lalu istri saya, lalu saya sendiri.

Kucing-kucing itu pulang. Tapi rasa syukur kami tidak sepadan dengan kepanikan mencari mereka. Kedatangan mereka membuat rasa kehilangan tadi menguap serta-merta. Tak ada peluk cium atau menu makan istimewa buat mereka yang baru kembali. Tidak ada. Tidak ada.

2.

Hal yang relatif sama saya rasakan ketika saya melakukan perjalanan ke luar kota untuk waktu yang relatif lama, bisa sepekan atau hitungan bulan. Perasaan rindu itu meriap-riap dalam kepala. Apalagi saban melihat foto dan video mereka di galeri ponsel, semangat menuntaskan pekerjaan itu berkali-kali lipat! Maka, teleponan dan video call pun tak karuan kali dilakukan, baik di waktu luang, maupun dengan mencuri-curi waktu pekerjaan.

Baca juga: Tidak Adil (kepada) Menulis – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 01 Juli 2020)

Tapi, ketika raga ini sudah pulang. Semuanya tuntas sudah. Setelah pelukan erat dan ciuman bertubi-tubi, semuanya kembali seperti semula. Cepat sekali kembali seperti semula. Saya masih meneriaki Dinda (8) dan Dkayla (7) yang susah mandi waktu sore, salah baca huruf saat mengaji, atau lupa tidur siang karena keasyikan bermain dengan kucing-kucing.

Tapi, swear! Saya masih cinta. Saya masih sayang. Saya tentu tak mau kehilangan. Meski … perasaan itu melayang entah ke mana ketika kami berdekatan, ketika kami bersama-sama.

3.

Sebagaimana biasa kalau maagnya kambuh, istri saya lebih banyak di tempat tidur. Otomatis urusan anak-anak jadi bagian saya. Kemarin siang Dkayla, putri kedua kami berlarian dari dapur dan berbisik pada kakaknya, Dinda begitu tiba di ruang tamu. Mereka tampak cengengesan.

“Kenapa, Dkay?” Refleks saya menutup “Arapaima” Intan Nurhaeni yang hampir ditamatkan.

“Alhamdulillah Bunda dah sembuh, Yah!” seru Dkay. Sebagaimana Dinda, matanya berbinar-binar.

Memungut Kesementaraan ilustrasi Istimewa
Memungut Kesementaraan ilustrasi Istimewa

Saya mengerenyitkan dahi, masih belum mengerti, tapi tak urung melangkahkan kaki juga ke dapur.

Setiba di dapur, baru mengertilah saya. Istri saya sedang merepet—ngerumel tak henti—mendapati dapur yang berantakan sepeninggalnya dua hari ini. Oh anak-anak hari ini cerdasnya bukan main.

Bagi orang kebanyakan atau ilmu kedokteran, kesehatan seseorang bisa dilihat dari kondisi tubuh yang fit atau wajah yang memancarkan kegembiraan, tapi tidak untuk Dkay dan Dinda. Bagi mereka, kalau maknya sudah merepat-repet tak henti, fiks sembuh!

4.

Peristiwa-peristiwa di luar kebiasaan, bukan saja kerap melempar kita ke keadaan yang disulut emosi alam bawah sadar—perasaan kehilangan, kerinduan tanpa permisi, atau ketaklaziman yang komedi—yang kerap menggiring kita menjadi banyak hal secara sementara: tiba-tiba melankolis, tiba-tiba bersalah, tiba-tiba tertawa. Sesuai namanya, sementara dan tiba-tiba, usianya pun tak panjang. Sayangnya, kefanaan itu adalah titik-titik kesadaran yang sangat mahal dan kuasa membuat kita merenung.

Baca juga: Belasungkawa Media Sosial – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 24 Juni 2020)

Tapi, apa yang bisa diharapkan dari sesuatu yang tidak langgeng. Kejernihan? Keadilan? Kesadaran? Pengakuan? Kalaupun iya, semua hanya letusan kecil yang menggelikan sepanjang perjalanan kehidupan.

Saya sengaja mengambil kisah-kisah kecil dalam keluarga saya, kisah-kisah yang saya alami sendiri, kisah-kisah yang mungkin bagi sebagian besar orang tidak akan dipungut menjadi hikmah, sebab … dengan membereskan hal-hal yang kecillah, sesuatu yang besar terbangun dengan sendirinya. Sebab dengan menyadari kesementaraan-kesementaraanlah, kita jadi tahu kalau hiruk-pikuk kehidupan tidak lebih tidak kurang hanya tentang memperpanjang durasi kelalaian.

Wallahu ’alam.

 

Lubuklinggau, 9 Juli 2020

BENNY ARNAS lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Novel audionya “Bulan Madu Matahari” sedang tayang di Instagram @bulanmadumatahari dan Youtube Benny Institute. Dalam waktu dekat novelnya “Ethile! Ethile!” akan tayang di platform @Kwikku.