Cerpen AM Lilik Agung (Republika, 05 Juli 2020)

Tentang Amira ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Tentang Amira ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Perjalanan sejauh 210 kilometer yang membentang antara Amsterdam-Brussel menjadi tidak relevan lagi ketika duduk berjarak enam meter di sampingku ada seorang gadis berambut pirang dengan anting biru di telinganya. Pemilik suara sopran dengan bahasa Inggris yang terjaga diksinya, bercampur bahasa Indonesia patah-patah, membuat diskusi siang ini menjadi penuh warna.

Dia mengapresiasi penampilan penari Eko Suprianto bersama gadis-gadis asli Halmahera yang memang tampil memukau. Selanjutnya, kritikan mahahebat ditujukan kepada seniman lainnya yang membuat telinga orang-orang Indonesia menjadi merah tiada berkesudahan.

“Kalau negeri kalian tidak siap menjadi negara tamu pada ajang bergengsi Europalia*) mendingan tidak usah deh tampil di Brussel. Menampilkan seni tradisi kok tampak kuno tanpa keindahan. Apalagi, seniman-seniman yang berlabel kontemporer itu. Kelihatan seperti seniman kemarin sore yang lagi belajar menciptakan karya seni. Duit rakyat yang besar untuk ajang Europalia ini kan bisa untuk membeli makanan bergizi untuk anak-anak yang kekurangan nutrisi.” Ia menutup penuturannya.

Duduk kembali di kursi dengan ekspresi dingin menatap para narasumber diskusi yang tak lain seniman hebat dan senior dari negeriku yang tampil berderet di kursi depan. Diskusi Festival Seni Budaya Europalia menjadi panas. Berlawanan dengan cuaca di luar Bozar Centre for Fine Art Brussel, tempat diskusi berlangsung yang memulai musim dingin.

“A m i r a . . . Amira….” Aku berjalan cepat mengejar dia yang keluar dari Bozar sehabis diskusi budaya kelar digelar.

Dia menghentikan langkah. Membalik tubuh, memandang sosokku. Kuulurkan tangan padanya. “Bima,” kukenalkan nama padanya. “Aku dari Indonesia. Senang ketika kau begitu galak mengkritik seniman-seniman negeriku yang tampil di Europalia.”

“Ada kedai kopi khas Belgia di Place de Palais. Kebetulan kau orang Indonesia, kita lanjutkan diskusi di kedai kopi itu.” Amira menawarkan diri. Sebuah tawaran yang langsung aku setujui.

Duduk pada ujung meja sebelah kiri yang menjorok di jalanan, Amira memilih secangkir caramel macchiato dengan koffiekoeken, kudapan khas Belgia. Musim dingin yang mulai menusuk tulang cocok dengan cokelat panas bercampur sedikit krim. Minuman itu yang aku pesan.

Kok kamu tahu namaku? Langsung memanggil namaku, Amira.” Dia memulai percakapan.

“Ketika moderator diskusi bertanya namamu, kamu langsung menyebut sebuah nama.”

“Bima,” dia memandang wajahku, “Nama tokoh wayang ya?”

“Benar. Keturunan Pandawa nomer dua. Kau sendiri suka wayang?”

“Ya sekedar tahu saja. Kebetulan ketika aku kecil dulu ayah suka menceritakan padaku dongeng-dongeng dari leluhurnya. Salah satunya cerita wayang. Ayahku seperti kamu. Asli dari Indonesia. Bermigrasi ke Amsterdam dan kemudian menikahi ibuku, orang Belanda.” Amira mengiris koffiekoeken, memasukkan perlahan ke bibirnya.

“Ada darah Indonesia dalam diriku yang menyebabkan aku datang ke Brussel menonton Europalia. Pameran tahun ini Indonesia menjadi tamu kehormatan.”

“Ketika diskusi tadi, kamu sangat galak.” Kutatap wajah Amira.

“Tapi benar kan apa yang tadi aku kritik?” Amira meraih cangkir caramel macchiato-nya.

“Aku baru menonton ‘Cry Jailolo’-nya Eko Suprianto. Lalu, ikut diskusi. Jadi, aku belum bisa menjawab pertanyaanmu.” Gantian aku menyeruput cokelat panas.

“Tadi pagi aku sampai di Brussel. Bozar dibuka, langsung aku masuk ruang pamer. Khusus aku amati karya-karya seniman dari Indonesia. Dari yang tradisi, kontemporer, kreasi baru, hingga kolaborasi. Dari pertunjukan tari, teater, musik, film, hingga lukisan dan karya-karya instalasi. Beberapa memang luar biasa. Hanya sedikit saja sebenarnya yang tidak layak ditampilkan. Namun, karena Indonesia ditunjuk sebagai negara tamu, jadi wajib dong untuk tampil prima. Itu yang menyebabkan aku sangat keras mengkritik seniman Indonesia.”

“Maaf, kita baru saja kenal. Boleh aku tanya sesuatu?” aku alihkan pembicaraan.

“Ya, silakan.”

“Kau seniman?”

“Bukan. Aku kuliah di Vrije Universiteit Amsterdam ambil Sejarah Asia Timur. Tidak secara khusus mempelajari sejarah Indonesia. Namun, karena hubungan Belanda sangat erat dengan Indonesia, ditambah ayahku asli orang Indonesia, maka aku banyak membaca referensi tentang Indonesia. Makanya aku tahu kalau negerimu sedang disibukkan masalah stunting, gizi buruk bagi anak-anak. Aneh juga. Pendapatan per kapita sudah tembus 5.000 dolar Amerika, masih ada anak yang kena stunting.”

Amira memandang tajam wajahku. Ah, mata biru Amira. Sesinis-sinisnya dia tetap saja tampak ayu.

“Kalau tidak dihisap oleh nenek moyangmu, mungkin pendapatan rakyat negeriku hari ini sudah pada angka 20 ribu dolar per kapita.” Sengaja kubuka diskusi yang panas.

“Aku kira, kalau tidak ada bangsaku di negerimu, rakyat negerimu hari ini masih bergelimpangan dalam kemiskinan. Mana yang lebih kejam, nenek moyangku yang menjajah negerimu atau para raja dan golongan ningrat lainnya yang menjadi penguasa masa lalu di negerimu?” Amira menjawab telak pertanyaanku.

“Kita baru kenal hari ini. Alangkah bagusnya bila kita bercerita tentang kapitalisasi seni, digitalisasi bisnis, atau Coldplay yang menggelar konser di kota-kota di Eropa.” Tidak kuteruskan diskusi panas itu.

“Ya… ya… itu lebih baik. Kamu sendiri belum memperkenalkan diri padaku.”

“Empat tahun aku di Leiden. Aku kuliah di University of  Leiden ambil Ekonomi Bisnis. Ini tahun terakhir aku kuliah. Libur kuliah satu minggu, aku ke Amsterdam. Dan seperti kamu, karena Europalia tahun ini negara tamunya Indonesia, aku melanjutkan perjalanan ke Brussel untuk menontonnya.” Aku bercerita.

“Salut padamu, Bima. Kamu mahasiswa bisnis yang suka dengan kegiatan budaya.”

Lalu, kami saling bercerita tentang lukisan Salvator Mundi yang berharga 400 juta dolar Amerika, kebijakan politik Trump yang membuat dunia kalang kabut, hingga sepak bola Belanda yang mulai bangkit lagi.

“Bima, setengah jam lagi kereta menuju Amsterdam akan berangkat. Senang bertemu denganmu.” Amira melirik jam tangannya.

“Aku juga akan balik ke Amsterdam. Kita bisa berbarengan,” aku menimpali.

Berdua kami berkereta menuju Amsterdam. Amira turun di stasiun Amsterdam. Aku berganti kereta menuju Leiden, 40 kilometer dari Amsterdam.

***

Pemberitahuan dari ibu melalui ponsel sangat jelas, “Bima, ibu mau bercerita padamu. Ini tentang ayahmu. Ayahmu tinggal di Amsterdam. Baru saja ibu dapat kabar, ayahmu sakit keras. Kanker hati stadium empat bersarang di tubuhnya. Tengoklah. Peluklah. Dan maafkanlah ayahmu. Bagaimanapun juga dia adalah ayahmu.”

Ruang tabu itu akhirnya terkuak. Ibu tidak pernah bercerita tentang suaminya, ayahku. Pun aku tidak pernah bertanya siapa ayahku, suami ibu. Sedari aku bayi, ayah pergi. Aku tiada pernah bersua. Aku tidak ingin mencari dan ibu tiada minat memberitahu. Sama persis, aku tidak ingin tahu mengapa kedua orang tuaku berkonflik hingga akhirnya berpisah. Dan ayah ternyata pergi sangat jauh; ke Amsterdam. Di Amsterdam, ayah menikah lagi dan memiliki satu anak. Ibu memilih hidup sendiri, membesarkan diriku.

Dari Leiden aku berkereta setengah jam lamanya menuju Amsterdam. Selasar Rumah Sakit Antoni van Leeuwenhoek, rumah sakit kanker terbesar di Eropa. Khas bangunan umum di Belanda; bersih, hijau, dan tertata rapi. Lantai dua, bangsal nomer 4. Aku melangkah menuju kamar paling ujung, nomer 420. Pada kamar itu ayah dirawat. Napasku berdegup sangat kencang. Metabolisme tubuhku tiba-tiba menjadi kacau. Pada umur 23 tahun, baru pertama kali ini aku akan bertemu ayah. Ayah yang tidak gagah. Ayah yang lemah. Dengan aneka selang menancap ditubuhnya.

Pintu aku buka. Bibirku terbuka lebar, namun hanya lirih menyebut nama Sang Pembuat Hidup. Berjarak lima meter. Langkah kakiku terhenti. Ada sesosok gadis dengan rambut pirang menangis memeluk lelaki tua yang terbujur dengan aneka selang. Europalia. Bozar Centre for Fine Art Brussel. Secangkir caramel macchiato dengan kudapan koffiekoeken. Dia pemilik wajah ayu berambut pirang dengan anting biru ditelinga. Dia adikku. Adik berlainan ibu. Dia memeluk ayahku. Dia, Amira! ■

 

*) Europalia adalah festival budaya dan seni internasional dua tahunan dengan pusatnya di Belgia. Berlangsung pertama kali pada 1969. Pada 2017 Indonesia menjadi tamu kehormatan.

 

AM Lilik Agung adalah trainer dan konsultan bisnis. Menulis ulasan bisnis dan manajemen pada berbagai media cetak dan online . Menulis satu novel (Awan) dan tiga kumpulan cerpen (Starbucks Suatu Senja, Orang-Orang Kampus, Manusia Urban ).