Cerpen Marwanto (Jawa Pos, 05 Juli 2020)

Pulang untuk Lanang ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)
Pulang untuk Lanang ilustrasi Budiono/Jawa Pos

DUA puluh dua tahun bukan waktu yang pendek. Seumpama anak laki-laki, sudah terlihat kekar dan tinggi. Mungkin setinggi ayahnya. Ah, bisa jadi lebih. Seperti halnya Lanang yang lahir pada era reformasi—ketika Pak Harto digantikan B.J. Habibie.

Namun, di foto itu Lanang masih terlihat imut. Dipeluk perempuan cantik muda usia. Sepintas keduanya seperti kakak beradik. Bukan. Mereka bukan kakak beradik, melainkan ibu dan anak. Foto itu dikirim dari pelosok desa nun jauh di timur sana yang berjarak 570 kilometer dari tempatnya sekarang: sebuah kontrakan sederhana di jantung ibu kota.

“Untuk obat rindu ya, Mas. Ini, jagoanmu sudah mau lulus SD. Rencana, tahun depan Lanang aku masukkan di SMP Ngebak. Masih ingat, kan? SMP tempat kita sekolah dulu.”

Demikian bagian awal surat yang menyertai foto ukuran 3R. Dikirim lewat kantor pos sebelas tahun silam. Bandot, lelaki setengah baya itu, sangat terhibur tiap membaca surat dari istrinya. Hatinya merasa disapa orang terdekat, keluarga tercinta. Bagi orang yang hidup di rantau, pupuk paling menyuburkan semangat adalah mendapat kabar gembira dari keluarga.

Sepucuk surat yang berisi tulisan tangan dan foto itu pun menjadi sangat berarti. Ya, meski waktu itu Bandot sudah punya alat komunikasi. Juga keluarganya yang ada di desa. Namun, telepon genggamnya cuma bisa untuk ngobrol dan kirim pesan singkat alias SMS. Sebelas tahun lalu ngobrol lewat telepon genggam atau kirim SMS sudah cukup sebagai pelepas rindu.

Kiriman surat beserta foto itu menunjukkan keadaan keluarganya di desa baik-baik saja. Tatik, perempuan yang dia nikahi tak lama setelah lulus SMA itu, kini kian anggun keibuan. Dan, ah, si Lanang mulai memancarkan aura kegantengan. Anak laki-laki yang lahir hari Kamis Legi itu secara postur mirip ayahnya. Sedang kulitnya seperti Tatik, putih bersih.

Sebelumnya, Bandot memang pernah menerima kiriman foto dari istrinya. Saat itu Lanang baru berusia setahun. Di foto itu istrinya tampak menuntun Lanang untuk latihan berjalan. Tapi, foto itu hilang di rumah kontrakan lama, yang dia tinggalkan pada pagi buta. Ketika serombongan orang berseragam menjemputnya dengan paksa. Melalui proses hukum yang singkat, akhirnya Bandot diputus bersalah. Dia pun mendekam di hotel prodeo dengan pasrah.

Tentu itu bukan cita-cita Bandot. Ketika meninggalkan desanya pada bulan kelima di tahun 1998, sepuluh hari menjelang anaknya lahir, dia membayangkan akan sukses mengadu nasib di Jakarta. Berbekal ijazah SMA dan beberapa piagam kursus keterampilan, kepergiannya dilepas air mata istrinya.

“Apa yang kau harap di Jakarta, Mas?”

“Cari duit yang banyak. Untukmu, juga buah hati kita…”

Bagus Sudarto, biasa dipanggil Totok, dengan sangat gemas lalu memeluk istrinya. Sumiyati, gadis yang pernah menjadi bintang kelas dengan sapaan Tatik itu, membalasnya dengan pelukan hangat. Dia merasa mendapat perlindungan—yang dia harapkan hingga melahirkan buah hati tercinta. Namun, sang pelindung itu sebentar lagi akan melanglang ke ibu kota.

“Mas Totok tidak ingin menunggu buah hati kita lahir?”

“Sukir sudah menungguku terlalu lama. Semoga usahanya di ibu kota tidak kena dampak krismon.”

Sehari sebelum berangkat, Totok sempat menitipkan nama untuk calon buah hatinya. “Jika dia lahir laki-laki, berilah nama Lanang Setyawan. Jika perempuan, Putri Setyawati…”

Akhirnya sebuah keberangkatan yang tak diinginkan terjadi. Keberangkatan Totok ibarat perjalanan di ujung senja yang gelap disapu hujan lebat diiringi kilat menyambar serta gelegar halilintar. Dan listrik pun padam!

Begitu menginjakkan kaki di ibu kota, Totok memang dijemput Sukir di Stasiun Pasar Senen. Tapi, apa yang dia dengar pertama kali dari karibnya itu?

“Usaha Om Pras banyak yang tutup akibat krismon…”

“Terus, aku harus kerja apa di sini ?”

“Jangan khawatir…!”

Mereka meninggalkan stasiun, menuju pusat perbelanjaan Tomang, Jakarta Barat –sebuah kawasan pertokoan milik Tionghoa. Di warung kopi yang biasa dipakai mangkal tukang ojek, Sukir mengenalkan Totok kepada Mulyadi, Junaedi, dan Saparudin. Seharian mereka ngobrol di rumah Mulyadi tentang Jakarta yang lagi kacau dan kisruh. Obrolan pun sampai larut. Mereka tak beringsut.

Keesokan harinya, bersama puluhan orang yang entah datang dari mana, mereka berlima terlibat penjarahan di kompleks pertokoan Tomang: Roxy Mas dan Topas. Berkodi-kodi kain dan pakaian berhasil mereka bawa pulang. Lusa mereka bergerak ke arah Glodok: Plaza Orion dan Harco Glodok. Aneka barang elektronik mereka amankan. Awalnya Totok gagap, tapi tak bisa berbuat banyak. Nalarnya lebur dalam kerumunan yang sedang kalap akibat kesulitan ekonomi dan dorongan provokator kelas kakap.

Memang Totok dan temannya tidak ditangkap. Tidak ada proses hukum terhadap massa yang melakukan penjarahan. Saat itu, di senja kala kekuasaan Orde Baru, warga menyebut sebagai “Hari Kebebasan”. Meski tidak menjalani proses hukum, Totok menjadi pribadi yang lain. Benih kriminal tumbuh dalam dirinya. Bersama geng Lima Sekawan, dia pun masuk lembah hitam. Totok lalu akrab dipanggil Bandot. Keluar-masuk bui menjadi tradisi. Tapi, satu hal yang tak pernah dia lupa, tiap bulan selalu mengirim nafkah ke desa, untuk Tatik dan Lanang tercinta.

Dua tahun lalu Bandot pindah dari Tomang ke Kemayoran. Di rumah kontrakan yang baru, dia ingin menjalani hidup normal. Bekerja sebagai satpam di sebuah bank swasta. Tapi, kenyataan hidup membuatnya sulit untuk kembali, untuk pulang ke hulu nurani. Bandot menjalani hukuman lagi karena bekerja sama dengan sesama preman membobol bank tempatnya bekerja.

Sudah berkali-kali Bandot menjalani hukuman. Tapi, kali ini dia merasakan sesuatu yang lain. Dia sering murung dan tak banyak bicara. Menyendiri. Acara pengajian yang digelar di kompleks rutan seminggu sekali menjadi hobi dan rutinitas yang menghibur hatinya.

“Bapak, Ibu, Saudara sekalian….. Apa sekali waktu Anda masih ingat keluarga? Iya, keluarga yang di rumah? Ingatlah mereka, bayangkan saat Anda dulu bersama-sama dengan mereka di rumah. Pasti hati kalian akan terketuk. Karena jalan terbaik untuk pulang adalah bertemu keluarga.”

Ustad itu masih muda, tapi kata-katanya menghunjam hatinya. Bandot pun meneteskan air mata.

Sejak itu dia punya niat untuk pulang, bertemu Tatik dan Lanang. Entah kapan, karena dia kini masih harus mendekam di rutan. Keinginan yang berlawanan dengan kenyataan. Sampai akhirnya dia memperoleh sebuah kabar: Seorang menteri punya kebijakan melepas napi di masa pandemi. Berkat kebaikan hati Pak Laoly, Bandot pun berseri.

Sepulang dari rutan, dia banyak mengurung diri di kamar: melihat kiriman istrinya sebelas tahun silam. Cukup lama Bandot menatap foto anak dan istrinya. Lalu membuka lipatan surat, membaca kalimat yang tertera pada bagian akhir, “Aku selalu menunggumu, Mas. Peluk hangat, cintaku dunia-akhirat…”

Keinginan untuk pulang kadang dibarengi keraguan: Mungkinkah anak dan istrinya menerima? Ribuan rasa berkecamuk, bercampur aduk dalam hati dan pikirannya. Dan, hanya cinta dan tanggung jawab yang bisa menghapus keraguan itu. Dua hal yang selalu dia rawat meski selama ini hidupnya bergumul di limbah hitam. Di saat keraguan sudah lewat, kini kendala pulang tinggal satu: aturan pemerintah yang melarang mudik!

Pintu kamar diketuk orang. Junaedi, karibnya sejak di Tomang, menemui Bandot yang sedang memegang foto dan surat.

“Apa tekadmu telah bulat, Kang…?”

“Sudah. Aku harus pulang. Sekarang!”

“Apa kamu tidak khawatir dianggap pembawa petaka, penyebar korona?”

“Apa…? Aku hanya membawa cinta dan tanggung jawab! Lain itu tidak!!!”

“Tapi, Kang…”

“Jangan panggil aku Bandot kalau tidak bisa pulang…!!”

Junaedi tak menyerah. Dia terus menasihati teman dekatnya itu. Tapi, Bandot tidak peduli. Bahkan sibuk menyiapkan bekal perjalanan ke kampung, ke desa tercinta. Saat Junaedi pamit mau menyeduh kopi, Bandot diam-diam pergi. Sepeda motor dituntun hingga ujung gang, untuk kemudian diajak lari tunggang-langgang.

Beberapa portal penjagaan dan pos polisi berhasil dia kelabui. Baik dengan sekadar adu mulut hingga kepalan tangan yang terpaksa harus melayang. Dalam hati Bandot berjanji, itu tindakan kriminal terakhir demi bertemu Tatik dan Lanang.

Sepagi itu dia memasuki perbatasan Jateng-DIY. Dia tercengang dengan sejumlah bangunan fisik: jalan lebar dan mulus, rest area yang luas, pintu gerbang megah. Infrastruktur benar-benar berubah, batinnya. Dia pun ingat tentang pembangunan besar-besaran di kabupaten tercinta. Ya, meski tinggal di rantau, Bandot tak pernah luput mengakses informasi perihal tempat asalnya. Kini, sebentar lagi, dia akan memasuki kawasan bandara. Kabupaten yang saat dia tinggalkan dikenal sebagai daerah tertinggal kini telah memasuki era baru.

Bandot kian mantap melangkah pulang, mewujudkan impian baru bersama Tatik dan Lanang. Dia merasa semesta mendukung impiannya. Jika belum pindah, rumah Tatik (tentunya juga rumah mereka bertiga) hanya berjarak tiga kilometer dari pintu bandara yang diresmikan Jokowi pada April tahun lalu dan mulai beroperasi secara penuh Maret tahun ini.

Di jalan menuju arah bandara, Bandot melihat seorang perempuan dihadang begal. Refleksnya menuntun untuk memberikan pertolongan. Namun, niat itu dia urungkan. Sebab, telah muncul lelaki yang lebih muda dan gagah darinya. Di atas kertas, lelaki itu akan dengan mudah mengatasi pembegal. Bandot hendak berlalu, tapi sekali lagi dia melihat perempuan itu: wajah ayu yang tak asing baginya.

Pembegal kian terpojok. Lelaki itu sepertinya hendak menyiapkan pukulan terakhir yang mematikan.

“Stop! Jangan Lanang, dia sudah menyerah. Beri maaf padanya.”

“Siapa kau?”

Bandot sulit menjelaskan. Dia hanya tak ingin Lanang mengikuti jejaknya.

“Mas, Mas Totok?!” suara perempuan itu memanggil.

Sebelum Bandot menjawab, terasa ada orang yang memukul kepalanya dari belakang. Mungkin dia kawan pembegal yang tadi bersembunyi.

“Kang Bandot, bangun Kang, ini aku buatkan kopi.”

“Junaedi…?”

Bandot segera menyeruput kopi buatan Junaedi. Mestinya minum itu membuat emosinya luruh. Nyatanya, dadanya tetap bergemuruh: bertekad pulang demi menuntaskan impian.***

 

Wisma_Aksara, 2020

MARWANTO. Lahir dan menetap di Kulonprogo. Bergiat di komunitas Lumbung Aksara (2006-2010), Dewan Kebudayaan Kulonprogo (2010-sekarang), Forum Sastra dan Teater Kulonprogo (2015-sekarang), serta komunitas Sastra-Ku (2019-sekarang).