Cerpen Mugi Astuti (Suara Merdeka, 05 Juli 2020)

Amanat Bapak ilustrasi Hangga - Suara Merdeka (1)
Amanat Bapak ilustrasi Hangga/Suara Merdeka

“Ibu, sakit ya, Bu?” Tiba-tiba saja ia sudah berada di depanku, mengelus pipiku yang merah bekas tamparan sang bapak barusan.

Ia mungkin terbangun gara-gara dentam daun pintu yang dibanting bapaknya. Malam ini pastilah bapaknya tak pulang lagi. Ia mengambil tisu dari kotak di meja makan. ”Bibir Ibu berdarah…,” katanya pelan sambil mengelap sudut bibirku.

“Adit…, Adit tidur lagi ya, Nak. Besok kan Adit harus sekolah. Jangan sampai terlambat,” kataku. Kuusap kepalanya.

“Ibu tidak tidur?”

Alih-alih kembali ke kamar, ia malah duduk di sampingku, menyenderkan kepala ke pundakku. Kukecup rambutnya. Bau samar stroberi dari sampo anak-anak masih terasa. “Ibu masih harus mengerjakan pesanan getuk sebentar lagi. Kau tidurlah. Ya, Nak?” Kupeluk dan kuusap pundaknya.

“Kenapa Bapak sering memukul Ibu?” tanyanya sembari menatapku. Demi melihat matanya, air mataku urung jatuh. Aku tak ingin menambah luka hatinya lagi. Aku yakin hatinya terluka setiap kali melihat perlakuan sang bapak kepadaku. Dan, aku tak ingin ia melihat air mataku. Aku berdiri, kutuntun ia menuju ke kamarnya.

“Ibu….”

“Ya, Nak?”

“Bukankah memukul tidak baik, Bu? Tapi kenapa Bapak sering memukul Ibu?”

“Jika kaurasa itu tak baik, jangan lakukan, Nak. Apalagi kepada perempuan. Kamu laki-laki, sudah seharusnya melindungi” Kubetulkan selimutnya.

“Tapi Bapak tidak melindungi Ibu.”

“Kau tidurlah, besok kita bicara lagi. Kau sudah besar, sebentar lagi SMP, tahu mana yang boleh kaucontoh atau tidak kan?”

Ia mengangguk. Kumatikan lampu sebelum meninggalkan kamarnya.

***

Hiruk-pikuk pasar sudah terasa, meski masih dini hari. Aku bergegas melangkah menuju ke tempat biasa menyetorkan jajanan.

“Mbak, yang kemarin masih sisa lima biji,” kata penjual makanan itu sambil mengangsurkan plastik berisi returan getuk dan uang 190.000.

La mbok dibuang aja kalau masih sisa, Mbah, atau berikan ke orang sekiranya masih bagus,” kataku sambil menata getuk di wadah yang sudah dia sediakan.

Ya gak penak ta, mosok aku bilang sisa tapi gakada barangnya. Eh, Mbak, bisa bikin getuk tampahan gak? Ada yang pesan pakai tampah, mau buat prasmanan sunatan,” sambungnya.

Aku menghitung ulang getuk-getuk dalam kemasan mika kecil itu sebelum menjawab. “Bisa, Mbah. Mau yang harga 250.000 atau 300.000?” jawabku.

Tampah cilik wae. Nanti kalau jadi pesen aku SMS kamu ya?”

Nggih, Mbah. Pareng riyin. Matur nuwun,” jawabku.

Kustater motor matikku, menekan tuas gas menuju ke penjual singkong langganan. Kuharap ia masih punya singkong jinten. Jenis singkong ini sangat bagus untuk bahan baku bikin getuk. Hasilnya lebih cantik daripada jenis singkong lain dan tentu saja getuknya lebih enak dan pulen.

Sesampai di rumah, kulihat Adit sudah rapi. Ia memang mandiri, meski anak semata wayang. Aku juga tak pernah terpikir untuk memberikan adik supaya ia tidak kesepian. Keadaan ekonomi keluarga belum stabil. Lagipula aku tak mau ada bayi lagi di rahimku.

“Adit sarapan dulu ya, Nak. Ibu sudah beli bubur ayam kesukaanmu.” Kubuka plastik kresek dan mengeluarkan bubur dalam kemasan sterofoam. Seperti biasa kuambil dulu sendok plastiknya untuk kusimpan bersama sendok plastik bubur ayam hari-hari sebelumnya. Siapa tahu suatu saat nanti aku membutuhkan banyak sendok plastik. Lagipula aku tak ingin memakai terlalu banyak barang sekali pakai. Kemajuan zaman dan teknologi tidak diimbangi dengan kebijaksanaan pelaku. Budaya buru-buru menuntut semua hal harus instan. Lalu segala sesuatu yang sekali pakai menjadi solusi. Akibatnya, sampah yang tidak bisa terurai membebani bumi. Aku tersenyum malu; aku juga salah seorang penyumbang sampah tak terurai di bumi.

Alih-alih membawa kotak makan atau termos untuk membeli bubur ayam sarapan Adit, aku enteng saja memakai kemasan sterofoam dan membuangnya bersama sampah sisa dapur. Mungkin sore ini aku harus membeli kotak makan sebelum menjemput Adit pulang sekolah.

***

Sore ini, area makam seperti biasa. Hanya beberapa warga permukiman sekitar makam sesekali melintas. Sinar matahari sudah tak begitu terik. Semilir angin membelai kamboja, merontokkan beberapa daun dan bunga.

Aku bersimpuh di salah satu kijing makam keramik berwarna hijau tua dengan tulisan nama bapakku di nisan. Kuelus tulisan nama yang tertulis di nisan itu, sebelum kuletakkan beberapa tangkai bunga di bawahnya.

“Bapak, apa kau tahu amanat yang kauberikan padaku ini terlalu berat?” gumamku.

Bayangan peristiwa itu selalu berkelebat setiap kali aku mengunjungi makam Bapak. Terbayang tangan Bapak yang lemah meletakkan telapak tangan mungilku dalam genggaman tangan Pakde Yo. Terbayang Ibu yang terisak pelan di samping tempat tidur berseprai putih dalam ruangan berbau obat. Terbayang pula Pakde Yo yang setiap Minggu mampir ke rumah untuk memberi uang kepada Ibu setelah tubuh Bapak dimasukkan ke dalam liang lahat. Baru setelah lulus SMA, semua hal menjadi jelas bagiku. Bapak sebatangkara memulai usaha bersama Pakde Yo. Dan ketika sakit, ia menitipkan Ibu, aku, dan kedua abangku kepada Pakde Yo dan istrinya. Untuk mengikat persaudaraan, akhirnya mereka menikahkan aku dengan Aswin, anak satu-satunya Pakde Yo.

Aku menghela napas. Kuelus nisan hijau tua itu sekali lagi.

Aswin tak sepenuhnya salah. Kesalahanku juga yang membuat Aswin akhirnya berubah perangai. Beberapa bulan setelah perkawinan kami, aku tak juga mau Aswin dekati. Sementara itu setiap kali pertemuan keluarga, ada saja seseorang yang bertanya kenapa aku tak kunjung hamil. Mungkin Aswin kalut hingga pada suatu malam ia pulang dalam keadaan mabuk dan memaksaku untuk melayani di ranjang. Dan, malam-malam neraka itu terus berlangsung hingga Adit lahir.

Aku tahu Aswin frustrasi. Untuk menikah denganku, ia harus meninggalkan kekasih yang sangat dia cintai. Namun aku juga tak bisa memaksa diri berbagi tempat tidur dengan seseorang yang sudah kuanggap saudara kandung.

“Bapak, aku pulang dulu.” Kukibaskan rokku dari debu. Kuelus sekali lagi nisan hijau tua itu sebelum aku melangkah pergi. Setiap Sabtu, Adit menginap di rumah Pakde Yo. Jadi aku bisa leluasa mengunjungi makam Bapak.

***

Kuketuk pintu bertuliskan “Ruang Kepala Sekolah” sebelum menekan handel pintu. Di dalam, di ruangan ini, Adit berdiri dengan kepala tertunduk. Seorang ibu dan anak perempuan duduk berhadapan dengan Ibu Kepala Sekolah.

Sejak pesuruh sekolah mengantar surat itu tadi pagi, aku sudah tahu Adit membuat masalah lagi. Dan benar saja, Ibu Kepala Sekolah mengatakan Adit memukul kepala temannya hingga berdarah garagara anak itu menyobek buku anak perempuan yang sekarang ada di ruangan ini. Sekolah akan bertindak tegas jika sekali lagi ada laporan Adit berkelahi dengan temannya.

Kuparkir motor matikku di depan tukang siomai favorit Adit, memesan dua porsi siomai goreng dan mengajak dia duduk di bangku. Ia hanya diam sejak tadi. Mukanya menunduk.

“Adit, kenapa lagi, Nak?”

Kulihat seragam putihnya kotor. Satu kancing baju bagian atas hilang dan sakunya robek.

“Ibu marah?” katanya pelan.

Aku tersenyum dan menggeleng.

“Ibu ingat buku gambar yang bersampul gambar kelinci?”

Aku mengangguk.

“Mita sangat suka kelinci. Jadi aku berikan buku itu padanya. Tapi Danu juga mau. Danu rebut itu dari Mita. Bukunya sobek. Jadi Adit pukul Danu sampai jatuh.”

Kuelus tangannya. “Besok Ibu belikan lagi yang sama persis. Buat Danu juga. Nanti Adit kasih ke Danu dan bilang maaf ya?”

Ia mengangguk pelan.

***

Kudengar pintu depan dibuka dengan kasar saat aku memindahkan singkong yang telah matang ke ember plastik untuk kutumbuk. Adit yang sedang membantuku mengelap daun pisang terkejut. Wajahnya menampakkan ketakutan. Belum sempat aku berkata apa pun, Aswin sudah ada di depanku. Matanya merah. Bau alkohol tercium dari mulutnya. Kurasakan rambutku perih karena dia jambak. Selanjutnya yang kudengar adalah sumpah-serapah Aswin serta tangisan dan teriakan Adit seperti biasa jika melihat sang bapak memukuliku. Adit menangis meraung-raung dan berlari. Bedanya, kali ini ia tidak bersembunyi. Dia justru berlari, lalu memelukku, sebelum memukuli badan sang bapak. Namun apalah arti kepalan tangan Adit, selain menambah kemarahan Aswin?

Dengan marah Aswin mendorong tubuh kecil Adit. Mulutnya menceracaukan makian yang tak jelas. Refleks tanganku menyambar alu untuk menumbuk dan menghaluskan getuk. Kupukul kepala Aswin berkali-ulang saat kulihat gerakan tangannya mengayun ke arah Adit. Aswin tumbang dengan kepala berlumuran darah.

Jerit tangis Adit berhenti, matanya membelalak, mulutnya ternganga. (28)

 

Semarang, 5 Maret 2020: 15.45

Mugi Astuti, mantan buruh migran di Hong Kong, ibu dua orang anak, tinggal di Semarang