Cerpen Gus tf Sakai (Koran Tempo, 04-05 Juni 2020)

Ketam Batu ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo (1)
Ketam Batu ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

SAMPAI peristiwa itu terjadi, sampai suara gemuruh bergederum menggeluduk dari punggung bukit dan sosok hitam-besar-bercapit itu tiba-tiba muncul memenuhi ruang pandangnya, Fahmi tetap tak menyadari bahwa kepiting, binatang berkaki sepuluh yang nama latinnya Brachyura dan di kampungnya dikenal dengan nama ketam, selalu mengiringi dan bagai bagian dari hidupnya.

Ketika kanak-kanak, bila kebetulan semua temannya ikut orang tua mereka ke kebun karet sementara adiknya, Nurul, masih terlalu kecil, Fahmi akan kesepian di rumah dan sepanjang hari hanya bermain dengan ketam. Ia mengambil sesiung bawang merah di dapur, mengikatnya dengan serat tali pelepah pisang dan, tak ubahnya kail dengan bawang itu adalah umpannya, Fahmi akan mengail ketam-ketam. Mengail ketam bukan di sungai, melainkan pada sarang ketam berupa gapokan tanah gembur yang tersebar di halaman, di pekarangan, juga di pinggir jalan-jalan tanah seputar kampung.

Heran, kenapa ada begitu banyak ketam di kampungnya? Selain ketam yang suka membuat rumah dengan gemburan tanah itu—mereka namakan ketam jenggo, ada ketam cinok yang ukuran tubuhnya sangat kecil dengan kaki-kaki yang panjang dan halus. Sebaliknya, ada pula ketam bertubuh besar, sebesar kepalan orang dewasa yang mereka namakan ketam batu. Dulu, dulu sekali, menurut cerita orang-orang tua, ketam pertama yang datang ke kampung Fahmi adalah ketam batu dan, saat itu, tubuh si ketam sangatlah besar. Saking besarnya, orang-orang tua bilang, “Bila kaki-kaki kanannya ada di puncak Bukit Suok, kaki-kaki kirinya akan ada di puncak Bukit Kido.” Bukit Suok dan Bukit Kido adalah dua bukit kembar yang terletak di mulut kampung yang jarak kedua puncaknya delapan kilometer.

***

“Sebesar itu?!” tanya Fahmi, saat kanak-kanak dulu itu, tak mampu membayangkan sebentuk tubuh dengan rentang kaki berkilo-kilometer.

“Ya, sebesar itu!” jawab Ibu, dari siapa Fahmi pertama kali mendapat cerita tentang ketam itu, mengulang kalimat Fahmi, keras.

“Kenapa tubuhnya berubah, sekepalan tangan?”

“Konon, dulu—,” Ibu pun bercerita, tidak langsung ke si ketam batu, melainkan ke seorang sakti bernama Pengulu Gedong, moyang pertama yang datang ke daerah ini ketika kampung mereka masih rimba raya. Saat Pengulu Gedong dan beberapa moyang memutuskan untuk menetap, muncullah ketam batu raksasa menghalangi. Setelah bertarung berhari-hari, Pengulu Gedong berhasil mengalahkan si ketam. Si ketam, karena merasa malu, mengubah tubuhnya jadi kecil. “Kecil, kecil, terus mengecil … sampai sekepalan tangan,” kata Ibu seolah mengakhiri cerita. “Namun,” lanjut Ibu tiba-tiba, “Ada pula cerita lain yang menyebutkan si ketam tidak menyerah dan juga tidak berubah jadi kecil. Pengulu Gedong menaklukkan si ketam dengan memindahkan alur Sungai Rambai, menerbangkan batu-batu dari bukit-bukit sekitar, menghujani si ketam dengan batu-batu itu, sehingga si ketam tertimbun terkubur di sana.” Telunjuk Ibu teracung, menunjuk ke sebuah bukit yang menjulang tak jauh dari rumah mereka.

“Bukit Bedok?”

“Ya!”

“Dengan tubuh yang besar?”

“Tubuh yang besar!”

Fahmi ingat, saat kanak-kanak dulu itu, setiap berangkat sekolah berjalan kaki di jalan setapak yang berbelok masuk ke jalan kampung, Bukit Bedok akan terpampang jelas di depannya dan ia sering membayangkan ketam raksasa itu mendekam di perut bukit. Saat SMP, karena menempuh jalan setapak lain yang tak lagi menghadap ke Bukit Bedok, Fahmi mulai lupa pada si ketam. Namun, teman-teman barunya yang berasal dari desa-desa yang lebih dekat dengan kecamatan, suka berbual-bual tentang horoskop. Dan zodiak Fahmi? Ternyata Kanser.

***

Kanser atau tidak, saat itu tentu tak penting. Apa yang lebih penting bagi Fahmi adalah kenyataan bahwa ayahnya bukan penduduk setempat, sehingga, tidak seperti umumnya keluarga lain, mereka tidak punya kebun karet atau yang oleh orang-orang desa disebut kebun para. Dulu, dalam usia yang tak lagi muda, Ayah terpaksa merantau dari kampungnya entah di mana, lalu bekerja di desa ini sebagai pemupul atau penakik karet. Di sini Ayah berjodoh dengan perempuan pemupul juga yang berasal dari desa lain. Usia si perempuan jauh lebih muda. Saking mudanya, saat SMP itu, ada teman Fahmi yang menyangka ibunya adalah kakaknya dan ayahnya adalah kakek mereka.

Namun sekarang, bertahun-tahun kemudian, kenyataan bahwa ayahnya bukan pemilik kebun para membuat Fahmi diam-diam bersyukur. Bukan hanya karena hal itu mendorong Ayah bekerja lebih keras, berhenti jadi pemupul dan beralih ke pekerjaan yang lebih menghasilkan (berladang dan beternak—pekerjaan yang tak terpikirkan oleh penduduk desa saat itu), tapi juga karena kebun-kebun karet, entah bagaimana awalnya, telah beralih pemilik ke orang-orang asing dan, orang-orang asing itu, juga entah bagaimana awalnya, menebang merebahkan pohon-pohon karet lalu menggali mengeruk tanah, menambang batu bara. Kehijauan berubah jadi gersang. Desa mereka, yang sebelumnya berbukit-bukit, menganga, menjelma jejalur lubang.

Karena nasib membawa Fahmi merantau ke seberang pulau, ia tak begitu tahu bagaimana desanya berubah. Perubahan sangat nyata baru Fahmi lihat ketika dua kali pulang. Pulang pertama, kabar gembira, saat Nurul menikah dengan seorang lelaki kampung sebelah. Pulang kedua, kabar duka, saat ibunya meninggal. Saat pulang kedua, pulang dengan hati sangat sedih itu, Fahmi merasa seolah bukan pulang ke kampungnya, melainkan ke kampung lain entah di mana. Jalan gersang berdebu, truk-truk batu bara, alat-alat berat dengan suara yang kadang begitu bising, dan, yang paling mencolok, lubang-lubang besar menganga antara Bukit Suok—Jalan Lintas Sumatera dan, dengan ceruk agak melandai, bersambung ke antara Bukit Bedok—Sungai Rambai. Lubang-lubang yang luasnya, tak pernah Fahmi bayangkan, mencapai hampir setengah luas desanya.

Saat kembali ke seberang pulau, Jakarta, pada pulang kedua itu, Fahmi kehilangan pekerjaannya. Posisi Fahmi di tempat kerja, entah bagaimana, digantikan oleh temannya. Ia terkejut, tetapi lalu memaklumi. Ia berusaha betah di posisi baru, tetapi tak lama. Fahmi memutuskan keluar dari tempat kerjanya dengan ingatan kepada ketam di masa kanak itu: Ketam-ketam yang ia kail dan kumpulkan, selalu berusaha keluar dari baskom. Setiap kali seekor ketam memanjat, ketam lain akan menarik ketam yang hampir sampai ke bibir baskom untuk kembali jatuh ke dalam baskom. Tidakkah seperti itu, sudah sejak lama, perangai teman-teman Fahmi di tempat kerjanya

***

Tempat kerja Fahmi yang baru tidak bisa disebut tempat. Kalaupun ingin menyebut tempat, tempat kerjanya adalah sepanjang jalan pantura (pantai utara) Jawa, dari Muara Angke, Jakarta Utara, sampai ke Desa Mojo, Pemalang. Pekerjaan apakah yang punya tempat kerja seperti itu? Mengangkut-membawa barang. Dan, barang yang diangkut Fahmi bolak-balik, diambil di Desa Mojo dibawa ke Muara Angke, tak lain ialah ketam.

Di tempat kerja Fahmi yang baru, ketam tentu disebut kepiting. Berawal dari seseorang yang Fahmi kenal di tempat biasa makan siang saat bekerja di tempat kerja lama, ia berkenalan dengan seorang pemasok kepiting dan si pemasok mengenalkannya ke juragan kepiting. Dan begitulah jodoh bekerja. Si juragan mengajak bekerja, tepat pada saat Fahmi keluar dari tempat kerja lama. Hanya dalam waktu setahun, ia dan si juragan tak lagi tampak seperti bawahan dan atasan. Tak sampai dua tahun, ketika si juragan berfokus ke Soyung—daerah penghasil kepiting di Demak, Fahmi dipercaya menangani Pemalang. Dan di tahun ketiga, telah dengan begitu saja ia juga dipanggil “juragan” oleh para pemasok.

Sebagai seorang juragan, Fahmi jadi bisa menentukan waktu kerja untuk diri sendiri dan, paling penting, bisa pulang kampung lebih sering. Saat itulah ia baru tahu persis seperti apa kampungnya berubah. Cerita tentang kampung penghasil karet lenyap sudah. Berganti jadi kampung emas hitam, yang di dalam tanah di desanya saja konon tersimpan hampir 100 juta ton batu bara. Dan orang-orang asing itu, para pengusaha tambang, memperluas, menambah dan terus menambah lubang galian. Dari awalnya hanya 3 pit (lubang tambang), kini telah berjumlah 9 pit. Dan, sekarang, ketika Fahmi kembali pulang, benar-benar tak lagi tampak pohon para. Tinggal hanya Bukit Bedok masih menjulang dan, seperti cerita Nurul di telepon, persoalan antara orang-orang desanya dan perusahaan tambang.

Persoalan itu, sebetulnya, bermula dua tahun lalu, sejak pit 7 mulai dikeruk. Pit 7 tak jauh dari pinggir Sungai Rambai dan, untuk mencapainya, harus dibuat jalan baru membelah desa. Masalahnya bukan soal membelah desa, melainkan pada pengerasan jalan masuk ke pit. Saat alat-alat berat pengeras jalan bekerja, dinding rumah penduduk banyak yang rusak, retak-retak. Persoalan dua tahun lalu itu bisa diselesaikan dengan kompensasi, berupa bantuan sejumlah uang dari perusahaan tambang ditambah dengan beras-susu kental manis. Namun, persoalan kembali timbul, dan tak kunjung selesai sampai sekarang, ketika perusahaan membangun pit 8 dan 9. Kedua pit ini tepat berada di bawah Bukit Bedok, dan untuk bisa leluasa menggalinya, perusahaan tambang harus memindahkan aliran Sungai Rambai.

Pemindahan aliran sungai ini awalnya biasa-biasa saja. Namun, ketika batu bara di pit 7 habis dan lubang pit ditutup, air menggenang ke rumah-rumah dan, ketika pihak perusahaan membuat saluran mengalirkan genangan air itu ke sungai baru, rumah-rumah penduduk menjadi miring. Rumah Fahmi sendiri—rumah Ayah, tentu—fondasi bagian belakangnya turun, membuat pintu dapur tak bisa ditutup. Kata Nurul, dari cerita orang-orang, pemindahan aliran sungai telah menyebabkan penurunan permukaan tanah. Jalan keluarnya, tak lain, daripada roboh, rumah-rumah itu—jumlahnya 24 rumah—dibiarkan dibeli perusahaan tambang.

***

Sore itu sore hari kedua Fahmi di kampung. Walau sore sudah beranjak senja, truk-truk batu bara masih melintas di depan rumah. Menghindari kepulan debu, Fahmi mengangkat memindahkan kursi dari teras ke bagian pekarangan yang lebih rimbun. Dari situ, ia bisa melihat lebih jelas ke arah pit 9 dari mana truk-truk itu merayap mendaki. Lereng Bukit Bedok, arah ke sisi aliran Sungai Rambai sebelum dipindahkan, tampak seperti terpapas. Beberapa hari sebelumnya, Ayah bilang, lereng itu longsor.

Fahmi berdesah, melayangkan pandang ke sekitar. Di kanan belakang halaman, hanya sebidang tanah dengan sebatang pohon besar—ia lupa nama pohonnya—yang membatasi pekarangan rumah dengan ceruk tandus bekas galian pit 7. Ketandusan itu seperti menjalar ke halaman, ke kursi tempat Fahmi duduk. Di ujung kakinya, di ujung sandal Fahmi, seekor ketam cinok bergerak seperti melayang. Kaki-kaki yang kurus, kaki-kaki yang halus. Mendadak, Fahmi menangkap sosok Ayah keluar dari pintu. Kaki Ayah juga kurus, tangan Ayah juga halus. Seperti tak lagi kuat membawa tubuh tuanya, tangan-tangan Ayah berpegang bertelekan ke dinding. Fahmi tertegun. Dengan posisi seperti itu, bergerak merayap ke samping, Ayah juga tampak seperti kepiting.

Ah. Tubuh Ayah. Tubuh yang menyangka dirinya masih kuat. Tubuh yang yakin masih mampu begawe—istilah setempat untuk menyebut masih kuat bekerja—sehingga, segigih apa pun Fahmi mengajak pindah ke Jakarta, Ayah tetap bergeming. Fahmi ingat orang-orang kampung, orang-orang pemilik 23 rumah lain yang memintanya membujuk Ayah agar bersedia menjual rumah. Satu-satunya. Tinggal Ayah satu-satunya orang yang menolak. Namun, rutuk Ayah marah, “Orang-orang cilako! Setelah menjual kobun para, warisan moyang mereka, kini malah menjual kampung!”

Tangan kurus Ayah terpeleset dari dinding, dan Ayah seperti limbung. Refleks, Fahmi mengangkat tubuh dari kursi, bergerak hendak menopang tubuh Ayah. Namun, saat itulah, saat tubuh Fahmi sudah bergerak melesat ke arah Ayah, ia mendengar suara itu! Suara gemuruh bergederum menggeluduk dari punggung bukit! Dan, saat dengan refleks pula Fahmi menoleh, ia pun melihatnya: Sosok hitam-besar-bercapit, menggeliat keluar dari perut Bukit Bedok. Begitu sangat besarnya, Bukit Bedok tampak kecil saja, sangat kecil, kecil bagai lenyap, tertutup dalam ruang pandang Fahmi yang dipenuhi sosok ketam raksasa …. ***

 

Gus tf Sakai lahir 13 Agustus 1965. Ia seorang pengarang dan penyuka akik lumut hijau Suliki. Mengarang cerpen sejak akhir 70-an, dia telah menerbitkan lima buku kumpulan cerpen dan sampai sekarang menetap di kota kelahirannya, Payakumbuh, Sumatera Barat.