Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 01 Juli 2020)

 

Suatu siang, seorang pembaca Esai Rabuan saya di Lakonhidup.Com bertanya tentang ketakpercayadiriannya dalam memublikasikan tulisan-tulisannya. Publikasi dalam hal ini tentu bukan semata dalam bentuk buku. Di blog atau media sosial atau makalah karena diminta membahas tentang suatu topik di acara tertentu, dan lain sebagainya.

O ya, ia juga mengemukakan capaian yang ia ikuti di sebuah lomba menulis. Meskipun belum juara, ia masuk 10 besar. Ia kemudian memberitahu nama-nama para pemenang disertai rekam jejak mereka yang memang rajin menulis—tentu karena memublikasikannya.

Penanya ini adalah aktivis literasi yang terkenal tangguh dalam mengampanyekan gerakan mencerdaskan bangsa. Saya sendiri salah satu yang mengagumi idenya dalam membuat program-program literasi.

Tidak Adil (Kepada) Menulis ilustrasi Istimewa
Tidak Adil (kepada) Menulis ilustrasi Istimewa 

Bagaimanapun, kabar tentang keikutsertaannya dalam sebuah lomba—meski tidak menang—sungguh membuat saya gembira. Mengapa? Karena artinya aktivis literasi ini memang menulis dan sejatinya tidaklah juga minder-minder amat dengan tulisannya, meskipun—dari pertanyaannya—banyak sekali tulisan-tulisan yang ia simpan saja.

Kasus yang dihadapi aktivis literasi ini jamak terjadi. Paling tidak, saya menemukanya dalam sejumlah lokakarya atau via email dan kotak pesan akun media sosial saya.

Sebagai tokoh publik atau orang yang diakui kapasitasnya dalam hal-hal tertentu oleh publik, terlebih aktivis literasi, saya pikir urusan ketakpercayadirian ini menjadi tidak sederhana—untuk tidak menyebutnya “susah dipercaya”.

Baca juga: Hidup (Tidak) Perlu Militan – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 10 Juni 2020)

Mereka yang berkecimpung dengan urusan kemaslahatan publik dan menulis tentulah seharusnya tidak bersinggungan lagi dengan ketakpercayadirian itu. Wong sehari-hari ia kerap menjadi pusat perhatian atau tempat bertanya. Memublikasikan buah pikiran yang berfaedah tentu sudah khatam ia pahami sebagai usaha agar “suaranya” dijangkau lebih banyak orang. Tapi, mengapa masih tak percaya diri?

Saya pikir, masalahnya ada pada ketakpekaan sekaligus ketaksadaran orang-orang ini tentang kehadiran “ketakpercayadirian” yang selalu membuka tangannya lebar-lebar untuk menjadi tempat pelarian yang nyaman namun semu.

***

Sebagai manusia, watak perfeksionis adalah wajar. Jadi, ketika melakukan sesuatu yang rasanya tidak terlalu “wah”—termasuk menulis, orang tipe ini biasanya akan membiarkan saja tulisan-tulisannya mendekam dalam laptop atau laci rahasi ruang kerjanya.

Sebagai manusia pula, tokoh publik cum aktivis literasi juga bisa alpa (ya, wajar saja, oleh karena itulah tulisan ini hadir sebagai upaya saling mengingatkan) bahwa tahap ketiga lahirnya karya adalah melewati pengadilan publik. Ya, sarjana itu diuji oleh dosen-dosen di kampusnya dong, bukan dia sendiri, kan? Sebentar, apa? Tahap ketiga?

Ya, tahap ketiga.

Tahap pertama: mengerjakan pekerjaan (tulisan) sampai selesai. Menulis sampai jadi tulisan. Tahap kedua: memiliki kesadaran bahwa mengadili tulisan sendiri adalah salah satu jenis kezaliman psikologis akut hanya akan membuat penulis mengagumi diri di depan cermin terlalu sering, padahal itu tidak baik bagi kewarasan, atau justru membuatnya “bunuh diri” karena mengagumi bulan hingga harus mendatanginya hanya akan menjumpai bola raksasa nan bopeng!

Baca juga: Belasungkawa Media Sosial – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 24 Juni 2020)

Tahap keempat adalah yang tak kalah penting: adil pada semua potensi dan kecakapan yang ada dalam diri. Kenapa Anda percaya diri dengan kerja-kerja literasi, menyelenggarakan program, mengumpulkan masa, atau bicara depan publik, tapi justru tidak bersikap serupa pada tulisan-tulisan Anda?

Kenapa Anda tidak adil?

Kenapa Anda tidak menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak kreatif Anda? Kenapa Anda menyilakan yang satu, dua, hingga kelima, bermain ke taman atau berbaur di ruang publik yang lebih plural, tapi Anda hanya mengurung seorang anak yang bernama Tulisan di dalam ruang tanpa cahaya sehingga membuatnya tumbuh stunting sampai mati mengenaskan di kemudian hari?

Dan itu … Anda lakukan karena Anda pikir ia tidak cukup bangga Anda perkenalkan dengan teman-teman Anda yang lain, sebab menurut Anda tulisan si A atau B atau C jauh lebih baik daripada Tulisan yang Anda kurung itu!

Alangkah egoisnya Anda!

Bukankah ketika membimbing anak-anak Anda yang bernama Kemampuan Menyusun Program dan Kecakapan Bicara di Depan Publik, Anda akan menerima koreksian dari guru dan teman-teman selama masa tumbuh kembang  sehingga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang membanggakan seperti hari ini? Lalu, kenapa itu tidak Anda lakukan pada Tulisan?

Pengadilan karya itu bukan di pikiran penulis, tapi di kepala pembacanya!

Baca juga: Di Ruang Tunggu – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 17 Juni 2020)

Percaya diri baru bernama percaya diri bukan sekadar karena urusan seseorang dengan dirinya sudah selesai, tapi juga kerelaan memberi kesempatan pada dirinya untuk diapresiasi lingkungan.

Mungkin setelah membaca ini, beberapa dari Anda yang gemar menyimpan tulisan—hingga akhirnya jarang menulis—akan membuka ruang gelap gulita itu untuk menjenguk anak bernama Tulisan yang sudah lama sekali Anda kurung.

Anda mungkin akan memeluk anak tersebut, menangis tersedu-sedan, dan mengajaknya keluar dengan begitu dramatik.

Dengarkan ini baik-baik:

Anda jangan egois: tentu ada konsekuensi atas kesadaran yang terlambat!

Anak tersebut akan kagok melihat dunia apalagi ketemu satu-dua anak yang gemar merisaknya. Anda harus bertanggungjawab! Urusan Anda bukan sekadar membukakan pintu keluar lebar-lebar untuknya. Lebih dari itu, Anda harus membimbingnya, menyuapinya, mengajarinya mengenal benda-benda, memandikannya, mengantarnya ke sekolah, dan lain-lain, sampai akhirnya ia tahu kalau Anda bukan orangtua yang pilih kasih seperti dulu. Sebab, dengan melepasnya pun bukan jaminan mereka akan bersinar seperti anak-anak yang lain. Yang pasti adalah: dengan melepaskan tulisan-tulisan Anda, Anda telah berlaku adil. Bagi tulisan-tulisan itu sendiri. Bagi diri Anda sendiri.

Paling tidak, Anda menjauhi kezaliman dan kemubaziran.

Wallahu ‘alam.

 

Lubuklinggau, 1 Juli 2020

BENNY ARNAS lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Novel audionya “Bulan Madu Matahari” sedang tayang di Instagram @bulanmadumatahari dan Youtube Benny Institute. Dalam waktu dekat novelnya “Ethile! Ethile!” akan tayang di platform @Kwikku.