Cerpen Sasa Stanisic (Suara Merdeka, 28 Juni 2020)

Pendidikan Klasik ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdeka (1)
Pendidikan Klasik ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

Dalam cerita pendek ini, Johann Sebastian Bach memperdaya Wolfgang Amadeus Mozart atas sebuah pencurian di pesawat terbang.

Pada penerbangan menuju Budapest, aku duduk di sebelah bocah perempuan yang memukau hatiku dengan mata hijau dan kunciran rambut pirangnya. Ibunya juga pirang dan bermata hijau dan sedang fokus membaca Brigitte, sebuah majalah Jerman campuran antara Martha Stewart Living dan Cosmopolitan. Aku memaklumi karena putrinya juga sangat cantik, serius, patuh, campuran miniatur dari Susan Sontag, Jessica Valenti, dan Tinkerbell, anjing Chihuahua-nya Paris Hilton.

“Siapa namamu?” tanyaku kepadanya setelah pesawat lepas landas, memancing obrolan ringan ala anak kecil.

“Johann Sebastian Bach,” jawab bocah itu dan mencuri sebungkus permen karet dari tas Gucci ibunya.

Aku tertawa terbahak-bahak dan berkata dengan seringai konspiratorialku yang terkenal, “Dan aku Wolfgang Amadeus Mozart!”

Johann Sebastian mengacungkan jari tengah kepadaku.

Aku sangat terkejut. Kok bisa seorang anak kecil melakukan itu? Aku bertanya kepada diri sendiri dan menggelengkan kepala. Pada saat itu, gadis itu memasukkan lima batang permen karet ke mulutnya sekaligus, melemparkan bungkus kosongnya ke pangkuanku, dan menjerit memilukan. Sang ibu menutup majalahnya dan memandang putrinya yang kemudian mengarahkan telunjuk kepadaku.

Ibu: “Apa yang dilakukan orang jahat itu kepadamu?”

Anak (dengan mulut penuh permen karet): “Waaaaaah!”

Ibu: “Jo, dari mana kau dapatkan permen karet itu?”

Anak: “Orang jahat itu memberikannya kepadaku. Dia menyuruhku mengunyah semuanya. Dan, dia bilang namanya Mozart, dan dia ingin menggubah musik bersamaku, waaaaah!”

Ibu: “Apa!” (Mata hijaunya menghunjamku ketika si kecil meludahkan gumpalan besar permen karet ke tangan ibunya.)

Sekarang, apa yang bisa kaulakukan dalam situasi seperti ini? Sang ibu yakin bahwa malaikatnya yang pirang bahkan tidak tahu apa itu dusta, dan yang lebih mengenaskan lagi, aku memegang bungkus permen karet yang kosong di tanganku. Ditambah pula, “menggubah musik bersamaku” terdengar sangat meresahkan. Tidak akan ada yang memercayaiku jika kukatakan bahwa gadis kecil itu sedang melakukan permainan yang tidak logis denganku, dengan tampang yang sama polos dengan wajahku yang tidak bercukur. Dan ketika sang ibu mengenali permen karet itu sebagai miliknya,  “Tunggu sebentar! Apakah Anda merogoh tas saya?” semua orang di pesawat itu berbalik dan menatap sang pencopet pedofil.

Dengan berlinang air mata, gadis itu diam-diam mengacungkan jari tengah lagi kepadaku.

“Dengarkan!” kataku, berusaha membela diri, “Johann Sebastian Bach-lah yang bersalah di sini!”

“Bach?” ibunya yang marah itu berteriak bersamaan dengan pramugari yang datang dengan misi diplomatik untuk menyelesaikan perdebatan kami. Dengan itu, aku dianggap sebagai orang gila selama penerbangan.

“Dan, Tuan Mozart juga tidak mengenakan sabuk pengaman,” adu monster kecil itu, dengan wajah simfoni yang polos. Terbang tanpa menggunakan sabuk pengaman  itu bukan kesalahan yang ringan, itu pelanggaran serius seperti perampokan bersenjata.

“Apakah Anda melanggar peraturan keamanan kami, Tuan?” teriak pramugari yang sopan itu kepadaku. Sebelum aku bisa menjawab, telepon genggamku berdering. Sang ibu mendeham sekuat mungkin yang diizinkan pita suaranya, dan semakin keras aku mencari-cari benda sialan yang memainkan “A Little Night Music”.

”Tuan, matikan ponsel Anda sekarang juga!” perintah pramugari dengan sangat mendesak dan beberapa penumpang dengan panik mengenakan jaket keselamatan mereka.

“Dia seharusnya sudah mematikannya sebelum kita terbang,” kata si anak yang menyebalkan itu dan kemudian menambahkan sebuah kalimat dalam bahasa Hungaria, yang menyebabkan ibunya dan pramugari itu tertawa terbahak-bahak. Akhirnya, suara dering berhenti, dan pramugari pergi, mengayunkan pinggul dengan meremehkan (kemudian: tidak ada bir untukku, hanya teh).

Sudah waktunya untuk mengambil tanggung jawab atas pendidikan gadis itu: “Kau tidak boleh melakukan hal-hal seperti ini, gadis kecil! Jangan berbohong, jangan mencuri, dan kau hanya boleh mengacungkan jari tengah di jalan raya!” Aku ingin sekali mengatakan semua itu, tetapi sang ibu dan putrinya telah bertukar tempat duduk dan sungguh tak ada gunanya mencoba mendidik perempuan yang membaca Brigitte.

Gadis itu duduk di kursi dekat jendela, wajahnya bermandikan sinar matahari, sambil menyiulkan satu musik gubahan Bach. (28)

 

Sasa Stanisic adalah penulis Bosnia-Jerman. Ia lahir di Viegrad, Bosnia dan Herzegovina, dan pindah ke Jerman sebagai pengungsi Perang Bosnia ketika berusia 14 tahun. Dia telah menulis novel terkenal di Jerman yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul How the Soldier Repairs the Gramophone. Cerpen ini diterjemahkan dari versi Inggris “A Classic Education” yang diterjemahkan Sasa Stanisic dan Janet Hendrickson dari bahasa Jerman. Alih bahasa ke bahasa Indonesia oleh Slamat P Sinambela, yang telah menerjemahkan 70-an buku untuk berbagai penerbit. Terjemahannya yang baru terbit, Ensiklopedia Orang-Orang Mati, kumpulan cerpen Danilo Kis, Penerbit Basabasi, Yogyakarta.