Cerpen S Jai (Jawa Pos, 28 Juni 2020)

Lelaki dan Sebilah Kapak Tak Tajam ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)
Lelaki dan Sebilah Kapak Tak Tajam ilustrasi Budiono/ Jawa Pos

LELAKI itu menghantamkan sebilah kapak pada sebatang pohon nangka. Seekor kucing memicing; di matanya membayang kebodohan, kelucuan. Aku tak bisa berkata, pun mendengar.

Berhari-hari dia bekerja dengan kapak tak tajam. Ketabahanlah yang menumbangkan pokok berhantu itu. Hanya dia yang sanggup.

Dalam bekerja, dia tak perlu linggis, parang, sabit, bendo, golok, pisau, pedang. Cukup dengan kapaknya. Kapak biasa. Bukan kapak merah, bukan juga kapak 212. Cuma kapak berkarat yang tak pernah diasah matanya, tapi membuatnya perkasa dan busung dada. Laiknya gitar dipanggul satria, dipetiknya bilah bajanya, seolah ada dawainya. Dan dinyanyikanlah lagu penghibur tuan dan nyonya. Maka, anak-anak, lelaki, perempuan, tua, muda pun berjoget ria.

Aku tak dengar keindahan liriknya, kemerduan suaranya. Aku hanya tahu gemulai ajojingnya. Kesedihan tak bersarang. Kebahagiaan tak hengkang dari tubuhnya. Malah beranak pinak. Terlebih bila ada kerja sesuai keahliannya; merobohkan pepohonan dengan segenap kesabarannya.

Dia tak hirau ditimbang bodoh, tak silau dikudang gila. Mengamuk pun tak pernah; mengayunkan bilah kapaknya pada sasaran yang salah. Apalagi kepada manusia, sebusuk apa pun mulutnya mengatai dirinya.

“Di mata Tuhan, tak ada makhluk semulia yang bersenjata pena, lidah, pedang, dan kapak,” tukasnya.

Ada “jalan pedang”, mengapa tidak dengan “jalan kapak”? Apa guna meremukkan saudara sepersenjata? Ah, rupanya lelaki itu tak bodoh. Kedengarannya—bagi yang tak tuli—dia lebih bijak mengolah kata. Dia tak percaya “pena lebih tajam dari pedang”. Dia ragu “setajam-tajam pisau, lebih tajam lidah”. Dia membantah “fitnah lebih kejam dari pembunuhan”.

Pena dan kapak sesama tajam. Sesama dibutuhkan. Seperti minyak dan angin. Seperti minyak angin cap kapak. Presiden penyair butuh kapak. Tukang kayu perlu pena dan minyak. Kapak itu bertuah. Kapak tiban dengan jampi-jampi untuk berkah. Kapak itu membuat jin, setan, hantu, demit, jembalang, lari lintang pukang, bertekuk lutut di bawah sumpah.

Riwayatnya, suatu ketika rumah tangganya kisruh. Dia serumah dengan mertua –penganggur yang hobi berkumur. Namanya Samurai. Aslinya Samsuri. Samurai mengaku keturunan wali. Dia penghujat; penyebab sang menantu belajar diri bisu dan tuli. Dialah si munafik, pelaku KDRT kepada ibu mertua, penipu, koruptor, penganggur, pendengkur. Dialah lelaki ceriwis, penggosip, penyuka telenovela, pemuja artis.

Kebencian Samurai meninggi sejak mendapati cucunya lahir bisu dan tuli—penyebab ayah si bayi guncang rohani. Kisruh meningkat saat ibu mertua membongkar fakta; Samurai tak cuma suka mengganggu istri tetangga, tapi juga tak senonoh. Baginya, tak termaafkan jikapun Tuhan memberi ampunan.

Saat dituntut cerai, Samurai main api; mengancam bakar rumah. Berbagai senjata dikuasainya; linggis, parang, sabit, bendo, golok, pisau, pedang. Hanya sebilah yang tak tersentuh olehnya: kapak berkarat yang diruwat semut rangrang, laba-laba, dan kelabang. Kapak baja bertangkai jati di tempat tersembunyi. Suatu yang dirumat malaikat perusak zaman. Begitulah mula lelaki menantu Samurai itu menjaga diri. Duduk, mandi, ngopi, tidur, rekreasi, tak terpisah darinya.

***

SEJAK itu dia kerap diminta untuk mengusir bangsa jin yang berdiam di rumah maupun pepohonan. Itulah pekerjaannya, ditemani sebilah kapak.

Meski bodoh, dia orang pintar. Bukan orang pintar tapi bodoh. Bekerja dengan sabar, tekun, memotong kayu, tak kenal waktu, tak sembarang orang bisa lakukan. Apalagi dengan kapak berkarat yang tak tajam, dialah satu-satunya di jagat raya…

Bertahun-tahun dia melakoni; dari waktu ke waktu, dari rumah ke rumah. Malah dia lupa membersihkan pekarangan sendiri. Memang rumah yang didiami istri dan anaknya yang bisu-tuli itu sudah tak lagi dihuni makhluk halus. Mereka hijrah ke pohon nangka sebelah.

Awalnya, orang-orang heran. Sejak Samurai bercerai dan minggat, si pendekar kapak satu tak terurus. Maklum, masih dalam suasana kisruh. Antara malu dan syukur. Antara harga diri dan harga mati.

Lelaki itu seperti hidup di zaman batu. Rambut tak keruan, jarang mandi, pakaian sekadar bercawat dan selembar goni pada pinggang.

Sesekali orang pintar menggoda. Diikatlah rambutnya, ditutuplah matanya dengan selembar kain. Sebuah timbangan di tangan kiri, kapak di tangan kanan. Orang-orang ngakak karena memalsukan Dewi Keadilan.

Sebenarnya dia mendengar kelakar. Dia juga bisa bicara. Suaranya hanya dibisukan, pendengarannya ditulikan, ditambah dirinya dibodohkan, dia hanya diam. Dia pun terbiasa mendengar, “Kau lelaki beruntung. Tuhan tak pernah menuntutmu. Surga dan neraka, dua-duanya bukan tempatmu.”

Orang iri karena padanya berdiam makhluk kasatmata yang takluk. Setan ora doyan. Demit ora ndulit. Sebagian menyebutnya orang bodoh, yang lain memercayainya berilmu –penguasa jimat dan perapal mantra hebat.

Jika tidak, tentu mustahil seperti sekarang. Jika tidak, bagaimana bisa istri dan anaknya penuh kasih sayang? Jika tidak, aneh dia sehat walafiat tanpa pernah diketahui menyantap makanan. Jika tidak, kenapa dia begitu kukuh memegang sebilah kapak dengan segala disiplin sumpah, janji, dan setia padanya?

Tak seorang pun menjumpainya selingkuh dengan selain kapaknya.

***

DIA tak menyangka perkawinan mula ketakbahagiaannya. Hidup bersama mertua yang berantakan. Lalu takdir kebisuan, baik dari diri maupun atas kuasa Ilahi. Juga kehilangan pekerjaan.

“Sebaiknya kamu mati saja. Hidupmu tak berkah.” Inilah kalimat pertama Samurai—gerbang perang kedigdayaan dan ketahanan lelaki itu.

Anaklah, lelaki bisu-tuli itu, yang telah membakar api hidupnya. Lelaki itu terus mengajari anaknya bicara—tepatnya menulis. Sedih, gembira, ragu, meminta, menyuruh, diam, marah, berbisik, teriak, semua diajarkannya melalui tulisan. Anak itu belajar kepada bapaknya, lelaki ayah itu pun belajar kepada putranya, berkawan dengan kesunyian, berbicara dengan jin, setan, prewangan, jembalang.

Lelaki itu mengerti istri dan anaknya karib dengan mereka. Bercanda, tidur bersama, makan sering kali semeja. Yang tinggi besar, hitam, dan berbulu lebat sering seranjang dengan istrinya. Juga sebentuk lainnya yang lucu mengambang atau duduk bersama anaknya.

Dengan caranya, diperkenalkanlah mereka. Istrinya berbisik. Anaknya menuliskan pada lembar-lembar kertas. Ada yang keras, yang santun, yang kocak, yang pura-pura membantu, yang ramah, yang munafik, yang suka berdoa, ada juga yang suka main perempuan. “Tapi, mereka semua suka korupsi, Ayah,” tulis anaknya suatu ketika. Kata istrinya, “Bajingan semua, seperti bapak.”

Sebagai orang bodoh, lelaki itu berpikir mereka ini tak lain; kawan, rekan, kroni, sejawat, murid, atau anak buah Samurai! Semenjak tuannya minggat, mereka linglung, selain telanjur kerasan dan dekat dengan istri dan putranya.

“Tapi, mereka takut sama Ayah,” tulis anak itu.

“Kenapa?”

“Karena Ayah bawa kapak.”

“Ke mana mereka sekarang?”

“Di pohon nangka itu.”

Usai berbicara kepada istrinya, bersetuju dengan anaknya, dipotonglah pohon nangka itu. Harapannya, para bajingan itu ditangkap, dipenjarakan, atau diusir dari sana. Maka, dimulailah pekerjaan besar itu, disaksikan oleh mata nyalang seekor kucing dan gejolak pandang anak satu-satunya.

Kali ini lelaki itu mengayunkan kapak dengan amarahnya. Dia tak saja hendak merobohkan pohon nangka, juga menaklukkan mereka. Dia tak saja meremukkan pokoknya, juga menghancurkan yang mengganggu anaknya dan berani meniduri istrinya.

“Dasar keparat. Andai aku ditugaskan membunuhmu, sudah kuhabisi bersama tuanmu itu,” gerutu lelaki itu, yang tentu tak didengar istri dan anaknya.

Kapak itu terlalu tumpul. Pohon nangka itu terlalu kuat. Mungkin lelaki itu terlalu bodoh. Mungkin juga terlalu konyol.

Dari itu semua, diam-diam sang anak menuliskan sesuatu; kesunyian tak berarti tanpa suara, kekuasaan yang kukuh bukanlah yang kasatmata…

***

LELAKI itu tak menduga; membereskan pekerjaan di rumah sendiri justru terberat dan terlama.

Dulu dia bisa mengatasi segalanya. Sekarang betul-betul menghabiskan kesabarannya. Bahkan kini perlu bantuan istri dan anaknya. Istrinya tak lupa mengeluarkan senjata pamungkasnya: doa. Anaknya memotret setiap yang tak kasatmata, menguntit Gerombolan Pengacau Keimanan (GPK) itu berada.

Berkat segala daya, waktu dan tenaga, pohon itu pun teperdaya. Ini betul-betul ujian dari segala ujian, kesabaran dan tuah kapak tak tajam di tangannya itu.

“Ayah, sebelum pohon nangka itu roboh, mereka sudah boyongan lagi ke rumah,” tulis anaknya disertai coretan-coretan denah hijrah dan wajah para GPK itu.

Mengerikan sekali. Mereka berbaris laiknya gerombolan manusia, bagai makhluk yang datang dari zaman purba. Ada yang tinggi besar, sedang, ada pula yang kerdil. Ada yang bergaun pria, wanita, ada juga yang berdasi! Ada yang mengapit tas. Ada yang memikul karung. Ah, isinya tampak tak seberapa berat. Jelas bukan kelereng atau buku bekas. Mungkin dolar atau rupiah. Ah, masak genderuwo doyan duit. Mungkin saja. Karena dia suka perempuan pula. Seperti manusia. Para pemuja genderuwo pastilah suka menyogok mereka.

Ada yang wajahnya rusak, bau bangkai, tubuhnya bengkak. Ada pula yang kulitnya terkelupas; tulang-tulangnya tampak. Kepalanya berlubang, kakinya pengkol, rambutnya kriwul, buah zakarnya bernanah. Anak itu menggambarnya dengan begitu indah. Bila hal itu dilihat orang lain tentu mengerikan, menjadi bayangan buruk mimpi sepanjang zaman.

Tiada sisa ketakutan bagi lelaki itu. Kesabarannya habis. Kecamuk di bayang matanya adalah sosok Samurai yang munafik, murah senyum, dan lihai berdoa sehabis melampiaskan kebejatannya. Inilah waktu yang tepat melampiaskan dendamnya kepada anak buahnya—GPK itu. Dan setelah pohon nangka itu roboh, mulailah disiapkan rencana serbuan selanjutnya. Walau dia tak ragu dengan kapak berkarat yang tak tajam itu. Untuk kali pertama, dia menggunakan pikirannya. Pikiran lelaki paling bodoh sesemesta.

Selepas melihat hijrah GPK dari lukisan mata batin anaknya, pelan-pelan dia memutar bilah kapaknya. Dia siap mengayunkannya, bukan dengan mata kapaknya, melainkan dengan punggungnya. Bukan mengarah kepada GPK, melainkan pada tembok tua rumahnya. Lelaki itu menggempurnya. Merontokkan tembok rumahnya.

Rumah itu betul-betul ambruk. Hancur dan rata dengan tanah. Istri dan anaknya pasrah. Memang segala yang telah menua mesti dihancurkan. Mereka bersepakat meleburkan setiap penyebab GPK itu kerasan di rumah.

Tiada sepatah kata pun. Penyesalan atau amuk. Selepas rumahnya dirobohkan lelaki itu, istrinya mengimani untuk membangunnya kembali.

Seperti halnya anaknya. Dalam kebisuannya, ketuliannya terus menyusun kata, membangun cerita.

Akulah anak itu. Inilah cerita itu. (*)

 

Ngimbang, 2020

S JAI. Lahir di Kediri, 4 Februari 1972. Pengarang sejumlah novel. Yang terbaru Ngrong (2019). Novelnya yang berjudul Kumara, Hikayat sang Kekasih memenangi Sayembara Novel Dewan Kesenian Jatim (2012). Penerima Penghargaan Gubernur Jatim (2015), peraih Penghargaan Sutasoma dari Balai Bahasa Jatim untuk buku kritik terbaik, Postmitos (2019). Tinggal di Ngimbang, Lamongan.