Cerpen Bagus Dwi Hananto (Koran Tempo, 27-28 Juni 2020)

Kucing-kucing Suginami ilustrasi Koran Tempo (1)
Kucing-kucing Suginami ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Di Kashinomiya-gyoen, empat malam selama bulan gawat pandemi, kucing-kucing Distrik Suginami berkumpul. Ada ribuan, bahkan bisa dibilang puluhan ribu. Dan anehnya, tak satu pun manusia menyadari bahwa di taman Kashinomiya itu sedang berkumpul kucing yang sebegitu banyaknya. Orang-orang takut ke luar rumah, mengikuti anjuran pemerintah waktu itu.

Ada seekor kucing gemuk berbulu tiga warna dinamai Nyanyan oleh seorang gadis kecil yang kadang menangis menanyakan kucing itu lantaran sering kabur dari rumah. Kucing itu satu di antara puluhan ribu kucing yang berkumpul di Kashinomiya-gyoen yang luas dan hanya ada rumput hijau menghampar. Dari sedikit kucing tiga warna, Nyanyan bisa dibilang kucing terbesar. Karena hanya tidur dan makan sehari-harinya, kucing itu sampai di taman saat perkumpulan hampir selesai dan kucing-kucing mesti kembali ke jalan-jalan sepenjuru Distrik Suginami. Tak ada yang khusus, sebetulnya. Hanya, tetua kucing yang bertempat tinggal di sebuah kuil di Koenji baru saja mengumpulkan mereka lewat panggilan yang diteruskan dari satu mulut ke mulut kucing lain sepanjang distrik. Dan kita tak dapat mengerti dengan baik maksud sebenarnya kucing-kucing ini dikumpulkan tetua kucing dari Koenji itu. Hanya, mereka berhasil berkumpul dan Nyanyan baru saja tiba saat rapat para kucing itu hampir selesai.

Nyanyan tinggal di Perumahan Hamadayama, tak jauh dari Kashinomiya-gyoen, sekitar sepuluh menit jalan kaki. Taman umum itu merupakan padang luas dengan jalan setapak indah dan cocok sekali untuk dinikmati bersama keluarga pada akhir pekan. Namun, karena pandemi virus akhir-akhir ini, taman jadi sepi. Tetapi kita tak akan membahas keadaan taman ini lebih lanjut; kita akan membahas bagaimana keseharian salah satu kucing Suginami.

Perumahan Hamadayama baru saja didirikan dan letaknya begitu strategis. Di sebelah selatan area perumahan itu ada tempat minum kopi terkenal Hanamiya Café, dan di sebelah barat, atau tepatnya di belakang perumahan, ada tempat minum kopi elite khusus orang-orang berkantong tebal bernama Anteiku. Nah, dari sinilah Nyanyan berasal.

Sebelum Kanagiri Kana, gadis cilik yang kini berumur 9 tahun kelas III SD Morinomiya, memelihara Nyanyan, di Anteiku kucing itu diasuh jiisan [1] ramah bernama Mizu Hirata. Hirata-san dikenal sebagai orang yang senang bersosialisasi dan sebenarnya orang kaya raya yang bisa dibilang penguasa Hamadayama lantaran punya enam belas kedai kopi dan tiga puluh minimarket. Namun kekayaan itu tak diperlihatkannya terang-terangan macam orang-orang kaya baru di Jepang. Hirata-san orang yang hidup sederhana. Setelah sepuh dan ditinggalkan istrinya lebih dulu, dia mewariskan usahanya kepada ketiga anaknya yang mengelola segalanya dengan baik. Dia hanya ingin tinggal di kedai Anteiku, tempat pertama dirinya serta almarhumah istrinya memulai usaha hingga berkembang kini. Dan di sinilah pertama Nyanyan tumbuh.

***

Ditemukan dalam keadaan klise: di kardus dengan tulisan “Rawatlah aku dengan baik-baik, manusia”, kucing ini mulanya sebesar telapak tangan. Hirata-san baru saja kembali dari cabang minimarketnya untuk membeli keperluan rumah tangga kedai, saat dilihatnya kardus berisi anak kucing di pinggir jalan depan Anteiku. Hirata-san melongok.

“Oh ya, oh ya, bagaimana kau bisa sampai sini?”

Tentunya Nyanyan tak menjawab. Atau kita katakan kucing itu tak merespons. Ia belum bernama dan tak mungkin merespons bahasa manusia.

Tertarik dengan ke-kawaii [2]-an kucing tersebut, Hirata-san mengadopsinya. Ia bawa kucing itu ke kedai, tetapi lantas berpikir akan merepotkan dan merugikan kedainya kalau ada binatang masuk. Nanti pelanggan bisa enggan kembali ke kedai kopinya.

“Bos, sebaiknya kucing itu dilepas saja. Akan merepotkan merawatnya saat ini,” ujar salah satu pegawainya, seorang pekerja paruh waktu yang selalu tersenyum.

“Atau berikan pada cucumu,” barista di belakang konter yang memajang berbagai jenis kopi dari penjuru dunia itu pun pekerja paruh waktu. Orang-orang menyenanginya lantaran dia amat cantik dan ramah sekali. Namun barista ini sudah memiliki kekasih dan kesempatan para pelanggan untuk mendekatinya tak mungkin lebih jauh lagi.

Hirata-san tersenyum. “Cucu-cucuku tak suka binatang, dan mereka semua sudah sebesar kalian.”

“Yang pernah ke sini, sekali waktu itu?”

“Oh, dia bukan cucuku.”

“Tapi kelihatannya kalian cukup akrab,” ujar Minami, barista cantik tersebut.

“Dia baru saja menikah. Dia anak kenalanku.”

“Semuda itu, Bos?” tanya Tatsuma yang selalu tersenyum.

“Hmm, kalau tidak salah, dia tiga tahun di bawahmu, Tatsu-kun.”

“19 tahun? Yang benar saja, Bos!”

“Mereka baru lulus SMA.”

Minami berdecak sembari menggelengkan kepala. Melihat itu, Tatsuma menggodanya.

Anego, sebaiknya kau lekas meresmikan hubunganmu dengan kekasihmu itu.”

Minami menatap tajam Tatsuma. Yang ditatap pun merengut sembari meringis dan kemudian melanjutkan mengelap meja-meja di depan konter.

“Jangan mengejek Minami, Tatsu-kun. Orang menikah bukan untuk main-main.”

“Jadi, Bos, putra kenalanmu itu benar-benar bertekad menikah di usia sebegitu muda?”

“Hmm, sebenarnya setengahnya lantaran kecelakaan.”

Minami dan Tatsuma mengangguk berbarengan.

“Nama pemuda itu Takahara. Dia tinggal di depan kita. Di perumahan sana.”

“Beruntung sekali orang semuda itu bisa membeli seunit. Harga tanah sini kelewat mahal,” komentar Tatsuma.

“Kedua orang tuanya baru meninggal. Dan dia anak tunggal, mencicil rumah itu bisa dilakukan. Takahara bekerja di salah satu minimarket yang dikelola anakku. Sejatinya, dia akan melanjutkan sekolah di perguruan tinggi bersama dengan istrinya setelah lahiran anak pertama. Mereka masih menabung untuk biaya masuk perguruan tinggi.”

“Sepertinya mereka akan jadi orang tua yang baik,” kata Minami.

Hirata-san tersenyum. “Ya, hidup memang penuh pasang-gelombang. Kalau sudah merencanakan ini-itu dan kadang ada halang-rintang, tentu komitmen keduanya mesti dijaga sekuat mungkin. Begitulah kehidupan berkeluarga. Aku salut pada keduanya. Mereka masih terlalu muda, tetapi pilihan menggugurkan bayi waktu pertama si perempuan diketahui hamil pun tak mereka lakukan. Aku mendoakan mereka bakal langgeng. Dan aku pun mendoakan kalian juga supaya hidup dengan baik bersama partner kalian.”

Minami dan Tatsuma tersenyum simpul sembari mengangguk. Kata-kata Hirata-san membuat mereka lebih bersemangat hari itu.

Lalu turun untaian hujan tipis-tipis.

“Oh ya, oh ya, hujan turun seawal ini.”

Hirata-san kemudian pergi sebentar untuk membawa kucing temuannya ke rumah.

Ada dua peliharaan lain, sebenarnya. Ikan-ikan di akuarium dan seekor Great Dane tua di rumah yang luasnya tak jauh dari kedai kopi. Namun itu bukan masalah baginya karena ada yang mengurus anjing dan ikan itu. Hirata-san kadung menyayangi kucing yang dia pungut.

***

Bagaimana kedai elite Anteiku berubah menjadi kafe kucing? Itu suatu kecelakaan. Dan seperti kita ketahui, tak semua kecelakaan berakhir buruk. Pada riwayat hidup Takahara, kita ketahui kecelakaan dalam berhubungan lantaran dua insan manusia masih polos pun tak menjadikan keduanya berakhir buruk. Aib memang dihasilkan, tetapi manusia seperti Takahara bisa dewasa dan mengenal yang namanya tanggung jawab. Dia menikahi kekasihnya serta membesarkan anak dengan baik, dan kecelakaan di Anteiku pun begitu. Sekali waktu, Hirata-san membawa kucing tiga warnanya ke kedai kopi miliknya saat sedang ramai-ramainya. Kucing itu sudah dewasa, berusia empat tahun dan sering berbuat kenakalan di rumah Hirata-san, seperti menggeret-geret karpet mahal dengan cakarnya atau menggoda seekor anjing raksasa yang malah ketakutan saat dikejutkan kucing itu. Hari itu si kucing tiga warna sudah keterlaluan, dan lantaran Hirata-san yang penyayang hewan tak tahan melihat anjing tuanya dikagetkan berkali-kali oleh si kucing, dia terpaksa membawa si kucing ke kedai kopi.

Kucing itu lolos dari pengawasan Hirata-san. Kucing itu muncul di salah satu meja pelanggan, mengejutkan semua orang. Besarnya hampir seukuran panjang tulang kering kaki orang dewasa. Bulunya indah dan mukanya yang kelihatan menjengkelkan dan menampilkan rasa bosan itu benar-benar disenangi pelanggan kedai, khususnya gadis-gadis muda yang lantas mengabadikan pose tak acuh kucing itu lewat telepon seluler mereka.

“Kucingnya menggemaskan. Mukanya seperti ossan [3] di dekat rumahku,” celetuk salah satu pengunjung. Yang lain tertawa mendengarnya.

Hirata-san menghampiri meja di mana si kucing tiga warna yang ia namai Nijiro itu tengah tepar-tepar tak acuh dalam keributan yang dibuatnya.

“Maafkan saya, lupa mengawasi kucing saya ini. Mohon maaf atas ketidaknyamanan Anda sekalian.”

“Oh, jadi itu kucing Hirata-san? Pantas saja begitu terawat. Badannya gemuk dan sepertinya kadung hidup nyaman,” komentar sepasang suami-istri tua yang telah menjadi pelanggan tetap Anteiku selama puluhan tahun. Mendengar perkataan ini, pelanggan lain ikut tertawa.

“Memang kalau diperhatikan mirip paman-paman kebanyakan duit yang hidupnya nyaman, ya, ha-ha.”

“Kucing menarik.”

“Eh, Hirata-san, bagaimana kalau kedai ini diubah jadi kafe kucing saja?” salah satu dari mereka mencetuskan gagasan.

“Ya, kedai ini memang menyajikan minuman kopi enak dan terlihat elegan, tetapi menarik pelanggan muda seperti gadis-gadis manis di sana dengan kucing tentu bukan gagasan buruk, ya kan, ya?”

Hirata-san tersenyum simpul.

“Oh ya, oh ya… Hmm, sepertinya ide menarik. Akan kupikirkan ini. Anda sekalian suka kucing, saya pun menyukainya. Ide ini memang menarik. Tolong dinantikan saja, harap bersabar, ya.”

Malam harinya, setelah menutup kedai dan pegawainya pulang ke rumah masing-masing, Hirata-san duduk di depan konter dan mengisap sebatang rokok Cherry, yang selalu diisap almarhumah istrinya kalau sedang memikirkan sesuatu.

Dielusnya pigura yang dia ambil dari rak penyimpan kopi bagian atas. Dalam pigura tersebut, tampil Hirata-san muda bersama istrinya yang amat cantik kala itu di depan kedai Anteiku waktu pertama dibuka sekitar tiga puluh enam tahun lalu.

“Hmm, Sanae, bagaimana menurutmu kalau kuubah kedai ini jadi kafe kucing?”

“Sepertinya menarik, ya?”

Nijiro di pangkuannya mendengkur manja. Kucing yang menentramkan hati tuannya.

“Kucing ini muncul mengejutkan pelanggan. Benar-benar lucu sekali. Namun kucing ini seperti membawa keberuntungan bagiku. Anak-cucu kita tak suka binatang seperti kita, aneh sekali ya. Tapi para pelanggan suka binatang. Terlebih anak-anak, meski jarang ada anak kecil minum kopi hitam di sini. Itu langka sekali. Tetapi pelanggan setia kita menyukai kucing ini. Lihat, Sanae, badannya gemuk seperti paman-paman. Seperti diriku dulu. Kau suka orang gemuk, katamu aku harus banyak makan waktu itu, ha-ha-ha. Sekarang aku agak kurusan. Kucing inilah yang menjalankan saranmu sepenuhnya. Menurutmu, ia kucing elegan yang ideal?”

Hirata-san mematikan rokok yang baru setengah dia isap. Dia pun mematikan lampu setelah membersihkan puntung rokok, lantas pulang ke rumahnya yang sepi. Esoknya, anjing tua yang sudah menemaninya bertahun-tahun meninggal.

***

Pertama kali Kana masuk kafe kucing saat usianya lima setengah tahun. Takahara, ayah Kana, dipindahkan dari minimarket ke kafe kucing Anteiku lantaran jaraknya dekat rumah dan istrinya sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi, jadi kesibukan mengurus anak dilimpahkan lebih banyak ke Takahara. Dia kadang membawa Kana ke kafe setelah meminta izin kepada Hirata-san.

Kana langsung akrab dengan salah satu dari tujuh kucing di kafe tersebut. Kana memanggilnya Nyanyan meskipun sudah diterangkan Hirata-san bahwa namanya Nijiro.

“Nyanyan, bulunya lebat, warnanya indah.”

“Oh ya, oh ya, namanya Nijiro, Kana-chan.”

“Kakek salah, namanya Nyanyan.”

Takahara melakukan ojigi [4] berkali-kali pada Hirata-san. “Kana, panggil beliau Hirata-san, bukan kakek.”

Kana yang matanya besar, melongo dan tak mengerti.

“Tidak masalah.” Hirata-san melambai pelan pada Takahara sembari tersenyum sumringah.

“Kakek,” panggil Kana, “Nyanyan boleh untukku saja?”

Sekali lagi Takahara melakukan ojigi. “Duh, Kana, ini kucing yang bekerja di tempat ini, bukan untuk dipelihara.”

Penjelasan Takahara justru membikin Hirata-san tertawa terbahak-bahak. Dia mengelus kepala Kana. “Kau suka kucing ini?”

“Ya, aku sayang Nyanyan.”

“Hmm, apa kau sanggup memelihara Nyanyan dengan baik?”

Takahara menyela, “Jangan Hirata-san, kami khawatir dia tak bisa.”

“Oh ya, oh ya, tentunya Kana anak yang bertanggung jawab, kan?”

“Humm!” Kana mengangguk sambil tersenyum lebar.

“Kalau begitu, kamu boleh merawat kucing ini. Tapi, kalau kamu sudah tak butuh kucing ini, bisa kamu kembalikan ke sini?”

“Sepertinya itu tidak mungkin, Kakek.”

“Oh ya, kenapa?”

“Aku sayang Nyanyan.”

Hirata-san tertawa. “Biarlah anakmu yang merawat kucing ini. Dia kelihatan senang sekali.”

Tatsuma mendengar keputusan itu dan menggoda si gadis kecil. “Apa kau bisa melakukannya dengan baik, Kana-tan?”

“Tatsu diam saja, aku akan merawat Nyanyan!”

Jawaban tegas gadis kecil itu membuat Tatsuma kaget lantas tertawa. Dari sinilah kehidupan baru Nyanyan dimulai.

Apa yang dipikirkan kucing gemuk kelewat hidup makmur ini mesti pindah dalam rumah petak yang ukurannya seperlima ukuran tempat ia tinggal sebelumnya? Tentu kita tak tahu. Hari pertama kucing itu tinggal di sini, ia melarikan diri ke kafe kucing untuk menyapa Hirata-san.

“Oh ya, oh ya, kau balik lagi ke sini?”

Nyanyan mengeong pada bekas majikannya. Sekali-dua kali.

“Jangan asal kabur. Atau kau sedang patroli [5]?”

Nyanyan mengeong sebagai jawaban.

“Kau rindu tempat ini? Bagaimana dengan Kana-chan?”

Nyanyan pun mengeong pendek. Ia berbalik memunggungi Hirata-san.

“Oh ya, oh ya, sudah mau pergi, dasar plinplan.”

Di rumah, Kana menangis setelah pulang dari sekolah dan mendapati Nyanyan sudah tak ada.

“Duh, Kana, nanti juga pulang Nyanyan, cup-cup,” hibur ibunya.

Kana mendekap dada ibunya dan menangis bertanya ke mana kucingnya pergi. Pada saat itu, Nyanyan mengeong di balik pintu.

Beberapa waktu kemudian, Nyanyan kadang pergi seminggu sekali ke luar area perumahan dan mengunjungi kafe kucing Anteiku. Sekadar menyapa bekas majikannya, lantas pergi mengunjungi teman-temannya di seputaran Hamadayama. Setelah Kana masuk sekolah dasar dan Nyanyan bertambah gemuk, kucing itu kian malas ke luar rumah dan hanya menghabiskan waktu di sekitar tempat tinggal mereka. Pada saat itu, Takahara sudah keluar dari kafe kucing dan masuk perguruan tinggi, sedangkan istrinya bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Waktu liburnya Sabtu dan Minggu. Kana kadang dititipkan ke bibi tetangga dengan anak seumuran dirinya. Nyanyan disukai kawan-kawan sepermainan Kana lantaran kegemukan dan sikap tak acuhnya pada manusia.

Kucing ini dijuluki futotta neko (太った猫) oleh teman-teman Kana saking bulat tubuhnya. Akhirnya mereka memanggilnya Futoi.

“Futoi ke mana, Kana-chan?”

“Mungkin di belakang rumah, sedang tidur.”

“Ayo kita lihat.”

Berduyun mereka masuk ke rumah Kana dan mendapati kucing itu tidur pulas seperti gumpalan bulu yang tercampak di atas karpet.

“Ia benar-benar kucing gemuk. Besaar sekaliii…,” ujar salah satu temannya sambil membuat gerakan tangan melingkar.

“Apa nanti bisa tumbuh lebih besar ya?”

“Huh, nanti bisa memenuhi rumah Kana-chan.”

“Apa mungkin begitu?” tanya Kana.

“Bisa saja seperti Kirara.”

“Kirara usianya 300 tahun.”

“Tak mungkin kucing bisa setua itu.”

“Aku pernah lihat kucing yang lebih besar dari Futoi.”

Teman-teman Kana menoleh ke salah satu kawan mereka.

“Memang di mana?”

“Di kuil di Koenji.”

Teman-teman yang lain saling berpandangan.

“Kau pernah ke sana?”

“Waktu festival tari Awa tahun kemarin.”

Kana ingin sekali melihat kucing yang lebih besar ketimbang Nyanyan dan sekaligus tarian Awa di bulan Agustus. Namun Agustus masih lama.

Saat teman-teman Kana pulang sore hari itu, dia bertanya pada ibunya untuk melihat tari Awa.

“Masih lama, Kana-chan. Um, tiga bulan lagi.”

“Aku mau lihat tari Awa, okaasan [6].”

“Hmm, nanti kita lihat sama-sama dengan ayah.”

Tak mungkin ada kucing yang lebih besar ketimbang Nyanyan, tapi di Koenji sepertinya memang ada. Dan Kana tak sabar ingin melihat tarian Awa di bulan Agustus sekaligus kucing besar di sana.

***

Namun di bulan Agustus, ayah Kana jatuh sakit dan mesti dirawat dua minggu di rumah sakit. Ibunya menjaga ayahnya, sedangkan Kana ditinggal sendiri di rumah bersama bibi dan Nyanyan. Ia bermain bersama teman-temannya sembari memikirkan ayahnya dan keinginannya melihat tarian Awa di Koenji.

Pada saat itu, kucing Kana pergi ke luar perumahan mengunjungi kafe kucing Anteiku yang masih setia disambangi pelanggan lama mereka. Ada juga Hirata-san, tetapi bekas majikannya ini sudah tak segemuk dulu. Dia jadi lebih kurus dan lebih banyak uban di kepalanya. Sekarang pun Hirata-san memakai tongkat jalan.

“Oh ya, oh ya, hisashiburi [7] ….”

Hirata-san mengaduh sebentar saat hendak duduk di lantai kafe yang baru itu. Dia hendak mengelus kepala Nyanyan.

“Geser sedikit ke sini bisa, Nijiro?”

Kucing itu menghentikan kegiatan jilat-jilat kakinya lantas maju beberapa langkah. Hirata-san berhasil menggapai kepala Nyanyan dan mengelus-elusnya sebentar.

“Kau begitu besar, jalanmu sudah lambat. Sepertinya kau juga sebentar lagi akan jadi kakek-kakek seperti diriku, ya…”

Seperti mengerti, Nyanyan mengeong.

“Oh ya, oh ya, kau akhirnya bersepaham denganku, ha-ha-ha.”

Pada beberapa tahun ini, Nyanyan sudah mengencani banyak kucing betina sepenjuru Suginami dan melahirkan keturunan-keturunannya yang lekas beranjak remaja. Tentunya dipanggil kakek-kakek memanglah pantas.

Tetapi, suatu hari, manakala Nyanyan memanggil-manggil di depan kafe kucing Anteiku, yang muncul bukan Hirata-san, melainkan Tatsuma.

“Sayang sekali, Nijiro. Hirata-san sudah menyusul istrinya. Kana-tan tidak bilang padamu?”

Sejak hari itu, Nyanyan lebih sering berkeliaran di taman atau malam-malam keluyuran tak tentu arah. Tapi ia akan tetap kembali ke rumah Kana seberapa pun jauhnya ia pergi.

***

Sekarang sudah bulan Mei, dan di Kashinomiya-gyoen, kucing-kucing berkumpul, barangkali ada yang mendoakan majikan mereka. Kucing lebih waspada ketimbang manusia. Tentu virus yang menyekujuri dunia sepertinya terendus kucing-kucing. Dan kucing-kucing yang sanggup bertahan di dunia kejam namun indah [8] ini masih bisa bertahan menghadapi virus di luar rumah.

Apakah Agustus nanti Kana dan orang tuanya bisa melihat tarian Awa? Gadis kecil ini menunggu-nunggu Nyanyan pulang sembari memikirkan festival di Koenji itu dan juga memikirkan kucing besar yang pernah diceritakan salah satu temannya. Berharap kucingnya lekas pulang, Kana berdoa agar wabah ini segera berakhir.

 

2020

 

Catatan:

[1] Kakek

[2] Imut

[3] Paman-paman

[4] Membungkuk

[5] Parafrase kalimat yang diucapkan Tada Shouzou dalam Tada-kun wa Koi wo Shinai

[6] Ibu

[7] Sudah lama tidak bertemu

[8] Parafrase kalimat yang diucapkan Mikasa Ackerman dalam Shingeki no Kyojin

 

Bagus Dwi Hananto lahir dan tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Pengangguran Berbakat Yamada Hikigaya merupakan salah satu buku cerpen terbarunya.