Cerpen Maria Widy Aryani (Minggu Pagi No 12 Tahun 73 Minggu IV Juni 2020)

Memori Masa Kecil ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1)
Memori Masa Kecil ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi

Hati-hati kuambil karung berisi kucing yang sudah kuberi obat tidur ketika memberinya makan. Setengah berlari menuju ujung kampung, yang jauhnya hampir satu kilometer dari rumah simbah. Pikirku, aku harus menyeberangi Kali Bening, agar kucing yang akan kubuang ini jika siuman tidak akan bisa kembali lagi ke rumah simbah. Dan aku merdeka tidak perlu lagi memberinya makan.

Jalan menuju Kali Bening melewati Watu Kembar. Dua batu sama persis besar dan bentuknya, berdiri berdampingan. Tingginya kurang lebih dua meter. Konon di antara kedua batu tersebut tempat untuk membunuh orang pada masa penjajahan Belanda. Banyak penduduk desa yang menjadi korban karena menentang Belanda. Bagi penduduk yang pernah mendengar cerita itu bisa dipastikan tidak berani lewat di situ. Apalagi malam hari. Mungkin karena aku sedang marah sekali pada simbah jadi aku tidak peduli. Keberanian ini muncul begitu kuat. Dan aku tidak takut sama sekali!

Jika melihat lukaku, hatiku makin benci pada simbah dan kucing di dalam karung ini. Sejak ayahku meninggal, ibuku yang harus bekerja di kota menitipkan aku hidup bersama simbah di kampung. Watak simbah yang keras tidak kusukai. Seperti diktator yang berkuasa di rumahnya. Jika bicara memberi perintah selalu dengan suara keras dan setengah membentak. Aku yang selalu disuruh-suruh membantu pekerjaan simbah. Sebelum berangkat ke sekolah, tugasku memberi makan sepuluh ekor burung puter dan lima ekor kutilang. Lantas tidak boleh lupa memberi makan Si Belang, kucing kesayangan simbah. Benci sekali aku pada kucing. Perasaanku simbah lebih mencintai kucing daripada cucunya.

Bagiku bentuk wajah kucing itu menjijikkan! Apalagi tadi pagi, ketika kuberi makan, tangan kananku malah dicakarnya. Berdarah dan perih sekali! Aku menahan sakit sampai di sekolah. Hanya kuobati lukaku dengan lidah buaya yang kuambil di halaman belakang sekolah. Kemudian kususun rencana ini!

Tiba di Watu Kembar aku dikagetkan oleh sayup-sayup suara orang memanggilku.

“Mas Son….”

Kaget luar biasa! Aku menoleh ke arah suara itu. Tak ada siapa-siapa. Suaranya begitu akrab di telingaku. Suara Kang Urip, yang sering mengajakku jalan ke sawah milik simbah ketika aku masih duduk di Sekolah Dasar. Kalau aku menangis dibentak Mbah Kung, Kang Urip lalu menggendongku menuju gubuk di tengah sawah. Sawah milik simbah yang dikerjakan oleh Kang Urip dengan perjanjian jika panen maka hasil panen dibagi dua. Setengah untuk simbah dan setengahnya lagi untuk Kang Urip. Aku didudukkan di lincak, tempat duduk yang dibuat dari bambu tanpa sandaran punggung di gubuk. Kang Urip membuatkan wayang-wayangan dari rumput. Mula-mula Kang Urip mencari rumput ilalang tua dan sudah kering. Kemudian dianyam menjadi dua wayang, agar aku bisa memainkan dialog kedua wayang rumput itu.

“Mas Son, tidak boleh nangis, jadi laki-laki itu harus kuat, pemberani, dan pintar. Kang Urip bikinkan wayang ya. Nanti saya kerja mencangkul, Mas Son pura-pura jadi dalang di lincak sini saja.”

Kemudian aku tidak menangis lagi, asyik dengan kedua wayang rumputku. Kurasakan kebahagiaan ketika aku berteriak-teriak memainkan kedua wayang rumputku. Aku bisa dengan cerdas spontan membuat dialog untuk kedua wayangku dengan suara lantang. Satu wayang sebagai Mbah Kung dan satunya adalah aku sendiri.

Jika dirasa lucu oleh Kang Urip, terkekeh-kekehlah Kang Urip menertawakan tingkah polahku. Ketika matahari sudah tepat di atas gubuk, Kang Urip menggandengku pulang. Jika sore tiba dan kebetulan banyak angin Kang Urip membuatkan layangan untukku. Simbah selalu protes, Kang Urip tidak boleh membuatkan layangan untukku tapi menyediakan saja peralatannya, lalu membiarkan aku membuat sendiri layanganku.

Yang paling kuingat jika ada acara merti desa, Kang Urip selalu menggendongku di belakang punggungnya dengan selendang jarit. Sedangkan tangannya memeluk tenong, semacam wadah yang dibuat dari bambu berbentuk lingkaran, tempat untuk berbagai macam makanan yang akan dibawa dari rumah. Nasi putih yang dibentuk kerucut mereka sebut bucu, ingkung goreng utuh, telur rebus, perkedel, kuluban, jadah, wajik, lemper, jenang, sesisir pisang ambon. Katanya setiap makanan ada arti dan maksudnya. Seperti bucu melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan. Ayam lambang pengorbanan, telur lambang kesuburan, kuluban lambang kemakmuran, sedangkan perkedel lambang hasil bumi yang menghidupi kita. Masing-masing keluarga membawa makanan lengkap, lalu berkumpul di lapangan tengah desa. Menggelar tikar dan mereka duduk berjajar berhadap-hadapan. Di hadapan mereka di bentangkan daun pisang berlembar-lembar memanjang. Kemudian semua makanan dikeluarkan dari tenong, disajikan di atas daun pisang tersebut. Setelah didoakan dan mereka makan bersama dengan saling bertukar lauk pauk.

“Mas Son, pengin makan apa?”

“Aku mau nasi dan perkedel, Kang!”

“Pakai sayap juga ya biar bisa terbang naik pesawat kalau Mas Son sudah besar nanti.”

Aku menurut saja dengan Kang Urip yang melayaniku penuh kasih. Sementara Mbah Kung hanya duduk dan mengobrol bersama seorang bapak yang duduk di sebelahnya. Saat itu aku merasa Mbah Kung tidak pernah memerhatikan aku. Tidak pernah peduli aku ingin makan apa. Kang Urip bukan siapa-siapa, tapi ia begitu peduli kepadaku. Dia hanya tetangga yang mengerjakan sawah simbah. Memang hidupnya sangat sederhana. Rumahnya tidak cukup besar hanya berlantai tanah dan bertembok gedhek (dinding anyaman bambu), tapi hatinya baik.

Setelah makan bersama selesai, Kepala Desa memberi sambutan dan berbagai pengumuman untuk kepentingan desa. Termasuk laporan keuangan kas desa. Heran yang datang ke lapangan semua laki-laki, tidak ada perempuannya. Aku sendiri tidak tahu mengapa demikian. Ketika hal ini kutanyakan pada simbah, Mbah Kung hanya menjelaskan bahwa memang ada pembagian tugas. Ibu-ibu bertugas memasak. Bapak-bapak yang berdoa dan membawa makanan ke lapangan.

“Tapi mengapa yang menikmati makan bersama hanya laki-laki saja. Sedangkan perempuan yang memasak malah tidak ikut makan?”

“Selesai memasak yang perempuan sudah makan duluan di dapur,” jawab Mbah Kung yang tidak membuat aku puas hingga kini dengan jawabannya.

Suatu hari di bulan Ramadhan. Ketika itu aku sudah duduk di bangku SMP, iseng-iseng aku ke sawah. Ada perasaan rindu menjadi kanak-kanak kembali lalu dilayani oleh Kang Urip. Aku menemui Kang Urip yang sedang mencangkul. Kutunggui dia sampai matahari tepat di atas gubuk. Kang Urip menghampiriku, lalu membuka bekalnya dan makan. Aku ditawari. Tapi kutolak karena simbah sudah berpesan aku harus makan siang bersama Mbah Kung di rumah. Kemudian aku ingat, “Lho Kang, ini kan bulan Ramadhan kok Kang Urip tidak puasa?”

“Woalaaa Mas Son,…hampir setiap hari Kang Urip ini puasa. Karena sehari saya hanya makan sekali saja. Ya setiap siang begini Kang Urip buka puasa. Wong saya bisa makan juga atas kebaikan simbah sampeyan, Mas. Simbah sampeyan itu orangnya keras, disiplin, galak, tapi kebaikan hatinya tidak ada yang menandingi di kampung ini. Maka saya hormat sekali pada simbah sampeyan, juga sayang pada Mas Son. Mas Son sekolah yang pinter ya. Kelak jadi dokter. Biar Mbah Kung bangga. Kalau Kang Urip sakit tinggal berobat ke Dokter Son, …gratis! Haha…..”

“Jadi Kang Urip puasa seperti saya to. Kata simbah kami puasa 40 hari sebelum Paskah. Dimulai hari Rabu Abu, Kang. Lalu kata Mbah Kung, hanya makan sekali kenyang dalam sehari, begitu. Kang Urip ikut-ikutan Mbah Kung ya, cara berpuasanya?”

“Haha, …Kang Urip tidak pernah ikut-ikutan siapa-siapa, Mas. Hidup Kang Urip ya seperti ini hanya bisa makan sekali saja setiap hari. Entah itu bulan Ramadhan atau bukan ya terus begini. Tapi Kang Urip bersyukur masih bisa makan. Dan itu semua atas kebaikan simbah sampeyan, Mas.”

***

Angin malam bertiup. Bunyinya keras sekali, karena di sekitarku pohon bambu tumbuh lebat dan subur. Tersadar dari lamunan. Tadi ada orang memanggil. Sejenak mengenang suara orang yang sangat kukenal. Kenangan-kenangan yang pernah terjalin antara aku dan Kang Urip yang sudah meninggal  lima tahun lalu.

Samar-samar aku mendengar suaranya memanggilku lagi! Jantungku berdegup kencang tidak beraturan. Nafasku naik turun. Terasa makin berat karung yang sedang kupanggul. Aku menoleh ke kanan, Watu Kembar seolah menatapku tajam. Menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa.

Sesaat aku mencium bau rokok klembak menyan yang biasa dipakai merokok Kang Urip. Bau yang sangat aku benci! Satu-satunya yang kubenci dari Kang Urip adalah bau rokoknya. Bulu kudukku berdiri! Aku berbalik arah. Berlari pulang! Si Belang masih dalam gendongan. Tanpa kusadari Si Belang tadi kubebaskan dari karung dan aku memeluknya erat sambil mengelus-elus bulunya. Heran. Tiba-tiba aku menyayanginya.

 

 Gg. Mijil, Manukan, Concat, Sleman, 07062020