Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 24 Juni 2020)

 

Salah satu modal penting dalam kehidupan bermedia sosial adalah peka terhadap perkembangan dan apa pun yang terjadi di muka Bumi. Siapkan flyer template untuk mengekspresikan kepekaan—termasuk urusan perbelasungkawaan—agar dunia tahu, meski engkau mengunggahnya seraya menghardik asisten rumah tanggamu yang telat menyiram aglonema kesayangan. Tah memang kamu tidak tahu dan tidak suka merenung bagaimana musibah itu mencabik-cabik orang lain, sebab bagimu rebahan dengan ponsel yang tak pernah kehabisan daya mampu mencitrakan dirimu di kenormalan yang baru.

***

Waktu itu, dua puluh delapan September 2018, gempa kembali melanda Tanah Air. Di Donggala. Dan Palu. Dan Mamuju. Waktu terjadinya (nyaris) sama dengan gempa Lombok dua bulan lalu. Di waktu magrib. Orang-orang tentu kalang-kabut di waktu antara itu. Perpindahan petang ke malam. Terang ke gelap.

Ketika bencana Lombok, beredar video amatir suasana salat magrib di sebuah masjid. Ketika guncangan menghebat, seorang imam bergeming di tempatnya ketika sebagian jemaahnya menghambur keluar—sebelum kemudian balik lagi (seakan-akan mereka tersadar bahwa dalam keadaan seperti itu tidak ada tempat berlindung paling baik selain rumah-Nya). Untuk menjaga keseimbangan, tangan kiri sang imam berpegangan pada dinding beton di dekatnya. Kala menyaksikannya, bulu kuduk saya merinding. Saya tak tahu. Mungkin juga tak yakin. Apakah saya bisa seberserah itu ketika berada dalam keadaan yang sama. Wong diguncang oleh gempa-gempa kecil saja, jantung saya mau copot. Terakhir saya merasakannya Agustus 2017. Ketika sedang memberikan pelatihan teater untuk para manula. Di Desa Panca Mukti. Bengkulu Tengah. Kami berhamburan keluar. Padahal kekuatan gempanya kalah jauh dari Lombok. Apalagi Donggala.

Belasungkawa Media Sosial ilustrasi Istimewa
Belasungkawa Media Sosial ilustrasi Istimewa

Ya, Donggala. Dan Palu. Dan Mamuju. Dan gempa berkekuatan 7,7 Magnitudo. Ternyata tsunami juga melanda tiga daerah itu. Mungkin karena kekuatan gempanya yang luar biasa besar. Saya tidak terlalu paham perihal tingkatan gempa bumi. Satuan Magnitudo (M) atau ada juga yang menyebutnya Magnitudo Lokal (ML) saja baru saya dengar ketika gempa Lombok. Tapi, hitung-hitungan saya, cara saya membandingkannya, sederhana saja. Gempa Lombok yang berkekuatan 5,1 M saja sebegitu hebatnya. Apalagi 7,7 M yang mengguncang Sulawesi Tengah.

Baca juga: Pandemi Digital – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 22 April 2020)

Semua video terkait gempa itu sudah saya tonton. Menontonnya senantiasa menimbulkan perasaan “nyess” yang dalam dan ngilu. Begitu tak ada artinya kita di hadapan-Nya. Saya membayangkan “kedatangan” bencana hebat itu seperti turbulensi hebat yang melanda pesawat. Perasaan tak-ada-yang-patut-disombongkan serta-merta datang ketika pesawat mengalami guncangan. Bayangan terburuk—pesawat jatuh atau terbakar—selalu datang tiba-tiba. Film-film tentang jatuhnya pesawat, berita tentang tak ada awak pesawat yang selamat, lintasan wajah anak-istri yang masih begitu ingin saya bersamai, dosa-dosa besar dan kecil tiba-tiba direka-ulang adegannya di depan mata, kelalaian kecil yang baru saja dilakukan sebelum terbang pun tak urung disesali habis-habisan. Doa pun dirapal lebih khusyuk. Rasanya ingin sekali kencing di celana. Begitu lampu kencangkan-sabuk-pengaman padam, Tuhan seakan-akan memberikan kehidupan yang baru. Lupa lagilah semua kesalahan. Doa pun kendor lagi. Perasaan ingin mendarat segera menguasai diri.

Itu (turbulensi pesawat) ibarat gempa yang datang sebentar. Hanya menyebabkan kepanikan. Tanpa korban luka-luka. Tanpa korban jiwa. Kalaupun ada, hanya perasaan ngeri yang singgah sebentar. Ada yang trauma setelahnya. Tapi sebagian besar, tidak. Sebagaimana perangai bangsa ini yang cepat lupa. Cepat memaafkan. Melupakan kengerian yang baru melanda sungguh mudah. Memaafkan kesokhusyukkan berdoa beberapa saat yang lalu adalah perkara biasa. Meski, sebagian, gemar pula mengungkat-ungkit kembali.

Baca juga: Orang Kaya Mabuk – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 29 Januari 2020)

Tapi bencana hari ini, bukan turbulensi. Bukan gempa saja. Pandemi ini telah mengambil banyak hal dari kehidupan: nyawa, kewarasan, dan kenormalan. Kalau diibaratkan pesawat yang mengudara, ia sudah jatuh. Korban berjatuhan. Puing-puingnya berserakan. Kemapanan roboh. Air bah ketakpastian datang. Reruntuhan masa depan kawin dengan genangan air yang datang dari prediksi dan kejadian yang tumpang-tindih dan tak terduga. Membayangkannya tentu saya tak sanggup. Bahkan tak pantas. Dan seperti mensyukuri itu. Paling tidak, saya belum mati rasa!

Pagi ini, salah seorang rekan saya mengunggah foto pendaratannya di Mauritania. Di Bandara Internasional Nouakchott. Beberapa warganet berkomentar nyinyir. Menganggap postingannya tidak peka dengan bencana yang menimpa negeri ini, negeri yang baru-baru ini disebut The Sydney Morning Herald sebagai hotspot baru penyebaran korona di dunia.  Saya pun mengiriminya direct message (DM). Memintanya menanggapi sekitar 9 komentar nyinyir di postingannya di Instagram itu. Tentu saja dengan emotikon bercanda. Tertawa dengan kucuran air mata. Ia membalas dengan emotikon yang sama. Lalu mengirimi saya bukti transfer senilai tujuh puluh juta rupiah. Di sana tertera nama lembaga penyalur bantuan yang kredibel. Dan waktu transfer malam tadi. “Kamu sudah memasang status sedih berkepanjangan tentang Covid-19 atau mendadak salih seperti yang lainnya atau belum, Benn?” DM-nya kemudian. “Kalau belum, lekaslah. Sebelum cap tidak peka juga melayang padamu. Cukup saya saja yang kena.” Lalu emotikon tertawa dengan kucuran air mata itu muncul lagi. Tidak satu. Tapi tiga. ***

 

Lubuklinggau, 24 Juni 2020

BENNY ARNAS lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Novel audionya “Bulan Madu Matahari” sedang tayang di Instagram @bulanmadumatahari dan Youtube Benny Institute. Dalam waktu dekat novelnya “Ethile! Ethile!” akan tayang di platform @Kwikku.