Cerpen AS Kurnia (Suara Merdeka, 21 Juni 2020)

Jalan Raya ilustrasi AS Kurnia - Suara Merdeka (1)
Jalan Raya ilustrasi AS Kurnia/Suara Merdeka

“Tinggal di mana, Pak?” tanya pemilik bengkel motor yang sedang mengisikan angin ke ban roda sepedaku.

“Di Bedulu. Sampeyan dari Jawa, Mas? Jawane pundi?” Dialog seperti itu kerap terjadi pada sesama pendatang.

“Banyuwangi. Merantau dekat-dekat saja. Tak usah jauh-jauh.”

Kalau ban agak kempis, kayuhan terasa berat. Apalagi di jalan menanjak. Kembali kulanjutkan perjalanan. Suasana jalan cukup padat. Ini waktu orang berangkat kerja. Beberapa hari ini turun hujan. Air tergenang di beberapa bahu jalan. Akibat selokan mampat, air melimpah ke jalan.

“God! God! God!” gonggongan anjing mengagetkanku.

Mulutnya menebarkan bau alkohol. Anjing itu terus menggonggong, mengejarku. Setiap hari aku lewat di sini, tapi anjing hitam itu tetap tak mengenaliku. Mungkin dia anjing tua yang pikun dan mengidap post power syndrome. Banyak anjing di daerah ini. Gonggongan seekor anjing mengundang anjing-anjing lain keluar rumah dan gonggongan mereka sangat gaduh.

Anjing di sini hidup bersosialisasi dengan anjing lain di lingkungannya. Bergerombol di jalan dan terbiasa berhubungan dengan manusia. Gonggongannya sebatas umpatan dan teriakan. Tidak menyerang. Berbeda dari anjing yang diikat atau dikandang di dalam rumah. Sosialisasinya terbatas. Anjing yang terkondisi seperti itu sangat agresif, berpotensi menyerang jika lepas dari kekangan.

“Waung…! Waung…! Waung…!” Suara knalpot motor mengisi keriuhan jalan raya.

“Nguing…! Nguing…! Nguing…!” Lengkingan mirip suara nyamuk di dalam speaker toa mengiringi mobil ambulans melaju. Air genangan muncrat ke tubuhku.

“Jancuk!” umpatku. “Pakai otak!” Suhu udara berada pada 36B. Barangkali itu yang membuat tensiku naik dan sarafku menegang.

“Bawa orang sekarat nih, Bro!” bentak seseorang yang duduk di samping sopir, melongokkan kepala, menatapku.

“Kalau saatnya mati, ya mati. Percuma terburu-buru. Santai saja!” balasku sengit. Masih mendongkol.

“Aku belum mau mati!” Seseorang menempelkan wajah ke kaca jendela, setelah itu menghilang. Ambulans pelan. Arus di jalanan macet.

“Dia terjatuh. Dia mati!” teriak orang di samping sopir tadi, menengok ke belakang. Matanya menatap ke lantai mobil. Mobil kembali melaju.

“Ngaing…! Ngaing…! Ngaing…!”

***

Tiga ekor anak ayam menciap-ciap, menengok kiri-kanan di pinggir jalan raya. Di seberang jalan, induknya berkokok-kokok, juga menengok kiri-kanan ditemani dua anak lain. Lalu lintas sangat padat. Kebetulan musim liburan. Jalan raya ini tentu tidak nyaman dan sangat berbahaya bagi anak-anak dan orang jompo, bukan jomblo.

Aku menghentikan sepedaku. Mengamati anak-anak ayam yang hendak menyeberang. Aku berpikir untuk menuntun atau menggendongnya. Ketika pikiranku masih ngalor-ngidul, tiba-tiba anak-anak ayam itu menyeberang. Mobil dan motor melaju. Aku pernah menjadi korban dari pengendara motor yang melaju ugal-ugalan. Ketiga anak-anak itu tak sempurna lagi wujudnya. Tubuh mereka gepeng, menempel di aspal panas. Aku terkesiap.

“Lolong! Lolong!” teriak induk ayam.

Hatiku  menyuruh melakukan sesuatu. Seremoni mendoakan arwah mereka, misalnya. Aku masih tercenung. Beberapa orang memperhatikan tingkahku. Akhirnya kubatalkan niatku. Gadis manis penjaga toko peralatan listrik sejak tadi memperhatikanku. Aku tak ingin dikira stres atau gendeng. Setiap hari aku lewat di depan tokonya dengan sepeda bututku. Aku memutuskan berdoa dalam hati saja. Sepedaku mulai kukayuh perlahan.

“Tuhan, terima kasih telah Kauberikan hari ini kepada hidupku. Kumohon pada hari-hari berikutnya, buatlah gadis manis penjaga toko itu selalu tersenyum padaku. Mahaagung Engkau dengan segala firman-Mu. Amin!”

“Cekakak… cekakak! Cekakak kakak! Wkwkwkwk!” Motor di depanku mogok. Dia terus menstarter motornya. Tubuhnya dipenuhi tato.

“Cekakak… cekakak! Cekakak kakak! Bohong…! Bohong…! Bohong…!” Akhirnya mesin berhasil hidup. Motornya digeber, menghilang dari pandangan mataku.

Entah mengapa, aku sebel mendengar suara motor itu.

***

Kukayuh hati-hati sepedaku melewati genangan air. Tak lama kemudian, aku bertemu mobil ambulans tadi. Dia sedang atret mau putar balik.

“Kenapa balik?” tanyaku.

“Dia sudah mati. Tidak jadi ke rumah sakit.”

“Aku masih ingin hidup!” teriak lelaki yang wajahnya menempel di kaca jendela.

Aku jadi ingat tokoh publik yang menggunakan mobil ambulans untuk mengelabui pengguna jalan dan merampas prioritas. Di zebra cross seorang lelaki berjalan ngesot menyeberang.

“Tin…! Tin…! Tot! Tot! Tot! Teet! Teet! Bret!” Sontak suara klakson mobil dan motor riuh. Si lelaki ngesot panik. Cepat berdiri dan lari ke pinggir. Semua orang tampak tergesa-gesa. Takut waktu segera berakhir.

“Dulalit! Dulalit! Klang! Kleng! Klang! Kleng!”

Menuju ke pertigaan, jalan kendaraan mulai merayap. Mobil dan motor menumpuk di sana. Tak jauh dari pertigaan ini, kurang-lebih 100 meter, ada pertigaan lain. Itulah yang menyebabkan sering terjadi kemacetan di kawasan ini. Terlebih bila ada bus besar berjejal. Lagi-lagi, orang-orang tak punya otak memencet klakson bersamaan. Otak mereka seperti di-setting dalam satu program sistem sensor. Ketika menghadapi situasi kemacetan, secara otomatis tangannya menekan tombol klakson.

Berhasil lepas dari pertigaan, di depanku mobil petugas melawan arah. Dia mengawal sebuah mobil hitam.

“Nguiing…! Nguiing…! Nguiing…!” Bunyi sirenenya memekakkan telinga. Polantas di pertigaan sibuk mengatur. Mobil di depanku berbelok ke halaman sebuah kafe. Begitu pun kendaraan lain berusaha menepi, masuk ke ruas kosong, memberi jalan bagi sang pejabat. Situasi itu sungguh menyebalkan. Ruas jalan ini sempit.

***

Aku hendak menuju ke Museum Arma. Di sana banyak pepohonan. Udaranya segar. Tidak seperti di jalan raya. Sepedaku melaju santai. Ada kabut di depan sana. Kendaraan beriringan. Orang-orang berada dalam semangat bekerja. Aku menembus kabut asap pembakaran sampah. Polusi di jalan raya memang tinggi. Kadangkala knalpot mobil rongsokan menyemburkan asap jelaga. Jalan raya memang milik umum. Semua bebas meninggalkan tafsir di sana. Entah, berapa sudah yang mati di atasnya. Berapa liter darah yang tumpah membasahinya.

Angin semilir, tanah teduh di bawah rindang pepohonan. Daun-daun yang jatuh mengabarkan siklus kehidupan. Tupai berloncatan dari dahan ke dahan. Burung gereja bercengkerama, tekukur turun ke tanah menanam biji.

Di sini jauh dari kebisingan. Tak ada asap jelaga. Gemericik air pancuran kolam meningkahi alunan suara rindik yang sampai sayup-sayup ke telingaku. Garis-garis mengalir di kertas. Sapuan kuas melaburkan warna pekat dan transparan, membentuk bidang, meruang, menyusun lapisan-lapisan kesan, membangun lanskap interpretatif.

Air mengalir dari sungai kecil yang membelah selasar, menuju ke kolam, mengiringi tarikan-tarikan garis liris dan sapuan-sapuan kuas. Aneka tumbuhan dengan bunga warna-warni mengisi lanskap taman. Bermacam pepohonan dengan beragam ukuran, tinggi ataupun diameter batang menghadirkan dinamika, menggerakkan tangan pelukis menari di kanvas.

Memori kekacauan jalan raya mengendap menjadi residu “kimiawi” yang bereaksi saat bertemu dengan keheningan, karakter yang berlawanan dan menghasilkan stimulus.

Kukemasi peralatan melukisku. Hari sudah sore, langit mendung. Sebentar lagi air akan tumpah dari langit. Keluar dari gerbang museum, seperti biasa, jalan dipenuhi kendaraan yang entah ditumpahkan dari mana. Aku mengikuti irama “lelambatan” ini. Titik-titik air mulai jatuh dari langit. Di ujung jalan berdiri seorang petugas, tetapi dia hanya bengong melihat kendaraan saling bersimpang berebut jalan.

Perempatan ini sebenarnya memiliki empat traffic light. Bertahun-tahun mati, tak pernah diperbaiki.

Titik-titik air membesar, aku buru-buru menepi ke sebuah warung yang tutup pada sore hari. Aku berteduh di terasnya. Hujan deras mengguyur bumi. Lama menunggu. Hujan tak kunjung reda. Langit gelap pekat.

Cahaya berloncatan di jalan. Ada yang meluncur dari arah yang sama juga arah berlawanan seperti baku serang. Kilatan api dan suara menggelegar di langit menguatkan dugaanku sedang terjadi perang kasekten. Tiba-tiba, kendaraan bertabrakan. Berbenturan berulang-ulang seperti pertarungan banteng atau kambing, beradu kepala. Para penumpang turun dari kendaraan, pun baku hantam. Aku terkesiap. Situasi begitu kacau.

“Tut…! Tut…! Tut…! Ujug-ujug! Ujug-ujug!” Kereta api melaju di tengah jalan menerjang semua yang menghalang. Menyeretnya hingga menghilang di tikungan. Sejak kapan ada kereta api di sini? Ini bak perang Baratayuda. Mungkin ini zaman gara-gara seperti yang sering disebut oleh “sang Permadi”. Tak puas beradu di darat, kendaraan-kendaraan itu melayang, bertabrakan di udara. Benturan-benturannya melontarkan percikan api laksana pesta kembang api. Begitu juga dengan kereta api, meliuk-liuk seperti naga. Ekornya menyabet ke sana-kemari, mendepak motor dan mobil. Penumpang kereta terlempar dari gerbong, berubah jadi gumpalan bara. Jatuh di berbagai tempat, menimbulkan kebakaran di sana-sini. Bumi berguncang seperti lindu. Guncangannya semakin keras.

“Pak! Pak, bangun! Sudah pagi. Saya mau buka warung.” Seorang perempuan setengah matang berdiri di depanku, tersenyum. Aku mengucek mata.

“Mau ngopi, Pak?” (28)

 

Ubud, 23-2-2020

AS Kurnia, perupa kelahiran Semarang, tinggal di Ubud, Bali