Cerpen Adi Zamzam (Kompas, 21 Juni 2020)

Cinta bagi Siti ilustrasi Dede Wahyudin/Kompas

Cinta bagi Siti adalah membuatkan kopi di pagi hari sebelum lelaki itu berangkat menengok sepuluh bahu sawah miliknya, sebelum lelaki itu telanjur beranjak ke rumah Waedah untuk mencari kopi, sehingga…

“Cuma membuatkan kopi saja masak kamu enggak bisa sih?” ujar Waedah dengan nada sinis, sembari menengok apa yang tengah Siti lakukan. Dan Siti paham perihal isyarat apa itu. Sebab, saat Siti kebetulan sedang diketemukan dalam kondisi gegojekan dengan Bejo, teguran akan berlanjut…

“Jadi istri itu mesti tanggap kebutuhan suami. Jangan maunya main-main sama anak melulu. Kalau suamimu enggak bisa kerja, anakmu, kan, kelaparan juga akhirnya.” Siti sering salah tingkah jika sudah begitu.

Kadang kala kelambanannya memang susah dicegah. Misalnya saja saat Siti bangun tidur—telinga Bejo begitu tengen, Bejo akan ikut bangun, merajuk, dan menetek sampai bosan. Siti baru akan terbebas dari Bejo jika lelaki itu bermurah hati mengambil dan membawa Bejo untuk menyingkir darinya sehingga Siti bisa membereskan semua pekerjaan rumah.

Mungkin Waedah hanya cemburu. Sebelum kehadiran Bejo, biasanya lelaki itu memang senang bercengkerama dengan cucunya—anak Waedah. Tapi emak Siti punya pikiran lain…

“Pokoknya kamu harus punya anak darinya. Mumpung aku masih kuat momong,” begitu ujar emaknya. Entah sudah lima atau enam kali. Setiap hari, Bejo memang lebih banyak diasuh neneknya.

Cinta bagi Siti adalah membiarkan lelaki itu menjamahnya sesuka hati saat malam-malam di atas pembaringan. Meskipun kadang ia merasa aneh dan kurang suka.

Lelaki ini jelas berbeda jauh dengan mantan suaminya. Mantan suaminya begitu suka berlama-lama, bermain-main, dan kadang kelewat beringas. Lelaki ini, meskipun lembut, tapi…

“Sudah. Pakailah kembali pakaianmu. Aku sudah cukup. Kalau kelamaan badanku bisa sakit semua.”

Kadang Siti merindukan aroma tubuh mantan suaminya. Tapi itu jelas haram. Lagi pula…

“Kalau dia masih tanya anakmu, jangan digubris!” ujar emaknya suatu ketika. “Anakmu sudah ada yang menanggung!”

Berbeda dengan mantan suaminya yang begitu lincah dalam hal begituan, lelaki ini adalah kebalikannya. Siti sudah hafal ritme kebutuhannya. Saat lelaki itu mulai begitu perhatian, suka pegang-pegang, tanya-tanya soal uang belanja (padahal uang belanjanya tak pernah telat atau kurang), senang mengajak main Bejo, dan terutama minta dibuatkan jamu yang ditambahi telur ayam kampung, maka itulah saatnya lelaki itu minta jatah.

“Kowe wis kepenak ta?” tanya lelaki itu.

Siti mengangguk saja. Meski terkadang ia begitu kangen dengan sesuatu yang tak bisa ia ucapkan. Ia membenci mantan suaminya yang pemalas dan tak bertanggung jawab. Ia juga tak suka cara lelaki ini ketika mendatanginya. Seperti orang kencing. Dan lalu tertidur pulas setelah mengaku capek.

Cinta bagi Siti adalah melihat Bejo tertawa bahagia dan ayem. Rewelnya Bejo adalah sumpek dunianya. Saat anak itu begitu rewel dan menginginkan perhatian lebih, kadang bisa seharian penuh Bejo tak mau lepas dari Siti.

“Kau mau ke mana?” tanya Siti ketika tak sengaja berpapasan dengan Tatik—teman sebangkunya di madrasah tsanawiyah—di suatu sore.

“Mau ke acara reuni teman-teman SMA di Taman Kopi. Eh, bagaimana kalau kita juga bikin reuni untuk teman-teman seangkatan kita?” tanya Tatik kemudian. Siti hanya tersenyum sembari mengayun-ayun Bejo yang sudah hampir seharian menggelendot dalam gendongan.

“Kita?” suara Siti kikuk.

“Eh, suamimu enggak membolehkan, ya?”

“Bapak…? Ya, aku harus tanya dulu….”

“Eh, masak kamu manggilnya bapak sih?”

Wajah Siti spontan bersemu. “Aku harus minta izin dulu. Di rumah banyak pekerjaan.” Kembali mengayun-ayun Bejo yang rewel.

“Wah, memang susah, ya, kalau sudah berkeluarga. Ya sudah, nanti aku bicarakan dengan teman yang lain saja deh,” melihat Siti dengan prihatin.

Sebenarnya Siti cemburu dengan Tatik. Dan saat menyadari bahwa kerewelan Bejolah yang memicu perkara itu, ia hanya bisa menangis dalam sunyi. Sumber cinta ternyata juga bisa menjadi sumber luka.

Cinta bagi Siti adalah mengajari Bejo mengeja kata bapak. Meski terkadang harus…

“Itu Bapak… Bapak, Bejo ikut… Bapak, Bejo mau ikuut….”

“Ikut emakmu saja, aku mau kerja!” bentak lelaki itu.

Saat musim panen tiba, siang malam lelaki itu memang selalu disibukkan dengan sepuluh bahu sawahnya. Hanya saja yang Siti sayangkan, keberjarakan yang ia bangun dengan Bejo jadi terlihat jelas. Belum lagi saat kalimat-kalimat berikut kembali terngiang di telinga Siti…

“Aku ingin punya anak lelaki darimu,” katanya, dengan nada setengah merayu. “Biar ada yang meneruskan nasabku.”

“Bukankah ada Waedah, Narti, Kalimah, Mardiah, dan Nursiah?”

“Sudah kubilang, aku ingin anak lelaki,” katanya, sembari terus menekan. Tanpa memedulikan ketidaknyamanan Siti yang menahan nama Bejo dalam mulutnya.

Namun begitu, Siti toh tetap mengajari Bejo mengeja kata bapak. Meski di masa-masa awal, Siti pernah juga merasa takut dengan lelaki ini. Takut ditipu (lagi), takut dengan keluarga besarnya, takut tak bisa menjadi istri yang baik (mengingat lelaki ini orang kaya), dan terutama takut dianggap mengincar hartanya. Nyatanya, Siti memang kemudian mencium bau permusuhan yang ditiupkan Waedah dan Nursiah.

Apa-apa pekerjaannya yang kurang beres selalu kena tegur. Dan hingga detik ini, belum pernah sekali pun Siti mendengar kedua perempuan itu memanggilnya dengan embel-embel ‘emak’. Alih-alih bisa bersikap biasa-biasa saja seperti ketiga saudaranya, dua perempuan ini kentara betul senang mencari-cari kesalahan Siti.

Kadang Siti berpikir, mungkin lantaran umurnya yang terpaut jauh di bawah mereka. Atau mungkin lantaran ia anak janda tak berpunya sehingga ia layak diperlakukan seperti itu.

Ndak apa yo, Nang. Nanti kalau Kenang sudah besar dan bisa cari duit sendiri, dadio wong sing sugih. Sugih dunya ya sugih ati.”

“Ba… pak. Ba… pak,” Bejo menanggapi kalimat emaknya.

Ada yang meleleh dari kedua sudut mata Siti.

Cinta bagi Siti adalah qanaah. Ia sudah janji tak akan berlama-lama menyesali mengapa emaknya dulu mengizinkan Komaedi menikahinya.

“Biar ada yang mencukupimu. Pekerjaan Emak takkan mampu membuat kalian berempat hidup enak,” alasan emaknya saat menerima pinangan Komaedi—yang saat pertama kali datang begitu pandai mencuri hati.

Dan sebagai anak tertua, Siti tak punya pilihan. Pekerjaan menjahit yang pernah dilakoninya demi membiayai sekolahnya sendiri tak begitu berarti untuk menghadapi kemiskinan mereka. Maka, seperti kata guru ngajinya, qanaah adalah obat mujarab.

“Kok, kamu mau saja sih sama yang sudah tua begitu?” tanya Tatik waktu itu.

Siti hampir tidak mau menjawab pertanyaan kurang ajar itu. “Kalau ada orang yang menyukaimu, mau menerima apa adanya, kira-kira kamu bagaimana?” tanya Siti balik.

Melihat Tatik yang kemudian hanya tersenyum setelah mendengar jawabannya, Siti pun kemudian mendapatkan keyakinan. Pertama, peduli setan dengan perlakuan Waedah dan Nursiyah. Kedua, peduli setan dengan omongan orang-orang. Ketiga, suaminya harus dibahagiakan. Keempat, Bejo harus bahagia. Dan kelima, dia juga harus bahagia.

Lima asas yang janji ia pegang kuat-kuat. Termasuk dalam kejadian kemarin pagi, ketika ia sedang belanja di pasar.

“Mau beli apa?” sebuah tangan menyentuh bahu Siti dari belakang.

Terkejut. Wajah Siti langsung bersemu setelah menoleh, “Ini, mau beli jajan buat wong tandur.”

“Kok, ndak ada yang antar?” sembari menowel pipi Bejo.

“Suamiku di sawah….”

“Oh, iya. Aku dengar, suamimu yang sekarang tukang tebas gabah, kan, ya? Semoga saja dia enggak kayak Komaedi. Dulu, sebenarnya aku ingin memperingatkanmu. Tapi, aku kira sudah terlambat .…”

“Kalau kamu, apa sudah menikah?” tanya Siti, memberanikan diri.

“Aku?” tersenyum, “coba kalau dulu dirimu enggak kena guna-guna Komaedi, mungkin aku sudah memacarimu. Aku sudah ditolak dua orang nih.…”

“Ah, masak?” Siti tak percaya.

“Masak?” Joko menatap Siti dalam-dalam.

Dada Siti berdebar tak karuan. Tak berani menatap balik. Hingga Joko pamit dan berlalu darinya.

Joko, teman semasa MTs dan terkenal paling tampan, ditolak orang? Apa karena ia miskin? Apa karena pekerjaannya yang cuma seorang kuli? Setahu Siti, Joko lelaki yang baik. Ah, andai saja….

“Pak, aku ikut ke sawah ya.…”

“Kamu di rumah saja, urus rumah,” sambil membereskan semua bekal yang harus dibawa ke sawah.

“Biar nanti aku bisa bantu-bantu, atau menggantikan Bapak saat….”

“Saat apa?” terhenti sejenak. Lalu meneruskan kesibukannya setelah Siti tak meneruskan kalimatnya. Dipijitnya pelipis saat sebuah kalimat melintas dalam ingatan….

“Tolonglah dia. Dia masih butuh pelindung. Setidaknya dia tidak mempermasalahkan dirimu, dan bisa memberimu anak berapa pun kau mau,” suara Waginah—teman sepermainan Waedah yang kini telah menjadi ibu mertuanya.

“Kamu masih kecil. Belum bisa. Urus rumah saja dulu,” ujar lelaki itu sebelum berlalu.

Siti memandang kepergian lelaki itu dengan mata berkaca-kaca. Ia akan tetap berusaha menamainya sebagai cinta, meski ada yang sakit di dalam dadanya.

 

Adi Zamzam, bernama asli Nur Hadi, lahir di Jepara, 1 Januari 1982. Cerpen-cerpennya tersebar di berbagai media nasional. Pernah menjadi nomine lomba cerpen Krakatau Award 2018 dan lomba puisi Krakatau Award 2019.

Dede Wahyudin, lahir di Bandung 8 Mei 1975. Menamatkan pendidikan sarjana seni rupa UPI. Menjadi guru seni budaya di SMA Pasundan 8, Bandung. Aktif pula berpartisipasi dalam berbagai pameran bersama, juga menggelar pameran tunggal.