Cerpen Tommy Duang (Koran Tempo, 20-21 Juni 2020)

Penyesalan ilustrasi Koran Tempo (1)
Penyesalan ilustrasi Koran Tempo

NAMA saya Martin Jemali, berasal dari daratan Flores bagian tengah dan beberapa waktu lalu saya diwisuda menjadi sarjana sosiologi di salah satu perguruan tinggi tidak terkenal di Kota Makassar. Dua hari lalu saya keluar dari rumah sakit setelah dua bulan mendekam dalam ruang isolasi karena terinfeksi virus korona. Saya teramat bahagia karena akhirnya teror kematian itu berhenti menghantui.

Selama menjalani masa-masa kuliah di Makassar, saya tidak pernah pulang ke Flores. Dan ketika kuliah selesai, juga atas permintaan penuh rindu ibu, saya akhirnya pulang. Sudah sekian tahun, saya tidak bertemu dengan ibu dan bapak. Dan sampai saya menulis cerita ini untukmu, saya sama sekali belum bertemu dengan ibu.

Terakhir kali saya melihat ibu enam tahun lalu, ketika saya hendak berangkat ke Makassar untuk kuliah. Waktu itu pukul 02.00 dinihari, di Pelabuhan Laut Laurensay Maumere, saya melihat ibu menangis di pelukan ayah.

Saya anak bungsu mereka dan enam bulan sebelum berangkat ke Makassar, kakak saya satu-satunya membunuh dirinya sendiri. Dia malu karena terjangkit HIV/AIDS dari suaminya yang telah bertahun-tahun bekerja di Kalimantan dan pulang hanya untuk menyebarkan penyakit itu sebelum dia meninggal.

Ibu sama sekali tidak merestui keputusan saya untuk kuliah di Makassar. Dia seorang perempuan desa yang baik hati dan lugu, tetapi tidak memiliki ketertarikan untuk mengetahui hal-hal selain kebahagiaan suami dan anak-anaknya sendiri. Bagi ibu, Makassar dan Kalimantan merupakan dua daerah yang berdekatan, dan dia khawatir saya akan menjadi seperti anak mantunya, terinfeksi HIV/AIDS dan kemudian mati sia-sia.

Saya tahu, kematian anak sulungnya membuat ibu trauma. Pengalaman traumatis itulah yang mendorong ibu menyuruh saya pulang ketika mendengar desas-desus tentang virus korona. Dari tetangga kami yang berprofesi sebagai perawat, ibu tahu bahwa virus korona jauh lebih berbahaya dari HIV yang merenggut nyawa anak sulungnya.

Nong*, kau harus pulang!”

Setelah sekian lama berada di tanah rantau, saya menjadi tidak begitu suka dengan cara ibu mengatur-atur hidup saya. Enam tahun berada jauh dari rumah, sudah cukup membuat saya mandiri dan mampu menentukan yang terbaik bagi diri saya sendiri.

Saya bilang pada ibu bahwa semuanya baik-baik saja karena saya mampu menjaga diri sendiri. “Yang penting uang makan lancar,” saya mencoba meredakan tegangan dalam suara ibu.

“Tidak, kau harus pulang!”

“Ma ….”

“Besok mama kirim uang kapal.”

Saya tahu, ibu serius. Lagi pula, kuliah saya sudah selesai dan enam tahun terakhir ini saya tidak pernah meninggalkan Kota Makassar. Maka, malam itu saya bilang pada ibu bahwa saya akan pulang.

“Selasa pekan depan ada kapal yang berlabuh ke Flores. Saya akan pulang.”

Di ujung telepon, ibu mengembuskan napas lega. Kemudian ibu bilang bahwa dia dan bapak sangat merindukanku. Saya juga begitu merindukan mereka dan saya katakan bahwa bila nanti tiba di rumah, saya harus dikarantina selama empat belas hari.

“Memang begitu aturannya,” kata ibu. “Tapi tidak apa-apa. Mama akan penuhi semua kebutuhanmu. Yang penting kau pulang.”

Malam ketika bertolak dari Makassar, saya selalu mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Saya sehat dan saya hanya perlu menjaga diri agar tidak terlalu banyak melakukan kontak fisik dengan penumpang lain.

Berhubung uang yang ibu kirim lebih dari cukup, saya memutuskan untuk tidak menyiapkan bekal. Lagi pula, bekal macam apa yang diharapkan dari seorang anak kos. Di kapal ada kantin dan uang yang saya miliki lebih dari cukup membeli makanan untuk dua puluh tiga jam perjalanan.

Selasa malam, kapal yang saya tumpangi bertolak dari Makassar menuju Flores.

Perjalanan laut selalu menjadi hal yang paling menyenangkan bagi saya. Laut, bagi keluarga kami tidak hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga telah menjadi rumah.

Ayah saya seorang nelayan, begitu juga ayahnya, dan ayah dari ayahnya. Keluarga kami adalah keluarga nelayan yang menggantungkan hidup pada kemurahan laut. Laut adalah segala sesuatu bagi keluarga kami. Sejak kecil, saya sudah terbiasa berada di laut bersama ayah, menangkap ikan, menghabiskan hari, menghabiskan malam.

Sejak kecil, saya dilatih berenang, menaklukkan ombak, dan mengakrabi laut. Kata ayah, cara terbaik menaklukkan ombak adalah dengan berenang mengikuti gulungannya, bukan memaksakan diri melawan arus.

“Lenturkan tubuhmu dan menarilah mengikuti arus. Semuanya akan baik-baik saja,” itulah nasihat terakhir ayah sebelum saya berangkat ke Makassar, enam tahun lalu.

Nasihat itu selalu saya ingat dan terus saya hidupi sampai sekarang, sampai saya menulis kisah ini untukmu. Dan juga pada hari-hari setelah hari ini, saya akan selalu menghidupi nasihat itu.

Dalam pelayaran dua puluh tiga jam dari Makassar ke Flores, saya selalu teringat ayah. Sekarang dia sudah tua, bahunya tak lagi setegar dulu dan kulitnya makin hitam berkeriput disengat panas matahari lautan.

Dulu, waktu masih kecil, saya suka mencium bau laut di sekujur tubuh ayah. Bau itu selalu menentramkan hati, selalu segar di paru-paru dan hari ini, hari ketika saya menulis kisah ini untukmu, saya menyadari, itulah bau yang akan selalu saya rindukan sepanjang hidup.

Hari Rabu malam, pada pertengahan Maret lalu, kapal yang saya tumpangi tiba di Flores. Saya teramat bahagia karena setelah enam tahun, akhirnya saya kembali ke tanah tempat saya dilahirkan.

Kebahagiaan itu seketika lenyap ketika kami diberi tahu bahwa kapal yang kami tumpangi dilarang sandar di pelabuhan. Ini mengejutkan dan sekaligus menebar ketakutan yang besar. Bulan-bulan itu, Flores masih tergolong daerah hijau dan oleh karena itu, keputusan pemerintah daerah setempat untuk mengkarantina seluruh penumpang kapal di tengah lautan sama sekali tidak bisa kami terima.

Apalagi ketika mendengar desas-desus bahwa beberapa anak buah kapal telah terinfeksi dan yang paling mengejutkan adalah berita tentang gadis penjaga kantin kapal juga dikabarkan terinfeksi virus korona. Saat itu saya begitu takut dan satu-satunya hal yang saya pikirkan adalah ibu dan bapak yang tengah menanti saya di pelabuhan.

Diam-diam saya menelepon bapak.

“Siapkan perahu, saya akan lompat dari kapal.”

Saya tahu ini rencana gila dan di ujung telepon, bapak marah besar. Setelah berdebat cukup lama, akhirnya bapak mengalah. Karena kepanikan yang luar biasa, malam itu saya menipu bapak.

“Kapal ini akan dipulangkan ke Makassar.”

Akhirnya bapak mematikan telepon setelah memastikan bahwa saya berada di bagian timur kapal dan akan melompat setelah mendapat sinyal dari perahu bapak.

Lima belas menit kemudian, saya melihat nyala api rokok berjarak sekitar 30 meter di sisi timur kapal dan saya melompat ke laut kemudian berenang menuju perahu bapak. Saya mendengar penumpang kapal dan orang-orang di pelabuhan berteriak ketakutan saat melihat saya terjun dari atas kapal.

“Tuhan, tolong.”

Ngangan golo.**”

“Bodoh eee.”

Begitu sampai di perahu, saya melihat bapak menangis lalu memeluk saya. Ketika bapak hendak mengayuh perahu ke daratan, sekelompok polisi mendatangi kami. Mereka membawa bapak ke kantor polisi dan saya diantar ke tempat karantina di pusat kota.

Seminggu kemudian, bersamaan dengan beberapa penumpang lain, saya dinyatakan positif mengidap Covid-19 dan dipindahkan ke ruang isolasi rumah sakit.

Setelah kurang-lebih dua bulan dirawat dalam ruang isolasi, akhirnya saya dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang ke rumah. Itu dua hari lalu. Saya teramat bahagia karena akhirnya teror kematian itu berhenti menghantui.

Tapi sebenarnya saya benar-benar tidak bahagia. Di hari yang sama, hari ketika saya keluar dari ruang isolasi, bapak dan ibu juga keluar dari ruang isolasi yang sama. Hanya, tujuan kepulangan kami sama sekali berbeda. Ibu dan bapak berpulang ke rumah Tuhan, tempat asal mereka yang paling pertama.

Dan saya pulang ke rumah masa kecil saya di pinggir kota. Pulang membawa penyesalan yang teramat dalam.

Seandainya malam itu, ketika masih di dalam kapal, saya cukup bijaksana untuk tidak menggoda dan meniduri gadis penjaga kantin yang belakangan diketahui telah terinfeksi virus korona itu, saya tidak akan pulang membawa virus dan menularkannya pada bapak dan juga bapak tidak akan menularkannya pada ibu.

Saat kutulis kisah ini untukmu, sesekali kupandangi foto ibu dan bapak yang tergantung di dinding ruang tamu rumah kami dan berharap semoga seluruh kota akan baik-baik saja. ***

 

Keterangan:

*Panggilan untuk anak laki-laki di daerah Sikka, Flores bagian tengah.

**Bodoh sekali.

 

Tommy Duang, lahir di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 26 Januari 1995. Masih menempuh pendidikan filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.