Cerpen Endri Maeda (Minggu Pagi No 11 Tahun 73 Minggu III Juni 2020)

Bau Parfum Ibu ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1)
Bau Parfum Ibu ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi

Aku memilih pura-pura tidur daripada harus ditinggal ibu mencari makan malam hari. Sendiri lebih menakutkan dibanding rasa lapar. Lagian merepotkan orang tidak baik kata ibu. Dan bagiku lapar di malam hari mungkin kebiasaan buruk yang menakutkan.

Malam selalu menakutkan semenjak kepergian Bapak. Apalagi ketika perutku lapar tengah malam, tidak bisa tidur meski kupaksa. Kami juga sudah tidak memiliki jam dinding, aku tidak pernah tahu sebenarnya tidur pukul berapa. Ibu lebih memilih membelikan makanan daripada harus membeli jam baru. Lagian rumah kami tidak jauh dari masjid, suara azan bisa kami manfaatkan sebagai alarm, juga ibu yang harus bangun pagi petang untuk memunguti botol bekas di warung-warung.

Lima tahun yang lalu bapak meninggalkan kami.  Waktu itu aku tidak bisa tidur tengah malam. Tempayan kami sudah tidak ada berasnya lagi. Sekitar pukul dua dini hari bapak pergi dari rumah, dan sampai sekarang bapak tidak juga pulang. Tiap kali aku tanya ke mana bapak, ibu tidak pernah memberi tahu pasti. Pernah suatu hari aku tanya, kata ibu sedang bekerja di luar kota untuk waktu yang lama, lalu beberapa minggu kemudian aku tanya lagi, malah katanya bapak tidak akan pulang.

Aku sendiri sudah menginjak umur delapan tahun. Ibu menyuruhku sekolah. Aku pernah menolak, aku ingin membantunya mencari uang, aku ingin seperti Doni dan yang lain, tinggal menunggu mobil berhenti di lampu merah lalu mengulurkan tangan bisa dapat uang. Aku ingin mengumpulkan banyak uang supaya bisa beli jam baru seperti tetangga sebelah. Tapi ibu selalu bilang aku tidak boleh sepertinya, aku harus belajar katanya.

***

Meski hanya menghidupi satu anak, bagi perempuan sepertiku cukup berat. Apalagi penyakit yang semakin hari semakin menikam sisi kiri pada tubuhku membuatku susah membawa bawaan berat. Aku pernah ditawari pekerjaan oleh seorang teman. Kerjanya malam hari. Aku akan diberi baju bagus katanya. Lumayan besar gajinya, bahkan, katanya, kerja semalam saja bisa buat makan tiga minggu. Untuk biaya sekolah anakku aku tidak perlu khawatir. Tapi aku menolaknya. Aku tidak mungkin meninggalkan anakku malam hari. Apalagi setelah tahu kerjanya menghibur lelaki. Waktu itu aku benar-benar menolaknya.

Pernah suatu malam ketika anakku lapar dan tidak bisa tidur. Aku keluar malam-malam mencarikan makanan. Tidak ada uang. Tidak ada barang yang bisa dijual. Tidak ada apa-apa. Jam dinding sudah terjual, tidak ada yang tersisa selain beberapa peralatan dapur yang tidak mungkin aku jual.

“Sepertinya, aku perlu mengetahui namamu,” suara lelaki dari belakangku. Aku tahu lelaki itu berniat buruk. Dia mengikutiku sampai akhirnya aku berhasil ke sebuah warung yang masih buka. Aku bilang kalau aku diikuti seorang lelaki dan aku sangat takut. Entah, malam selalu menakutkan. Terkadang aku bingung. Orang baik justru dipenjarakan, di suruh di rumah saja karena banyak kejahatan di malam hari, tapi justru orang jahat dibiarkan saja malam-malam keliaran.

Suamiku meninggal lima tahun yang lalu karena tertembak. Dari keterangan polisi katanya dia mencoba melawan ketika akan dibawa ke kantor. Peluru melesat mengenai dadanya lalu meninggal. Entah aku juga tidak tahu pastinya. Yang aku tahu dia pamit malam hari ketika anaknya kelaparan dan tidak bisa tidur.

***

Malam ini aku harus belajar sungguh-sungguh untuk menghadapi ujian besok. Ibu telah berjuang keras melunasi biaya ujianku. Aku tahu, separuh dari kehidupannya hanya untuk anaknya. Dari pagi petang sampai matahari terbenam banyak keringat yang dikeluarkan, dan itu tidak boleh sia-sia. Namun tidak seperti biasanya, semenjak aku ujian ibu selalu pulang di atas jam delapan. Ibu juga sudah membeli jam baru. Kini aku jadi tahu aku tidur jam berapa.

Malam ini, perutku mulai lagi. Lapar yang mengganggu. Tapi aku memilih pura-pura tidur daripada harus sendiri. Sendiri lebih menakutkan daripada rasa lapar.

***

“Kalau lapar, mulai sekarang jangan pura-pura tidur, ya. Ibu akan mencarikanmu makan. Kamu akan tidur pulas setelah perutmu terisi,” bisikku di telinga anakku. Tidurnya begitu pulas. Aku tahu dia kelelahan belajar semalaman.

Aku menaruh badan di samping anakku. Meski umurku masih muda namun penyakitku semakin parah saja rupanya. Tubuh lelah ini harus segera istirahat. Tapi payah, pikiranku belum juga bisa damai mengingat kejadian yang baru saja kualami. Dasar lelaki, pikirku. Dengan uang mereka bisa menjelajahi selangkangan demi selangkangan. Sialnya aku di situ. Bagaimana dengan suamiku, apa dia akan tahu hal ini. Ah, dia sudah tiada. Entahlah, Tuhan tahu ini terpaksa aku lakukan. Yang jelas, tangan geli yang menjijikkan tadi masih saja terasa di leherku.

***

Aku tahu ibu sudah pulang. Aku pura-pura tidur supaya dia tidak keluar mencari makan untukku. Sebenarnya aku ingin bangun dan memberi tahu kalau besok aku sudah siap mengikuti ujian kenaikan kelas. Aku sudah belajar dengan baik. Beberapa soal yang diberikan kemarin bisa aku kerjakan tanpa kesulitan. Juga Bahasa Inggris, diam-diam aku menyukainya. Kemarin ibu membelikan kamus untukku. Meski tidak baru, kata ibu isinya tidak beda dengan yang baru. Entah dari mana ibu bisa beli buku bekas seperti ini. Aku ingin mengetahuinya, pasti di sana banyak buku bekas yang murah.

Kata guru, aku termasuk murid yang pintar. Guruku mengatakan itu waktu pemberian rapor tahun lalu. Sebagai siswa yang prestasi aku mendapatkan seragam satu setel, juga sepatu baru. Aku menyukainya. Setiap seminggu sekali harus kucuci. Ibu mengajari cara mencuci sepatu, juga melipat baju dengan benar. Semenjak itu, sampai sekarang aku mencuci semua pakaianku sendiri. Terkadang juga milik ibu, itu pun kalau dibolehkan. Katanya, aku tidak boleh terlalu capek. Boleh mencuci miliknya asal jangan semuanya.

Malam ini memang beda dari malam-malam sebelumnya. Tak seperti biasanya, malam ini ibu tidur memelukku. Bau ibu juga beda, lebih harum dari biasanya. ***