Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 17 Juni 2020)

 

Tidak seperti di ruang rawat-inap malam tadi hingga subuh ini, meskipun Istri sering meminta saya memijat telapak kakinya yang katanya sering mendadak lemas dan dingin (padahal saya merasakan hangat yang normal), kami masih bisa melakukan aktivitas seakan-akan tidak terjadi apa-apa: Istri menyelesaikan novel di notebook, sementara saya menyunting novel saya dengan bersandar di ujung dipannya.

Pun ketika saya beberapa kali mengolok-olok ketakutan Istri akan darah ketika perawat hendak menyuntikkan cairan obat di urat tangan kanannya—karena infus yang pertama menyebabkan punggung tanganmu bengkak—seraya berceloteh bahwa kami seharusnya bercinta sebelum ia masuk ruang operasi, ruang rawat-inap itu kehilangan daya terornya.

Namun, ketika saya tak diberi akses masuk ke ruangan operasi, dan membiarkan jantung hati diisap ke ruangan yang saya tahu sangat ia takutkan, saya membeku. Ia telah diseret ke labirin dengan batas kematian dan kehidupan yang mulai menipis. Perut kanannya akan dibelah, sementara saya hanya bisa terpaku dan membeku di ruang tunggu dengan doa-doa yang gugup.

Tiba-tiba saya mengutuk diri sendiri atas apa yang menimpa Istri.

Baca juga: Hidup (Tidak) Perlu Militan – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 10 Juni 2020)

Bagaimana bisa, saya yang saban hari hanya duduk di muka laptop hingga larut malam dengan bergelas-gelas kopi, tapi malah ia yang aktif mengajar tanpa melupakan peran sebagai ibu rumah tangga—yang tentu saja tidak suka minum kopi apalagi begadang—yang kena batu ginjal? Memang, Istri pernah bilang kalau almarhum ayahnya juga mengidap batu ginjal ketika kami memeriksakan keluhannya di perut kanan yang perlahan membengkak dua pekan lalu di RS Siloam di Lubuklinggau. Saat itu, kami masih sempat bercanda dan saya menganggap semuanya bukan urusan yang serius.

Tapi hasil USG dan CT Scan membuat segalanya berubah. Batu berdiameter 2,1 x 1,7 cm bersemayam di (saluran) kemihnya. Dengan pengetahuan matematika yang mengenaskan, saya mengingat-ingat kalau diameter adalah titik tengah hingga ke tepi, bukan dari tepi ke tepi atau bukan dari ujung ke ujung. Artinya, batu itu panjangnya 4,2 cm. Belakangan, saya tahu kalau wawasan matematika saya memang patut dikasihani, tapi … batu yang dikeluarkan itu sungguh panjangnya 4 cm lebih!

Tak ada pilihan, harus operasi. Tak bisa di Lubuklinggau, harus ke Palembang.

Saya sungguh mengutuk diri sendiri.

Semua kenangan dan cerita berkelebatan dalam kepala. Saya merasa, dia sedang menjadi tumbal atas kesalahan dan kelalaian saya dalam menjaga banyak keseimbangan.

Kalau mau ditimbang, siapa yang lebih berbakti sebagai pasangan, pasti dia pemenangnya; siapa paling keras kerjanya (dia guru di desa, saya penulis yang santai), dialah pamuncaknya; siapa yang paling telaten mengurus anak, rasanya tak perlu jawaban tentang ini; siapa yang paling repot kalau pasangannya sedang punya masalah, dia jauh mengalahkan saya; siapa yang paling mencintai pasangannya, oh … saya kalah lagi!

Baca juga: Kesenian yang Mengaliri Darah – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 03 Juni 2020)

Saya tak pernah merasakan kenelangsaan yang sayup, jauh dan rapuh semelankolik ini. Kalau ada momentum seseorang menancapkan ketobatan untuk lebih baik dalam menjalani hidup, termasuk urusan mencintai Istri, ini adalah momentumnya. Momentum yang jatuh di atas kedaifan saya sebagai lelaki, suami, kepala rumah tangga, atau teman bercerita yang seharusnya paling setia.

Saya menunggunya di sini, Cinta. Di ruang tunggu yang penuh kemungkinan dan kengerian. Sungguh, saya tak ingin kehilangan dia. Saya mengingat semua “kecurangan” dan “kesalahan yang sengaja” saya lakukan terhadapnya dan itu membuat saya tak kuasa menahan air mata.

Saya merapal doa, di dalam ruangan berlampu banyak di sana, ia menemukan Bumi yang bulat yang melingkar itu. Yang membuat segalanya menuju satu sumbu karena … makin berusaha kami menjauh, makin dekat pula kami akan bertemu.

***

Lima jam operasi itu sukses membuat saya bermandi air asin. Saya memeluknya pascaoperasi sebelum perawat melarang saya karena sekujur tubuh Istri yang baru siuman sedang sakit karena pengaruh bius yang baru habis.

O Tuhan, saya lebih rajin mengaji dan merapal doa lebih kerap karena, katanya, pedih luka operasinya baru akan reda kalau tangan kanan saya diletakkan di atas perban sembari bibir saya merapal Alfatihah dan surat-surat pendek apa pun yang saya hafal. “Masih hafal Annaba, ‘kan, Yah?” pintanya di ujung sakit. Saya mengangguk, meski ragu—dan ternyata saya masih hafal.

Baca juga: Gembira Itu Fana, Sakit Itu Sementara – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 27 Mei 2020)

Saya ingin menyebutnya titik balik untuk menjadi suami yang cinta, yang lebih sadar diri kalau ada orang yang begitu takut menjauh dari saya—selain orangtua dan saudara-saudara kandung. Itu adalah Istri. Saya tak ingin mengalami titik balik yang melankolik dan patah seperti itu lagi.

Lanskap Palembang dari jendela rawat inap RS Hermina Palembang di pagi yang merangkak naik
Lanskap Palembang dari jendela rawat inap RS Hermina Palembang di pagi yang merangkak naik

Dari jendel kamar perawatan ini, lanskap Palembang pagi hari membuat kelengangan yang lain, seperti menantang saya agar sungguh-sungguh mengarungi niat berubah saya—dengan segala bentuk kesungguhannya.

Allah.

Atas tulisan yang sangat personal ini, maafkanlah saya, Pembaca. Tapi, saya merasa, “meminjam” kolom publik ini untuk jantung hati saya, sungguh tak ada apa-apanya dibanding apa yang pasangan saya berikan. Maafkanlah saya, Pembaca.

 

Palembang, 17 Juni 2020

BENNY ARNAS lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Novel audionya “Bulan Madu Matahari” sedang tayang di Instagram @bulanmadumatahari dan Youtube Benny Institute. Dalam waktu dekat novelnya “Ethile! Ethile!” akan tayang di platform @Kwikku.