Cerpen Wildan Pradistya Putra (Republika, 14 Juni 2020)

Setelah Dibawa ke Ruangan Besar ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Setelah Dibawa ke Ruangan Besar ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Kata ibuku, pagi adalah hari yang paling dinantikan banyak orang di dunia. Tapi, aku dan teman-temanku di sini sepakat, kami benci pagi. Karena di waktu pagi, kami harus berpisah dengan ibu-ibu kami. Berpisah dengan orang yang paling kami sayangi.

Teman-temanku selalu menantikan waktu sore tiba. Atau, kata Mbak Ratih, waktu senja. Tapi, kami lebih suka menyebut sore saja. Kami tak begitu sering mendengar orang mengucapkan kata senja. Di waktu pergantian cerah dan gelap itulah, kami bersukaria. Karena, ada sepasang tangan cantik yang mengendong kami dan membawa kami kembali ke rumah.

Kadang, saking tak sabarnya menunggu dijemput ibu, aku menangis. Seperti sore ini. Mbak Ratih pun selalu tahu apa yang harus dilakukan. Ia memberiku mainan dan permen agar air mataku tak jatuh lagi. Tapi, aku tetap menangis. Aku berjanji pada diriku sendiri akan menghentikan tangisanku jika ibu sudah menjemputku. Kupandangi terus pintu ruangan yang berwarna-warni dan ada berbagai lukisan-lukisan dan gambar-gambar lucu itu. Ibu belum juga datang.

***

Ibu mengatakan, sayang sekali padaku setiap waktu. Katanya, aku anak paling ganteng sedunia. Berkulit putih, berambut lurus, dan calon pilot yang menerbangkan pesawat yang amat besar. Tapi, kenapa setiap hari ia meninggalkanku dan menitipkanku di tempat ini. Walaupun tempat ini lebih indah daripada rumahku, tapi akan lebih indah jika bersama ibu saja, bukan bersama Mbak Ratih.

Ibuku bekerja di bank. Kata ibu, ia bekerja untuk membelikanku mainan yang banyak, permen, dan cokelat kesukaanku. Aku senang sekali mendengar itu.

Dulu, aku sempat dititipkan di rumah kakek dan nenek di kampung. Yang jaraknya jauh sekali dan berjam-jam kalau naik bus. Tapi, aku tak ingin bersama kakek dan nenek, aku tetap ingin bersama ibu. Jadi, kukeluarkan teriakan dan air mata selama dua hari berturut-turut. Akhirnya, usahaku berhasil, ibu menjemputku lagi. Dan membawaku kembali ke kota.

Ayahku sudah tak pernah kelihatan lagi. Suatu ketika, aku sangat kangen dengan ayahku. Di ruang tamu rumah kakek dan nenek, kami berkumpul.

“Ibu, di mana ayah?” tanyaku.

“Ayah pergi bekerja jauh sekali,” jawab ibu.

“Bekerja ke mana kok ayah tidak pulang, Bu?” tanyaku lagi.

“Ayahmu bekerja ke negeri yang jauh, pulangnya lama, Sayang,” kata nenek.

“Ayah ingin membangunkan kita rumah yang terbuat dari permen dan cokelat, Sayang,” sambung ibu, “Mari kita doakan ayah semoga ayah selalu bahagia di sana!” kata ibu sambil mengusap-usap kepalaku.

Aku hanya mengangguk-angguk. Dan tak mau bertanya lagi kepada mereka. Sebab, aku tidak ingin melihat kakek, nenek, dan ibu menangis. Aku heran, kenapa orang yang bekerja harus ditangisi? Mungkin mereka kangen sama seperti rasa kangenku pada ayah. Kenapa orang dewasa juga suka menangis sama sepertiku?

Yang jelas, ketika ayah pergi, ibu tak pernah berhenti bekerja. Tak ada hari libur bagi ibu. Aku heran, apa ayah tidak pernah memberikan uang kepada ibu? Lalu, uang siapa yang digunakan ibu untuk membeli cokelat dan mainanku setiap hari? Apa ayah jahat? Tapi, tidak mungkin ah, ayah orang baik dan menyayangi kami. Ayah tidak mungkin menelantarkan kami. Dan membiarkan ibu membiayai hidupku sendirian.

Suatu ketika, ada dua laki-laki mendatangi rumah kami. Dari awal kedatangannya, mereka tak pernah tersenyum. Mereka tinggi besar. Dan berkumis tebal. Aku digendong ibu waktu itu. Lalu, mereka menyodorkan kertas putih.

“Begini Ibu Hermila, kalau Anda tidak dapat membayar cicilan atau meneruskan angsuran rumah ini. Mohon maaf, dengan terpaksa kami akan menyita rumah ini,” kata laki-laki yang berkacamata hitam dan berjaket hitam.

“Baik Pak, baik Pak. Saya janji bulan depan akan saya lunasi,” jawab ibu.

Ibu selalu tersenyum ketika mereka datang. Padahal, aku tahu, ibu sebenarnya sedih. Senyum bahagia ibu tak seperti itu. Aku kenal betul senyum ibu ketika mendongeng dan juga bercerita tentang jadi apa nanti aku ketika dewasa. Sejak saat itulah, ibu selalu giat bekerja. Tak pernah sekalipun, ibu libur.

Aku bisa membaca semuanya dari mata perempuan paling baik sedunia itu. Seperti ada yang bersinar. Seperti bulan ada di mata ibu ketika ia bercerita tentang isi hatinya. Walaupun sebenarnya aku sama sekali tak tahu maksud dari apa yang ibu katakan. Dan tak dapat memberikan nasihat seperti yang biasa ibu berikan padaku. Tapi, aku sungguh-sungguh mendengar apa yang dikatakannya. Karena aku sayang ibu.

Tapi, entah kenapa ibu belum datang menjemputku sore ini. Ini tak seperti biasanya. Sementara itu, teman-temanku sudah dijemput keluarganya. Aku jadi takut. Walaupun, di sampingku ada Mbak Ratih yang sabar menemaniku.

“Ayo ikut Mbak Ratih, ibumu sudah menunggu di rumah. Ayo Mbak antar pulang,” kata perempuan yang umurnya mungkin tak jauh dari ibu itu. Aku hanya mengangguk-angguk. Tapi, aneh sekali, biasanya ibu selalu menjemputku di tempat ini. Kenapa baru kali ini ibu menyuruh Mbak Ratih untuk mengantarku? Apa Mbak Ratih tahu rumahku di mana?

Karena aku ingin segera bertemu ibu, aku ikut Mbak Ratih saja. Kami menaiki mobil yang besar dan sopirnya adalah seorang laki-laki yang tak kukenal. Aku mulai menangis sekeras-kerasnya karena perjalanannya lama sekali. Biasanya untuk menuju rumah tak selama ini. Mbak Ratih berusaha menenangkanku dengan memberikan satu botol susu dan cokelat. Sesaat aku lupa dengan ibuku. Tapi, kemudian aku ingat lagi. Kulihat di luar gelap. Banyak lampu-lampu di pinggir jalan. Aku jadi takut. Akhirnya, kukeluarkan teriakan terkerasku. Tapi, kali ini mereka terlihat tak memedulikanku lagi. Malah asyik mengobrol sendiri.

Wajah Mbak Ratih tak biasanya seperti ini. Kenapa di wajahnya banyak keringat? Padahal udaranya dingin. Dan ia terlihat gugup. Padahal, biasanya Mbak Ratih orang yang ceria. Ah, aku sudah lelah menangis. Lebih baik aku tidur saja.

Aku kira, ketika kubuka mata sudah berada di rumah dan melihat ibu. Tapi, ini aku malah berada di ruangan yang luas. Rasanya, aku sudah tidur lama sekali. Hingga perutku lapar begini. Senjata andalanu kekeluarkan. Aku menangis. Karena aku tahu setelah menangis pasti orang dewasa bakal memberi perhatian. Dan memberikan apa yang anak-anak minta. Orang dewasa aneh sekali.

Mbak Ratih dan laki-laki itu terlihat bertelepon dengan seseorang. Aku mendengar suara itu. Suara dari telepon itu adalah suara ibu. Tapi, kenapa ibu terdengar seperti menangis?

“Siapkan uang tebusan Rp 20 juta jika ingin anakmu kembali,” kata laki-laki itu.

“Baik, baik akan kucarikan uang itu. Tapi, tolong jangan sakiti anakku,” ujar ibu.

Aku bingung lagi dengan apa yang diucapkan orang dewasa. Kenapa ia meminta uang pada ibu seperti orang yang datang di rumah kami? Apa mereka berteman? Tapi, kenapa ibu bilang kalau aku tak boleh disakiti? Padahal mereka tak menyakitiku. Satu-satunya yang menyakitiku adalah ketika aku jauh dari ibu.

Entah berapa lama aku di sini. Berapa lama sudah aku tak bertemu ibu. Untung ada Mbak Ratih yang memberiku makan. Sementara, laki-laki itu kadang datang kadang pergi tak jelas. Ia tak pernah mengajakku bicara.

Aku tertidur lagi. Tiba-tiba, ada suara gaduh di depan pintu yang membuatku terbangun. Mbak Ratih dan laki-laki itu terlihat ketakutan. Di balik pintu itu apa ada monster besar yang sering memangsa anak-anak yang tidak mau makan sayur? Persis seperti yang sering ibu ceritakan. Aku ikut takut. Aku menangis.

Tak lama berselang, pintu itu terbuka. Ada empat orang berseragam cokelat masuk. Aku tahu siapa mereka. Ibu sering juga menceritakan tentang mereka. Ibu pernah berkata kalau aku tersesat atau tak tahu mau ke mana, aku harus menghubungi Pak Polisi. Dan sekarang mereka ada di hadapanku.

Kata ibuku, Pak Polisi adalah orang-orang baik yang melindungi kita. Tapi, kenapa mereka malah membawa Mbak Ratih dan laki-laki itu? Apalagi, tangan mereka diikat. Mungkin bapak-bapak polisi itu ingin melindungi mereka.

Aku pun digendong oleh Pak Polisi. Ini pertama kali aku digendong oleh Pak Polisi. Aku senang sekali. Bapak-bapak polisi ini membawaku ke kantor mereka. Tiba di sana, aku terkejut, ibu, kakek, dan nenek sudah ada di kantor polisi.

Tak lama berselang. Aku kembali ke rumah. Tak biasanya kakek dan nenek mengunjungi rumah kami. Ada juga saudara-saudara yang lain. Terlebih, banyak orang-orang yang tak kukenal. Banyak orang membawa kamera hitam yang besar sekali. Hore, rumah kami jadi ramai. Aku senang sekali. Lalu, mereka memberikanku mainan dan makanan kesukaanku. Ada yang mencubit-cubit pipiku. Ada pula yang berebut menggendongku. Puluhan pasang mata tertuju padaku. Kenapa semua orang terlihat bahagia ketika aku datang ya?

Sejak saat itu, ibu tak pernah menitipkanku kepada Mbak Ratih atau tempat penitipan anak lainnya. Ibu selalu bersamaku di rumah. Hanya saja, ibu sering di hadapan laptopnya. Dan banyak baju-baju dan barang-barang di rumah kami. Aku senang tak lagi berpisah dengan ibu. Kenapa tidak sejak dulu saja Mbak Ratih dan laki-laki itu membawaku ke ruangan besar itu, jika itu membuat ibu lebih banyak waktu denganku. Kini, pagi ataupun sore tak ada bedanya. Sepasang tangan lembut itu terus menggendongku ke mana pun. Aku sayang ibu. ■

 

Wildan Pradistya Putra kelahiran Kediri, Jawa Timur, 27 tahun lalu merupakan guru Bahasa Indonesia Tazkia International Islamic Boarding School (IIBS) Malang. Ia merupakan seorang bapak yang telah dikaruniai satu anak. Ia sudah menjadi guru sejak enam tahun yang lalu. Aktif menulis cerpen dan puisi. Selain mengajar, ia juga aktif membina siswa dalam menulis tulisan fiksi. Beberapa siswa yang dibina berhasil menjuarai kompetisi menulis cerpen tingkat kota/kabupaten hingga nasional.