Cerpen Vika Wisnu (Kompas, 14 Juni 2020)

Pasar Pelukan ilustrasi Laksmi Shitaresmi/Kompas

Aku sungguh ingin mencium bibirmu yang tipis dan beku itu. Sekilas saja, seandainya mungkin. Kuusahakan lekas tapi tak terburu-buru. Kalau nanti batu di dadamu mencair dan mengalir lewat sudut-sudut mata, aku akan menghapusnya, lalu duduk dekatmu saja. Berjaga-jaga saja, sewaktu-waktu kau terjatuh atau pingsan dan perlu pelukan cuma-cuma.

Aku, seperti semua penghuni pasar ini, adalah pedagang pelukan. Kami tergabung dalam sebuah paguyuban. Setiap bulan ada iuran, tidak besar tapi kalau dikumpulkan cukup untuk menanggung biaya-biaya darurat anggota, untuk sumbangan kematian atau kelahiran, dan rekreasi setahun sekali sekaligus musyawarah pemilihan ketua.

Pengurus paguyuban terpilih tahun ini menetapkan peraturan yang tidak boleh diganggu gugat: melarang pedagang mencium pembeli, sekalipun itu sebagai bonus atas pembelian pelukan sejumlah dua-tiga lusin atau lebih. Pembeli adalah raja, tapi di sini raja tidak boleh menerima upeti. Dia tidak boleh kembali karena menginginkan gratifikasi, repeat order tidak boleh terjadi karena konsumen ketagihan, harus murni karena ia benar-benar membutuhkan. Kalau melanggar, hukumannya dikeluarkan dari paguyuban, dicoret dari daftar tenant.

Persoalannya, kau terlalu tampan. Misai yang tumbuh liar dan cambang yang hampir merambati tulang pipimu tak bisa menyembunyikan itu. Sementara hari ini aku sedang tidak perlu uang, target penjualan sudah terpenuhi, upah mingguan karyawan sudah kubayar, jadi sebenarnya tak soal kalau pelukan yang nanti kau beli kugratiskan, ditambah bonus kecupan pun tidak akan terlalu merugikan. Resikonya cuma kalau tertangkap tangan aku bisa kehilangan sumber pendapatan.

“Apakah saya harus memilih, atau Anda yang memilihkan?” tanyamu canggung.

“Oh, Tuan. Anda bahkan boleh mencoba sebelum membelinya.”

“Apakah harga tiap-tiap pelukan berbeda?”

“Anda mencari pelukan seharga berapa?”

“Saya tidak tahu, apakah ini cukup?” Kau mengeluarkan lembaran-lembaran kumal dan keping-keping keperakan dari jaket kulit coklat kehitaman yang terkelupas pada beberapa bagian.

“Ini terlalu banyak, Tuan,” kumasukkan sejumlah kecil koin ke dalam mesin kasir berlidah kertas nota. Kau ambil kembali uangmu dengan tangan terayun sungkan, “Saya baru kecopetan.”

Aku tidak pernah bersimpati kepada pelanggan, tapi suaramu yang putus asa pun rupawan.

Pasar tutup pukul dua belas siang dan akan buka kembali besok ketika matahari mulai naik sepenggalah. Jam kerja kami tak lama, tapi ada waktu-waktu yang kami sibuk luar biasa. Pada bulan-bulan menjelang pilpres dan pilkada kami bisa mendapat keuntungan berlipat-lipat, karena capres, cagub, cabup, cawali, caleg, caketum dan ca-ca lainnya bergiliran memesan pelukan dalam jumlah besar dan tak keberatan bayar di depan.

Tidak seperti pedagang kaos kampanye yang mesti belanja bahan beraneka warna, menyablon bermacam-macam desain sampai terpaksa lembur menjahit bermalam-malam, kami pedagang pelukan tak sampai harus bekerja ekstra, karena pelukan politik itu nyaris seragam. Tinggal mengatur komposisi dan saturasi antara ketulusan dan kepura-puraan, itupun bisa dikustomisasi sendiri oleh pembeli.

Dulu, sebelum internet hadir, pelukan-pelukan kami jual dalam bentuk enkripsi yang dipak dalam kotak tersegel, kastamer dapat langsung menggunakannya setelah membuka dengan seperangkat sandi dan mengikuti instruksi yang tercetak di dasar kemasan. Masing-masing sangat khas, hasilnya bisa berbeda-beda pada tiap orang.

Meskipun tipe yang dibeli sama, tapi manifestasinya tak selalu serupa. Ada yang tampak otentik dan alami, ada yang kelihatan nyata sebagai pelukan buatan. Karena kemampuan finansial dan motivasi orang berbeda-beda, tidak semua mampu dan merasa perlu membeli pelukan-pelukan baru. Beberapa figur publik, artis, selebritis dan tokoh-tokoh berpengaruh di medsos, koran dan televisi malah santai saja mengulang-ulang satu enkripsi sampai puluhan bahkan ratusan kali. Bila tertangkap kamera, pembaca dan penonton akan sangat mudah mengenali mana pelukan yang segar dan mana yang basi.

Sekarang era empat koma nol, big data, komputasi awan; enkripsi pelukan kemasan kotak sudah dianggap ketinggalan zaman. Perubahan yang sangat cepat, sehingga ketika semuanya bermigrasi menjadi digital, kami bahkan belum sempat menghabiskan stok. Untungnya sebagai pedagang, kami dianugerahi Tuhan akal panjang. Kami jual produk-produk obsolete itu sebagai cindera mata, vintage souvenir. Pembelinya, kantor-kantor dan perusahaan-perusahaan yang mencari barang-barang unik sebagai hantaran untuk kolega atau hadiah bagi karyawan. Segmen lainnya, pasangan-pasangan suami-istri yang terpaksa tinggal berjauhan, petualang cinta, selingkuhan-selingkuhan, sampai anak-anak muda yang baru belajar pacaran; yang menghadiahkan kotak-kotak itu kepada kekasihnya dengan tambahan pita dan kartu ucapan: ‘meski raga kita tak saling bersua, aku tetap memelukmu dalam doa’, atau ‘buka kotak ini sewaktu-waktu kamu kangen aku’, dan rayuan-rayuan semacam itu.

“Saya tak jadi beli,” katamu setelah memeriksa katalog beberapa kali, “Tapi uangnya tidak akan saya ambil kembali.” Lalu kau berbalik. Bahumu lebih tinggi dari kepalaku, menutupi pandanganku dari silau lampu.

“Hei, Tuan. Apakah benar-benar tak ada yang cocok?”

“Bukan. Setelah saya timbang-timbang, saya rasa saya tak membutuhkannya.”

“Baiklah, tapi jangan dulu pergi. Kami para pedagang tak boleh menerima pembayaran tanpa pembelian”

“Anggap saja itu ongkos mencoba.”

“Jangan, Tuan. Itu cuci uang namanya.”

Tubuh rampingmu mencondong gusar, “Begitu? Berikan saja kepada pengemis kalau Anda tak mau!”

Kutangkap lenganmu, pejal dan refleks menepiskanku, “Apa lagi?!” Amboi, dari mana asal nada semurka itu? Tapi pedagang adalah manusia-manusia pantang menyerah, “Bagaimana jika kita bertukar saja?” tawarku semanis madu, “Tuan beri saya satu pelukan dan uang yang sudah saya terima adalah bayaran saya karena telah bersedia menerima pelukan Tuan.”

“Anda sudah gila.”

“Tidak, Tuan. Hanya saja, uang ini harus dipertanggungjawabkan.”

“Hanya beberapa koin!” kelopak mata dan alismu meninggi.

Patroli pasar mendekati kita, menyelidik, “Ada apa ini, Nona Dara?”

“Tidak ada apa-apa, Opsir Matori. Kami hanya sedang berdiskusi.”

“Kuperingatkan, Nona. Jangan menyakiti hati pembeli!”

“Tidak. Tuan Muda ini masih bimbang dengan pilihannya. Aku hanya berusaha membantu. Bukankah itu tugasku?”

Rahangmu melunak, mungkin tak tega melihatku dibentak.

“Tuan,” sebelum berlalu petugas gempal itu menepuk pundakmu, “Laporkan saja kepada kami jika Anda merasa terganggu.” Kau antara mengangguk dan menggeleng tak pasti. Bibirmu mengatup rapat seolah dengan cara begitu kau menemukan solusi.

“Dengar, Nona Dara,” kau meniru cara Opsir itu menyebutku, “Kebahagiaan lelaki itu sederhana. Hanya melihat gadis pujaannya tertawa, sudah senang setengah mati hatinya.”

“Apakah Tuan mencari pelukan yang dapat membuat gadis pujaan Tuan tertawa?”

Sayumu berubah mendung. Lubang angin di dinding rooster meneroboskan aura langit sesuram prasangkamu, “Anda pasti tidak punya pelukan semacam itu.”

Aku mengetuk menu pada katalog virtual, mengetikkan salah satu dari ribuan kode yang kuhafal luar kepala, “Kami punya beberapa varian, Tuan,” kuperlihatkan kepadamu sejumlah spesimen, “Ini pelukan yang membuat seseorang tertawa manja, yang ini tertawa tergelak-gelak, dan yang ini tertawa sampai menangis.”

Kau tertegun. Aku tak tahan bertanya, “Bagaimana bisa lelaki setampan Tuan sampai harus datang ke pasar ini? Hanya dengan berada di dekatnya, gadis pujaan Tuan pasti akan dengan senang hati tertawa. Dengan mendengarnya tertawa, dengan sendirinya pula Tuan punya persediaan pelukan tanpa harus repot-repot membelinya.” Sesudah mengatakannya, aku merasa sangat tak tahu sopan santun.

“Nona Dara, dia ada di balik kaca. Saya bahkan tak bisa menyentuhnya.”

Lima puluh menit lagi pasar tutup dan matamu masih menerawang kosong mengutuki kebodohan sendiri menunda melamarnya karena alasan kesibukan. Lalu tahu-tahu namanya tercantum dalam daftar korban pandemi yang sewaktu-waktu bisa saja mati.

Aku tidak ingin menawarimu pelukan penyesalan. Pertama, harganya terlalu mahal dan enkripsinya sangat rumit. Kedua, untuk mengunduhnya perlu kapasitas memori yang besar dan waktu yang cukup lama. Memang tersedia juga versi chip yang lebih murah selain kemasan cloud data yang tak memerlukan piranti tambahan, tapi aku sungguh tak ingin kau membelinya, karena aku tak yakin jenis pelukan itu yang sedang benar-benar kaubutuhkan.

“Kalau saya boleh sarankan, Tuan,” kubuka katalog halaman depan, “Sebaiknya, Anda membeli pelukan ini.”

Kau mengamatinya seksama, lalu setuju mencobanya. Persis lima menit sebelum mandor pasar inspeksi, kau resmi melunasi beberapa paket dengan menambahkan semua di kantongmu yang tersisa.

“Terimakasih,” pamitmu sesudah berjanji, “Saya akan kirimkan email testimoni, siapa tahu Anda perlukan untuk promosi.”

Tujuh puluh hari kemudian kau mengunggah swafoto dengan wajah semulus bayi dan senyum mengembang lebar di sisi seorang gadis yang tertawa bahagia ke arahmu. Sebentuk cincin melingkari jari manisnya dan kedua tangannya melingkari pinggangmu. Yang kujual kepadamu waktu itu adalah pelukan universal, kompatibel untuk segala keadaan. Kau dapat mengatur instalasi dan mengoperasikannya tanpa harus berdekatan, bisa kau aplikasikan untuk siapapun tanpa memandang ia istimewa atau bukan. Bahkan pelukan ini terbukti aman ketika dicobakan pada hewan dan tumbuhan.

Dalam kesaksianmu kau tulis, pelukan ini membuatmu sangat bahagia, kau bisa mengalirkan kehangatannya melalui sekantong beras, setandan pisang, sebotol cairan pembersih tangan, setumpuk masker pelindung yang kaubagikan merata kepada pedagang-pedagang asongan, juga lewat berkardus-kardus APD (alat pelindung diri) yang kauhimpun dari donatur dan kaukirimkan kepada dokter serta perawat di puskesmas-puskesmas pinggiran. Kau bahkan merasakan ketentramannya menyusupimu saat sore-sore menyirami pot-pot perdu, pada tiap-tiap pagi bersama semangkuk susu dan sepiring biskuit kucing. Kemudian berangsur-angsur gadis pujaanmu pulih dan dibebaskan dari ruang isolasi. Ia bisa mendengar lelucon-leluconmu kembali dan kalian tertawa bersama lagi.

Aku masih sungguh ingin mencium bibirmu yang sejauh ingatanku tipis dan beku itu. Sekilas saja, seandainya mungkin. Kuusahakan lekas tapi tak terburu-buru. Batu di dadamu telah mencair dan mengalir lewat sudut-sudut mata tanpa sepengetahuanku, sudah pasti aku tak akan bisa menghapusnya, atau sekadar duduk dekatmu saja. Kau tak akan terjatuh atau pingsan dan tak akan memerlukan pelukan cuma-cuma. Aku tetap berjaga-jaga, meskipun kau tak pernah berkunjung lagi seperti yang telah kuduga. Di lapakku, ribuan versi pelukan dari yang paling sederhana sampai inovasi termutakhir silih berganti kupelajari, kukuasai hingga terjual jutaan kali sejak kurintis usaha ini. Baru sejak kedatanganmu aku ingin membeli.

 

Vika Wisnu, pengajar Program Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya dan sukarelawan Gerakan Sadar Autisme. Cerpennya pernah termasuk dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2014. Buku pertamanya yang ditulis bersama Gadis & Kika berjudul BER317AN diterbitkan Penerbit Buku Kompas.

Laksmi Shitaresmi, perupa kelahiran Yogyakarta 1974. Sejak tahun 1988 sampai sekarang sudah ratusan kali terlibat pameran seni rupa, baik di dalam maupun luar negeri. Termasuk di dalamnya sembilan kali pameran tunggal. Ia pernah mengikuti program residensi di Aronskelkwek, Den Haag, Belanda (2013).