Cerpen Kiki Sulistyo (Jawa Pos, 14 Juni 2020)

Pameran Fosil Paus ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)
Pameran Fosil Paus ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

SETIAP pengunjung harus memperlihatkan gelang biru dengan kode batang yang akan dipindai petugas untuk dicocokkan dengan nomor pendaftar. Ada kuota yang sudah ditetapkan penyelenggara guna membatasi jumlah pengunjung. Sebab, pekan ini galeri mengadakan pameran istimewa; pameran fosil paus. Sekelompok ilmuwan dari berbagai bidang telah bekerja selama sembilan tahun untuk menggali, menemukan, dan menyusun fosil tersebut hingga siap dipamerkan kepada khalayak. Temuan tersebut penting bagi ilmu pengetahuan lantaran fosil paus itu dari jenis yang belum diketahui sebelumnya. Panjangnya mencapai 40 meter dengan perkiraan berat 150-200 ton, lebih besar daripada dinosaurus mana pun. Hal lain yang menjadikan temuan itu menarik adalah ketika diketahui paus tersebut tengah mengandung.

Daria tidak mendapat jatah gelang biru meski sudah mendaftar. Memang pendaftaran dia lakukan menjelang akhir. Dia memperoleh nota khusus melalui surel untuk bisa masuk ke galeri. Daria tidak mengira bahwa itu akan jadi masalah. Petugas yang menjaga pintu melarangnya masuk meskipun dia sudah menunjukkan nota tersebut. Petugas itu bersikukuh semua pengunjung harus menunjukkan gelang biru. Jika tidak, tak ada alasan yang bisa meloloskan.

Mereka berdebat sebentar. Karena merasa tidak mungkin bisa membujuk si petugas, Daria berusaha menghubungi panitia. Tetapi, teleponnya nihil jawaban. Dia jadi gusar dan mondar-mandir saja di depan pintu galeri, hal yang bikin petugas ikut gusar. Daria melongokkan kepala untuk melihat ke dalam galeri, tapi tidak kelihatan apa-apa, kecuali dinding lorong. Dia menatap dinding lorong itu beberapa saat sampai dilihatnya seorang perempuan berjalan keluar, berpapasan dengan sepasang pengunjung yang hendak masuk. Daria membelalakkan mata dan berseru, “Sirin!”

“Hei,” balas Sirin setelah sesaat senyap. Begitu sampai di dekat pintu, Sirin mengamati petugas itu dengan teliti, seakan mencoba membaca situasi. “Ada masalah?” tanyanya kemudian. “Tidak apa-apa, Nyonya,” jawab si petugas. Tetapi, Daria segera menyambar, “Aku tidak boleh masuk, padahal aku pegang nota izin. Ini.” Daria menunjukkan selembar kertas. Sirin meraih dan mengamati kertas tersebut, lantas sebelum dia berkata apa-apa, si petugas sudah mendahului, “Anda mengenalnya, Nyonya?” Sirin menatap Daria dan melihat wajah yang penuh harap. “Iya, bisakah Anda mengizinkan dia masuk?” Petugas itu diam sejenak, seperti menimbang risiko antara melarang dan mengizinkan. Lalu, dia bergerak sedikit ke samping, seperti memberi jalan. Daria melebarkan senyuman yang sejak tadi dia pasang, melangkah melewati petugas itu, dan memberi anggukan kecil kepada Sirin. “Nanti aku temui di dalam,” ujar Sirin. Sekali lagi Daria mengangguk dan melangkah masuk.

Satu setengah juta tahun lalu paus besar itu masih berenang di lautan purba. Satu setengah tahun lalu Daria masih berenang di kolam rumah Sirin. Di mata Daria, paus itu tampak agung, bahkan ketika ia hanya berbentuk kerangka. Keagungan yang mungkin muncul dari dimensinya. Sebab, simulasi wujud utuh paus yang ditunjukkan lewat sebuah video tidak semenakjubkan kerangkanya. Perbedaan satu dimensi punya dampak yang demikian besar. Dimensi kanak-kanak dan dimensi dewasa telah mengubah caranya melihat sekaligus mengubah jalan hidupnya.

Kebanyakan pengunjung pameran adalah pasangan tua. Mereka berjalan bersisian memutari ruang pameran, melihat foto-foto dan membaca keterangan-keterangan yang dipasang di dinding perihal proses penemuan dan deskripsi fosil paus tersebut. Mungkin mereka merasa punya kedekatan dengan kata “fosil”, mungkin mereka membayangkan bahwa takkan lama lagi mereka pun akan berubah menjadi fosil. Daria menduga, ada saja di antara orang-orang tua itu yang membayangkan bahwa kelak, jutaan tahun ke depan, ketika manusia sudah berevolusi ke bentuk baru, fosil mereka akan ditemukan, lalu dipamerkan di sebuah galeri, sebagaimana paus itu.

Di antara orang-orang tua, Daria melihat seorang anak laki-laki berdiri di dekat fosil paus. Anak itu berpakaian rapi, rambutnya mengilat tertimpa sinar lampu. Kepalanya mendongak dan matanya terus-menerus mengarah pada fosil itu. Kalau saja fosil itu tidak dilingkari rantai pembatas, mungkin dia sudah bergerak lebih dekat. Sesekali anak itu mengacungkan telunjuknya ke udara, mengikuti garis tepi fosil, seakan-akan sedang menggambar. Tidak ada yang memperhatikannya, di sekitar juga tidak terlihat orang tua yang sekiranya punya hubungan dengan anak itu. Ruang pameran memang cukup luas. Dan untuk ukuran itu, pengunjung bisa dibilang tidak banyak. Fosil paus purba dijadikan tampilan utama. Selain itu, ada berbagai fosil yang berhubungan dengan paus dan dipajang dalam kotak-kotak kaca. Selembar layar besar menempel di dinding, berulang-ulang memutar video dokumenter. Volume suara video itu kecil saja, tetapi demikian jernih. Meskipun terdengar dengung orang bercakap, suara dari video itu bisa menyusup tapi tidak menginterupsi percakapan.

Daria tertarik pada anak itu. Tak ada orang dewasa yang dikenalnya di ruangan ini, sementara Sirin belum muncul. Dalam situasi begini, akan lebih menyenangkan berbicara dengan seorang anak kecil ketimbang orang dewasa; seorang anak kecil tidak akan mengukur status atau tingkat kecerdasannya.

Daria sudah bergerak menghampiri ketika dilihatnya Sirin lebih dulu berada di dekat si anak. Entah kapan dia masuk lagi ke ruangan ini. Sirin menunduk dan berbisik kepada anak itu. Daria menahan langkahnya sebelum kemudian memutuskan untuk terus melanjutkan. Sampai di dekat mereka, si anak tampaknya hendak beranjak. Begitu melihat Daria, anak itu menahan langkah. “Hai,” sapa Daria. Anak itu menatapnya, tapi Sirin segera berkata, “Adam, ayahmu menunggu.” Dengan malas anak itu segera berlalu. Daria memperhatikan sampai dia menghilang di balik dinding yang menuju ke luar.

“Para ilmuwan meyakini bahwa paus ini mati dalam keadaan mengandung. Tetapi, apa yang mengherankan mereka adalah kenyataan bahwa kandungan tersebut menghilang. Sebagian mereka tidak sepakat pameran dilaksanakan sekarang. Sebab, janin itu belum ditemukan. Mereka masih penasaran. Aku sendiri berkesimpulan janin itu sudah ditemukan oleh seorang arkeolog amatir yang tidak punya cukup dana untuk melanjutkan penggalian. Fosil janin itu pastinya sudah dijual ke kolektor benda purba.” Sirin mengalihkan perhatian Daria dengan keterangan itu.

“Kau tahu, aku kemari bukan untuk melihat fosil ini.”

“Tentu. Tapi, apa yang kau cari pun sudah menjadi fosil. Jadi, tidak ada bedanya.”

“Maksudmu, dia sudah mati?”

“Hahaha, aku lupa, kau tak menyukai metafora yang keluar dari mulutku. Tidak. Dia tidak mati.”

“Dia di sini?”

“Kau kira siapa yang aku sebut ayah tadi?”

Daria diam. Itu informasi baru buatnya. Dia menatap fosil dan memperhatikan tulang rusuk paus purba yang panjangnya sekitar 4 meter.

“Anak lelaki tadi adalah anaknya. Aku juga baru tahu setelah kau pergi. Aku kenal Eva, ibu anak itu. Dia kolektor benda-benda purbakala.” Mereka berdua terdiam. Daria memperhatikan wajah Sirin dari samping. Di bawah matanya, ada kerutan-kerutan halus. Samar di sela-sela hitam rambutnya, ada bayangan kelabu. Sirin sudah mengecat rambutnya, menyembunyikan warna kelabu itu, seakan warna kelabu itu adalah sejenis trauma.

“Binatang ini sungguh agung. Ia seperti dewa laut. Para ilmuwan telah membangkitkannya dari tidur panjang. Aku tidak berpikir bahwa binatang ini sudah mati. Lihatlah baik-baik, kau akan merasakan kehidupan pelan-pelan menyusup ke dalam tulang belulangnya,” ujar Sirin.

“Aku juga tidak berpikir kalau janinku sudah mati.”

Sirin menoleh. Dia memperhatikan wajah Daria dari samping. Wajah itu halus tanpa kerutan, tidak ada bayangan kelabu di rambutnya yang muda dan hitam. Wajah itu punya garis mirip dengan wajahnya.

“Aku memang telah menggugurkannya. Tapi, janin itu tidak mati. Tidak akan pernah mati.”

Di telinga Daria, antara dengung halus percakapan orang dan suara dari video, terdengar suara napas tertahan.

“Aku bahkan tidak tahu kalau kau mengandung,” kata Sirin. Suaranya terdengar berat. “Kenapa tidak kau ceritakan waktu itu?”

“Kau lihat paus dalam video itu?” Daria bertanya sembari menoleh ke arah video. Sirin mengikuti pandangannya. “Dia kelihatan bergerak dan hidup, tetapi sebenarnya tidak. Sedang tadi kau berkata bahwa kehidupan seperti menyusup ke tulang belulang paus yang sudah jadi fosil dan tidak bergerak ini. Kau melihatku seperti paus dalam video itu, bukan seperti fosil ini.” Sirin tertawa kecil, nada sinis mengapung dalam tawa itu. “Kau tidak suka metafora hanya jika ia keluar dari mulutku.”

“Kau tidak bisa membantah yang aku katakan.”

“Sebab, kau anakku…” Kata terakhir itu Sirin ucapkan dengan nada ditekan. Daria melihat, di mata Sirin ada lapisan air yang berusaha keras tidak meluap. Bibirnya bergetar, lalu sekonyong-konyong dia mendengus, seakan itu usaha terakhirnya untuk membendung lapisan air tersebut. Sirin merogoh saku mantelnya. “Ini,” katanya sembari menyerahkan satu gelang biru. “Aku sudah mendaftarkan Eva. Tapi, dia menolak datang. Besok suamiku akan memberikan ceramah di sini. Kau bisa datang dan melakukan apa saja terhadap ayah anakmu itu.” Daria menerima gelang biru dan seketika itu juga Sirin berlalu, bergegas di antara para pengunjung, dan menghilang di balik dinding lorong menuju ke luar.

Daria termangu sendirian. Dia perhatikan fosil paus besar itu. Apakah binatang ini pernah membayangkan, kelak, 1,5 juta tahun setelah kematiannya, tulang belulangnya akan dipamerkan dan setiap manusia yang melihatnya akan takjub? Pasti tidak. Sebagaimana dia tidak membayangkan, kelak, 1,5 tahun setelah janin tumbuh dalam dirinya, dia akan bertemu lagi dengan ayah si janin yang sekaligus ayah tirinya itu. Daria tiba-tiba merasakan tidak ada kehidupan lagi, baik pada fosil paus purba itu maupun pada dirinya.

Dia melangkah keluar dari galeri. Penjaga yang tadi menahannya sengaja dia tabrak. Tanpa meminta maaf, dia terus bergegas. Di pinggir jalan, dia lihat sebuah tong sampah. Lalu ke dalamnya, dia buang gelang biru pemberian ibunya itu. ***

 

Mataram, 3 Mei 2020

KIKI SULISTYO. Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari? (2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (2018). Kumpulan cerpennya yang terbaru, Muazin Pertama di Luar Angkasa, bakal segera terbit.