Cerpen Ayumi Hara (Suara Merdeka, 14 Juni 2020)

Menunggu Truk Itu Datang ilustrasi Suara Merdeka (1)
Menunggu Truk Itu Datang ilustrasi Suara Merdeka 

Keluar dari pabrik, berarti bersiap melewati lorong panjang perkebunan sawit dan siap terguncang di perjalanan. Di dalam truk, orang-orang tertidur, saling menopang dan menindih. Setelah bekerja delapan sampai dua puluh jam, hal yang kami inginkan hanyalah terlelap dengan nyaman. Tak peduli tubuh kami menguarkan bau tak sedap, karena selama dua tahun aku bekerja, hal paling menggembirakan adalah pulang bekerja dan bisa tidur di truk jemputan.

Namun malam ini aku tetap terjaga, meski kawan-kawanku telah terlelap nyenyak. Di sepanjang perjalanan, aku terdiam menekuk lutut di pojokan. Mataku tak lepas menatap luas angkasa, sedangkan pikiranku terus mengembara. Hanya sesekali aku menunduk, dan sesekali, dalam kegelapan, samar-samar aku memperhatikan mereka. Wajah-wajah lelah yang merdeka usai bekerja.

“Eh, Gus! Tidak tidur kamu?” Hamdan terbangun ketika truk terguncang cukup keras.

Aku hanya menggeleng, lantas Hamdan tertidur kembali.

Lelah yang menggerogoti seluruh tubuhku rasanya tak sebanding dengan apa yang memenuhi pikiranku belakangan ini. Keinginan untuk keluar dari pekerjaan selalu membuat kepalaku berdenyut-denyut. Berbagai pertimbangan selalu memenuhi kepala. Bayangan Emak dan Bapak acap menepis keputusanku untuk berhenti bekerja. Aku tak sampai hati jika melihat Emak pulang dengan wajah teramat lelah dan tak jarang tangan penuh kapalan. Namun aku pun tak bisa terus-menerus dibayangi kelakuan Bapak yang bajingan; menumpuk utang, lantas menimpakan semua kepadaku dan Emak.

Mengingat hal-hal di rumah itu membuat dadaku terasa nyeri. Tanganku mengepal erat, menahan sesak dalam dada. Akhirnya aku pun tak bisa menahan. Perlahan air mata jatuh satu per satu.

***

Sejak lulus SMK dan bekerja, aku seperti tak lagi merasakan beda siang dan malam, kecuali ketika lelah menikam jiwa. Pukul 01.00 aku baru sampai di rumah. Di dapur, Emak sedang memasak kering tempe untuk bekal kami bekerja. Di ruang tengah, aku lihat Bapak tertidur lelap.

“Berapa truk?” tanya Emak sambil meletakkan secangkir kopi di hadapanku.

“Sepuluh.”

“Mak tadi pulang duluan, dapat telepon dari Mayang. Katanya ada debt collector datang.”

“Bapak?”

“Pulang tadi jam sepuluh.”

“Tahu ada debt collector datang?”

Emak hanya mengangguk. Sebelum Emak menanyakan soal gajian, aku beringsut ke kamar.

“Gus!”

Aku tak menoleh dan langsung membanting pintu.

“Tidurlah. Nanti jam tiga Ibu bangunkan.”

Di dalam kamar, aku merebahkan badan. Mengawasi buah sawit di sepuluh truk dalam satu hari benar-benar menggerogoti tubuh pelan-pelan. Lelah bertambah saat Emak mengatakan bakda isya debt collector datang. Aku membenamkan wajah ke bantal. Kali ini tak ada air mata hendak keluar, meski semua tampak nanar.

***

Debt collector itu datang lagi, meski sekarang hari Minggu. Dua orang berbadan besar dengan wajah sangar mendatangi rumahku, tepat ketika aku menutup pintu, hendak pergi ke warung membeli minyak goreng.

“Bapak ada?”

“Ada.”

“Mana?”

“Mari masuk.”

Dua orang berbadan besar itu masuk. Aku segera mencari Bapak. Sialan! Sebelum aku keluar, Bapak masih asyik menonton TV, dan kini tak terlihat batang hidungnya. Emak yang di dapur tak menanyakan kegelisahanku.

“Bapak di mana, Mak?”

“Keluar.”

“Ke mana?”

“Tidak tahu.”

Debt collector datang lagi.”

Emak tak menjawab. Ia sibuk mengupas sawi dan kentang.

“Mak!”

“Kamu ada uang, Gus?”

Tanpa menjawab, aku bergegas ke kamar, mengambil sejumlah uang dari tabungan yang tak seberapa. Setelah itu kuserahkan kepada dua orang di ruang tamu.

“Bilang sama bapak kau. Kalau tak punya jaminan, tak usah berani-berani pinjam uang.”

Aku terdiam menerima semburan dari salah seorang debt collector itu. Setelah mereka hilang dari pandangan, tirai penyekat ruang tamu ruang tengah tersibak.

“Gus! Kamu baik-baik saja kan?” Dengan cepat, Emak menutup pintu depan.

“Dompetku yang kenapa-kenapa.”

“Maafkan Mak, Gus.”

“Ini terakhir ya, Mak. Emak dan Bapak tidak usah pinjam uang lagi ke rentenir. Lagipula sampai kapan Bapak mau sok-sokan investasi? Investasi, tapi cuma dikibuli.”

“Gus, Bapak dan Emak cuma sedang cari solusi. Utang Bapak menumpuk sejak warung sembako bangkrut. Bapak juga kena tipu kawannya. Kamu harus maklum.”

“Mak, tapi ini uluran tangan terakhir. Aku tidak mau Emak dan Bapak terus-menerus datang ke rentenir. Sudah tidak ada yang bisa Emak harapkan dariku. Besok aku mau cari kerjaan lain.”

“Heh! Ngawur kamu!”

Aku tersentak ketika Bapak tiba-tiba muncul.

“Bapak sembunyi di mana?” tanyaku dingin.

“Pikir pakai otak dong! Kalau kamu keluar, kita mau makan apa?!” Jari telunjuk Bapak menonyor keningku.

“Bapak kan kerja.”

“Selama ini kamu memang hidup pakai uang siapa? Kerja gitu saja nyerah! Mikir dong!”

Aku geram, tapi masih menahan-nahan diri agar tanganku tak melayang.

“Kontrak kerjamu empat tahun! Masih dua tahun! Kamu mau keluar tanpa pegang ijazah? Pikir sampai sana dong! Duit delapan juta buat nebus ijazah emang punya?! Mau jadi gelandangan kamu hah?!”

Tangan Bapak terus menonyor kepalaku. Spontan aku menepis dan bergegas keluar rumah. Dari jauh terdengar Bapak dan Emak bergantian memanggilku, dan tak lama kemudian terdengar mereka adu mulut. Aku berlari setelah mendengar suara kaca pecah.

***

Hamdan menawarkan sebatang rokok di hadapanku. Aku hanya menggeleng. Di kantin yang penuh sesak saat istirahat ini, aku mengatakan kejadian kemarin kepada Hamdan.

“Kalau kau keluar, mau ke mana kau?”

“Pulang ke Jawa.”

“Mau kerja di mana? Ijazah bukankah ditahan?”

“Aku punya saudara di Jawa. Dia pemborong properti perumahan. Mungkin aku bisa menjadi kuli bangunan. Tidak perlu ijazah. Yang penting mau kerja.”

“Terserah kaulah.” Hamdan kembali menyulut rokoknya.

“Gaji tiga juta tidak cukup untuk keluargaku. Lagipula, tiga juta baru bisa kita pegang kalau sudah bekerja dua puluh jam. Bayangkan, Dan! Dua puluh jam!”

“Tapi sekolah kita gratis.”

“Tidak ada yang gratis.”

“Heh! Lupa kau? Kita sekolah sejak SMP sampai SMA, apa pernah dipungut biaya?”

“Ya memang tidak. Tapi apa kau tahu lulusan sekolah kita digiring untuk kerja di sini?!”

“Ya, tidak tahu. Macam mana kita tahu, kita masih SMP waktu itu!”

Bedebah! Kalau mengingat masa itu, rasanya aku ingin menghancurkan gedung sekolah. Betapa tidak? Saat itu siswa SMP tingkat akhir didatangi beberapa orang berseragam. Mereka bermanis-manis mengenalkan pabrik unggulan mereka serta mempromosikan sekolah menengah kejuruan yang mereka miliki.

“Di sekolah kejuruan nanti, kalian tidak perlu membayar. Seragam gratis, biaya gedung juga gratis. Setelah lulus juga tidak perlu repot-repot mencari kerja, cukup kalian isi data di sini, beri tanda tangan, kalian otomatis akan dapat pekerjaan. Gaji sudah pasti di atas upah minimum! Nah, yang mau lanjut ke sekolah kejuruan gratis, tanpa biaya, dan bisa langsung bekerja, silakan ke meja depan.”

Perempuan berwajah cantik itu tersenyum manis. Kelas mendadak ramai karena para siswa berebut maju ke meja depan. Di sanalah aku dan kawan-kawan membubuhkan tanda tangan. Hitam di atas putih itu ternyata bukan main-main. Setelah menandatangani surat kontrak kerja, kami otomatis masuk ke sekolah menengah kejuruan milik pabrik sawit.

Aku masuk jurusan agrobisnis tanaman perkebunan. Karena itulah, setelah lulus SMK, aku langsung bekerja. Posisiku sebagai pengawas pengangkutan. Meski terdengar sangat keren, pekerjaanku tak ubah sebagai karyawan yang dipaksa bekerja sekuat tenaga.

Di pabrik sawit besar ini, aku bekerja sejak buah sawit siap diangkut, sampai buah benar-benar habis dan tak ada lagi yang perlu diangkut. Satu hari, delapan sampai 10 truk. Satu truk menghabiskan waktu dua jam. Jadi, rata-rata aku bekerja hingga dua puluh jam per hari. Dan, itu kulakoni selama dua tahun ini. Tubuhku yang kekar saat SMK, kini menyusut dimakan lelah yang menggerogoti jiwa dan raga. Jadi, apakah aku harus mengalah demi Emak dan Bapak? Dalam kepala, pertanyaan terus-menerus minta jawaban.

“Ayo, kita ke dalam lagi.” Hamdan beranjak dari tempat duduk sebelum kepalaku kembali dingin. Hamdan lantas membuang puntung rokok ke tanah, menginjaknya dengan sepatu.

“Kau tidak ingin ikut aku?”

Hamdan menggeleng.

“Ibuku lumpuh, Gus. Bapak kan cuma pemetik buah, gajinya hanya separuh dari gaji kita. Tidak masuk akal kalau aku ikut kau.”

“Ha-ha-ha, memang benar ya di dunia ini tidak ada yang benar-benar gratis.”

Aku tertawa geli, lantas rasa sakit pelan-pelan menyusup hati. Lalu lalang orang-orang pabrik dan kantin yang berisik seolah hanya penari latar atas segala kesakitan yang menikam. Emak, Bapak, dan keluarga di rumah sering kali menekankan: tidak ada yang gratis di dunia ini, semua pasti ada timbal-balik, entah dengan Tuhan atau dengan sesama manusia.

***

Jam di ruang tamu menunjuk pukul 03.00. Emak dan Bapak sudah bersiap dengan seragam mereka, serta peralatan berkebun yang harus mereka bawa. Tak lupa mereka membawa rantang untuk sarapan sebelum bel masuk terdengar. Orang-orang di sekitarku mayoritas bekerja sebagai buruh pabrik sawit, dan mereka rata-rata menjadi pemetik buah. Nasib kami tak ada beda. Berangkat pukul 03.00, pulang lewat isya, atau sampai dini hari tiba.

Dari beranda rumah, aku menyaksikan para pemuda dan orang tua duduk-duduk di pinggir jalan, menunggu truk jemputan. Sementara aku masih memakai seragam yang sama sejak kemarin. Sesampai di rumah pukul 01.00 tadi, aku tidak melepas seragamku. Gairah untuk keluar dari pekerjaan bertambah.

“Gus, ayo siap-siap!” Mata Emak menatap tajam kepadaku.

“Bekalmu sudah ada di tas.” Tangan Emak menepuk-nepuk tas punggung lusuhku.

“Bekerjalah dengan giat, biar tidak seperti Bapak.”

Aku tak menjawab. Emak tiba-tiba mengecup keningku. Aku menyalami sepenuh haru. Sebelum-sebelumnya, aku tak pernah sesedih ini. Apakah Emak tahu aku sedang bimbang?

Truk demi truk datang menjemput. Emak dan Bapak naik truk paling awal. Biasanya para pekerja yang bangun lebih siang akan menaiki truk terakhir. Truk pada pukul 04.00 berisi puluhan orang, berjubal-berjubal dan berdiri.

Ketika jam menunjuk pukul 04.00 kurang, hatiku tiba-tiba gelisah. Aku tidak tahu apakah harus kembali ke pabrik atau pergi, lalu menyeberang ke Pulau Jawa. Mengingat wajah Emak sepagi tadi, rasanya aku tak tega meninggalkan dia. Meski Bapak acap marah-marah dan berutang, sesungguhnya aku amat sayang.

Dari jauh, kudengar suara roda menggilas jalanan. Itulah truk terakhir yang datang. Orang-orang di pinggir jalan beradu untuk masuk. Dari beranda rumah, aku pun melihat Hamdan yang sekuat tenaga menaiki truk terakhir itu. Tubuh kurus keringnya tampak mudah untuk ikut berjubal-jubal dengan para pekerja lain. Sekejap, tubuh Hamdan tak lagi kelihatan. Tak lama, truk itu pun melaju di jalanan terjal. Melihat truk itu menjauh, perasaanku tiba-tiba menjadi lega, tapi wajah Emak benar-benar memenuhi kepala.

Setelah azan subuh berkumandang, aku masuk ke dalam rumah. Sebelum memutuskan pergi atau tetap tinggal, aku membuka rantang di dalam tas. Rantang susun tiga buah itu aku buka satu-satu. Rantang pertama berisi nasi, rantang kedua berisi kering tempe dan sayur kacang, rantang terakhir berisi sejumlah uang dan sebuah amplop bertuliskan “Untuk Eyang”.

Usai berkemas dan sarapan, aku bergegas ke pinggir jalan, berharap truk terakhir kembali datang. Belasan menit lewat, hingga hari makin siang, aku masih berdiri di pinggir jalan. Saat matahari meninggi, truk terakhir yang kutunggu baru muncul dari kejauhan. Aku segera mengadang truk itu dengan melambai-lambaikan tangan.

“Agus?!” Bang Garu, sopir truk yang sudah akrab denganku, tampak kaget.

“Tadi bukankah kamu sudah naik? Eh, apa kau terlambat? Tapi Abang tidak ke pabrik lagi. Kaubikin surat keterangan dokter sajalah, jangan berani-berani kau terlambat.”

Aku membiarkan Bang Garu mengeluarkan kepanikan. Setelah dia berhenti bicara, aku baru buka suara. “Bang, ikut ya. Aku mau ke pelabuhan.” (28)

 

Ayumi Hara adalah nama pena Umi Rahayu, kelahiran Banjarnegara, alumnus Jurusan Bahasa Sastra dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang