Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 10 Juni 2020)

 

Saya ingat sekali. Sekitar tahun 2000-an, saya dan beberapa teman satu kampus membuat grup nasyid. Setidaknya satu setengah dasawarsa (1992-2007) nasyid sangat populer di dunia. Popularitas itu pun menular ke daerah. Tak terkecuali kami yang berada di Padang. Oleh kalangan dakwah (kampus), kami ditengarai berperan besar dalam menggaet anak muda (baca: mahasiswa) ke jalan dakwah. Tentu saja kami gembira, bangga, sekaligus besar kepala. Panggung pun sudah jadi bagian dari hari-hari kami. Hampir semua kota dan kabupaten di Sumatera Barat pernah mengundang kami untuk tampil. Kami jadi militan. Dalam mengatur jadwal tampil, merumuskan manajemen yang baik, pembagian honor yang proporsional, sistem kaderisasi yang efektif, dll. Ya, dalam segala urusan di atas. Bukan urusan dakwah. Bukan!

Tahun 2008 saya berkenalan dengan sastra. Menulis saya pilih karena saya pikir profesi ini yang paling memungkinkan saya untuk terus dekat dengan keluarga. Dimuatnya cerpen pertama saya di Kompas di pengujung tahun tersebut membuat saya percaya kalau saya memang berbakat sekaligus memandang sebelah mata pada para penulis yang tak kunjung mampu—atau paling tidak, membutuhkan waktu bertahun-tahun—menembus media massa dengan oplah tertinggi di Tanah Air itu. Saya pun makin giat menulis. Sebagian besar hari-hari saya bergumul dengan komputer, printer, dan diskusi karya. Karier kepengarangan saya makin gemilang. Saya menjadi militan. Dalam menulis, membuat daftar media yang masuk giliran saya kirimi cerpen. Membuat daftar honorarium yang saya terima tiap bulannya. Membuat daftar ide cerita yang belum saya garap. Ya, dalam urusan-urusan di atas. Bukan urusan untuk terus dekat dengan keluarga. Saya kelimpungan membagi waktu. Raga saya di rumah. Jiwa saya berkelana dari cerita ke cerita. Saya hidup dalam dunia rekaan!

Baca juga: Gembira Itu Fana, Sakit Itu Sementara – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 27 Mei 2020)

Pengujung 2010 saya berkenalan dengan pegiat seni lintas-disiplin. Seni rupa, teater, dan musik. Saya merasakan kenikmatan dan sensasi kegembiraan yang lain. Namun yang lebih penting dari itu adalah, saya bisa menjadi jembatan bagi seniman lain untuk mendapatkan “panggung”-nya kembali. Saya menyelenggarakan sejumlah pertunjukan dan festival. Saya jadi militan. Dalam berkesenian. Saya pun dipercaya menjabat peran penting di perkumpulan seniman. Namun, saya baru sadar kalau apa-apa yang saya pikir baik belum tentu dipandang sebangun oleh orang lain. Satu-dua rekan yang saya beri “ruang” itu menikam dari belakang, mengkhianati saya!

Militan saja tidak perlu, apa lagi berkeras tanpa ilmu!
Militan saja tidak perlu, apa lagi berkeras tanpa ilmu!

Beberapa waktu yang lalu, saya berbincang dengan seorang seniman Indonesia yang lama menetap di India. Dengan semangat meletap-letup ia mengampanyekan pentingnya menyelenggarakan even kebudayaan. Saya memilih menjadi penyimak yang baik, padahal dengan energi positif yang dengan sukarela ia bagikan, saya biasanya dengan senang hati dipengaruhi. Tidak kali itu.

Saya merasa deja vu.

Saya berpikir keras, keras sekali. Ketika ia terus berkoar-koar tentang pentingnya menginisiasi festival-festival dari bawah (baca: rakyat), pikiran saya justru melayang mundur, berusaha memeras gambar-gambar yang memiliki garis dan warna dengan apa yang saya saksikan saat ini. Apakah yang saya alami sebelumnya adalah kesalahan-kesalahan atau ketidaklihaian saya mengelola militansi atau … memang, sebagai manusia yang hidup di tengah mozaik-mozaik urusan yang bersilintas tanpa permisi, tanpa mampu didefinisi, tanpa memberi kesempatan untuk diurai hati-hati, militansi memang tidak dibutuhkan, tidak disarankan, sebab menjadi militan artinya memilih salah satu dengan menepikan yang lain. Menenggelamkan yang lain, yang tidak kalah pentingnya, yang tidak kalah membahagiakannya bila berhasil diperlakukan baik-baik, sebagaimana mestinya. Skala prioritas, jangan mudah berpuas diri, menekuni passion—sekadar menyebut beberapa ajakan yang kadung diimani sebagian kiblat kelaziman (kebenaran)—adalah hal-hal yang tidak semestinya mendarah daging dalam hidup manusia yang begitu kompleks, begitu kaya!

Baca juga: Abdul Malik Karakoram – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 13 Mei 2020)

Menyitir definisi “militan” menurut KBBI (Anda bisa pakai versi mana pun untuk membuktikan uraian di atas)—bersemangat tinggi; penuh gairah; berhaluan keras, makin menegaskan keraguan saya perihal untuk apa menjadi militan. Dalam agama sekalipun. Dalam kebaikan sekalipun—yang ini membuatnya terdengar paradoks.

Tidak bisakah kita melakoni kehidupan ini sesuai porsinya: dengan bersemangat (tanpa harus “tinggi-tinggi”), bergairah (tanpa harus “penuh-penuh”), apalagi berhaluan keras. Apalagi merasa paling benar sendiri, paling saleh sendiri, paling tahu sendiri. Paling adil sendiri.

Waahualam.*

 

BENNY ARNAS lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Novel audionya “Bulan Madu Matahari” sedang tayang di Instagram @bulanmadumatahari dan Youtube Benny Institute. Dalam waktu dekat novelnya “Ethile! Ethile!” akan tayang di platform @Kwikku.